PENGEMBANGAN JIWA NASIONALISME MASYARAKAT DI TENGAH ARUS GLOBALISASI
2. Pendidikan Sejarah Dalam Arus Globalisasi
Peran Pendidik dalam dunia pendidikan sangatlah vital karena merupakan percontohan hingga teladan bagi peserta didik. Ditengah tuntutan zaman yang mengharuskan terjadinya perubahan peran pendidik dalam mengajarkan Pembelajaran Sejarah menjadi tantangan tersendiri bagi karena Pembelajaran sejarah mengandung dua unsur yaitu unsur pembelajaran dan unsur pendidikan. Unsur Pendidikan dan pembelajaran tidak hanya memberikan peserta didik untuk menghafalkan materi yang dipelajari, namun juga melatih cara berpikir kritis, membuat kesimpulan, hipotesis, dan mengambil nilai dari setiap peristiwa sejarah.
Peran pendidik tidaklah terlalu mendominasi di era sekarang, karena pendidik merupakan peran yang tidak hanya sebagai penyampai materi tetapi juga sebagai seorang fasilitator yang membuat peserta didik dapat berkreasi dalam berpikir sehingga tidak akan kita temukan lagi pembelajaran yang kaku dan membosankan dalam proses pembelajaran berlangsung. Arus globalisasi yang masif membuat arus informasi menjadi sangat mudah didapatkan dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan sejarah sendiri. Dengan mudahnya arus informasi didapatkan membuat peserta didik dapat mendapatkan informasi apapun yang ingin ia dapatkan. Disinilah peran pendidik untuk mengarahkan dengan bijak penggunaan teknologi infomasi.
Teknologi Informasi menjadi dilema tersendiri bagi dunia pendidikan. Disatu sisi informasi yang akan dicari dapat dengan mudah didapatkan, namun disisi lainnya kebenaran dan ketepatan informasi yang didapatkan tidak semuanya tepat dan valid. Hal inilah dapat dijadikan patokan bagi peserta didik untuk bijak dalam memperoleh informasi yang diperoleh dan berpikir kritis dalam mengkritisi informasi yang akan dikaji. Menurunnya jiwa kebangsaan pada masyarakat kita pada masa sekarang juga tidak lepas dari tidak mampunya masyarakat kita dalam bijak dalam pemanfaatan teknologi informasi yang seharusnya dapat memberikan informasi yang mencerdaskan bangsa, namun justru sebaliknya menjadi bumerang tersendiri bagi
masyarakat dengan banyak informasi bohong atau dikenal dengan hoax yang semakin mudah memporak-porandakan masyarakat.
Lunturnya nilai-nilai kebangsaan ini harus direspon dengan seksama, terkhusus dunia pendidikan yang mempunyai peranan mencerdaskan masyarakat. Penting untuk membuat masyarakat menjadi pilar utama dalam menciptakan karakter yang memiliki nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Kembali pada berpikir kritis pada peserta didik dengan mampunya peserta didik dalam berpikir yang cermat maka sangat kecil kemungkinan untuk termakan informasi yang tidak tepat akibat arus globalisasi. Pendidik sebagai garis terdepan dalam mendidik penerus bangsa dapat memperbaiki metode pembelajaran yang tepat, terkhusus pembelajaran sejarah yang mempunya tujuan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme bangsa. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan sehingga peserta didik dapat menikmati proses pembelajaran. Lebih baik lagi jika dikembangkan dengan media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran.
Dengan dukungan media pembelajaran yang efektif dan tepat maka proses pembelajaran dapat membantu dalam meraih tujuan pembelajaran hingga menciptakan kesadaran sejarah bagi peserta didik. Dengan terciptanya kesadaran sejarah peserta didik dapat mengenali bangsanya sehingga dapat menciptakan jiwa nasionalisme bagi dirinya dan pada akhirnya dapat melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dan juga cerdas dalam berbangsa. Ada beberapa syarat yang dapat dilakukan yaitu dengan pengetahuan tentang fakta-fakta sejarah, yang mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia, kemudian membawa bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, lalu pengetahuan tentang upaya-upaya kekuatan yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang ingin menguasai Indonesia dengan mendominasi ekonomi dan militer, dan pemihakan yang kuat untuk martabat dan kewibaan bangsa dan negara Indonesia di hadapan bangsa-bangsa lain, setelah menyimak sejarah bangsa (Djono, 2011: 104).
Dari penjelasan tersebut memberikan pengukuhan tentang strategi membangun kesadaran berbangsa dan bernegara melalui kesadaran sejarah yaitu melalui proses pemahaman terhadap pengetahuan mengenai fakta-fakta sejarah, yang menciptakan bangsa Indonesia, yang pada akhirnya membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya. Bahkan untuk mendukung kesadaran berbangsa bagi peserta didik dapat kita gunakan fakta-fakta sejarah lokal yang semakin meningkatkan pengetahuan hingga semangat nasionalisme dari sejarah lokal. Pada akhirnya kita berharap terbentuknya masyarakat yang nasionalisme yang cinta akan tanah air dan tidak mudah terjebak dalam sesuatu yang bertentangan dengan ideologi yang berseberangan dengan ideologi pancasila yang sudah mendarah daging.
SIMPULAN
Pendidikan sejarah memiliki peran yang sangat besar terhadap jalannya berbangsa dan bernegara. Dari pendidikan sejarah sendiri bertujuan untuk membangun pondasi jiwa nasionalisme pada peserta didik sebelum nantinya mereka terjun dalam masyarakat berbangsa dan menjadi bagian dari negara. Dengan tertanamnya jiwa nasionalisme dalam jiwa masyarakat memungkin untuk memahami fungsinya sebagai warga negara yang baik dan menciptakan kedudukan negara yang kuat dari pengaruh-pengaruh ideologi yang tidak sesuai dengan ideologi negara Indonesia yang berideologi pancasila dan berpedoman pada Undang-Undang Dasar 1945 yang nantinya dapat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan memainkan peran pendidikan sebagai cikal bakal masyarakat yang memiliki nasionalisme yang tinggi dapat mempertahankan negara dan menciptakan ketentraman kehidupan berbangsa sehingga kita tidak akan lagi atau lebih tepatnya meminimalisir terjadinya gesekan antar suku bangsa dan agama di negara ini.
Pendidikan sejarah ditengah arus globalisasi menjadi peran yang semakin harus semakin mengupgrade proses pembelajaran yang digunakan supaya tidak tertinggal dan dapat beradaptasi pada perubahan. Dengan dimudahkannya arus teknologi informasi dimasyarakat membuat setiap individu memperoleh informasi yang akan didapatkan, tetapi perlu diingat tidak semua informasi yang kita peroleh merupakan informasi yang tepat dan perlu ditelaah lebih dalam lagi keabsahannya. Disinilah peran pendidikan sejarah memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat yang nasionalisme. Nasionalisme yang dimaksud tidak hanya mengenai mencintai negara tetapi bertanggung jawab terhadap peran sebagai masyarakat bernegara sehingga tidak mudah diadu domba, disusupi paham atau ideologi yang merusak tatanan masyarakat di negeri ini.
Peran pendidik dalam proses pembelajaran sejarah sangatlah vital, karena pendidiklah yang memiliki peran yang menentukan tujuan pembelajaran akan seperti apa, namun perlu dicatat bahwa peran pendidik tidak mendominasi dalam pembelajaran karena untuk menciptakan peserta didik yang berpikir kritis, peran pendidik sebagai seorang fasilitator juga sama pentingnya dengan menyampaikan materi dalam mendidik peserta didik. perubahan arus globalisasi menuntut pendidik semakin berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang variatif sehingga tidak menciptakan situasi yang jenuh saat proses pembelajaran berlangsung dan pada akhirnya tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercipta.
SARAN
Melihat situasi dimasa sekarang dengan kemajuan zaman, peran pendidikan sejarah harus memainkan peran yang dominan dalam menjaga jiwa nasionalisme masyarakat. Salah satunya dengan memperbanyak pelatihan bagi pendidik dan calon pendidik untuk meningkatkan kompetensi diri sehingga ketika pendidik telah mempunyai kompetensi yang tepat maka ikut meningkatkan tarat kualitas pendidikan itu sendiri. Semakin banyak dilaksanakannya workshop pelatihan bagi peserta didik untuk menunjang potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga dapat berperan dalam membangun dan mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
REFERENSI
Kennedy. (2001). Menyiapkan Diri Menghadapi Abad ke-21, diterjemahkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.