Adapun motif kopi pecah dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
PERAN MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN BATIK BANYUWANGI
5.2 Modal Sosial dalam Mendorong Partisipasi Masyarakat
5.2.2 Memperbanyak Jaringan Sosial agar Terjadi Keberlangsungan Usaha
Hasbullah (2006) menyatakan bahwa modal sosial merupakan sebuah bangunan kepercayaan yang lama-kelamaan akan meluas, yang tidak hanya percaya terhadap orang asing saja, namun juga akan tumbuh kepercayaan
terhadap institusi juga. Bangunan kepercayaan yang meluas tersebut dapat meningkatkan jaringan sosial. Jaringan sosial merupakan salah satu fasilitas untuk membentuk kepercayaan dan memperkuat kerjasama dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu melalui bentuk komunikasi ataupun interaksi masyarakat. Masyarakat yang memiliki jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama bagi para anggotanya serta manfaat-manfaat dalam berpartisipasi (Hasbullah, 2006).
Jaringan sosial dalam hubungan formal biasanya seperti ada pada kelompok, asosiasi, dan sebagainya. Sedangkan jaringan sosial dalam hubungan informal seperti terjadi antara keluarga, tetangga, kerabat, dan teman. Struktur jaringan ini dapat mempengaruhi kualitas hubungan yang terjalin, output yang di hasilkan, serta modal sosial yang terbentuk [Putnam (1998) dalam Winami (2011)].
Di dalam jaringan sosial tidak dibangun hanya oleh satu individu, melainkan ada kecenderungan tumbuh dalam suatu kelompok (Field, 2011). Seperti halnya dengan Asosiasi Batik Sekar Jagad Banyuwangi yang tumbuh berkat adanya solidaritas diantara pengerajin dan adanya kerjasama dengan beberapa pihak yang membantu dalam pengembangan batik Banyuwangi.
Asosiasi batik tersebut berada di bawah naungan asosiasi induk yang bernama Asosiasi Kuliner, Kaos, Kerajinan, Aksesoris, dan Batik atau dapat disingkat menjadi AKRAB. AKRAB sendiri merupakan Gabungan antara Asosiasi/ kelompok/ UMKM se-Kabupaten Banyuwangi. AKRAB ini dijadikan perantara antara pelaku UMKM dengan Dinas atau BUMN. Hal tersebut diungkap Syamsudin serta didukung oleh pernyataan Firman terkait adanya AKRAB, yang dapat dilihat dibawah ini.
“Iya betul, jadi kebetulan ini saya bagian dari AKRAB, jadi dibentuknya asosiasi ini itu dalam rangka mewadahi, kedua untuk mencarikan jalan
keluar persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para pengerajin” (Syamsudin, Pengerajin batik).
Hal tersebut juga diungkapkan Firman bahwa AKRAB merupakan kelompok yang mampu menjadi solusi bagi UMKM yang ada di Banyuwangi.
“Selain itu Asosiasi Sekar Jagat Blambangan ini, gabung jadi anggota asosiasi di kabupaten namanya AKRAB. AKRAB itu asosiasi induk yang ada di Banyuwangi untuk UMKM, nah fungsinya ini untuk menjebatani antar SKPD, BUMN dengan asosiasi yang ada dibawahnya atau anggotanya”. (Firman, Ketua asosiasi batik)
Sehingga informasi mengenai UMKM, yang awalnya dari dinas, dapat diteruskan ke AKRAB, yang selanjutnya AKRAB bisa langsung meneruskan informasinya ke asosiasi yang terkait. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah partisipasi yang aktif agar dapat mempermudah proses suatu kegiatan tersebut. Partisipasi ini merupakan suatu bentuk kemampuan masyarakat untuk selalu menyatukan diri dalam suatu pola hubungan yang sinergis, di mana akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kekuatan dari modal sosial suatu kelompok atau asosiasi (Soetrisno, 1995). Pertisipasi tersebut juga dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
Sumber: Data diolah Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kab. Banyuwangi, 2017
Selain berpartisipasi aktif dalam berorganisasi, para pengerajin juga aktif dalam melestarikannya, salah satunya melalui adanya pelatihan atau pembekalan terkait batik Banyuwangi (lihat gambar 5.40). Bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi, AKRAB memberikan kesempatan bagi seluruh masyarakat yang ingin belajar membatik dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan secara gratis. Daya tarik yang ditawarkan itulah yang membuat sebagian besar para pengerajin yang awalnya coba-coba akhirnya ikut bergabung kedalam asosiasi. Hal tersebut senada, dengan pernyataan dari Tri selaku pendamping klinik UMKM.
“Pembatik di Banyuwangi itu mengalami kenaikan jumlah, yang sampai saat ini kurang lebih ada 30 pembatik yang sudah di data oleh Diskop (sambil memberikan brosur). Sebetulnya masih banyak lagi, cuman karena memang ada yang belum punya nama jadi produknya nitip” (Tri, Pendamping Klinik UMKM).
Gambar 5.40 Firman Sedang Memberikan Arahan Kepada Pembatik Yang Mengikuti Pelatihan
Karena, nilai daya tarik tersebut dapat meningkatkan jaringan sosial melalui peningkatan kepercayaan yang dibangun pada suatu kelompok [Lawang (2004) dalam Nurgandini (2014). Selain itu, hal tersebut juga didukung pernyataan dari Fonny dan Syamsudin selaku pengerajin batik yang merasakan peningkatan jumlah pengerajin batik karena daya tarik yang ditawarkan.
“Sampai sekarang mungkin sekitar 30, dari awal cuman 2 sritanjung sama aku sayuwiwit habis itu muncul lagi, sampai sekarang muncul sekitar 30an” (Fonny, Pengerajin batik).
“Total sekarang kurang lebih sekitar 100 pembatik, namun ada 2 kelompok ya. Yang 30-40 ini pembatik yang batiknya pangsa pasarnya dan motifnya itu banyuwangi, sedangkan sisanya 50-60 mereka adalah pembatik yang pulang dari banyuwangi dan meneruskan pangsa pasarnya tetep di bali” (Syamsudin, Pengerajin batik).
Selain memberikan pelatihan, partisipasi yang dilakukan lainnya adalah menjaring anak muda yang berpotensi serta memiliki kreatifitas yang dibutuhkan dalam suatu organisasi. Menurut Gumelar (2010) dalam Setyawati (2015) selain aspek keuangan dan aspek material, aspek sumber daya manusia juga perlu dipertimbangkan dalam mengelola sebuah organisasi masyrakat. Diambillah peran anak muda sebagai penggerak, karena memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Hal tersebut dilakukan selain anak muda tersebut mendapatkan pekerjaan, mereka juga mendapatkan ilmu tentang batik banyuwangi yang nantinya dapat diwariskan lagi kepada generasi selanjutnya.
Penggerak asosiasi melalui anak muda tersebut diungkapkan oleh Firman selaku ketua asosiasi batik yang menjadikan anak muda ditempatnya sebagai mitra kerjanya (lihat gambar 5.41).
“Yang kerja di tempat saya itu, anak-anak muda semua. Saya tidak pernah mengatakan bahwa kamu anak buah saya, sama anak-anak itu. Saya tidak pernah mengatakan kamu anak buah saya, kamu jongos saya, tapi kamu mitra saya” (Firman, Ketua asosiasi batik).
Hal tersebut sependapat dengan pendapat pernyataan Syamsudin mengenai penjaringan anak muda sebagai salah satu strategi untuk melestarikan batik Banyuwangi.
“(...) kedua sebetulnya desa ini tidak punya tradisi, dulu sebetulnya sudah ada tapi sudah puluhan tahun tidak ada disini, saya mencoba membangkitkan kembali. Yang ketiga saya ingin memotivasi masyarakat terutama anak muda, mau menggeluti, atau sukalah terhadap batik” (Syamsudin, Pengerajin batik).
sumber: Dokumentasi lapang, 2018
Namun hal tersebut tidaklah mudah, menurut Bu Is mencari generasi muda untuk diajak melestarikan batik tidaklah mudah. Hal tersebut diungkapkan Bu Is dalam pernyataan di bawah ini.
“Disini anak mudanya hanya satu dua, kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak. Padahal kepingin saya itu menggebrak anak mudanya, tapi cari anak mudanya sekarang itu susah. kurang tau sekarang ini anak muda yang seperti apa yang mau sama batik, padahal bagi saya batik ini menjanjikan” (Bu Is, Pengerajin batik).
Gambar 5.41 Anak Muda Diajak Bermitra Dalam Pelestarian Batik Banyuwangi
Kesulitan tersebut lantas tidak membuat para pengerajin putus asa dalam menjalin mitra dengan anak muda. Beberapa upaya dengan menawarkan daya tarik seperti pengadaan pelatihan gerasi tidak cukup menarik minat para anak muda. Hal tersebut lantas membuat pemerintah Banyuwangi berinovasi dengan mengadakan kegiatan atau festival dengan mengusung tema batik Banyuwangi yakni Banyuwangi Batik Festival atau dapat disingkat menjadi BBF.
BBF digunakan sebagai strategi atau daya tarik untuk memikat para anak muda melalui modernisasi kegiatan yang ditampilakan pada acara tersebut. Hal tersebut diungkapkan Firman terkait BBF yang sekarang ini sedang menjadi trend dikalangan pembatik.
“Pemerintah daerah ikut andil salah satunya dengan mengadakan Banyuwangi Batik Festival yang setiap tahun diadakan dengan tema yang berbeda. Jika strategi ini masih dijalankan 20 tahun kedepan, diperkirakan pasar dari batik Banyuwangi tidak akan goyah. Hal tersebut juga didukung karena adanya nilai bersejarah dari motif motif kuno asli Banyuwangi” (Firman, Ketua asosiasi batik).
Menurut Gamal (2004) suatu kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata akan dapat meningkatkan atau menghasilkan upah. Senada dengan Gamal (2004) bahwa BBF dapat menarik wisatawan yang berdampak kepada penjualan batik mereka. Pernyataan tersebut dapat dilihat dibawah ini.
“Selain pameran, fashion show juga mengangkat batik kita. Batik kita dipakai model, itu modelnya bagus, otomatis menimbulkan pertanyaan itu darimana. Jadi itupun membantu promosi yang secara gak langsung juga mengangkat nama batik banyuwangi. Selain itu ada event besar banyuwangi tentang batik, yaitu banyuwangi batik festival. Dari situ, kita bisa promosikan batik kita masing-masing” (Bu Is, Pengerajin batik).
Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan dari Syamsudin dan Tri mengenai BBF yang di selenggarakan pemerintah Banyuwangi, bahwa sangat efektif dalam melangsungkan kegiatan perekonomian.
“Boomnya ketika festival-festival ini, eranya pak anas mulai banyak pembatik yang dulu awalnya kerja di bali akhirnya pulang. Karena, melihat potensi pasarnya bagus” (Syamsudin, Pengerajin batik).
“Dari adanya festival itu, dapat menimbulkan motif-motif, yang nantinya mendekati Banyuwangi batik festival itu ada yang dilombakan, ada yang dijual. Jadi masyarakat datang kesitu bisa lihat ada pamerannya juga (...)” (Tri, Pendamping klinik UMKM).
Pernyataan tersebut juga mendukung bahwa terselenggaranya BBF tahun kemarin, membuat antusias para pengerajin dan masyarakat akan batik semakin meningkat. Hal tersebut terlihat pada gambar 5.42 yang mengambarkan adanya partisipasi pada acara tersebut.
Sumber: Dinas Industri dan Perdagangan, 2017
Dapat dilihat bahwa pemerintah kabupaten juga turut memeriahkan acara yang bertemakan batik Banyuwangi. Selain itu, partisipasi lainnya juga ditunjukkan pada gambar selanjutnya (lihat gambar 5.43).
Sumber: Dinas Industri dan Perdagangan, 2017
Partisipasi tersebut terlihat tidak hanya orang dewasa namun anak-anak juga turut memeriahkan acara BBF. BBF sendiri merupakan sebuah ajang yang dilakukan pemerintah bagi para pelaku UMKM batik untuk dapat mengenalkan dan menampilkan ragam batik Banyuwangi kepada masyarakat luas. Serangkaian acara yang digelar dalam BBF, mulai dari desain batik yang diikuti oleh siswa siswi sekolah yang ada di Banyuwangi, lomba busana batik yang diikuti oleh desainer lokal Banyuwangi, lomba mencanting, pameran dan promosi batik, serta fashion
show batik dengan menampilkan beragam motif serta design batik (lihat gambar
5.42 dan gambar 5.43).
Maka dari itu, sebuah daya tarik yang ditawarkan menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan partisipasi serta memperluas jaringan sosial yang dibentuk oleh suatu individu. Karena, melalui hal tersebut akan senada dengan pernyataan Agusyanto (2007) bahwa hal tersebut nantinya akan menghubungkan Gambar 5.43 Tidak Hanya Dimeriahkan Oleh Orang Dewasa Namun
satu titik dengan titik yang lain. Dapat diartikan bahwa daya tarik seperti pelatihan dan kegiatan hanya sekedar media, namun berhubungan dengan orang lain merupakan sebuah jaringan sosial yang dapat dikembangkan. Hal tersebut juga senada dengan pernyataan dari Fine dan Lapavitas (2004) dalam Yustika (2012) yang menyatakan bahwa “bukanlah masalah apa yang anda ketahui, tetapi siapa yang anda kenal” (it’s not what you know, it’s who you know that matters). Sehingga dari adanya jaringan sosial tersebut akan berdampak pada meluasnya informasi mengenai batik serta meluasnya pemasaran produk akibat banyak yang mengetahui akan produk batik dari hasil menjalin hubungan dengan orang lain.
Adapun dari temuan diatas, dapat disimpulkan pada tabel dibawah ini mengenai jaringan sosial yang ada pada pengerajin batik Banyuwangi, yang dapat membantu terjadinya keberlangsungan usaha.
Tabel 5.10 Ringkasan Hasil Penelitian
Temuan Analisis Implikasi
Konsep jaringan sosial untuk keberlangsungan usaha AKRAB merupakan jembatan antara pelaku UMKM dengan dinas. Adanya partisipatif
didorong karena ada daya tarik.
Dengan tujuan menjaring anak muda, namun masih belum ditemukannya strategi yang jelas. Adanya kerjasama
antar pengerajin batik.
Perlu adanya inovasi pelatihan yang diberikan serta sasaran pelatihan. Meningkatkan pemasaran produk melalui adanya kerjasama atau hubungan dengan orang lain. Peningkatan pendapatan melalui beberapa inovasi, seperti halnya dengan mengadakan kegiatan BBF. Terdapat jaringan informasi yang membantu dalam mengetahui info terkait batik.