• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN AKTIVITAS KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 194-200)

Tommy Adithya1, Abdul Muin2

1,2) Jurusan Pendidikan Matematika, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1) [email protected] ; 2) [email protected]

ABSTRAK

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe write-pair-switch dapat meningkatkan aktivitas komunikasi matematika siswa. Secara teoritis metode write-pair-switch dapat membangun suasana belajar dikelas yang penuh dengan interaksi antar siswa. Desain penelitian ini menggunakan tipe satu kelompok observasi awal akhir. Untuk teknik pengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi terfokus. Pada observasi tahap awal, sebelum metode write-pair-switch diterapkan dikelas, hanya 13.25% dari total siswa yang mampu mencapai indikator target. Setelah metode write-pair-switch diterapkan dalam pembelajaran, sebanyak 43% dari total siswa mampu mencapai indikator tersebut. Hasil ini mengindikasikan bahwa aktivitas komunikasi matematika siswa telah mengalami peningkatan setelah metode write-pair-switch diterapkan dalam pembelajaran.

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Write-Pair-Switch, Komunikasi Matematika

1. Pendahuluan

Sudah sejak lama matematika dikenal sebagai cabang ilmu pengetahuan yang identik dengan angka-angka, simbol-simbol, teori-teori yang kebanyakan orang menganggapnya sulit untuk dimengerti. Banyak siswa yang menganggap matematika sebagai momok, sehingga mereka enggan untuk mengenalnya lebih jauh. Siswa terkadang melihat matematika sebagai ilmu yang berasal dari suatu tempat yang jauh diluar angkasa sehingga setiap soal dan teorinya tak memiliki hubungan apapun dengan dunia yang dikenalnya. Padahal pada hakekatnya matematika diciptakan untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah pada kehidupan sehari-hari sehingga pada setiap akhir operasi matematika sudah seharusnya terdapat jawaban atas masalah yang ada dikehidupan nyata bukan hanya jawaban dari soal disajikan.

Sering kali ada siswa yang mampu mengerjakan dan menyelesaikan soal yang diberikan guru dengan tepat, namun ketika guru atau seorang temannya memintanya untuk menjelaskan proses penemuan jawaban tersebut dan hubungannya dengan dunia nyata masih banyak siswa yang akan kebingungan untuk menjawabnya. Kemampuan siswa untuk menjelaskan ide-ide matematis melalui lisan atau tulisan disebut Kemampuan Komunikasi Matematis.

Komunikasi matematis merupakan salah satu standar yang diterapkan oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) bagi semua sekolah dan lembaga pendidikan yang mengajarkan matematika kepada siswanya. Adapun standar lain yang diterapkan NCTM yaitu Kemampuan Penalaran dan Pembuktian (Reasoning and Proof), Kemampuan Koneksi (Connection), Kemampuan Representasi (Representation), dan Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) (NCTM, 2000). Kelima standar ini merupakan anak tangga yang menopang satu sama lainnya, sehingga hanya apabila kelima standar tersebut dapat dipenuhi barulah siswa akan dapat memahami dan menggunakan matematika secara maksimal dalam kehidupannya.

Lebih khusus lagi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan KTSP, dinyatakan bahwa “Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung 181 kemampuan sebagai berikut : 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4.

Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah” (BSNP, 2006). Terlihat jelas salah satu tujuan dari pembelajaran matematika di Indonesia adalah siswa dapat mengomunikasikan ide matematis dengan dunia nyata dengan maksud agar masalah yang dihadapi dapat menjadi lebih jelas dan mudah untuk diselesaikan. Dari kedua standar diatas dapat disimpulkan bahwa Komunikasi Matematis merupakan aspek penting yang harus dikembangkan dalam diri siswa ataupun semua orang yang ingin bermatematika dengan tepat dan sesuai dengan hakekatnya.

Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pengukuran dan pengamatan pada salah satu komponen kemampuan komunikasi matematis yaitu, aktivitas komunikasi matematis. Dengan mengacu pada informasi yang telah dipaparkan di atas, penulis sekaligus peneliti menyusun suatu rumusan masalah yang akan menjadi topik dan pembatas penelitian kali ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut. : 1. Bagaimana aktivitas komunikasi matematis siswa? 2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe write-pair-switch dapat meningkatkan aktivitas komunikasi matematika siswa?

Write-Pair-Switch adalah salah satu produk hasil pengembangan Cooperative Learning. Lebih khusus lagi metode ini merupakan hasil pengembangan dan modifikasi dari metode think-pair-share yang telah dikenal lebih dahulu oleh para pelaku pendidikan (Jacobs, 2002). Sebagai pengembangan dari model pembelajaran Cooperative Learning metode Write-Pair-Switch memiliki prinsip-prinsip khusus yang menjadi kelebihan dalam penerapannya pada proses pembelajaran, di antaranya: Social Skills, Responsibility, Higher Level Thinking Skills, Increased Participation (Kagan, 1999), Heterogeneous Grouping , Collaborative Skills, Group Autonomy, Individual Accountability, Positive Interdependence, Cooperative as a Value (Jacobs, 2004), Simultaneous Interaction (Kagan (Jacobs, 2004)), dan Participation Communication (Sanjaya, 2009).

Dalam prinsip Collaborative Skills salah satu aspek terpenting adalah memberikan argumen atau penjelasan (Jacobs, 2004), hal ini memiliki relasi langsung dengan indikator komunikasi matematis yaitu menyampaikan ide matematis secara lisan (talking). Hal ini sejalan dengan prinsip social skill yang akan melatih kemampuan yang dibutuhkan anak dalam kehidupan sosial, hal ini meliputi kemampuan menyimak, berdiskusi, menyelesaikan konflik, kepemimpinan, bekerja sama (Kagan, 1999). Kemampuan-kemampuan tersebut memiliki keterkaitan dengan indikator komunikasi matematis yakni talking dan listening. Pada prinsip Simultaneous Interaction dikatakan bahwa dalam pembelajaran konvensional yang terjadi adalah guru berbicara dan siswa mendengarkan, namun dengan cooperative learning murid diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan ide-idenya (talking) melalui interaksi dengan teman sekelasnya (Jacobs, 2004).

Prinsip Equal Participation dan Individual Accountability memberikan kesempatan yang sama bagi siswa untuk mengemukakan pendapatnya, prinsip ini merupakan salah satu keunggulan utama yang diberikan metode Write-Pair-Switch dimana semua siswa mendapat beban tugas yang sama sehingga mereka terstimulasi untuk memberikan idenya sendiri (Jacobs, 2013). Prinsip Participation Communication melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud meliputi cara menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokan, cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggap baik dan berguna. Kemampuan komunikasi memang memerlukan waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam sekejap Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai pada akhirnya siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik (mampu menyampaikan ide-idenya secara baik dan benar) (Sanjaya, 2009).

182 Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung Wina Sanjaya menambahkan, beberapa keunggulan utama dari penggunaan strategi pembelajaran kooperatif adalah : pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal (talking) dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain (Sanjaya, 2009). Pembelajaran kooperatif juga dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik (listening). Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya (discussing) (Sanjaya, 2009). Dua hal yang menjadi kelebihan pembelajaran kooperatif ini memiliki korelasi langsung dengan indikator-indikator pencapaian dalam pengembangan komunikasi matematika siswa seperti yang telah diuraikan diatas.

Semua teori di atas diperkuat oleh pernyataan Nodding dan Artzt (Wahid, 2012) yang menyatakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengembangkan komunikasi matematis adalah dengan menciptakan komunitas matematika yang kondusif, hal itu dapat dilakukan dengan berbagai jenis aktivitas salah satunya melalui Cooperative Learning. Lebih lanjut lagi Artzt (Wahid, 2012) mengatakan bahwa melalui pembelajaran kooperatif yang dilakukan secara efektif dan melakukan penilaian yang cermat terhadap setiap komunikasi yang terjadi pada setiap aktivitas siswa baik individu maupun kelompok, dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan masalah.

Mengacu pada semua teori dan pendapat para ahli diatas, secara teoritis dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Write-Pair-Switch dalam pembelajaran di kelas memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian antara indikator dalam kemampuan komunikasi matematis siswa dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki model pembelajaran kooperatif. Juga dapat dilihat dari pendapat para ahli yang secara jelas menyatakan bahwa salah satu cara mengembangkan kemampuan komunikasi matematis siswa adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran kooperatif dalam kelas.

2. Metode Penelitian 2.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menganut desain penelitian ekperimen tipe Satu Kelompok Observasi Awal Akhir (SKOAA) (Anggoro, 2010). Desain penelitian SKOAA ini melibatkan hanya satu kelompok siswa atau objek penelitian, namun pengukuran atau observasi dilakukan dua kali yakni sebelum dan sesudah perlakuan. Artinya observasi pertama dilakukan pada awal penelitian sebelum metode write-pair-switch diimplementasikan kedalam pembelajaran dikelas, hasil observasi ini akan dijadikan pembanding untuk observasi kedua yang akan dilakukan setelah metode write-pair-swich diimplementasikan.

Desain penelitian eksperimen tipe SKOAA mengharuskan adanya dua kali pengukuan atau observasi dalam proses pengumpulan data. Pengukuran dapat dimaknai sebagai test, oleh sebab itu model SKOAA ini dikenal juga dengan sebutan One Group Pre-test Post-test Design. Namun dengan pertimbangan aspek eksternal yang telah disebutkan di atas, maka dalam penelitian ini penulis memutuskan untuk menggunakan teknik observasi untuk mengumpulkan data. Secara lebih spesifik teknik observasi yang di gunakan peneliti digolongkan ke dalam teknik observasi terfokus, dimana observasi ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu seperti yang telah dituliskan pada bagian tinjauan literatur. Observasi dilakukan secara terus menerus pada setiap proses pembelajaran di kelas (Wardhani, 2010).

2.2. Subyek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK. Sedangkan sampel dipilih secara acak dari siswa kelas X SMK A yaitu sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 28 siswa perempuan.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung 183 2.3. Definisi Operasional

Aspek aktivitas komunikasi matematis siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah : 1) Mengajukan pertanyaan dengan benar dan jelas

2) Menuangkan ide-ide matematika kedalam bentuk tulisan 3) Menjawab pertanyaan secara lisan

Write-Pair-Switch (Jacobs, 2002, 2004, 2013), yaitu:

1. Setiap siswa mengerjakan tugas dan menuliskan jawaban secara individu.

2. Kemudian siswa berpasangan dan berdiskusi tentang jawabannya.

3. Siswa berganti pasangan dan berdiskusi tentang jawabannya masing-masing dan hasil diskusinya dengan pasangan sebelumnya.

Secara umum model pembelajaran kooperatif tipe write-pair-switch memiliki langkah-langkah seperti yang telah diuraikan diatas. Namun dalam implementasinya semua metode pembelajaran haruslah disesuaikan dengan keadaan kelas maupun sekolah. Baik dari segi kemampuan siswa, alokasi waktu, serta sarana dan prasarana sekolah. Karena itu peneliti membuat beberapa penyesuaian dalam mengimplementasikan metode write-pair-switch ini dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip penerapan cooperative learning dalam pembelajaran di kelas (Jacobs, 2002;

Kagan, 1999; Lie, 2010).

1. Peneliti mendesain kelompok dengan jumlah 2 orang dalam satu kelompok. Hal ini mengacu pada prinsip jumlah anggota kelompok (Jacobs, 2002).

2. Siswa diminta mengerjakan tugas secara individu.

Setiap siswa dalam kelas diberikan soal yang berbeda. Sebagai contoh pada materi Matriks peneliti meminta siswa menentukan invers dari suatu matriks ordo 3x3 dengan angka yang bebas mereka tentukan sendiri, selama memenuhi syarat determinannya tidak sama dengan nol. Kemudian diberi pertanyaan singkat mengapa determinannya tidak boleh sama dengan nol.

Contoh lainnya semua siswa diberikan soal yang sama namun memiliki jawaban yang berbeda-beda. Contohnya pada materi program linier peneliti meminta siswa untuk mendefinisikan model matematika dengan kalimatnya sendiri (Lisan maupun tulisan).

Langkah ini diharapkan akan mengembangkan aktivitas komunikasi matematis siswa pada indikator kedua dan ketiga. Dimana siswa akan belajar menuangkan definisi yang ada dalam pikirannya ke dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Pemberian soal yang berbeda bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya contek mencontek diantara siswa.

3. Setelah siswa selesai mengerjakan tugas individunya peneliti meminta siswa bertukar jawaban dengan pasangannya, kemudian saling mengoreksi jawaban pasangannya masing-masing.

Dalam penelitian ini penulis menyampaikan para siswa bahwa nilai yang akan diperoleh akan dipengaruhi oleh nilai pasangan maupun teman sekelompoknya, hal ini bertujuan untuk memaksa siswa agar mengoreksi hasil jawaban pasangan/teman kelompoknya dengan sungguh-sungguh.

Langkah ini diharapkan akan mengembangkan aktivitas komunikasi matematis siswa pada indikator pertama. Karena siswa tentu akan memilih soal ataupun membuat soal yang mudah baginya sehingga mereka tidak merasa perlu bertanya. Namun dengan pemberian tugas untuk mengoreksi jawaban temannya yang bukan berasal dari dirinya maka siswa akan menemukan masalah yang tidak mudah menurutnya dan akan terstimulasi untuk bertanya.

2.4. Instrumen Penelitian

Seperti yang telah disinggung di atas teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi terfokus. Pada teknik observasi terfokus pengamatan dilakukan secara terus menerus, tanpa menggunakan instrument khusus. Peneliti hanya mengamati aspek yang telah ditentukan dan mencatatnya pada secarik kertas (Wardhani, 2010).

184 Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung 2.5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Perbedaan 2 Proporsi (Wackerly, 2008). Pada uji ini akan dibandingkan data proporsi hasil observasi tahap awal dengan data proporsi hasil observasi tahap akhir. Rumus yang digunakan dalam uji perbedaan dua proporsi ini adalah :

Ket :

p1 = Proporsi Hasil Observasi Awal p2 = Proporsi Hasil Observasi Akhir n = Jumlah Sampel

Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui kebenaran hipotesis penelitian yaitu : “Terjadi peningkatan nilai proporsi siswa yang mampu mencapai aspek aktivitas komunikasi matematis setelah belajar dengan metode write-pair-switch ((π 2 > π 1 )”

3. Hasil Penelitian

Hasil pengamatan pada observasi tahap awal dan tahap akhir dapat dilihat pada tabel 1.1 dan tabel 1.2

Tabel 1.1 – Hasil Observasi Awal Aktivitas Komunikasi Matematis

Indikator Awal

Tabel 1.2 – Hasil Observasi Tahap Akhir Aktivitas Komunikasi Matematis

Indikator Awal

Kemudian untuk membandingkan hasil kedua observasi apakah telah sesuai dengan apa yang diinginkan dan telah dirumuskan sebelumnya. Perhatikan Tabel 1.3!

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung 185 Tabel 1.3 – Perbandingan Data Hasil Observasi

Indikator Observasi

Awal (p1)

Observasi Akhir (p2) Mengajukan pertanyaan dengan benar dan jelas [1] 11.5% 42.25%

Menuangkan ide-ide matematis kedalam bentuk

tulisan [2] 19.5% 63.75%

Menjawab pertanyaan secara lisan [3] 8.75% 23%

13.25% 43%

Pada tabel diatas terlihat kenaikan rata-rata jumlah siswa yang mencapai setiap indikator. Indikator pertama, mengajukan pertanyaan dengan benar dan jelas. Pada tabel dapat dilihat proporsi jumlah siswa yang mampu mencapai indikator pertama pada observasi tahap awal adalah sebanyak 11.5%

dari jumlah keseluruhan siswa, pada observasi tahap akhir proporsi meningkat menjadi 42.25%.

Telah terjadi peningkatan sebesar 30.75% , sehingga dapat disimpulkan bahwa pada indikator pertama telah terjadi peningkatan. Indikator kedua, menuangkan ide-ide matematis ke dalam bentuk tulisan. Pada tabel dapat dilihat proporsi jumlah siswa yang mampu mencapai indikator kedua pada observasi tahap awal adalah sebanyak 19.5% dari jumlah keseluruhan siswa, dan pada observasi tahap akhir proporsi meningkat menjadi 63.75%. Telah terjadi peningkatan sebesar 44.25%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada indikator kedua telah terjadi peningkatan.

Indikator ketiga, menjawab pertanyaan secara lisan. Pada tabel dapat dilihat proporsi jumlah siswa yang mampu mencapai indikator ketiga pada observasi tahap awal adalah sebanyak 8.75% dari jumlah keseluruhan siswa, dan pada observasi tahap akhir proporsi meningkat menjadi 23%. Telah terjadi peningkatan sebesar 14.25%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada indikator ketiga telah terjadi peningkatan.

Analisis dilanjutkan dengan melakukan uji perbedaan 2 proporsi untuk menentukan hipotesis manakah yang akan menjadi kesimpulan penelitian ini :

Hipotesis Ho : ( π2 ≤ π 1 ) H1 : (π 2 > π 1 ) Statistik Hitung

186 Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung Statistik Tabel

dengan nilai Kesimpulan

Diperoleh Zhitung > Ztabel

Maka hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima dengan nilai p-value atau tingkat kesalahan 0.34%

4. Pembahasan

Berdasarkan pada tinjauan literatur dan uji empiris yang telah dilakukan, diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif tipe write-pair-switch dapat meningkatkan aktivitas komunikasi matematis siswa. Tinjauan literatur memberikan kesimpulan secara teoritis dan uji perbedaan proporsi memberikan kesimpulan empiris. Adapun data hasil penelitian yang diperoleh bersifat dinamis dari waktu ke waktu. Aspek yang diukur tidak selalu menunjukan peningkatan pada setiap pertemuan.

Terkadang karena faktor internal maupun eksternal aspek yang diukur tidak mengalami peningkatan, atau bahkan mengalami penurunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 1.5

Grafik 1.5 – Data Hasil Observasi Awal Akhir Aktivitas Komunikasi Matematis

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Mengacu pada data hasil penelitian, analisis data, dan teori para ahli yang telah dituliskan sebelumnya maka peneliti menyimpulkan. Pada awal penelitian aktivitas komunikasi matematis siswa masih rendah. Hanya 13.25% dari total 30 siswa yang mampu mencapai indikator aktivitas komunikasi matematis yang telah ditetapkan. Kini setelah belajar dengan menggunakan metode write-pair-switch terjadi peningkatan yang signifikan. Sebanyak 43% anak kini mampu mencapai indikator tersebut.

Setelah dilakukan uji empiris pada data hasil observasi dengan menggunakan uji perbedaan 2 proporsi. Peneliti menyimpulkan telah terjadi peningkatan aktivitas komunikasi matematis siswa

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

I II III IV V VI VII VIII

Indikator 1

Indikator 2 1.96

2.7169

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 194-200)