• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membuka Keenam Indra

Dalam dokumen Panduan Menulis Buku Nonfiksi (Halaman 44-47)

MENGGALI IDE KREATIF

A. Membuka Keenam Indra

Sebuah ide bagi seorang penulis sangatlah berharga. Apalagi jika ide tersebut ternyata memikat untuk diterbitkan. Ide memang bisa saja datang sewaktu-waktu ketika kita sedang diam atau sedang melakukan satu pekerjaan tertentu. Namun, sesungguhnya ide tersebut bukan datang dengan sendirinya. Ada proses di balik datangnya satu ide di kepala seorang penulis. Proses pertama adalah membuka keenam indra kita sebagai seorang manusia. Dengan membuka keenam indra, kita menjadi lebih peka dan tergerak untuk menjadikan semua informasi yang diterima sebagai ide kreatif.

Berikut keenam indra yang bisa diaktifkan dan dibuka untuk menjaring ide-ide bagi sebuah karya nonfiksi :

- Penglihatan/Mata

Allah menganugerahkan mata bagi kita untuk melihat. Bersyukur apabila kita memiliki mata yang normal. Masih bersyukur juga apabila kita hanya memerlukan bantuan kaca mata untuk dapat melihat dengan jelas. Karena pandangan mata kita begitu luas menggapai seluruh isi dunia. Apalagi saat ini banyak media informasi dan komunikasi yang memungkinkan kita memandang ke seluruh penjuru bumi.

Dari pandangan yang kita sebar tersebut, ada banyak ide bisa dimunculkan. Misalnya ketika kita pergi ke perkebunan paprika, maka ada ide untuk menulis buku tentang budidaya paprika. Demikian pula ketika kita melihat ada banyak remaja berpasang-pasangan di taman kota, ada ide untuk menuangkannya sebagai buku parenting bagi orang tua. Pendek kata semua fenomena yang tertangkap oleh pandangan mata kita menjadi sebuah ide berharga bagi penulis nonfiksi.

- Penciuman/Hidung

Indra kedua yang bisa menggali ide-ide kreatif ketika kita mengaktifkannya adalah hidung. Penciuman kita membuat ide mengalir deras apabila memang kita rasakan dengan seksama. Berbagai jenis bau bisa tercium apabila hidung kita dalam keadaan sehat. Oleh karenanya memiliki indra penciuman yang sehat sama pentingnya dengan indra penglihatan.

Mulai dari bau harum, sedap, asam, sampai dengan busuk bisa tercium oleh hidung yang sehat. Dari berbagai bau tadi kita bisa menggali ide kreatif. Ketika kita lewat di depan sebuah gerai masakan Jepang misalnya, tercium bau sedap olahan hasil laut dengan saus khas dan mayonaisenya.

Maka tumbuhlah ide untuk membuat buku resep masakan Jepang. Demikian juga ketika kita lewat di depan pembuangan sampah dan tercium bau busuk, bisa jadi ada ide juga untuk membuat buku pengolahan sampah organik. Semua bisa menjadi ide kreatif bagi penulis nonfiksi.

- Pengecap/Lidah

Indra ketiga yang perlu kita cermati adalah lidah. Bagian pengecap ini berfungsi mendeteksi berbagai macam rasa seperti asin, manis, asam, pahit, dan campuran rasa seperti lezat, gurih, atau sedap. Dari berbagai makanan, minuman, obat, dan apapun

yang bisa kita rasakan melalui lidah bisa tumbuh menjadi ide segar bagi kepenulisan buku nonfiksi.

Contohnya ketika kita disuguhi semangkuk es campur nan lezat. Nampak ada buah-buahan yang dipotong kecil disiram saus gula dan susu kental manis. Namun ada sesuatu yang berbeda dari buah tersebut. Setelah kita merasakan dengan seksama ternyata buah-buahan tersebut diolah menjadi manisan terlebih dahulu sebelum dibuat es campur.

Seorang penulis nonfiksi bisa mengolah sensasi rasa es campur tersebut menjadi buku resep minuman segar, menjadi buku motivasi yang menceritakan tentang fenomena kehidupan seperti es campur, dan menjadi berbagai buku lain sesuai dengan kreatifitas pengolahan idenya.

- Pendegaran/Telinga

Memiliki telinga, gunakan untuk mendengar tentang kebaikan. Sama halnya dengan memiliki indra lainnya seperti mata, hidung, dan lidah. Memiliki telinga sehat merupakan anugrah tak terhingga bagi seorang manusia termasuk para penulis. Telinga yang digunakan untuk mendengar kebaikan, akan memunculkan ide kreatif dalam penyusunan naskah.

Misalnya mendengar ceramah agama yang lugas dan lucu, membuat seorang penulis memiliki ide memunculkan buku humor sufi seperti Abunawas atau Nasrudin Hoja. Mendengarkan kokok ayam jantan membuat ide di kepala melayang pada pembuatan buku budidaya ayam serama yang sedang trend. Demikian luas, banyak, dan tak terhingga sebenarnya ide yang bisa kita gali dari indra sebagai seorang manusia.

- Peraba/Kulit

Indra peraba yang dimanifestasikan dengan kulit tubuh juga menjadi sarana penggali ide yang efektif. Permukaan kasar, halus, lembut, panas, dan dingin menjadi sumber ide yang tiada habisnya. Coba sesekali kita merasakan apa yang diraba oleh kulit. Misalnya ketika mencuci muka dan merasakan dinginnya air di Lembang, maka sempat terbersit ide untuk menulis tentang buku wisata Bandung dan sekitarnya.

Ada lagi ketika kita rasakan permukaan kulit nenek yang masih kenyal di usia 80 tahun, maka terbersit untuk menulis resep kecantikan kuno ala nenek. Demikian luas dan banyaknya ide dari rasa yang kita dapat melalui indra, bukan?

Saya menuliskan keenam indra, meskipun yang nampak di permukaan hanyalah lima indra saja. Bukan bermaksud mengajak pembaca mempercayai tentang hal mistik, namun indra keenam di sini memang nyata adanya. Indra perasa, begitu saya menyebutnya adalah hakikat seorang manusia yang memiliki hati nurani. Sehingga bisa memiliki perasaan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya. Misalnya saja ketika kita mengira bahwa seseorang berbuat baik karena ada maunya, dan kemudian hal tersebut terbukti maka bisa jadi sebuah ide tentang psikologi komunikasi. Membaca wajah seseorang, membaca sifat seseorang dari tulisannya, dan berbagai bahasan lainnya. Semua bisa tumbuh dari adanya hati yang merasakan sekeliling kita.

Biasakan menjadi anak-anak yang selalu membuka semua indra mereka untuk menyerap informasi

Sumber : dokumen pribadi

Dalam dokumen Panduan Menulis Buku Nonfiksi (Halaman 44-47)

Dokumen terkait