• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ariesta Ayu Salsabila

1Program Studi Pendidikan IPS, FKIP Universitas Lambung Mangkurat Email : [email protected]

ABSTRAK

Pendidikan bukan hanya sebuah proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge),melainkan pendidikan juga berfungsi sebagai proses alih nilai (transfer of value). Artinya bahwa Pendidikan, di samping merupakan proses pertalian dan transmisi pengetahuan, juga berkenaan dengan proses perkembangan dan pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan primer atau mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang dengan cita-cita untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep pandangan hidupnya. Begitupula pendidikan sejarah memiliki aspek strategis sebagai salah satu media pendidikan dalam membangun karakter bangsa. Pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal, Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperti: nasionalisme, persatuan, solidaritas dan integritas nasional

Kata Kunci: Pendidikan sejarah, Kesadaran Berbangsa PENDAHULUAN

Indonesia adalah Negara yang multikultural dengan berbagai keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat dan agama. Keanekaragaman tersebut merupakan sumber kekayaan yang sangat berharga. Seharusnya keberagaman yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia ini dapat menjadi kekuatan yang tangguh apabila diolah secara baik dan benar. Terjadinya konflik, baik antar etnis seperti di Kalimantan, maupun antar agama di Ambon dan Sulawesi, bukan semata-mata disebabkan oleh benturan alamiah masyarakat ditingkat lokal. Dimensi politik, ekonomi, dan kebijakan pemerintah memiliki peran tersendiri. Ketidakadilan akibat distribusi pembangunan yang tidak merata, kebijaksanaan pemerintah yang banyak merugikan daerah, sangat rentan menjadi pemicu munculnya konflik horizontal.

Bagaimana cara mengatasi berbagai problem sosial, ekonomi dan budaya yang ditengah-tengah bangsa Indonesia saat ini? Salah satu media yang paling tepat adalah pendidikan, yang sangat besar peranannya dalam membentuk karakter bangsa. Salah satu bagian penting pendidikan untuk menanamkan konsep keberagaman adalah pendidikan sejarah. Pendidikan sejarah sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kesadaran dan karakter bangsa. Dengan pendidikan sejarah, kita akan menanamkan dan mengembangkan kesadaran multicultural yang bersifat normatif.

Menurut Winataputra (2010:3) pembangunan karakter bangsa secara fungsional mempunyai 3 fungsi utama, yaitu; (1) Fungsi Pembentukan dan Pengembangan Potensi, membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga Negara Indonesia agar berfikiran baik, berhati baik, dan berperolaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila; (2) Fungsi Perbaikan dan Penguatan, memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah untuk berpartisipasi dan bertanggung jawabdalam pengembangan potensi warga Negara dan pembangunan bbangsa menuju bangsa yang maju, mandiri dan sejahtera; dan (3) Fungsi Penyaring, memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Lebih lanjut

Winataputra (2010:3-4) mengungkapkan bahwa yang menjadi tujuan pembangunan karakter bangsa adalah "... untuk membina dan mengembangkan karakter warga Negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperi kemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta bericeadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia". Untuk itu maka pembangunan karakter bangsa disikapi dan diperlakukan sebagai suatu gerakannasional yang harus menjadi komitmen seluruh komponen bangsa. Pendidikan sejarah sebagai wahana pendidikan berguna untuk mengembangkan pribadi peserta didik sebagai anggota masyarakat dan warga negara serta mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Peserta didik melalui pendidikan sejarah diajak menelaah keterkaitan kehidupan yang dialami oleh diri, masyarakat dan bangsanya, bukan hanya menghapal fakta atau peristiwa sejarah yang mempakan bentuk pengulangan secara lisan dari buku pelajaran dan bukan merupakan ajang latih keterampilan intelektual (Hasan, 1995; Kardisaputra, 2003).

Pembelajaran sejarah bukan hanya untuk menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, menumbuhkan adanya perkembangan masyarakat kebangsaan dan cinta tanah air, kebanggan sebagai bangsa Indonesia, dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa didunia; melainkan ditekankan pada

kegiatan yang dapat memberikan pengalaman untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan kecintaan pada manusia secara universal. Pembelajaran sejarah juga menekankan pada cara berfikir, bemalar, pematangan emosional dan sosial serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan mereka untuk memahami dan menghargai perbedaan. Pembelajaran sejarah adalah bagian dari proses penanaman nilainilai yang fungsional untuk menanamkan pengetahuan. Pengembangan pendidikan sejarah merupakan tuntutan untuk melahirkan generasi yang bijaksana yang mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan bijaksana tidak bertentangan dengan budaya bangsa. Mempelajari naasa lampau manusia dapat untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan peristiwa kehidupan manusia.

Pengetahuan sejarah sangat fundamental dalam pembentukan identitas nasional, kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan tanggung jawab. Kesadaran sejarah penting bagi sutu bangsa, karena dapat membimbing manusia kepada pengertian sebagai bangsa. Kesadaran sejarah sebagai orientasi iutelektual. Kesadaran sejarah ini membimbing manusia kepada pengertian mengenai dirinya sebagai bangsa suatu bangsa. Pembelajaran sejarah disekolah selain untuk melatih siswa berfikir kritis, juga memiliki fungsi pragmatis sebagai pembentukan identitas dan eksistensi bangsa. Selain pengetahuan kesejarahan (kognitif), pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk pembentukan kesejarah, kepribadian bangsa dan sikap. Nilai-nilai tersebut antara lain: nasionalisme, kepahlawanan, persatuan dan kesatuan, pantang menyerah, ulet, tanggung jawab, kebijakan, religious dan keluhuran.

PEMBAHASAN

Menurut Peraturan Menteri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai kompetensi harus dimiliki oleh guru sejarah disamping kualifikasi akademik. Kualifikasi akademik guru diantaranya adalah guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Selain itu dijelaskan juga tentang standar kompetensi untuk guru harus mempunyai empat kompetensi utama, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional. Dari keempat kompetensi terebut dapat diintegrasikan pada kinerja guru. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam

konteks demikian, guru yang akan menjadi “aktor” penentu keberhasilan peserta didik dalam menerima pembelajaran yang diberikan. Untuk mencapai keberhasilan tersebut guru harus sekreatif mungkin menciptakan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tetap disesuaikan dengan keadaan peserta didiknya.

Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbicara pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemajuan peradaban manusia. Karena pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Sebagai sebuah proses, ada dua asumsi yang berbeda mengenai pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama, pendidikan bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara tidak disengaja atau berjalan secara alamiah. Dalam hal ini, pendidikan bukanlah proses yang diorganisasikan dan direncanakan secara sistematis, melainkan merupakan bagian kehidupan yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada. Kedua, pendidikan bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara di sengaja, direncanakan, serta didesain dengan sistematis berdasarkan aturan-aturan yang berlaku terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat.

Tujuan pendidikan sejarah harus mengandung materi berupa pengetahuan, kemampuan kognitif, kemampuan psikomotorik dan nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah dapat bermakna sehingga dapat mengembangkan jati diri bangsa untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang (Hasan, 2012b: 67). Dikatakan pula oleh Wiriatmadja (Atmadinata, 2005: 46) yang menyatakan bahwa pembelajaran sejarah mempunyai peran yang amat penting dalam membentuk kepribadian siswa agar dapat memahami dan menjiwai wawasan kebangsaan untuk memasuki dan memenangkan masa depan (globalisasi) yang penuh dengan tantangan dan kejutan agar kita dapat mengantisipasinya. Berdasarkan tujuan pendidikan sejarah, pembelajaran sejarah memiliki makna yang mendasar berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai kesejarahan kepada siswa agar siswa dapat memahami dengan baik identitas bangsanya dan dapat mengadapi tantanga di masa yang akan datang. Mempelajari sejarah juga mempunyai kontribusi yang sangat besar karena dengan mempelajari sejarah dapat mengembangkan kesadaran sejarah, sehingga nilai-nilai yang ada di dalam sebuah peristiwa sejarah dapat diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari dan mendapatkan pemahaman akan pentingnya masa lalu demi masa depan. Kesadaran sejarah juga merupakan bagian dari pendidikan karakter. Hal ini, adanya kesadaran sejarah, siswa sudah dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai atau karakter yang ada pada materi sejarah. Misalnya, siswa dapat mengaplikasikan bentuk cinta tanah air, rasa tanggung jawab dan semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sartono Kartodirjo sejarah nasional sebagai tuangan pengalaman kolektif bangsa merupakan karakteristik pokok bagi bangsa yang bersangkutan. Hal ini menunjukan bahwa identitas kolektif menunjukan kepada kepribadian nasional. Maka kesadaran sejarah akan memperkokoh eksistensi dan identitas serta kepribadian suatu bangsa untuk mewujudkan character building national melalui rasa bangga akan sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia sehingga warisan nilainilai luhur budaya bangsa tetap lestari. Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai: keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang memengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam, sepanjang zaman. Oleh karena itu, pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal, Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperti: nasionalisme, persatuan, solidaritas dan integritas nasional.

Terwujudnya cita-cita suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh generasi penerus yang mampu memahami sejarah masyarakat atau bangsanya. Nasionalisme Indonesia menurut Ruslan Abdulgani memiki tiga aspek yaitu : (a) aspek politik menyangkut usaha menyiapkan dominasi politik bangsa asing serta berusaha menggantikan dengan sistem pemerintahan demokratis. (b) aspek sosial ekonomi, yaitu menuntut usaha untuk penghapusan eksploitasi ekonomi oleh bangsa asing dan berusaha membangun suatu masyarakat baru bebas dari kemiskinan dan kesengsaraan dan (c) aspek kulturasi dengan cara membangkitkan identitas bangsa serta menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Jadi dengan demikian ketiga aspek

terebut diatas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dapat mendorong lahirnya nasionalisme. Untuk mengemas pendidkan sejarah sehingga dapat menghasilkan internalisasi nilai diperlukan adanya pengorganisasian bahan yang beraneka ragam serta metode sajian yang bervariasi. Di samping itu gaya belajar subjek didik juga perlu mendapat perhatian, agar tidak kehilangan bingkai moral dan afeksi dari seluruh tujuan pengajaran yang telah ada. Karena tanpa bingkai moral, pengajaran sejarah yang terlalu mengedepankan aspek kognitif tidak akan banyak pengaruhnya dalam rangka memantapkan apa yang sering disebut sebagai jati diri kepribadian bangsa.

Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Pembentukan kepribadian nasional beserta identitas dan jati diri tidak akan terwujud tanpa adanya pengembangan kesadaran sejarah sebagai sumber inspirasi dan aspirasi. Kepribadian nasional, identitas, dan jati diri berkembang melalui pengalaman kolektif bangsa, yaitu proses sejarah. Materi pendidikan sejarah mampu mengembangkan potensi peserta didik untuk mengenal nilai-nilai bangsa yang diperjuangkan pada masa lalu, dipertahankan dan disesuaikan untuk kehidupan masa kini, dan dikembangkan lebih lanjut untuk kehidupan masa depan. Bangsa Indonesia masa kini beserta seluruh nilai dan kehidupan yang terjadi adalah hasil perjuangan bangsa pada masa lalu dan akan menjadi modal untuk perjuangan kehidupan pada masa mendatang. Dalam hal ini peran guru sejarah sangat penting Kohchar dalam Teaching of History menyebutkan bahwa guru sejarah memiliki peranan penting dalam keseluruhan proses pembelajaran sejarah. Selain mengembangkan bentuk–bentuk alat bantu secara mekanis dan mengembangkan pendidikan yang berfokus pada kemajuan siswa, guru sejarah juga memegang peranan penting dalam membuat pelajaran sejarah menjadi hidup dan menarik bagi para siswa. Guru sejarah bertanggung jawab menginterprestasikan konsep sejarah yakni tentang kemanusian kepada siswa-siswanya. Sejarah haruslah diinterprestasikan seobjektif dan sesederhana mungkin.

Tujuan dari pembelajaran sejarah sendiri salah satunya ialah menjadikan peserta didik memiliki jiwa dan sikap nasionalisme. Dimana sikap nasionalisme memiliki ciri toleransi, cinta tanah air, dan semangat kebangsaan. Indikator sikap nasionalisme di sekolah yaitu (1) menggunakan produk buatan dalam negeri; (2) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar; (3) menyediakan informasi (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesial; (4) melakukan upacara rutin sekolah; (5) melakukan upacara hari-hari besar nasional; (6) menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional; (7) memiliki program

melakukan kunjungan ke tempat bersejarah; (8) mengikuti lomba pada hari besar nasional; (9) menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas; (10) memberikan perlakuan yang sama terhadap stakholder tanpa membedakan seuku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.

SIMPULAN

Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. pemahaman sejarah perlu dimiliki setiap orang sejak dini agar mengetahui dan memahami makna dari peristiwa masa lampau sehingga dapat digunakan sebagai landasan sikap dalam menghadapi kenyataan pada masa sekarang serta menentukan masa yang akan datang. Artinya sejarah perlu dipelajari sejak dini oleh setiap individu baik secara formal maupun nonformal, Keterkaitan individu dengan masyarakat atau bangsanya memerlukan terbentuknya kesadaran pentingnya sejarah terhadap persoalan kehidupan bersama seperti: nasionalisme, persatuan, solidaritas dan integritas nasional. Terwujudnya cita-cita suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh generasi penerus yang mampu memahami sejarah masyarakat atau bangsanya. konstuksi pembangunan manusia bangsa yang sadar sejarah akan menumbuhkan jiwa-jiwa yang menjunjung tinggi nilai dan norma untuk kemudian menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki harkat dan martabat dengan karakter bangsa yang luhur.

Pendidikan sejarah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dimana proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan. Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut dapat terbangun dengan baik melalui pendidikan sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa dirinya dan bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup, nilai yang hidup di masyarakat, sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang.

Pengetahuan sejarah sangat fundamental dalam pembentukan identitas nasional, kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan tanggung jawab. Kesadaran sejarah penting bagi sutu bangsa, karena dapat membimbing manusia kepada pengertian sebagai bangsa. Kesadaran sejarah sebagai orientasi intelektual. Kesadaran sejarah ini membimbing manusia kepada pengertian mengenai dirinya sebagai bangsa suatu bangsa. Pembelajaran sejarah disekolah selain untuk melatih siswa berfikir kritis, juga memiliki fungsi pragmatis sebagai pembentukan identitas dan eksistensi bangsa. Selain pengetahuan kesejarahan (kognitif), pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk pembentukan kesejarah, kepribadian bangsa dan sikap. Nilai-nilai tersebut antara lain: nasionalisme, kepahlawanan, persatuan dan kesatuan, pantang menyerah, ulet, tanggung jawab, kebijakan, religious dan keluhuran. tujuan dari pembelajaran sejarah sendiri salah satunya ialah menjadikan peserta didik memiliki jiwa dan sikap nasionalisme. Dimana sikap nasionalisme memiliki ciri toleransi, cinta tanah air, dan semangat kebangsaan

REFERENSI

Atmadinata. (2005). Upaya Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa dalam Pembelajaran Sejarah melalui Cooperative Learning. Bandung: Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Hasan, H.S. (1995). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Kardisaputra, O. (2003). “Beberapa Ciri Khas Ilmu Sejarah dan Implikasikannya dalam Pengajaran Sejarah” dalam Sjamsuddin, H & Suwitra,. Historia Magistra Vitae: Menyambut 70 Tahun Prof. Dr. Hj. Rochiati Wiriaatmadja, M.A. BandungL Historia Utama Press.

Winaputra, S.U. (2010). Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Karakter. Jakarta: Universitas Terbuka.

POTENSI “GLADAK PERAK” SEBAGAI OBJEK WISATA