• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hotel Kempinski

21 November 2012

Yang kami hormati Bapak Yunus, yang kami hormati Bapak/Ibu dan seluruh hadirin sekalian.

Assalamu’alaikum Warahamatullah Wabarakaatuh

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Pertama-pertama kami ingin sekali lagi mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat ridho-Nya kita semua dapat hadir di event “Seminar Investasi 2013: Menghadapi Ancaman Overheating Ekonomi” yang sekarang diselenggarakan oleh Harian Investor Daily Indonesia.

Selaku Menteri Keuangan, saya menyambut baik penyelenggaraan acara seminar ini tentu dengan eskpektasi yang besar agar nantinya terciptanya output dan outcome yang positif. Dan kegiatan ini untuk perkembangan perekonomian kemajuan Indonesia khususnya terkait kinerja investasi di tengah adanya krisis, baik krisis di Eropa, maupun di Amerika yang masih berkelanjutan.

Secara khusus saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada harian

Investor Daily yang telah banyak memberikan kontribusi dan sumbangsih

positif bagi perkembangan nasional Indonesia. Terutama dari kritik-kritik, saran, ide kreatif dan inovatif senantiasa dipublikasikan di Harian

Investor Daily Indonesia. Ke depan, tentu saya berharap agar Harian Investor Daily senantiasa bisa menjaga netralitasnya dalam pemberitaan

maupun momentum kerja sama dengan pemerintah sebagaimana terjalin baik selama ini, dan tentu lebih kritis dalam memberikan masukan-masukan konstruktif terhadap setiap kebijakan dan program pembangunan nasional yang dijalankan oleh pemerintah.

Bapak/Ibu saudara-saudara yang kami hormati,

Indonesia merupakan negara besar yang menerapkan sistem ekonomi terbuka (opened economic). Ini artinya Indonesia membuka diri untuk menjadi bagian yang terintegrasi dari konfigurasi masyarakat global sekaligus kita juga menjalin berbagai kerja sama ekonomi dengan negara lainnya di dunia baik dalam dimensi global maupun dimensi regional. Dalam dimensi global saat ini kita menjadi salah satu anggota Grup 20 atau G20, yaitu kelompok negara yang secara kolektif mempunyai porsi 80 persen lebih produk global bruto atau gross growth product. Selain itu G20 juga mengawasi sekitar 80 persen dari perdagangan dunia dan juga total populasi penduduk di G20 mencapai 2/3 dari populasi masyarakat dunia. Dengan berbagai kondisi ini, boleh dikatakan G20 berperan penting dalam menciptakan arah kebijakan global dan ini artinya posisi Indonesia begitu penting dalam memainkan peran untuk

menentukan proses stabilitas perekonomian dunia. Sementara itu di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global tekanan maupun kondisi yang terjadi pada ekonomi nasional maupun global dapat sangat mempengaruhi sektor investas. Namun sejauh ini kinerja ekonomi tahun 2012 secara umum dapat saya katakan masih berjalan cukup baik. Untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak krisis akibat pelemahan ekonomi global, pemerintah telah memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia. Nantinya dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjaminan Simpanan.

Dalam forum yang kita kenal Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan yang melakukan upaya untuk mencegah terjadinya instabilitas dalam sistem keuangan yang memungkinkan. Otoritas sistem keuangan bertindak cepat dan tegas, untuk mencegah krisis dan meminimalkan dampak krisis. Protokol dalam mencegah dan menangani krisis juga disusun dalam suatu crisis management protokol nasional. Sebagai pedoman dalam koordinasi pengambilan kebijakan dan tindak lanjut, serta pertukaran data informasi dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan.

Jadi Bapak/Ibu sekalian, otoritas fiskal yang diwakili oleh Menteri Keuangan, otoritas moneter Bank Indonesia, Lembaga Penjaminan Simpanan dan sektor riil. Dalam hal ini juga termasuk menteri-menteri yang langsung bertanggungjawab atas sektor itu selalu kita koordinasi di level deputi menteri, di level menteri dan gubenur untuk terus memonitor kondisi Indonesia dan mengantisipasi kondisi krisis yang ada di dunia. Kita kenal bahwa di Indonesia sekarang kita punya namanya koordinasi ini kita punya bond stabilization frame work. Pada

bond stabilization frame work ini kalau ada apa-apa kita bisa melakukan

stabilisasi di anggaran kita, kita punya anggaran untuk melakukan buy

back surat utang negara kalau terjadi apa-apa. Kondisi kita masih lebih

lain masih susah untuk bisa menyelesaikan anggaran atau budget-nya di tahun 2013.

Indonesia lagi-lagi sudah bisa menyelesaikan dan kalau saudara-saudara ikuti pasal di dalam budget itu isinya pasal, termasuk pasal-pasal untuk mengamankan Indonesia kalau terjadi kondisi yang buruk antara lain kalau dilihat di APBN itu ada pasal 20 di mana di pasal itu kalau ada apa-apa sama surat utang negara kita, kita bisa gunakan dana sisa anggaran lebih untuk intervensi. Kita punya pasal 21 Undang-Undang APBN yang memungkinkan kita kalo ada apa-apa kita bisa menggunakan pagu lebih besar daripada apa yang dianggarkan untuk stabilisasi. Kita juga punya pasal untuk menjaga kalau terjadi langkah darurat apa yang akan kita lakukan.

Dan ini semua didukung oleh DPR. DPR, Bapak/Ibu sekalian, mereka berjanji akan merespons dalam waktu 24 jam kalau kita memerlukan itu. Jadi kita mempersiapkan diri. Indonesia kemarin kita mendapatkan satu contingency loan untuk hati-hati kalau ada apa-apa kita bisa tarik dana kalau seandainya kita mau cari utang dan susah itu karena jumlahnya US$5 miliar. Dan itu setiap saat kalau kondisi membahayakan kita bisa tarik. Kita juga ikut dalam Chiang Mai Initiative Water Liasion itu dananya tersedia US$120 miliar dan ditingkatkan jadi US$240 miliar. Itu kerja sama antara ASEAN dengan Cina, Korea dan Jepang. Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. Kalau ada apa-apa kita bisa gunakan itu. Jadi saudara-saudara sekalian, secara fiskal, secara moneter kita terus bekerja sama untuk jaga ekonomi kita agar Bapak/ Ibu terus bisa mengembangkan usaha dengan baik ke depan dan tentu untuk menciptakan nilai tambah.

Bapak/Ibu saudara saudara yang kami hormati,

Saya melihat secara fundamental, kita sudah memiliki modal yang baik untuk menghadapi ancaman overheating ekonomi. Meskipun ekonomi kita bekerja di bawah tekanan dan ada gejolak ekonomi global. Namun

performance ekonomi kita tetap baik dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan kita tercatat menjadi salah satu negara yang masih mampu berekspansi di bawah kontraksi global. Kalau kita lihat negara-negara di Eropa kontraksi, pertumbuhan negatif, Inggris, pertumbuhan negatif. Kita lihat koreksi yang ada di India, di Brazil. Indonesia masih bisa tumbuh tahun ini sebesar 6,3 persen. Dan triwulan 1 dan ke 2 tahun 2012, Ekonomi kita masih tumbuh dengan baik, yaitu berekspansi di level 6,3 persen di kuartal 1 dan 6,4 persen di kuartal ke-2 yang ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta meningkatnya kontribusi investasi. Kita sama-sama ingat di tahun 2009 ketika dunia bermasalah, kita tetap masih bisa tumbuh 4,5 persen, 1 dari 3 negara yang bisa tumbuh positif bersama India dan Cina. Yang menyelamatkan Indonesia adalah

domestic market kita. Tapi kalau sekarang Indonesia punya mesin baru.

Bukan hanya domestik ekonomi kita, tapi investasi. Sementara itu, pada triwulan ke-3, perekonomian Indonesia meskipun mengalami perlambatan masih tumbuh 6,2 persen year on year. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh semakin anjloknya ekspor yang mengalami kontraksi 2,78 persen. Jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekspor periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 17,8 persen positif year on year. Jadi ekspor kita terjadi koreksi penurunan, tapi konsumsi pemerintah juga mengalami kontraksi dan tumbuh sebesar minus 3,22 persen. Sedangkan konsumsi rumah tangga dan investasi masih tumbuh cukup tinggi masing-masing 5,68 persen dan 10 persen

year on year. Jadi ini andalan kita yaitu konsumsi rumah tangga dan

investasi. Sejalan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi hingga triwulan kemarin stabilitas ekonomi kita juga relatif terjaga. Laju Inflasi dalam periode Januari hingga September 2012 tercatat masih sebesar 4,31

persen. Dengan memperhatikan perkembangan terkini semua aspek perekonomian, pemerintah percaya dan optimis hingga akhir tahun 2012, pertumbuhan ekonomi kita secara agregat masih akan berada pada kisaran 6,3-6,5 persen. Inflasi Januari-September 2012 sebesar 4,3 persen. Kita tentu melihat itu cukup tinggi. tetapi kalau kita lihat 10 tahun yang lalu sampai 5 tahun yang lalu itu kita punya inflasi jauh lebih tinggi. Dan sekarang kita bisa capai kondisi di kisaran 4-5 persen ini betul-betul prestasi dan Indonesia bukan negara yang satu pulau. Kita itu negara dengan lebih dari 17 ribu pulau. Tentu tantangannya beda untuk mengelola inflasi di Indonesia. Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Sektor-sektor padat karya, seperti sektor pertanian dan industri manufaktur, menunjukkan angka pertumbuhan yang cukup kuat. Sementara dari sisi pengeluaran, laju pertumbuhan PDB tahun 2012 masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan investasi.

Berdasarkan perkembangan ini, pemerintah mencanangkan tahun 2012 pertumbuhan ekonomi sebagaimana dituangkan dalam RAPBN 2013 akan mencapai 6,8 persen. Ini angka yang cukup tinggi. Beberapa faktor yang memberikan keyakinan atas target tersebut adalah investasi yang masih cukup tinggi didorong oleh minat Investor serta percepatan pembangunan Infrastruktur, termasuk realisasi project

masterplan MP3EI. Selain investasi, ada konsumsi rumah tangga yang

masih cukup tinggi didorong dominasi usia produktif. Kita masih ada deviden demografi sampai tahun 2025. Aktivitas ekspor kita harapkan mulai membaik didorong oleh pemulihan demand global karena adanya depresiasi nilai tukar. Sekarang exchange rate-nya kita ada di kisaran Rp 9500-9600 per dolar akan mendorong kekuatan untuk kita melakukan ekspor. Dan dukungan kebijakan-kebijakan stimulus antara lain kita ada rencana menaikkan pendapatan tidak kena pajak, yang tadinya di Rp15,6 juta kita akan naikkan di Rp24 juta itu untuk satu orang. Tapi kalau satu orang termasuk keluarga 3, itu sampai Rp30 juta. Dengan

adanya peningkatan pendapatan tidak kena pajak, itu akan membuat rakyat Indonesia menjadi lebih kaya dan tentunya akan mendorong lagi kemampuan ekonomi kita. Dan tentu ada stimulus-stimulus perpajakan lain. Sementara itu di RAPBN 2013, APBN 2013 anggaran kita direncanakan akan mengalami defisit 1,65 persen terhadap PDB. Yaitu lebih rendah dari defisit yang APBNP 2012 yang direncanakan 2,23 persen. Hal ini sejalan dengan tema APBN 2013 yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui upaya penyehatan fiskal.

Jadi Bapak/Ibu sekalian, kalau kita ikut melihat informasi pasar di media, Indonesia itu penuh dengan gejolak. Tetapi kalau kita soroti struktural kita, kita dalam kondisi yang baik. Bahkan defisit anggaran pun kita bisa jaga yang tadinya 2,23 persen kita turunkan ke 1,65 persen. Kalau kita mau mengikuti keinginan-keinginan populis, kita keluarkan anggaran dan akan membuat defisitnya bisa sampai 4 persen. Kita kan tahu negara seperti Amerika, Jepang itu defisitnya sampai 8 persen. Negara-negara di Eropa di atas 4 persen. Indonesia terus bisa defisit anggaran selama 8 tahun terakhir realisasinya ada di 1 persen. Jadi itu salah satu kekuatan ekonomi kita. Sektor investasi, merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam sektor perekonomian Indonesia. Kita perhatikan kuartal ke-3 tahun 2012, investasi berkontribusi sebesar 2,4 persen terhadap pertumbuhan PDB. Jadi cukup besar. Pengeluaran investasi pada periode tersebut meningkat 10 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi pada kuartal ke-3 tahun yang lalu, sebesar 7,07 persen.

Bapak/Ibu dari lingkungan investasi, Anda tahu kalau krisis sedang melanda dunia. Orang semua akan tahan untuk investasi. Namun di Indonesia kita cukup berbahagia karena investor yang ada melakukan ekspansi dan investor-investor yang datang ke Indonesia terus melakukan investasi. Artinya mereka berani memutuskan dalam

situasi yang kurang baik di dunia menunjukkan confidence mereka terhadap Indonesia. Pendorong utama pertumbuhan investasi, kalau kita reviu di tahun 2012 adalah investasi bangunan yang tumbuh sebesar 7,9 persen. Hal ini sejalan dengan meningkatnya sektor konstruksi dan penjualan semen. serta realisasi belanja modal pemerintah dalam bentuk pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada investasi alat angkut luar negeri sebesar 28,3 persen, berupa pembelian pesawat udara. Memang kalau sekarang kita lihat transport udara kita bukan main. Jam 5 pagi kita sampai di Soekarno Hatta, itu ngantri semua. Dan semua melakukan penerbangan dengan pesawat udara dan betul-betul bisnis ini berkembang dengan pesat. Pertumbuhan investasi ini antara lain tercermin dari meningkatnya realisasi PMA dan PMDN, di mana masing-masing meningkat, untuk PMA meningkat 22 persen, untuk PMDN meningkat 32 persen. Dengan tingginya investasi dalam pertumbuhan ekonomi kita, berarti akses penciptaan lapangan kerja juga semakin besar. Makanya kita bisa melakukan eksplorasi dalam penurunan pengangguran dan penurunan kemiskinan. Kinerja perekonomian yang kuat dan terus tumbuh juga dibarengi dengan pengelolaan fiskal yang prudent. Defisit fiskal terus terjaga di tingkat yang managable. Pada tahun 2011, defisit anggaran berhasil ditekan dari 2,09 persen menjadi 1,27 persen. Indikator perbaikan kinerja fiskal yang lainnya yang juga menjadi pilar utama Indonesia tercermin dari debt

to GDP ratio Di mana jika di tahun 2001 itu masih 80 persen, maka di

tahun 2005 turun menjadi 47 persen. Dan angka ini menurun menjadi 24,4 persen di tahun 2011, sedangkan di tahun 2012 menjadi 23 persen. Jadi kalau misalnya Indonesia bisa menurunkan rasio utang terhadap GDP sampai 23,3 persen, mudah-mudahan untuk tahun 2013 menjadi 23 persen, di tahun 2014 itu 22 persen. Ini salah satu pilar utama kita. Rendahnya defisit, rendahnya debt to GDP, bandingkan totalnya debt to GDP yang ada di Jepang, itu bisa sampai 200 persen sedangkan kita 23 persen, Amerika itu sampai 100 persen, kita ada di 23 persen. Kalau kita

punya negara yang utangnya di bandingkan dengan GDP itu rendah daya tahan kita lebih kuat dan di situasi krisis, rampingkan badan kita supaya kita bisa menahan badai. Dan ini juga berlaku untuk saudara-saudara sekalian pengelola usaha kalau di dalam situasi yang krisis Anda harus jaga average jangan sampai tinggi supaya Anda mempunyai daya tahan yang kuat.

Kombinasi kinerja fundamental makro ekonomi yang stabil serta kondisi fiskal yang sehat tersebut menjadi salah satu faktor utama kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade setelah 14 tahun kita menjadi negara yang bukan investment grade tidak dilirik sama orang, sekarang kita sudah menjadi investment grade.

Menurut Fitch and Moodys di tahun 2011 akhir dan 2012, perolehan status investment grade menjadi peluang pengembangan investasi semakin tinggi di Indonesia. Kemarin, Pemerintah Indonesia baru melakukan

roadshow untuk menawarkan global SUKUK. Itu permintaan dari

Timur Tengah banyak sekali. Sekarang mereka masuk karena mereka tahu Indonesia untuk investment grade dan pembayaran bunga yang kita lakukan jauh lebih rendah dan ini tentu satu manfaat bagi kita. Kalau kita melakukan pekerjaan dengan baik dan bersatu mengelola ekonomi kita dengan sehat.

Terkait dengan isu Maret yang diperbincangkan saat ini, yaitu gejala

overheating telah kami sampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia

saat ini belum mengalami gejala overheating. Tingginya inflasi dan perlambatan dari pertumbuhan produk domestik bruto biasanya menjadi ciri khas dari pada overheating. Inflasi tinggi, pertumbuhan produk domestik bruto drop dari yang tadinya tinggi, sekarang turun merupakan salah satu ciri utama terjadinya overheating. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi bersumber dari penguatan

permintaan domestik dan laju inflasi terkendali sesuai dengan sasaran inflasi. Sasaran inflasi kita di tahun 2012-2013 yaitu 4,5 persen plus minus 1 persen. Jadi ini sesuai target kita. Mungkin realisasi itu di bawah 5 persen di tahun 2012 ini, sedangkan target kita 4,5 persen plus minus 1 persen. Di samping inflasi gejala overheating juga dapat dilihat dari kondisi :

1. Defisit atau surplus dari transaksi berjalan dan neraca perdagangan.

2. Pada pertumbuhan kredit yang tinggi dan juga harga aset terutama properti yang meningkat secara tidak wajar.

Kinerja transaksi berjalan Indonesia pada kuartal ke-3 tahun 2012 mengalami perbaikan dengan surplus sebesar 800 juta dolar, di mana sebelumnya mengalami defisit, selama 4 triwulan berturut-turut, Jadi selama 4 triwulan berturut-turut kita deficit, tetapi di triwulan terakhir positif artinya ini bisa kita kendalikan dengan hal ini lebih baik. Defisit transaksi berjalan pada kuartal ke-3 tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan defisit kuartal ke-2 tahun 2012 yang mencapai US$7,7 miliar, defisit ini masih dalam batas aman yaitu 2,4 persen dari PDB, turun dibandingkan defisit triwulan sebelumnya yaitu 3,5 persen. Sebelum 3,5 persen turun dari 2,4 persen. Pada bulan September 2012 nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,9 miliar. Meningkat 13 persen dibandingkan agustus 2012. Sementara impor pada bulan yang sama mencapai US$15,3 miliar. Meningkat 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif selama periode Januari s.d September 2012, neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus US$1,03 miliar. Di mana total ekspor mencapai US$143 miliar dan impor mencapai US$141 miliar. Pemerintah optimis defisit neraca sumber berjalan akhir tahun akan berada pada batas neraca yang aman, yaitu di bawah 3 persen dari PDB. Sementara itu indikator pertumbuhan kredit dan harga aset

mengalami kenaikan tetapi sejauh ini belum terlalu mengkhawatirkan karena diikuti oleh perbaikan faktor fundamentalnya.

Bapak/Ibu, Saudara-Saudara sekalian yang kami hormati,

Dengan fundamental ekonomi yang kita miliki saat ini dan berbagai bekal pada pencapaian kinerja ekonomi dalam beberapa waktu terakhir, sejatinya ini menjadi kebijakan sekaligus momentum yang baik untuk meningkatkan investasi di tahun 2013 mendatang. Terkait hal ini, saya bisa katakan bahwa performa ekonomi Indonesia dan dalam beberapa tahun terakhir relatif lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya. Kita sekarang simak beberapa fakta kemarin di bulan September keluar laporan dari McKinsey Global Institute. Di mana ekonomi Indonesia diprediksi mampu menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar dunia. Karena didukung antara lain oleh totalitas pertumbuhan yang rendah. Rendahnya rasio utang dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi berada di urutan ke 3 setelah Cina dan India. Apa arti statement itu? Artinya ternyata selama 10 tahun terakhir kalau kita lihat semua negara-negara di dunia yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya adalah Cina, India dan Indonesia. Tetapi kalau kita lihat standar deviasi pertumbuhan ekonomi totalitasnya dari semua negara itu, yang paling bagus Indonesia selama 10 tahun terakhir. Karena kita punya rata-rata pertumbuhan selalu terjaga di 4, 5, 6 dan terus di situ. Tidak tadinya tinggi jatuh. Indonesia 10 tahun terakhir ini yang standar deviasinya pertumbuhan ekonominya paling kecil yang terbaik. Coba kita lihat pandang OECD. OECD kumpulan negara-negara maju. Juga mengatakan bahwa Indonesia dengan tingkat pertumbuhan yang kuat dan stabil, dapat menyamakan skala ekonomi di negara-negara lain di Asia Pasifik. Dan berpeluang menjadi satu dari 10 perekonomian

terbesar di tahun 2025. Ya kita dengar Pimpinan OECD kemarin mengatakan bahwa Indonesia bisa dikatakan imun terhadap krisis. Kita jangan terbuai karena masih banyak yang harus kita rapikan. Kita masih mengirim tenaga kerja Indonesia yang unskill ke luar negeri. Di seluruh dunia tidak ada yang mengirim tenaga kerja wanita untuk bekerja menjadi helper di luar negeri. Jadi ini banyak sekali yang mesti kita lakukan. Tapi kalau kita lihat misalnya IMF (International Monetery Fund) berpendapat bahwa kuatnya fundamental ekonomi dan kecukupan cadangan risiko fiskal diperkirakan mampu menjadi faktor positif bagi pengelolaan krisis Indonesia. IMF selalu setiap tahun melakukan reviu negara-negara di seluruh dunia. Ada yang namanya review artikel for. Itu kalimat-kalimatnya yang mengatakan optimis tentang Indonesia. Bahkan Foreign Policy Magazine mengatakan Indonesia merupakan salah satu dari 7 negara yang dianggap mampu mengatasi resesi bersama Korea, Polandia, Canada, Swedia, Turki dan Meksiko. Ini artinya kita harus optimis dan yakin bahwa kita siap menghadapi krisis Eropa dan Amerika yang berkepanjangan. Selain itu saya melihat bahwa sesungguhnya saat ini merupakan momentum yang tepat untuk menarik investor. Karena investasi langsung di Indonesia juga pernah menunjukkan performance yang baik.

Kita lihat investasi, investasi langsung atau direct investment tahun 2011-2012. Untuk tahun 2011 realisasi investasi langsung secara agregat Rp251 triliun atau tumbuh 20,5 persen jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp208 triliun. Untuk realiasi penanaman modal asing tercatat naik 18.5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2010, sementara untuk realisasi penanaman modal asing dalam negeri meningkat signifikan 25 persen jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya. Secara agregat realisasi investasi langsung hingga triwulan

ke-3 tahun 2012 mencapai 81 persen dari target investasi tahun 2012 yang sebesar Rp283 triliun, bahkan diprediksi tahun 2012 ini total investasi akan mencapai Rp300 triliun. Kita perhatikan secara sektoral, sektor industri mineral non logam dan industri kimia dan farmasi tercatat menjadi sektor industri terbesar dalam realisasi investasi langsung baik dalam PMA maupun PMDN itu industri mineral non logam, dan industri kimia dan farmasi. Ini artinya kita harus lebih memberikan