“Bagus,” sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggut-manggut. Namun, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan membersit di wajahnya. “Sudah kubilang kamu memang co-cok kuliah di Ekonomi. 0,3 lagi untuk IP sempurna, semes-ter depan kira-kira bisa?”
“Mungkin,” jawab Keenan pendek.
“Apa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku referensi ... bilang saja. Nanti Papa siapkan.”
“Saya mau minta waktu.”
Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. “Maksud kamu?”
“Saya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.” “Dia minta waktu lebih lama di Ubud ...” Lena berusaha menjelaskan.
“Aku ngerti maksudnya,” potong ayahnya tajam. “Kamu minta izin seminggu bolos kuliah, gitu?”
Keenan mengangguk.
“Buat Papa, kuliah kamu harus jadi prioritas. Dan kamu sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu ... kamu malah minta hadiah berupa ... bolos kuliah?”
Keenan mengangguk lagi.
“Aneh. Nggak ngerti,” ayahnya geleng-geleng kepala, “lalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sam-pai 4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung bolos seminggu?”
“Saya kan nggak janji, Pa. Saya cuma bilang: mungkin.” “Nan, jangan mulai sok pintar, ya ....”
“Pa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta kendaraan. Saya nggak minta komputer baru. Saya nggak minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu minggu di tempat Pak Wayan.” Nada bicara Keenan mulai mengeras.
Se-PLQJJX ODJL %XDW DSD VLK NDPX ODPDODPD DPDW GL Ubud?”
“Saya udah kasih enam bulan buat Papa. Dan sekarang saya cuma minta satu minggu ....”
“Memangnya kamu kuliah buat saya?” sergah ayahnya. Keenan tak menjawab, hanya menghela napas, seolah menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ tahu jawabnya.
Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang duduk kaku tanpa suara.
“Aku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu minggunya,” akhirnya Lena berkata.
“Terserah,” sahut suaminya setengah menggumam, lalu berdiri dan pergi.
Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. Begitu juga dengan Jeroen yang bahkan sudah siap packing sejak dua hari yang lalu. Dia akan menemani abangnya beberapa hari di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study
tour di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang
sepi, tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya demi menghabiskan waktu bersama Keenan.
Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum dia pergi ke bandara sebentar lagi. Dibukanya buku kecil berisikan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari satu nama.
“Halo ....” Suara remaja cewek menyambutnya. “Selamat pagi, bisa bicara dengan Kugy?”
Suara dari ujung sana terdengar riuh, berlatar belakang VHNLDQ EDQ\DN RUDQJ \DQJ EHUELFDUD ³.XJ\\\ 7HOHSRRRQ´
³'L NDPDU PDQGL ND\DNQ\D´ 7HUGHQJDU DGD VXDUD SHUHP puan yang menyahut.
³*\ /DPD DPDW VLK" %HUDN \D" 7HOHSRQ WXK´ $GD VXDUD laki-laki menimpali.
Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga. ³(QDN DMD ODJL GL DWDV WDXN %HQWDDDU´
³%HUDUWL VLDSD WXK \DQJ GL NDPDU PDQGL" .RN EDX" :RL $GD \DQJ NHQWXW \D" 1JDNX´
“Halo,” akhirnya terdengar suara Kugy menyapa. “Hai, Gy.”
Mata Kugy membundar seketika. “Keenan?”
“Iya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?” “Oh, nggak. Tiap hari memang begini,” Kugy tertawa kecil, “kamu ... apa kabar? Kok, tumben telepon? He-he, bu-kannya nggak boleh, lho. Cuma aneh aja. Bukan aneh gimana, sih. Cuma ... yah ....” Kugy mulai salah tingkah.
“Saya mau ke Bali, mungkin sampai sebulan. Mau pa-mitan.”
“Oh ....”
“Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan juga,” gugup Keenan menambahkan. “Mau oleh-oleh apa?”
“Hmm. Apa, ya?” Kugy berpikir-pikir, “Kaus barong udah punya lima, sarung pantai ada tiga, miniatur papan VXU¿QJ ada satu ....”
“Kacang asin?”
³$NX WDKX´ VHUX .XJ\ ³6HVXDWX \DQJ QJJDN EROHK GL beli.”
“Jadi dicuri?”
Kugy tergelak, “Bukan. Sesuatu yang harus dibikin.” “Oke,” Keenan tersenyum, “saya janji.”
Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. Kugy me-rasa hangat. Teme-rasa ada sesuatu yang menariki kedua ujung bibirnya. Kugy merasa ingin terus tersenyum. Sekilas Kugy
melihat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sen-diri.
“Gy ... udah harus cabut, nih. Sori nggak bisa telepon lama-lama. Baik-baik, ya. Sampai ketemu semester depan.” “Sip. Sampai ketemu semester depan.” Dan telepon itu ditutup dari ujung sana. Kugy meletakkan gagang telepon dengan hati-hati, lalu terduduk lama. Percakapan telepon barusan tak sampai dua menit, tapi serasa waktu telah me-lemparkan jangkarnya dan berhenti di sana. Dan kini per-lahan Kugy mencabut jangkar tadi, kembali ke ruang ke-luarga rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang rutin berlangsung di sana.
Ubud, Desember 1999 ...
Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks ke-luarga satu itu. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keke-luarga besarnya, di sebuah tanah berbukit-lembah yang dilewati sungai dengan luas hampir lima hektar. Semua anggota ke-luarga itu menjadi seniman-seniman besar. Ada yang men-dalami lukis, ukir, patung, tari, bahkan perajin perhiasan. Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya masing-masing di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan-bulan ke depan.
Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan me-ngenal sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. Ia ber-temu dengan pria itu hanya jika ibunya mengunjungi pa-meran lukisan Pak Wayan di galeri di Jakarta. Inilah
kun-jungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama ini cuma ia lihat dari foto-foto yang dikirimi Pak Wayan. Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Ia merasa bisa tinggal selamanya di sana.
Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan temu langsung dengan Pak Wayan lagi. Keduanya tak ber-henti berkorespondensi. Keenan selalu mengirimkan foto-foto lukisannya, begitu juga dengan Pak Wayan. Keenan bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangan-nya kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi ke-luarga di kampung halaman.
Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk melukis, terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Se-harian ini ia cuma menguntit Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan, yang sedang mengerjakan pesanan patung.
Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana, tempat Keenan jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak ber-kedip.
“Tertarik belajar mahat, Nan? Serius sekali.”
Keenan tertawa ringan. “Cuma mengagumi, Poyan. Saya belum pernah coba. Poyan sendiri—bisa memahat?”
Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan ke-dua telapaknya, “Ini jari kuas. Bukan jari perkakas. Biar sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya.”
“Dicoba saja, Nan. Siapa tahu cocok ...,” Banyu ikut menimpali.
Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan perkakas pahat yang berserakan. Air mukanya mulai me-nunjukkan ketertarikan.
juga lagi di sini. Jadi kamu bisa tanya-tanya. Karya mereka ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,” Pak Wayan ikut memanas-manasi.
“Oke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, Poyan,” sambil mesem-mesem Keenan berkata. Ia pun kembali menontoni Banyu dengan setia.
Menjelang petang, Keenan kembali masuk ke studio patung keluarga Pak Putu. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Di studio itulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, biasa bekerja. Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak Wayan.
Ada banyak bahan mentah berbagai ukuran yang terong-gok di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sono-keling, kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang, dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta ranting-ranting. Setelah membolak-balik beberapa bahan, Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran agak kecil.
Memulai dari yang kecil, pikirnya. Tak lama kemudian, Keenan mengambil posisi, menyiapkan perkakas yang ia butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam ia tak keluar-keluar dari sana.
Jakarta, Desember 1999 ...
Kugy punya kesibukan baru sekarang. Ia kembali seperti anak sekolah yang punya tugas prakarya. Ia memfotokopi semua sketsa dari Keenan, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak. Printer kecil di kamarnya tak henti-henti ber-bunyi, mencetak seluruh dokumen dongengnya. Setelah se-mua siap, Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya dengan sketsa-sketsa Keenan, membuat semacam buku buatan tangan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan se-penuh hati.
Ada satu tanggal yang menginspirasinya untuk membuat buku itu. Tanggal itu jugalah yang mendorongnya untuk bekerja dengan semangat penuh. Kugy sudah melingkari tanggal itu di kalendernya. Tanggal yang hanya terpaut se-hari dari ulang tahunnya sendiri.