Situs Banten Lama sebagai merupakan satu keunggulan
herritage yang dapat dijadikan salah satu sumber pendapatan asli daerah Provinsi Banten. Kondisi Banten Lama saat ini be- lum dioptimalkan. Bahkan bisa dikatakan, Situs Banten Lama tidak dikelola dengan baik. Recovery daerah Banten Lama se- bagai objek wisata akan berdampak langsung pada ekono- mi masyarakat. Namun dibutuhkan branding sebagai upaya mengembangkan Situs Banten Lama memiliki keunggulan kompetitif dibanding destinasi lain. Penelitian menggunakan pendekatan action research dengan melibatkan narasumber dari stakeholders Banten Lama. Hasil penelitian menunjukkan
stakeholders Banten Lama mempunyai mimpi pengembangan potensi wisata melalui revitalisasi Situs Banten Lama dan mem- bangun destination branding. Konsep recovery dikembangkan melalui tagline “Indonesia Heritage of 16-18 Century” dengan ikon original Kesultanan dan pelabuhan (tempo dulu).
Kata Kunci: destination branding, banten lama dan reco- very
Naniek Afrilla Framanik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Banten Lama sebagai wilayah cagar budaya dan objek wisata tradisional di Banten merupakan salah satu potensi wisata yang potensial. Situs tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena mempunyai nilai historis bagi warga Bant- en dan sekitarnya, juga merupakan wisata spiritual. Atas dasar hal tersebut, situs
Banten Lama sebagai aset daerah dapat dijadikan salah satu sumber PAD bagi provinsi Banten. Lebih jauh lagi recovery Banten Lama sebagai obyek wisata akan berdampak langsung pada dinamika ekonomi masyarakat.
Sebagai upaya recovery Banten Lama, maka diperlukan sejumlah pembe- nahan baik sarana isik bangunan maupun upaya penyusunan strategi brand- ingnya. Branding adalah upaya memberikan sarana agar sebuah destinasi (daer- ah tujuan wisata) memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan destinasi lain.
KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM KULTUR MASYARAKAT INDONeSIA
Agar konsumen memilih destinasi tertentu di antara berbagai destinasi sejenis, destinasi tersebut harus memiliki atribut-atribut tertentu untuk membuatnya berbeda. Atribut tersebut dapat berupa atribut kasat mata atau tangible, tetapi dapat pula bersifat intangible. Atribut intangible berkaitan dengan ikatan emo- sional dan persepsi konsumen terhadap destinasi tersebut. Paduan atribut- atribut inilah yang membentuk sebuah brand.
Persepsi konsumen terhadap sebuah brand tidak selalu sama dengan ke- inginan pemilik brand. Tetapi, persepsi konsumen adalah sesuatu dapat dikelola melalui proses komunikasi yang konsisten. Oleh karena itu, komunikasi pemasa- ran adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam usaha membangun sebuah brand. Melalui komunikasi pemasaran, pemilik brand dapat mengelola pesan- pesan disampaikan kepada konsumen sedemikian rupa agar terbentuk persepsi tertentu, diharapkan sesuai dengan citra brand yang diinginkan.
Adapun pengertian Banten Lama sebagai brand tujuan wisata adalah Ban-
ten Lama dalam ruang lingkupnya sebagai produk tujuan wisata, yaitu lokas- inya, situasi alamnya, nuansa religi dan penduduknya, serta kebudayaannya. Jasa pariwisata, seperti hotel, penerbangan, restoran dan fasilitas-fasilitas lain walaupun tidak bisa dipisahkan dari industri pariwisata di daerah tujuan, karena merupakan sebagai faktor pendukung.
Mengamati fenomena brand dan penerapannya dalam pemasaran daerah tujuan wisata atau destination branding, penulis melihat besarnya potensi pen- gaplikasian teori-teori komunikasi pemasaran dan humas pariwisata untuk me- masarkan daerah tujuan wisata yang ada di wilayah provinsi Banten, khususnya obyek pariwisata Banten Lama. Untuk mempersiapkan recovery Banten Lama sebagai destinasi, perlu dibuatkan strategi destination branding. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan serangkaian tahapan penelitian (action re- search) dari studi eksploratif, perancangan strategi destination branding, imple- mentasi strategi branding, aktivitas komunikasi pemasaran dan evaluasi.
Penelitian ini bertujuan membahas lebih dalam mengenai perumusan strategi branding terpadu untuk daerah tujuan wisata yaitu Banten Lama. 1. Memosisikan merek Banten Lama sebagai obyek wisata tradisional dan bu-
daya di Pemprov Banten;
2. Memulihkan kembali identitas khas Banten Lama sebagai sebuah daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik;
3. Mengemas program pengembangan merek Banten Lama sebagai daerah tu- juan wisata di Provinsi Banten;
4. Melakukan evaluasi atas strategi dan membuat model pengembangan des- tination branding, komunikasi pemasaran dan humas pariwisata yang pada akhirnya dapat diterapkan pada obyek-obyek wisata lain di wilayah Provinsi Banten.
Kerangka Pemikiran
Dalam ilmu pemasaran dikenal apa yang disebut dengan paduan pemasa- ran yang sering disebut juga sebagai 4P yaitu: product, price, place dan promo- tion. Paduan dari keempat unsur ini bersinergi satu sama lain dalam membentuk sebuah brand. Tetapi fungsi promotion atau promosi, dilakukan melalui aktivi- tas-aktivitas komunikasi marketing.
Komunikasi marketing adalah keseluruhan rancangan atau design berupa isi pesan dan cara penyampaiannya kepada audiens sasaran, ditujukan untuk membangun brand dengan cara mempengaruhi persepsi mereka agar sesuai dengan citra brand yang ingin diciptakan di benak audiens sasaran. Brand tidak dapat terkelola dengan baik jika tidak ada komunikasi marketing, karena pada dasarnya pengelolaan brand adalah pengelolaan persepsi.
Perusahaan menggunakan berbagai pendekatan dan strategi marketing untuk melakukan branding, tetapi pada dasarnya brand adalah ‘sesuatu yang berada di benak konsumen’. Brand adalah entitas perseptif, berakar pada se- suatu yang nyata, tetapi brand juga mereleksikan persepsi konsumen. Suatu brand memiliki dua unsur melekat padanya dan membedakan dirinya dengan brand lain, yaitu:
Karena suatu brand terdiri atas dua unsur yang pertama adalah atribut, feature dan beneit praktis, yang kedua adalah beneit emosional. Unsur yang pertama terdapat dalam setiap produk atau jasa, tetapi unsur kedua sangat berkaitan dengan brand. Unsur pertama adalah komponen utama dari sebuah produk, jasa, perusahaan atau tempat di ‘branding’. Sebuah perusahaan jasa akan menawarkan aneka layanan, kecepatan dan ketepatan dalam memenuhi tawaran layanan tersebut. Unsur kedua yaitu beneit emosional. Konsumen mungkin tidak terlalu paham dengan beneit fungsional sebuah produk atau jasa sebaik produsen. Tetapi konsumen bisa menentukan pilihan dan mereka kadang-kadang lebih suka satu brand tertentu dibanding lainnya.
Strategi brand juga harus bersifat terpadu atau integrated, yaitu menyelu- ruh dan berkesinambungan. Menyeluruh dalam hal ini berarti mempertimbang- kan seluruh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelangsungan brand, se- dangkan berkesinambungan berarti mempertimbangkan kelangsungan brand untuk waktu lama, bukan hanya strategi jangka pendek tanpa mempertimbang- kan kelangsungan hidup brand.
Perumusan branding harus dimulai dengan pelaksanaan analisis terhadap tiga (3) pihak utama yaitu :
1. Pelanggan (consumer audit). Pelaksanaan tahap ini bertujuan mengetahui keinginan, kebutuhan dan harapan pelanggan terhadap brand ditawarkan. 2. Pesaing (competitor audit). Pelaksanaan tahap ini bertujuan mengetahui pe-
KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM KULTUR MASYARAKAT INDONeSIA
kelebihan dan kekurangan pesaing, dapat menjadi masukan berharga pada saat proses perumusan perencanaan branding sehingga tidak menawarkan hal sama dengan ditawarkan pesaing.
3. Internal Audit. Pelaksanaan tahap ini bertujuan mengetahui kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh sebuah merek, serta peluangnya untuk dikembang- kan di masa mendatang. Pemahaman terhadap keunikan dan kompetensi in- ternal menjadi salah satu landasan menentukan ke arah mana sebuah merek akan di bawa.
metodologi
Penyusunan Branding Banten Lama akan menggunakan landasan konsep- tual sebagai berikut Tahap IA (In-depth Interview dengan Stakeholders Banten
Lama) & Tahap IB (Focus-Group Discussion dengan Stakeholders Banten Lama) dilakukan melalui sebuah penelitian action research (penelitian dengan tinda- kan). Data yang diperoleh baru merupakan data awal yang perlu digali lebih mendalam dan serius karena berkaitan dengan willingness dan keseriusan para
stakeholders, terutama pemerintah, DPR dan pelaku usaha dalam merevitalisasi situs Banten Lama.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif mengingat penggalian in- formasi karakteristik Banten Lama melibatkan seluruh stakeholders terkait. Mas- ing-masing stakeholders memiliki ciri dan tingkat kepentingan berbeda, seh- ingga memerlukan pendekatan berbeda agar pengumpulan data dan informasi berjalan dengan baik dan benar.
Riset kualitatif dilakukan untuk menggali informasi mendalam mengenai berbagai aspek terkait revitalisasi situs Banten Lama dan pengembangan desti- nation branding. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penyelenggaraan FGD dan melaksanakan interview dengan beberapa nara- sumber yang merepresentasikan stakeholdersBanten Lama. Dalam prosesnya, penggalian informasi ini akan bersifat explorative dan descriptive.
Data diperoleh dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut : 1. In-depth Interview adalah wawancara langsung secara personal dan tatap
muka (face-to-face), Interviewer harus menguasai topik dibekali pedoman bertanya dengan proses bertanya tidak terstruktur. Menggunakan teknik laddering dan symbolic analysis, untuk mengungkapkan motivasi tersembu- nyi.
2. Focus Group Discussion adalah diskusi kelompok terdiri dari 8-10 partisipan, dipimpin seorang moderator dengan membicarakan topik tertentu secara mendalam. Narasumber yang dimintai keterangan pada saat melakukan fo- cus group discussion (FGD), diantaranya: (1) H.e. Mulya Syarief selaku Pengu- saha Banten; (2) Hj. Sutje Suryanto, SH selaku Pemilik Hotel Mahadria dan
anggota PHRI (Persatuan Hotel Republik Indonesia Cabang Serang); (3) Prof. Dr. HA. Tihami, MA selaku akademisi; (4) Toto Suharto ST. Radik selaku seni- man di wilayah Propinsi Banten; (5) Rahadian selaku LSM Rekonvasi Bhumi sebagai Konsultan Jasa Lingkungan; (6) Ardianto mewakili Dinas Pariwisata dan Olah raga Propinsi Banten; dan (7) H. Lukman Hakim selaku Wartawan Senior Kajian Banten Lama.
hasil Penelitian dan Pembahasan
Pengembangan Destination Branding situs Banten Lama sebagai Potensi Wisata budaya dan Tradisional
Dalam proses pengembangan destination branding telah dilakukan peng- galian informasi secara mendalam terhadap beberapa narasumber yang meli- puti (1) Pelanggan, hal ini dilakukan untuk mengetahui need and want terhadap Situs Banten Lama sebagai objek wisata religi dan budaya. (2) Kompetitor, un- tuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pesaing Banten Lama. Informasi ini diperlukan untuk menyusun branding Banten Lama dan melakukan deferen- siasi dengan pesaing, sehingga tidak menawarkan hal sama. Stakeholder Ban-
ten Lama dalam konteks penelitian ini adalah narasumber merepresentasikan tokoh masyarakat Banten Lama, akademisi Banten Lama, lembaga swadaya masyarakat pemerhati masalah lingkungan Banten Lama, budayawan/seniman
Banten Lama, dinas pariwisata, pengusaha hotel dan restoran serta wartawan senior dan penulis produktif Banten Lama.
Insight Finding: Analisis Consumer
Analisis ini dilakukan terhadap masyarakat Banten Lama, wisatawan, baik wisatawan lokal maupun regional. Hasil wawancara ini diperoleh informasi need dan want masyarakat dan wisatawan terhadap Situs Banten Lama. Banten Lama mempunyai nilai historis yang tinggi. Masa kejayaan Kesultanan Banten pada abad ke 16 - 18 Masehi telah tersohor sampai ke manca negara. Negara-negara eropa berhubungan langsung dengan kesultanan Banten antara lain, Inggris, Spanyol, Portugis, Belanda, dan lain-lain. Hubungan kesultanan Banten dengan beberapa Negara tersebut setidaknya meninggalkan jejak sejarah.
Internal Audit: Analisis Kompetensi Situs banten lama
Pariwisata secara singkat dapat dirumuskan sebagai kegiatan dalam masyarakat berhubungan dengan wisatawan (Soekadijo, 2000, hal: 2). Pari- wisata merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa sek- tor pariwisata di Indonesia masih menduduki peranan sangat penting dalam menunjang pembangunan nasional sekaligus merupakan salah satu faktor san-
KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM KULTUR MASYARAKAT INDONeSIA
gat strategis untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan devisa negara. 1. Potensi Wisata Budaya dan tradisional
Wisata berbasis kebudayaan atau sering disebut sebagai budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata menggunakan kebudayaan sebagai obyeknya. Pariwisata ini dibedakan dari minat-minat khusus lain seperti wisata alam, petualangan, dll.
2. Potensi Wisata Religi
Wisata religi dimaknai sebagai kegiatan wisata ke tempat memiliki makna khusus bagi umat beragama, biasanya berupa tempat ibadah, makam ulama atau situs-situs kuno yang memiliki kelebihan. Kelebihan ini misalnya dilihat dari sisi sejarah, adanya kepercayaan/mitos dan adanya cerita melegenda mengenai tempat tersebut, ataupun keunikan dan keunggulan arsitektur bangunannya.
3. Potensi Wisata edukasi
Konsep wisata pendidikan sengaja didesain khusus untuk memenuhi kapa- sitas ilmu pengetahuan para pelajar. kegiatan perjalanan wisata mengenal wilayah dan potensi sumber daya lokal antar daerah, kabupaten, provinsi serta antarpulau dan tempat – tempat yang mempunyai nilai historis yang tinggi. Kegiatan perjalanan wisata pelajar akan menjadi pergerakan ekonomi rakyat, sekaligus membuka kantong seni dan budaya yang perlu diketahui dan dipahami oleh para pelajar.
4. Potensi wisata bahari
Ditjen Pariwisata (1998) memberikan pengertian pariwisata bahari sebagai kegiatan wisata berkaitan langsung dengan sumberdaya kelautan, baik di atas permukaan laut maupun kegiatan dilakukan di bawah permukaan laut. Jenis-jenis kegiatan termasuk didalamnya berdasarkan pengertian tersebut adalah memancing atau sport ishing, snorkling, diving, dan lain-lain.
Competitor Audit: beberapa Wisata religi dan budaya di Pulau Jawa Berikut ini beberapa contoh wisata budaya dan wisata religi yang ada di pulau Jawa. Data ini merupakan hasil pencarian melalui media internet. Infor- masi mengenai kompetitor digunakan untuk melakukan deferensiasi pengem- bangan Situs Banten Lama dengan kompetitor, antara lain
1. Wisata Budaya dan Religi di Kota Cirebon
Kota Cirebon merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang cukup terke- nal berkat adanya makam Syarif Hidayatullah, seorang mubaligh, pemimpin spiritual, dan sui yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. 2. Istana Budaya dan Religi di Kota Yogyakarta
Kraton/istana/Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama
Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya.Pada tahun 1955 terja- dilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Ka- sultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono.
3. Wisata Budaya di Kota Solo
Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Sura- karta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuono (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai peng- ganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat.
4. Wisata Budaya dan Religi di Kota Surabaya
Makam Sunan Ampel berada di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Ko- tamadya Surabaya – Jawa Timur. Karena letaknya ditengah kota, Makam Su- nan Ampel mudah dijangkau oleh kendaraan Roda empat Maupun roda Dua. Tempat ini banyak didatangi para peziarah yang ingin berkunjung ke makam Sunan Ampel.
analisis Kompetitor Banten Lama
Kalau kita lihat dan kaji lebih lanjut, di Pulau Jawa banyak terdapat pen- inggalan sejarah dan makan-makan para wali maupun pemuka agama yang ramai dikunjungi wisatawan. Ada beberapa kalangan yang mempercayai bahwa Makam-makam ini dianggap keramat dan memberikan berkah bagi pejiarah yang memanjatkan doa di makan tersebut.
Apabila situs Banten Lama akan dikembangkan maka harus mempunyai deferensiasi. Artinya arah pembangunan revitalisasi tidak hanya sekadar me- renovasi apa yang ada, tetapi berbeda dengan kompetitornya. Temuan menarik adalah adanya ide untuk membuat replika situs Banten Lama, mendesainnya seperti abad ke 16-18. Ini bisa dikatakan deferensiasi, artinya situs Banten Lama sebagai destinasi berbeda dengan kompetitornya yang notabene hanya men- gandalkan makan, dan bangunan bersejarah apa adanya.
Penyamaan Persepsi
Untuk membangun suatu kawasan yang akan dijadikan suatu obyek wisata dan dibuatkan branding-nya, diperlukan penyamaan persepsi para stakehold- ers. Penyamaan terutama dalam mempersepsi konsep revitalisasi dan pengem-
KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM KULTUR MASYARAKAT INDONeSIA
bangan destination branding serta pemahaman yang sama atas visi, misi dan nilai yang akan dikembangkan. Penyaman persepsi ini merupakan langkah awal dan modal yang sangat penting sebagai titik tolak pemabanguan revitalisasi situs Banten Lama. Para stakeholders harus duduk bersama, mendiskusikan ren- cana strategik pengembangan dan revitalisasi Situs Banten Lama. Berikut hasil FGD dan interview terkait penyamaan persepsi para stakeholdersBanten Lama. diskusi strategik dengan stakeholder Banten Lama
Diskusi strategik dengan stakeholder Situs Banten Lama dilakukan untuk menggali informasi mengenai persepsi para stakeholder mengenai revitalisasi situs Banten Lama. Mereka mengatakan bahwa saat ini kondisi situs Banten
Lama sangat kumuh dan tidak terawat banhkan cenderung memprihatinkan. Kesan kumuh sudah terlihat ketika memasuki area situs dan menjadi semakin kumuh ketika memasuki pintu gerbang dan berbagai lokasi peninggalan seja- rah dalam kawasan tersebut.
Dari hasil FGD dan interview di lapangan terungkap bahwa persepsi pem- bangunan dan revitalisasi yaitu pembangunan kembali kawasan Banten Lama., sehingga lebih tertata dan teratur, menjadi destinasi yang punya nilai jual tinggi, memakmurkan dan menjadi kebanggaan masyarakt Banten. Pengembangan dan revitalisasi isik bisa membangun kembali dan atau memperbaiki apa yang pernah ada, bisa juga berupa relokasi dan pembuatan replika. Hal yang menarik dari diskusi strategik ini adalah kesepakatan para narasumber untuk memben- tuk badan otorita. Suatu badan yang akan menangani revitalisasi dan desain destination branding sejak perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan pengawasan serta evaluasi proses revitalisasi situs Banten Lama.
Upaya recoveryBanten Lama akan melibatkan berbagai pihak. Baik peme- rintah, swasta maupun, masyarakat. Paradigma lama di mana perencanaan pembangunan masih bersifat parsial, antar instansi dan stakeholder membuat perencanaan dan bekerja masing-masing tanpa adanya koordinasi dan sinergi. Dalam konteks destination branding, seluruh stakeholder harus besinergi. Pe- merintah melakukan konsolidasi internal dan berkoordinasi antar instansi. Harus ada satu visi dan misi untuk revitalisasi. Masing-masing instansi harus mempu- nyai mekanisme internal yang in line dengan visi revitalisasi Situs Banten Lama. Demikian juga pihak swasta, perencanaan strategi bisnis dan promosi harus mengacu dan bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat. Kondisi saat ini memerlukan perlunya program komunikasi yang terstruktur (integrated com- munication).
Pengembangan Visi, misi dan nilai-nilai Banten Lama
Pada dasarnya para stakehoder mempunyai visi yang relatif sama terhadap Situs
Banten Lama. Visi stakeholders terkait revitalisasi Banten Lama adalah mengem- bangkan situs Banten Lama sebagai destinasi wisata berkelas dunia.
Berdasarkan visi, misi dan nilai banten inilah nantinya akan dikembangkan menjadi materi dalam menyusun destination branding. Informasi ini bisa digu- nakan sebagai dasar pengembangan visual dan materi komunikasi pemasaran banten lama sebagai daerah tujuan wisata.
Pembahasan
Salah satu upaya meningkatkan PAD suatu wilayah pemerintahan provinsi Banten adalah dengan mengoptimalkan sumber daya pariwisata sebagai aset yang dapat menggerakan perekonomian. Jika dikelola secara professional, pariwisata dapat diarahkan menjadi suatu industri yang tidak kalah proit-nya dengan industri manufaktur maupun industri jasa pada umumnya. Keinginan untuk mewujudkan pariwisata sebagai suatu industri yang dapat menggerakan perekonomian rakyat yang pada akhirnya dapat meningkatan PAD adalah de- ngan mengelolanya secara serius, dan merancang destination branding serta memasarkannya secara terpadu dan terintegrasi dengan baik. Atas dasar itulah maka saat ini muncul istilah destination branding. Konsep ini muncul sebagai upaya membangun, mengelola dan memasarkan daerah tujuan wisata. Dalam destination branding, suatu daerah tujuan wisata perlu dilakukan sebagai suatu produk, dikemas, diberi “brand”/merek dan pasarkan secara terintegrasi dengan berbagai alat-alat komunikasi pemasaran.
Dari hasil temuan di lapangan, dapat dikembangkan konsep destination brandingBanten Lama ke arah desain pengembangan Banten abad 16-18. Set- ing alamiah dan tradisional dihadirkan untuk menarik wisatawan kembali ke masa lampau, dengan artefak dan suasana sosial kemasyarakatan yang sengaja diciptakan sebagai komoditas industri pariwisata. Setting alamiah abad 16-18 merupakan salah satu diferensiasi yang tidak dipunyai olleh destinasi wisata religi lainnya di Indonesia. Sedangkan kata kunci Situs Banten Lama sebagai tujuan wisata adalah “Indonesia heritage of 16-18 century, harmoni dalam keragaman budaya dan religi” dengan ikon orisinil Kesultanan dan Pelabuhan (tempo dulu).
Hambatan utama pengembangan Situs Banten Lama saat ini antara lain adalah tidak ada keseriusan pemerintah, konlik internal ahli waris Banten Lama, tidak ada sinergi antara DPR, pemerintah, swasta/pengusaha dan masyarakat, infrastruktur, Politik/DPR tidak serius memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Untuk membangun situs Banten Lama diperlukan sinergi diantara para
stakeholdersBanten Lama. Unsur masyarakat yang meliputi kenadiran (ahli waris), dan masyarakat yang tinggal di sekitar area situs Banten Lama dan masyarakat
KOMUNIKASI TRADISIONAL DALAM KULTUR MASYARAKAT INDONeSIA
kota serang pada umumnya. Unsur pemerintah yang meliputi kepurbakaan, Diparda, LKMD, Tripika (Camat, Kapolsek, Danramil), Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pendidikan. Unsur pengusaha baik pengusaha hotel/ restoran, angkutan umum, perajin/souvenir, fashion, dll. Semua harus mempu- nyai visi yang sama. Visi tersebut kemudian diinternalisasikan pada setiap gerak