a. Berdasar ketentuan Pasal 78 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Mahkamah Syar’iyah berwenang untuk memeriksa dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam qanun ini tentang:
1. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan;
2. ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi setiap orang yang perkara jinayatnya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
b. Berdasar ketentuan Pasal 79 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Pelaksanaan wewenang Mahkamah Syar’iyah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 melalui praperadilan.
c. Praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Mahkamah Syar’iyah dan dibantu oleh seorang panitera. 65
d. Berdasar ketentuan Pasal 80 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada Ketua Mahkamah Syar’iyah dengan menyebutkan alasannya.
e. Berdasar ketentuan Pasal 81 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua Mahkamah Syar’iyah dengan menyebutkan alasannya.
f. Berdasar ketentuan Pasal 82 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Permintaan ganti kerugian dan/atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan
65 Yang dimaksud dengan Mahkamah Syar’iyah adalah Mahkamah Syar’iyah Kabupaten/Kota,
diajukan oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua Mahkamah Syar’iyah dengan menyebutkan alasannya.
g. Berdasar ketentuan Pasal 83 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Acara pemeriksaaan praperadilan untuk hal sebagaimana dimaksud dalam huruf d, e dan f ditentukan sebagai berikut:
1. dalam waktu tiga hari setelah diterimanya permintaan, hakim yang ditunjuk menetapkan hari sidang;
2. hakim mendengar keterangan baik dari tersangka atau pemohon maupun dari pejabat yang berwenang, dalam memeriksa dan memutus tentang:
(1) sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan;
(2) sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan;
(3) permintaan ganti kerugian dan/atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan;
(4) akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan; dan
(5) ada benda yang disita yang tidak termasuk alat pembuktian.
3. pemeriksaan sebagaimana pada angka 2 dilakukan sacara cepat dan putusan dijatuhkan dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari sejak disidangkan; 4. dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Mahkamah Syar’iyah,
sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur;
5. putusan praperadilan pada tingkat penyidikan tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan pemeriksaan praperadilan lagi pada tingkat pemeriksaan oleh penuntut umum, jika untuk itu diajukan permintaan baru.
6. Putusan hakim dalam acara pemeriksaan praperadilan mengenai hal sebagaimana dimaksud dalam hurufl (d) sampai dengan huruf (f), harus memuat dengan jelas dasar dan alasannya.
h. Putusan hakim, selain memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf (g) juga memuat hal sebagai berikut:
1. dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penangkapan atau penahanan tidak sah, maka penyidik atau jaksa penuntut umum pada tingkat pemeriksaan masing-masing harus membebaskan tersangka;
2. dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penghentian penyidikan atau penuntutan tidak sah, penyidikan atau penuntutan terhadap tersangka wajib dilanjutkan;
3. dalam hal putusan menetapkan bahwa suatu penangkapan atau penahanan tidak sah, maka dalam putusan dicantumkan jumlah besarnya ganti kerugian dan rehabilitasi yang diberikan, sedangkan dalam hal suatu penghentian penyidikan atau penuntutan adalah sah dan tersangkanya tidak ditahan, maka dalam putusan dicantumkan rehabilitasinya;
4. dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dari siapa benda itu disita.
i. Ganti kerugian dapat diminta, yang meliputi hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dan Pasal 91.
j. Ganti kerugian sebagaimana dimaksud pada huruf (i) dibebankan pada APBA yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.
k. Berdasar ketentuan Pasal 84 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Terhadap putusan praperadilan dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80, sampai dengan Pasal 82 tidak dapat dimintakan banding.
l. Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) adalah putusan praperadilan yang menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, yang untuk itu dapat dimintakan putusan akhir ke Mahkamah Syar’iyah Aceh.
B. MAHKAMAH SYAR’IYAH, MAHKAMAH SYAR’IYAH ACEH DAN MAHKAMAH AGUNG a. Berdasar ketentuan Pasal 85 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Mahkamah Syar’iyah berwenang mengadili segala perkara mengenai jarimah yang dilakukan dalam daerah hukumnya;
b. Mahkamah Syar’iyah yang di dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat tinggal atau berdiam terakhir atau ditempat ia diketemukan atau ditahan, hanya berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut, apabila tempat kediaman
sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat Mahkamah Syar’iyah itu dari pada tempat kedudukan Mahkamah Syar’iyah yang di dalam daerahnya jarimah itu dilakukan;
c. Apabila seorang terdakwa melakukan beberapa jarimah dalam daerah hukum pelbagai Mahkamah Syar’iyah, maka tiap Mahkamah Syar’iyah itu masing-masing berwenang mengadili perkara jinayat itu;
d. Terhadap beberapa perkara jinayat yang satu sama lain ada sangkut pautnya dan dilakukan oleh seorang dalam daerah hukum pelbagai Mahkamah Syar’iyah, diadili oleh masing-masing Mahkamah Syar’iyah dengan ketentuan dibuka kemungkinan penggabungan perkara tersebut.
e. Berdasar ketentuan Pasal 86 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Dalam hal keadaan daerah tidak memungkinkan suatu Mahkamah Syar’iyah untuk mengadili suatu perkara, maka atas usul ketua Mahkamah Syar’iyah atau Kepala Kejaksaan Negeri yang bersangkutan, Mahkamah Agung menetapkan atau menunjuk Mahkamah Syar’iyah lain daripada yang tersebut pada Pasal 85 untuk mengadili perkara yang dimaksud .
f. Berdasar ketentuan Pasal 87 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Mahkamah Syar’iyah Aceh berwenang mengadili perkara yang diputus oleh Mahkamah Syar’iyah dalam daerah hukumnya yang dimintakan banding.
g. Berdasar ketentuan Pasal 88 Qanun Aceh Tentang Hukum Acara Jinayat, bahwa Mahkamah Agung berwenang mengadili semua perkara jinayat yang dimintakan kasasi.
BAB XI
PERADILAN KONEKSITAS66