Membangun Kembali Paradigma Pendidikan Islami Sebuah Konsep Awal
3.2. Metode (Manhaj) Pendidikan Rasulullah
Metode (manhaj) model apakah yang digunakan pendidikan Rasulullah dalam mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul dalam arti yang sebenarnya sehingga mampu menguasai dan memimpin 2/3 dunia, menakluki bangsa-bangsa besar dan maju yang berperadaban tinggi. Padahal mereka sebelumnya adalah bangsa yang terbelakang peradabannya serta terpecah belah menjadi suku-suku kecil yang saling memerangi serta menyembah berhala-berhala. Dan keheranan akan bertambah-tambah karena mereka dipimpin dan dididik oleh seorang utusan Allah yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis yang tidak memungkinkannya mempelajari peradaban dan pengetahuan luar. Metode pendidikan model apakah yang telah berhasil membuat revolusi besar kepada bangsa Arab jahiliyah, revolusi yang telah merombak jiwa, pemikiran, tatanan serta kepercayaan mereka sekaligus menghantarkannya menjadi manusia-manusia unggul yang tidak tertandingkan keunggulannya sampai hari ini ?
Adalah sangat penting dan mutlak mengetahui metode (manhaj) pendidikan Rasulullah, karena banyak dikalangan kaum Muslimin yang masih rancu dalam memahami hakikat metode yang diterapkan pendidikan Rasulullah dalam membina para pengikutnya. Mereka beranggapan bahwa metode pendidikan Rasulullah sama dengan metode-metode pendidikan manusiawi lainnya sehingga mereka dengan mudahnya mengadopsi metode pendidikan selain yang diajarkan Rasulullah. Metode pendidikan ini akhirnya telah melahirkan para lulusan yang mengecewakan karena mereka tidak memiliki jiwa, semangat dan pengetahuan sebagaimana generasi Islam pertama yang mengagumkan. Kerancuan-kerancuan dalam memahami metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah kepada para pengikutnya telah mengakibatkan kaum Muslimin mengalami kemunduran demi kemunduran dan kekalahan demi kekalahan, dari kekalahan fisik, intelektual sampai kekalahan spiritualitas yang telah menghantarkannya menjadi manusia-manusia sekuler yang menjadikan agama hanya sebagai simbol kehidupan semata. Itulah sebabnya sangat penting memahami hakikat metode pendidikan Rasulullah, sehingga tujuan pendidikan itu mencapai sasarannya. Karena metode (manhaj) adalah jalan untuk mencapai tujuan. Apalah artinya jika seseorang mengetahui tujuannya namun tidak mengetahui jalan menuju ke sana. Mengetahui metode pendidikan Rasulullah adalah sama pentingnnya dengan mengetahui tujuan pendidikan itu sendiri.
Apakah yang dilakukan Rasulullah ketika beliau mendapat perintah Allah untuk mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul ? Apakah beliau menerapkan metode pendidikan ala Yunani, Romawi, Persia, Mesir yang pada masa itu sudah maju dan mapan kepada para pengikutnya ? Ataukah beliau mengadopsi metode-metode pendidikan tersebut ? Ataukah beliau mengislamisasi-kan pengetahuan dan filsafat sebelumnya untuk mencapai drajad manusia unggul ? Kenapa Rasulullah tidak mengadopsi metode dan pengetahuan sebelumnya dalam mendidik para pengikutnya ? Dan mengapa Rasulullah melarang Umar bin Khattab membaca Kitab Taurat sebagaimana yang diterangkan sebuah hadits ? Pertanyaan-pertanyaan ini akan memperjelas hakikat metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah dalam mendidik para Sahabat.
Ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mendidik para pengikutnya menjadi manusia-manusia unggul, pada hakikatnya Allah telah menurunkan bersama perintah itu
apa-apa yang harus dilakukan Rasulullah dalam menjalankan proses pendidikannya. Termasuk metode yang harus diterapkan kepada para pengikutnya. Dengan demikian maka metode (manhaj) yang diterapkan pendidikan Rasulullah dalam membina para didikannya adalah manhaj Ilahi, yaitu metode yang diturunkan oleh Allah SWT berupa wahyu-wahyu yang bersifat mutlak kebenarannya. Metode pendidikan Rasulullah sama sekali berbeda dengan metode-metode pendidikan sebelumnya yang dikembangkan para filosof Yunani dan Romawi dan Rasulullah tidak pernah sama sekali mengadopsi metode atau pengetahuan pendidikan lain dalam mendidik para pengikutnya, Rasulullah mencukupkan dengan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya karena beliau berkeyakinan hanya wahyu Allahlah yang mampu mengantarkan manusia menjadi manusia unggul. Itulah sebabnya beliau sangat marah ketika melihat Umar membaca Kitab Taurat seraya berkata : Demi Allah wahai Umar, jika Nabi Musa masih hidup, beliau pasti akan
mengikutiku. (HR. Abu Ya’la). Ini dapat difahami, karena Rasulullah tidak menghendaki
para didikannya memiliki pemahaman yang bercampur baur atau tercemar oleh pengetahuan selain wahyu yang diturunkan kepadanya, walaupun itu Kitab para Nabi sebelumnya apalagi pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari manusia. Pengertian ini tidak bermakna bahwa Rasulullah melarang semua pengetahuan selain wahyu, namun pengetahuan itu dapat dipelajari apabila para pengikutnya sudah benar-benar memahami dan mengamal-kan wahyu yang diturunkan kepadanya.
Dari sini dapat difahami bahwa metode pendidikan Rasulullah seluruhnya adalah berdasarkan wahyu menurut susunan yang dikehendaki Allah Sang Pencipta manusia. Rasulullah tidak menerapkan metode pendidikan seperti pendidikan-pendidikan sezamannya yang lebih mengutama-kan pengetahuan-pengetahuan manusiawi yang bersifat filosofis ataupun beliau tidak pernah sama sekali mencampur antara wahyu dengan pengetahuan manusia, namun seratus persen wahyu baik berupa wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada beliau ataupun perkataan beliau sendiri yang pada hakikatnya adalah wahyu sebagimana disebutkan al-Qur’an:
Dan tiadalah dia (Muhammad) berkata-kata dengan hawa nafsunya, melainkan dengan
wahyu yang diturunkan. (Al-Najm : 3-4)
Jadi untuk mengetahui hakikat metode pendidikan Rasulullah, maka harus diketahui dan difahami hakikat wahyu yang diturunkan kepada beliau. Karena metode pendidikan Rasulullah terdapat dalam wahyu yang diturunkan kepada beliau. Itulah sebabnya proses pendidikan dan pembinaan generasi Islam pertama tidak dapat dipisahkan sama sekali dari metode yang diterapkan al-Qur’an. Karena pada hakikatnya metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah adalah metode yang diterapkan al-Qur’an. Metode Qur’ani tersebut sengaja disusun dan diprogram untuk keperluan manusia sepanjang masa, baik dia seorang Arab, Persia, Eropa, Cina ataupun Melanesia dan lainnya. Pada dasarnya manusia adalah sama jiwa, tabiat dan karakternya. Jiwa dan tabiat inilah yang dididik dan dipimpin metode ini agar manusia mengetahui hakikat hidup dan kehidupannya, hubungan antara dirinya dengan Tuhan Penciptanya, sesama manusia serta seluruh makhluk hidup lainnya.
Metode pendidikan Rasulullah yang terkandung dalam metode Qur’ani memerlukan tahap-tahapan tertentu untuk melahirkan generasi Islam yang akan menjadi teladan sepanjang masa. Metode yang diterapkan pendidikan Rasulullah bukan sekedar memberikan sekumpulan teori untuk dipelajari dan dihafal serta didiskusikan saja sebagimana pengetahuan-pengetahuan manusiawi yang dipelajari pada pendidikan selainnya. Sekiranya Allah meng-hendaki wahyu yang diturunkan-Nya (al-Qur’an) menjadi perbendaharaan pengetahuan saja, tentu tidak akan diturun-kannya dalam tempo waktu yang panjang selama 23 tahun, namun tentu diturunkan wahyu sejumlah 30 juz sekaligus dalam satu waktu, kemudian manusia dibiarkan mempelajarinya, menelaahnya, mendiskusikannya serta mengembangkannya sendiri menurut kemampuan mereka masing-masing dari berbagai cabang pengetahuan, sehingga pengetahuan tentang wahyu memenuhi kepala mereka dan mereka menjadi pakar-pakar wahyu yang handal, yang dapat menjelaskan maksud-maksudnya tersebut secara terperinci sebagaimana filsafat sehingga tidak mampu difahami oleh masyarakat awam. Namun bukan itu yang dikehendaki metode pendidikan Rasulullah. Wahyu kepada Nabi Muhammad sebagai intipati pendidikan Rasulullah diturunkan secara beransur-ansur sesuai dengan keperluan dan tahap pendidikan yang diterapkan Rasulullah kepada pengikutnya yang akan melahirkan manusia unggul. Berhubung perkara ini, al-Qur’an menyatakan :
Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.(al-Isra’:
106)
Metode pendididikan Rasulullah adalah metode yang telah digariskan Allah untuk mendidik para manusia unggul yang berfungsi sebagai hamba dan khalifah-Nya di muka bumi sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan hanya sekedar melahirkan ulama penghafal wahyu dan kitab-kitab ataupun para cendikiawan yang hanya pandai membahas wahyu dengan berbagai pendekatan dan pengetahuan. Namun Allah Sang Pencipta menghendaki agar wahyu terwujud di dalam realitas kehidupan sehari-hari pada pribadi, keluarga dan masyarakat sehingga menjadi susunan yang ideal. Itulah sebabnya Allah Yang Maha Mengetahui dengan metode-Nya mendidik dan membina generasi yang dikehendakinya sebagai pilar Islam dalam waktu selama 23 tahun. Dimulai dari masalah-masalah asasi dalam kehidupan manusia sampai masalah-masalah kemasyarakatan lainnya agar wahyu tertanam di dalam dada dan dijadikan sebagai sistem dalam realitas kehidupan.
Berkatalah orang-orang yang kafir : “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja” ?. demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya bagian demi bagian.
(al-Furqon : 32)
Pengertian ini memberikan penjelasan bahwa metode pendidikan Rasulullah adalah bersumber dari wahyu dengan susunan yang dikehendaki Allah. Metode pendidikan Rasulullah bukan seperti metode pendidikan manusia yang lebih mementingkan aspek pengetahuan belaka, yang memandang keberhasilan apabila para murid mampu menyalin dan menghafal pengetahuannya. Metode pendidikan Rasulullah menghendaki para
didikannya agar mempraktik-kan apa yang diketahuinya dalam kehidupan nyata, dimulai dari mengetahui hakikat diri, keberadaan, fungsi dan tugasnya di muka bumi. Itulah sebabnya metode pendidikan Rasulullah pada awalnya sangat menekankan pengetahuan dan pengamalan wahyu kepada para didikannya, mereka tidak diizinkan mempelajari selainnya, walaupun itu Kitab Taurat, sampai mereka benar-benar memahami dan mempraktekkan wahyu dalam kehidupan nyata. Karena wahyu akan memberikan mereka semua perbendaharaan pengetahuan yang diperlukan sebagai syarat menjadi hamba dan khalifah Allah termasuk pengetahuan-pengetahuan tentang dunia jika mereka memahami dan mengamalkannya sesuai petunjuk Rasulullah sebagimana yang telah dibuktikan oleh generasi Islam pertama yang telah berhasil membangun peradaban baru dunia berdasarkan wahyu.
Metode mempelajari untuk diamalkan yang diterapkan dan ditekankan pada pendidikan Rasulullah inilah yang telah melahirkan manusia-manusia yang keunggulannya tidak diragukan. Generasi yang dididik Rasulullah menerima wahyu, membaca wahyu, mempelajari wahyu dan memahami wahyu semata-mata untuk diamalkan, untuk diterapkan di dalam kehidupan nyata mereka sehingga mereka menjadi “wahyu hidup”. Setelah mereka mendengar wahyu yang diajarkan Rasulullah mereka langsung mengamalkannya tanpa mempersoalkan aspek-aspek filsafatnya yang rumit. Mereka mendengarkan wahyu dari Rasulullah ibarat seorang prajurit yang menerima perintah harian dari jendral tertingginya. Perintah-perintah harian ini harus segera dilaksanakan di dalam kehidupan dan mereka tidak akan meminta tambahan-tambahan perintah yang akan memberatkan mereka sampai Allah sendiri menurunkan perintah-Nya lagi. Mereka menerima wahyu Allah yang disampaikan Rasulullah dengan penuh perhatian dan kesungguhan, kemudian menghafalnya sebagaimana seorang prajurit menghapal tugas-tugas pokoknya dan selanjutnya mempraktekkannya dalam kehidupan. Jika mereka tidak memahaminya, maka Rasulullah akan menjelaskan maksudnya agar mereka dapat melaksanakannya dengan mudah. Allah Yang Maha Mengetahui menurunkan wahyu kepada utusan-Nya menurut keadaan pertumbuhan masyarakat binaan Rasulullah. Beberapa ayat turun untuk mendidik masyarakat, atau turun keika sesuatu peristiwa, keadaan atau kejadian tertentu terjadi untuk memberikan arahan manusia tentang apa yang terbaik untuk mereka. Keadaan ini terjadi berulang-ulang sehingga didikan Rasulullah benar-benar mencapai tujuannya sebagai manusia unggul, unggul fisik, jiwa ataupun fikirannya.
Mendahulukan wahyu atas segala pengetahuan manusiawi inilah yang membedakan metode pendidikan Rasulullah dengan metode pendidikan selainnya. Metode pendidikan Rasulullah menghendaki agar wahyu benar-benar terwujud dalam pribadi yang dididik, sehingga mereka layak dikatakan sebagai “wahyu berjalan”. Metode ini telah melahirkan manusia-manusia unggul yang berkualitas prima, sementara metode-metode selainnya, baik metode yang diciptakan manusia ataupun metode campuran antara wahyu dengan filsafat manusia belum terbukti mampu melahirkan manusia-manusia unggul sampai sekarang. Bahkan metode pendidikan yang diterapkan kaum Muslimin saat ini belum mampu mencapai tujuan, bahkan telah hilang tujuan dan misi yang diembannya
akibat pengaruh faham sekulerisme dan materialisme yang telah merasuki sistem pendidikan mereka.
Hikmah dilarangnya mempelajari pengetahuan selain wahyu yang diajarkan Nabi Muhammad sebelum habis masa pemahaman dan pengamalannya dalam metode pendidikan Rasulullah adalah agar para didikan memiliki pemahaman dan pengertian yang bersih murni tentang wahyu dan tidak tercampur baur dengan pengetahuan-pengetahuan manusia-wi dengan berbagai latarbelakang filsafatnya yang mungkin akan mempengaruhi kesucian dan kesempurnaan metode Ilahiyah yang terkandung di dalam pendidikan Rasulullah. Ini juga mengandung pengertian bahwa metode pendidikan Rasulullah melarang pencampuran antara wahyu yang diteriamnya dari Allah dengan segala bentuk pengetahuan, walaupun itu berbentuk Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Percampuran antara wahyu dengan selainnya jelas akan merusak dan menghancurkan kesempurnaan yang dikandung wahyu, sebagaimana yang terjadi pada kaum Muslimin belakangan ini. Karena mereka telah mencampuradukkan antara wahyu dengan pengetahu-an manusiawi, baik dari Barat dan Timur, yang akhirnya merusak hakikat wahyu dengan metodenya. Mereka telah menjadikan wahyu bukan lagi perintah yang harus diamalkan, tetapi seperti pengetahuan yang hanya dipelajari dalam pengetahuan seperti pengetahuan manusiawi lainnya yang akhirnya menghilangkan semangat Ilahiyah wahyu.
Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa metode pendidikan Rasulullah adalah menerapkan semua wahyu yang diturunkan Allah kepada para didikannya menurut tahapan-tahapannya, mulai sejak turunnya di gua Hira’ sampai wahyu terakhir. Rasulullah mencukupkan dengan wahyu yang diterimanya dalam membina para pengikutnya, dan menolak semua bentuk metode selainnya sampai para didikannya memahami benar hakikat wahyu.