• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPEROLEH KEKUATAN HUKUM TETAP

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA JINAYAT MAHKAMAH SYAR (Halaman 193-200)

BAB XX UPAYA HUKUM

MEMPEROLEH KEKUATAN HUKUM TETAP

1. Berdasar ketentuan Pasal 229 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Terhadap putusan mahkamah yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terhukum atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.

2. Permintaan peninjauan kembali dilakukan atas dasar:

a. apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan uqubat yang lebih ringan;

b. apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;

c. apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

3. Atas dasar alasan yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhadap suatu putusan mahkamah yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh suatu penjatuhan uqubat.

4. Berdasar ketentuan Pasal 230 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permintaan peninjauan kembali oleh pemohon sebagaimana dimaksud dalam angka (1) diajukan kepada panitera mahkamah yang telah memutuskan perkaranya dalam tingkat pertama dengan menyebutkan secara jelas alasannya. 5. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 235 ayat (2) berlaku juga bagi

permintaan peninjauan kembali.

6. Dalam hal pemohon peninjauan kembali adalah terhukum yang kurang memahami hukum, panitera pada waktu menerima permintaan peninjauan kembali wajib menanyakan apakah alasan ia mengajukan permintaan tersebut dan untuk itu panitera membuatkan surat permintaan peninjauan kembali.

7. Ketua mahkamah segera mengirimkan surat permintaan peninjauan kembali beserta berkas perkara kepada Mahkamah Agung, disertai suatu catatan penjelasan.

8. Berdasar ketentuan Pasal 231 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permintaan peninjauan kembali tidak dibatasi dengan suatu jangka waktu.

9. Permohonan peninjauan kembali atas suatu putusan hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali.

10. Berdasar ketentuan Pasal 232 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Ketua mahkamah setelah menerima permintaan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1) menunjuk hakim yang tidak memeriksa perkara semula yang dimintakan peninjauan kembali itu untuk memeriksa apakah permintaan peninjauan kembali tersebut memenuhi alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2).

11. Dalam pemeriksaaan sebagaimana dimaksud pada angka (10) pemohon dan jaksa ikut hadir dan dapat menyampaikan pendapatnya.

12. Atas pemeriksaan tersebut dibuat berita acara pemeriksaan yang ditanda tangani oleh hakim, jaksa, pemohon dan panitera dan berdasarkan berita acara itu dibuat berita acara pendapat yang ditanda tangani oleh hakim dan panitera.

13. Ketua mahkamah segera melanjukan permintaan peninjauan kembali yang dilampiri berkas perkara semula, berita acara pemeriksaan dan berita acara pendapat kepada Mahkamah Agung yang tembusan surat pengantarnya disampaikan kepada pemohon dan jaksa.

14. Dalam hal suatu perkara yang dimohonkan peninjauan kembali adalah putusan Mahkamah Syar’iyah Aceh, maka tembusan surat pengantar tersebut harus dilampiri tembusan berita acara pemeriksaan serta berita acara pendapat dan disampaikan kepada Mahkamah Syar’iyah Aceh yang bersangkutan.

15. Berdasar ketentuan Pasal 233 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Dalam hal permohonan peninjauan kembali tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), Mahkamah Agung menyatakan bahwa permohonan peninjauan kembali tidak dapat diterima dengan disertai dasar alasannya.

16. Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa permohonan peninjauan kembali dapat diterima untuk diperiksa, berlaku ketentuan sebagai berikut:

a. apabila Mahkamah Agung tidak membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali dengan menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan peninjauan kembali itu tetap berlaku diser tai dasar pertimbangannya;

b. apabila Mahkamah Agung membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung membatalkan putusan yang dimohonkan peninjauan kembali itu dan menjatuhkan putusan yang dapat berupa:

(1) putusan bebas;

(2) putusan lepas dari segala tuntutan hukum;

(3) putusan tidak dapat menerima tuntutan penuntut umum;

(4) putusan dengan menerapkan ketentuan uqubat yang lebih ringan.

17. Berdasar ketentuan Pasal 234 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Salinan putusan Mahkamah Agung tentang peninjauan kembali beserta berkas perkaranya yang sudah diterima oleh Mahkamah Syar’iyah, dalam waktu 7 (tujuh) hari dikirim kepada pemohon.

18. Berdasar ketentuan Pasal 235 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permohonan peninjauan kembali atas suatu putusan tidak menangguhkan maupun menghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut.

19. Apabila suatu permohonan peninjauan kembali sudah diterima oleh Mahkamah Agung dan sementara itu pemohon meninggal dunia, mengenai diteruskan atau tidaknya peninjauan kembali tersebut diserahkan kepada kehendak ahli warisnya.

20. Berdasar ketentuan Pasal 236 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Semua putusan Mahkamah yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan grasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BAB XXII PUTUSAN

A. PELAKSANAAN PUTUSAN MAHKAMAH

1. Berdasar ketentuan Pasal 237 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Pelaksanaan putusan Mahkamah yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya.

2. Berdasar ketentuan Pasal 238 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Jika terhukum dijatuhi ‘uqubat penjara atau kurungan dan kemudian dijatuhi ‘uqubat yang sejenis sebelum ia menjalani uqubat yang dijatuhkan terdahulu, maka ‘uqubat itu dijalankan berturut-turut dimulai dengan ‘uqubat yang dijatuhkan lebih dahulu.

3. Berdasar ketentuan Pasal 239 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa jika putusan mahkamah menjatuhkan ‘uqubat denda, kepada terhukum diberikan jangka waktu 1 (satu) bulan untuk membayar denda tersebut.

4. Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka (1) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.

5. Jika putusan mahkamah juga menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara, selain pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, jaksa menguasakan benda tersebut kepada kantor lelang negara dan dalam waktu 3 (tiga) bulan untuk dijual lelang yang hasilnya dimasukkan ke Baitul Mal.

6. Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka (5) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.

7. Berdasar ketentuan Pasal 240 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Dalam hal mahkamah menjatuhkan juga putusan ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96, maka pelaksanaannya dilakukan menurut tata cara putusan perdata.

8. Berdasar ketentuan Pasal 241 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Apabila lebih dari satu orang dihukum dalam satu perkara, maka biaya perkara

atau ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 240 dibebankan kepada mereka bersama-sama secara berimbang.

9. Berdasar ketentuan Pasal 242 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa jika terhukum dihukum dengan ’uqubat cambuk, maka pelaksanaannya dilakukan oleh seorang petugas yang ditunjuk oleh jaksa.

10. ’Uqubat cambuk dilakukan di tempat yang dapat disaksikan orang banyak dengan dihadiri jaksa dan dokter yang ditunjuk.

11. Pencambukan dilakukan dengan rotan yang berdiameter 0,75 s/d 1 cm, panjang 1 m dan tidak mempunyai ujung ganda/belah.

12. Pencambukan dilakukan pada bagian belakang tubuh dan tidak mengenai kepala dan leher.

13. Kadar pukulan atau cambukan tidak menimbulkan luka.

14. Terhukum laki-laki dicambuk dalam posisi berdiri dan bagi terhukum perempuan dalam posisi duduk dengan memakai pakaian menutup aurat yang disediakan oleh jaksa. 76

15. Pencambukan terhadap terhukum perempuan yang sedang hamil dilakukan setelah 60 (enam puluh) hari yang bersangkutan melahirkan.

16. Berdasar ketentuan Pasal 243 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Apabila proses pencambukan menimbulkan hal-hal yang membahayakan terhukum berdasarkan pendapat dokter yang ditunjuk, pencambukan dihentikan dan pelaksanaan sisa pencambukan ditunda sampai dengan waktu yang memungkinkan.77

17. Berdasar ketentuan Pasal 244 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Jika terhukum dihukum dengan ’uqubat rajam/hukuman mati, maka pelaksanaan hukumannya dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh jaksa yang mekanisme pelaksanaannya akan diatur oleh Mahkamah Agung.

76 Terhukum perempuan atas permintaannya sendiri dapat dicambuk dalam posisi berdiri. Terhukum

tidak boleh diikat dan berdiri tanpa penyangga kecuali bagi terhukum yang cacat.

77 Yang dimaksud membahayakan adalah pecambukan yang mengakibatkan luka atau penyakit-

B. PENGAWASAN DAN PENGAMATAN PELAKSANAAN PUTUSAN MAHKAMAH

1. Berdasar ketentuan Pasal 245 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Pada setiap Mahkamah Syar’iyah ditunjuk hakim yang bertugas untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan mahkamah yang menjatuhkan ‘uqubat.

2. Hakim sebagaimana dimaksud pada angka (1) disebut hakim pengawas dan pengamat, ditunjuk oleh Ketua Mahkamah Syar’iyah untuk paling lama 2 (dua) tahun.

3. Berdasar ketentuan Pasal 246 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Jaksa mengirimkan tembusan berita acara pelaksanaan putusan mahkamah yang ditanda tangani olehnya, terhukum dan/atau lembaga pemasyarakatan kepada mahkamah yang memutus perkara pada tingkat pertama dan panitera mencatatnya dalam register pengawasan dan pengamatan.

4. Berdasar ketentuan Pasal 247 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Register pengawasan dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 246 wajib dikerjakan ditutup dan ditanda tangani oleh panitera pada setiap hari kerja dan untuk diketahui ditanda tangani juga oleh hakim sebagaimana dimaksud dalam pasal 245.

5. Berdasar ketentuan Pasal 248 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Hakim pengawas dan pengamat mengadakan pengawasan guna memperoleh kepastian bahwa putusan mahkamah dilaksanakan sebagaimana mestinya.

6. Hakim pengawas dan pengamat mengadakan pengamatan untuk bahan penelitian demi ketetapan yang bermanfaat bagi penjatuhan uqubat, yang diperoleh dari prilaku terhukum atau pembinaan lembaga pemasyarakatan serta pengaruh timbal balik terhadap terhukum selama menjalani hukumannya. 7. Pengamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap dilaksanakan setelah

8. Berdasar ketentuan Pasal 249 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Atas permintaan hakim pengawas dan pengamat kepala lembaga pemasyarakatan menyampaikan informasi secara berkala78 atau sewaktu- waktu tentang prilaku terhukum tertentu yang ada dalam pengamatan hakim tersebut.

9. Berdasar ketentuan Pasal 250 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, wa Jika dipandang perlu demi pendayagunaan pengamatan, hakim pengawas dan pengamat dapat membicarakan dengan kepala lembaga pemasyarakatan tentang cara pembinaan terhukum tertentu.

10. Berdasar ketentuan Pasal 251 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Hasil pengawasan dan pengamatan dilaporkan oleh hakim pengawas dan pengamat kepada ketua Mahkamah Syar’iyah secara berkala.

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA JINAYAT MAHKAMAH SYAR (Halaman 193-200)