• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA BESAR WANDA

Dalam dokumen perahu kertas (Halaman 119-129)

Eko sedikit terbatuk, “Jadi gini, Gy. Sore ini akan ada acara high tea di galeri untuk memperkenalkan koleksi baru-nya Warsita, salah satubaru-nya lukisan Keenan. Nanti bakal ada pelukis-pelukis, wartawan, kolektor, kurator ....”

.XJ\ ODQJVXQJ SXFDW SDVL ³.DOLDQ NRN WHJD VLK %LODQJ ELODQJ GRQJ *XD ND\DN QDSL EXURQ EHJLQL ´

Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. “Lu adalah manusia paling cuek dan pe-de yang gua tahu. Masa gentar sama acara gitu doang? Bukan acara besar, kok. Kata Wanda, cuma sekitar lima puluh orang yang diundang ....”

“Lima puluh?” Kugy setengah berteriak. “Gua pokoknya WXQJJX GL PRELO´

“Yah ... jangan gitu, dong, Gy. Lu kelihatan oke, kok ....”

³.DJDN DGD´ WXNDV .XJ\ ³.DOLDQ DMD \DQJ WXUXQ JXD WXQJJX GL PRELO 7LWLN´

Namun, bukan jatahnya Kugy untuk bisa kabur hari ini. Saat Fuad tiba di pelataran parkir galeri, mereka bertiga langsung disambut oleh Wanda dan Keenan yang datang semobil dan juga baru parkir.

“Hi, guys. Thanks ya udah mampir,” Wanda menyapa

mereka. Kali ini baju Wanda serba silver, serasi dengan tas, sepatu, dan kuku-kuku. Riasan wajahnya lengkap seperti penyanyi mau pentas.

Kugy melirik bajunya sendiri. Ada sebersit penyesalan di hatinya. Kalau saja ia tahu akan dibawa ke Galeri Warsita dulu, ia pasti akan lebih membenahi dandanannya. Namun, bukan jatahnya untuk tampil siap hari ini. Ia harus pasrah dengan kaus eks-panitia Fun Bike yang sablonannya sudah memudar dan resmi tercantum dalam daftar “calon lap mobil” Ojos yang siap diculik dari lemari pakaiannya setiap saat.

Keenan langsung menghampiri Kugy dengan sumringah, “Hai, Gy. Saya nggak nyangka kamu ikut.”

“Aku juga nggak,” Kugy tersenyum masam. Rasanya ingin ia menciut jadi semut lalu minggat dari situ. Minggat dari Wanda yang seperti artis Ibu Kota siap naik panggung, dari Keenan yang berkemeja rapi dan terlihat sangat tampan, dari pemandangan jemari Wanda yang melingkar di lengan Keenan, dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga dengan keberhasilan proyek perjodohan mereka. Namun, bukan jatahnya untuk bisa minggat hari ini.

Di pojokan itu, terdapat meja besar tempat berbagai aneka teh dan minuman dihidangkan, lengkap dengan penganan kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak. Di sanalah Kugy bercokol, meminum bercangkir-cangkir teh dan menge-nyangkan perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari tempat ia berdiri.

“Memang kamu nggak boleh dikasih makan gratis, bikin rugi panitia.”

Kugy menoleh, mendapatkan Keenan yang sudah berdiri di sampingnya. “Ini modus operasi standar mahasiswa ku-rang gizi ...,” Kugy menyahut susah payah, mulutnya masih penuh dengan kue.

Keenan menatapnya hangat, “Saya senang kamu bisa da-tang.”

Kugy mau tak mau tersenyum. Selalu ada kesejukan yang mengaliri tubuhnya tiap kali melihat tatapan itu. “Aku ter-haru lihat lukisan kamu dipajang tadi. Buatku, lukisan kamu yang paling bagus dari semua yang ada di galeri ini,” ucap Kugy polos, “mmm ... tapi aku nggak ngerti apa-apa soal lukisan. Ini sih cuma selera, dan mungkin, yah, karena kamu sahabatku,” tambahnya sambil mesem-mesem.

Keenan balik tersenyum, “Kamu nggak perlu ngerti lu-kisan untuk suka lulu-kisan. Cukup pakai hati aja.”

Mendengar kalimat Keenan, napas Kugy langsung meng-hela. “Setuju. Pakai hati saja,” ia pun menimpali pelan.

“Mas Itok nyangka kita putus.”

Teh yang baru diseruput Kugy nyaris tersembur lagi ke-luar dari mulutnya. “Ha-ha-ha ... di jagat raya ini mungkin cuma Mas Itok yang tahu kapan kita jadian. Kita berdua aja nggak tuh ....”

“Sekarang, dia nyangka saya pacaran sama Wanda.” Tawa Kugy masih berlanjut, tapi berangsur hambar, hing-ga akhirnya surut sama sekali. “Siapa tahu Mas Itok itu se-benarnya cenayang. Dia bisa melihat apa yang terjadi di masa depan ...” Kugy menelan ludah, “Kamu—nggak tertarik pacaran sama Wanda?”

Keenan tak langsung menjawab. Matanya beralih pada Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk ber-bicara dengan orang-orang. Kugy mengikuti arah mata Keenan. Dan kini mereka berdua menatap objek yang sama.

“Kalo aku jadi cowok ..., bego banget kalo nggak suka sama Wanda ...” gumam Kugy.

“Mungkin aja cowok sebego itu ada,” gumam Keenan ba-lik.

Darah Kugy terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam hatinya. “Jadi ... kamu—”

Namun, arah mata Keenan mendadak berubah. “Keluarga saya datang. Sori, saya tinggal dulu, ya, Gy ....”

Kugy terpaksa mengangguk, menelan apa yang ingin ia ucapkan, dan membiarkan Keenan melesat ke arah pintu depan. Matanya ikut mengamati. Kugy sudah pernah melihat keluarga Keenan dari foto, tapi baru kali inilah ia melihat langsung. Ibunya yang orang Belanda tampak lebih cantik

dari foto, berbaju serba putih, dengan rambut panjang yang digelung ke atas. Ayahnya menjulang tinggi seperti Keenan, juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan jins. Ada seorang anak remaja laki-laki berambut ikal yang ikut bersama mereka, mukanya mirip Keenan tapi dengan kulit lebih gelap. “Jeroen ...,” desis Kugy sendirian.

Bersamaan dengan itu, tampak seseorang yang ikut ber-gabung, menyalami mereka satu-satu dengan senyuman cantik. Wanda. Mulut Kugy langsung manyun.

Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menarik. “Itu ortunya Keenan. Sini, gua kenalin,” kata Eko yang muncul di sam-pingnya bersama Noni.

“Tante Lena, Om Adri, Jeroen, apa kabar?” Eko menyapa ketiganya.

“Hai, Eko,” sapa Lena sambil memeluk keponakannya, “hai, Noni ....”

“Ini Kugy, Tante. Sahabatnya Noni,” Eko memperkenalkan Kugy yang berdiri di belakangnya.

Lena langsung menoleh ke arah Keenan, “Ooh ... ini yang namanya Kugy?”

Ketiga anak itu, plus Wanda, langsung berpandang-pan-dangan mendengar nada mencurigakan yang terlontar dari ibunya Keenan.

“Keenan cerita banyak tentang kamu, Kugy. Katanya kamu suka menulis cerita, ya?

Kugy nyengir lebar, antara gugup dan senang, “Iya, Tante ....”

“Keenan kagum sekali dengan cerita-cerita buatan kamu.” Kugy pun kontan berdehem. “Ehm. Dia memang fans saya, Tante. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma dia doang yang nge-fans, yang lain nggak ... ha-ha ....”

Semua orang di situ ikut tertawa, kecuali Wanda. “Tante, Om, mari saya antar keliling,” ajaknya sambil menarik

le-ngan Keenan hingga semua orang terpaksa ikut bergerak. Mata Kugy tak bisa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang melingkar erat di lengan Keenan bagaikan rantai besi.

Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang su-dah terbingkai insu-dah dan tergantung rapi di panel. Keempat-nya tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. Terdengar suara Lena yang tercekat, dan mata itu berkaca-kaca. Semen-tara suaminya hanya berdiri bergeming. Seketika Lena me-rangkul Keenan dan berbisik, “Ik ben erg trots op jou.15

Mama bangga sekali, vent.”

“Ada agenda apa lagi, ya? Kita harus ke mana lagi seka-rang?” tanya ayah Keenan pada Wanda.

Wanda menatapnya bingung. “Mmm ... nggak ada apa-apa lagi, Om. Silakan saja lihat-lihat. Mungkin Om dan Tante mau minum? Kita ada teh, wine ....”

“Maaf, saya nggak bisa terlalu lama,” ujar ayah Keenan lagi, “Lena, lima belas menit lagi kita jalan, ya?”

“Mama bisa pulang dengan saya. Kalau Papa mau duluan, silakan saja,” sambar Keenan.

Ada ketegangan yang seketika merembet dan menginfeksi semua.

“Jeroen, kamu nanti ikut saya?” tanya ayahnya.

Jeroen tampak gelagapan, “Mmm ... aku mau jalan-jalan sama Mas Eko dulu, Pa.”

Suasana tak nyaman itu diselamatkan oleh seorang pe-layan yang hadir di antara mereka dan menawarkan ma-kanan dan minuman. Eko, Noni, Kugy, dan Jeroen langsung menyibukkan diri dengan kegiatan mengunyah.

“Kamu duluan saja, Dri. Aku nanti ikut Keenan,” Lena berkata pada suaminya, “aku mau lihat-lihat lebih lama di sini.”

“Naik apa kalian nanti? Memangnya Keenan ada ken-daraan?”

“Nanti pakai mobil saya, Om,” Wanda cepat menimpali. Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar itu. “Oke. Terserah kalian,” kata ayahnya singkat. Tak lama, ia benar-benar berlalu dari tempat itu.

Meski Keenan berusaha bersikap wajar, semua yang di sana merasakan perubahan sikapnya. Seolah ada awan men-dung yang menggantungi Keenan dan tak kunjung-kunjung pergi, bahkan hingga acara sore hari itu selesai.

Wanda tak langsung beranjak sesudah mengantar ibu dan adik Keenan pulang. Ia dan Keenan duduk di beranda de-pan, di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat Mandevilla dengan bunga-bunga putih yang menjuntai, ber-temankan dua gelas air yang sedari tadi tak mereka sen-tuh.

“Papa kamu nggak setuju kamu melukis, ya?” tanya Wanda memecah keheningan.

Keenan menggeleng. “Dari kecil, yang saya suka cuma melukis. Tapi, nggak tahu kenapa, Papa kayak alergi sama segala sesuatu yang ada hubungannya dengan lukisan. Mama juga dulu pelukis, tapi sejak menikah Mama berhenti. Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena takut saya jadi seniman. Papa pikir dengan saya kuliah Manajemen, hobi melukis bisa hilang dengan sendirinya. Tahunya ....”

“Kamu malah ketemu aku,” Wanda menyambung. Keenan menghela napas. Getir. “Dan ketika lukisan saya bisa masuk ke galeri seperti Warsita, saya yakin Papa shock. Mungkin dia merasa terancam.”

“Papa kamu pasti punya bisnis sendiri, ya?”

“Iya, dia punya perusahaan trading, ekspor-impor. Dia bangun semuanya sendiri dari nol. Kok, kamu tahu?”

“Papiku juga sama. Dan aku anak tunggal. I know the

pressure,” Wanda tersenyum, “untungnya, aku suka dengan

bisnisnya Papi. Dan aku pingin banget serius di bisnis seni. Tapi tetap saja, aku juga harus kerja keras membuktikan sama Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalan-kan Warsita.” Perlahan, Wanda meletakmenjalan-kan tangannya di atas tangan Keenan, “Kita sebetulnya senasib,” ucapnya tengah berbisik. “Nan, kalau boleh aku tahu, apa yang se-benarnya paling kamu inginkan?”

Keenan menoleh, menatap Wanda lekat-lekat. “Menjadi diri saya sendiri,” jawabnya tegas. “Begitu ada kesempatan, saya nggak takut ninggalin ini semua. Satu-satunya yang bi-kin saya bertahan cuma karena saya masih bergantung pada Papa. Saya belum mandiri.”

“Dengan melukis, kamu bisa mandiri. Aku yakin sama kemampuan kamu. Cuma masalah waktu.”

Keenan tersenyum sekilas. “Yah, berarti tinggal tunggu siapa yang mau beli lukisan-lukisan itu, kan?”

“You’re absolutely right,” Wanda mengangguk. Ia lantas

terdiam dan matanya menerawang, tapi otaknya berputar keras memikirkan sesuatu.

Sekembalinya dari rumah Keenan, semalaman Wanda terbaring di tempat tidurnya. Berpikir dan berpikir. Ter-susunlah sebuah rencana yang akan ia jalankan secepatnya. Wanda tak sabar menunggu pagi tiba.

Dari pukul setengah sepuluh pagi, Wanda sudah tiba di ga-leri. Menelusuri daftar panjang jaringan kolektor dan

pe-langgan Warsita, menandai sederet nama. Jemarinya yang lentik mulai menari-nari di atas tuts telepon, menghubungi nama-nama itu satu per satu.

“Om Halim? Ini Wanda, Om. Katalog Warsita yang baru sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis baru, namanya Keenan, sudah sempat dilihat? Iya, dia me-mang masih baru, Om. Tapi prospeknya bagus, kok ....”

“Apa kabar, Tante Lien? Ini Wanda dari Warsita. Dari katalog baru kita, kira-kira sreg sama yang mana, Tante? Kalau aku sih rekomen pelukis baru, yang namanya Keenan, ada di bagian belakang. Mmm. Belum, Tante, dia belum pa-meran, tapi ....”

Seharian, Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu orang yang ada dalam daftarnya, hingga akhirnya ia menye-rah. Tak satu pun dari mereka yang tertarik untuk ber-investasi pada lukisan Keenan. Alasannya semua sama, Keenan masih terlalu muda dan belum punya rekor yang meyakinkan.

Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. Semua orang yang ia kontak adalah pemain-pemain lama yang sudah terbiasa mengoleksi lukisan pelukis ternama. Barulah Wanda me-nyadari tantangan yang dimaksud ayahnya. Ayahnya benar. Galeri Warsita bukanlah tempat yang cocok untuk lukisan Keenan, setidaknya untuk masa sekarang ini. Wanda meng-gigiti bibirnya, otaknya pun berputar lagi. Ia harus mengu-bah strateginya.

Jemarinya kembali menari di atas tuts telepon, tapi kali ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. Ia me-neleponi teman-temannya sendiri.

“Pasha, ini gue, Wanda. Gue minta tolong, ya? Gue cuma butuh data lo doang buat customer list gue. Nggak ... lo nggak perlu beli lukisan ... tapi ceritanya elo yang beli. Boleh, ya, Say? Thanks ....”

“Virna? Dear, would like to ask you for a favor. Gue mau beli lukisan, tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri. Jadi, atas nama lo boleh, ya? Gue cuma pinjam data doang, kok ....”

Dalam waktu singkat, empat lukisan Keenan terjual su-dah. Dibeli oleh empat orang yang berbeda. Namun, kesemuanya dibayar oleh satu orang yang sama: Wanda.

Bandung, Juni 2000 ...

Jip CJ-8 yang dikendarai Bimo dan Keenan berhenti di se-buah puskesmas kecil yang punya parkiran cukup untuk satu mobil.

“Gila, ini sih tempat gua biasa pergi off-road sama anak-anak klub,” celetuk Bimo sambil mengedarkan pandangan. Matanya berhenti di satu bukaan jalan. Sempit dan curam. “Kata Ical, kita ikutin jalan ini, kira-kira setengah jam, terus nanti ada masjid. Ical nunggu kita di sana,” ujarnya seraya sesekali menyibak dedaunan bambu yang menggempur me-reka dari kiri-kanan.

Di kepalanya, Keenan membayangkan si kecil Kugy yang menempuh jalan ini setiap harinya demi mengajar. Hatinya mendadak terenyuh.

Di masjid yang dimaksud, Ical sudah menunggu mereka. Dan mereka berjalan kaki lagi menuju ladang cabai tempat saung mereka mengajar. Tak lama, mereka tiba di sebuah saung bambu. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan dan Bimo.

14.

Dalam dokumen perahu kertas (Halaman 119-129)