Dalam mengembangkan rancang bangun pendidikan Islam masa depan, ada beberapa perkara yang perlu dijelas-kan. Pertama, dalam merancang bentuk pendidikan
Islam sepenuhnya harus bersumber dari al-Qur’an, al-Sunnah dan tradisi Islam yang tidak bertentangan dengan keduanya. Karena hanya jalan ini saja yang dapat menyelamatkan seseorang dari kesesatan sebagaimana diterangkan hadits terdahulu. Kedua, tujuan pendidikan ini harus jelas, yaitu untuk melahirkan manusia-manusia unggul dalam arti yang sebenarnya, yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam serta menguasai peradaban dunia modern. Pendidikan ini bukan bertujuan semata-mata untuk melahirkan para sarjana yang menyandang gelar saja atau tidak untuk menciptakan para lulusan yang berlomba mendapatkan pekerjaan. Karena jika mereka sudah menjadi manusia unggul, pasti mereka akan diperebutkan oleh dunia. Ketiga, tidak terpengaruh atau terikat dengan pendidikan yang telah diterapkan dunia modern, baik menyangkut model, sistem, metode, kurikulum atau waktu pendidikan. Karena jika masih terikat dengan pendidikan selainnya, maka sulit dirancang sistem pendidikan yang dikehendaki Islam. Kegagalan kaum Muslimin dalam mengembangkan sistem pendidikan, termasuk yang menerapkan Islamisasi pengetahuan, adalah akibat keterika-tannya yang kuat pada sistem pendidikan sekuler. Seperti waktu belajar misalnya, pengagagas pendidikan Islam menghendaki dalam tempo waktu yang relativ sama dengan pendidikan sekuler mereka menginginkan mencetak pribadi Muslim yang konsisten sekaligus menguasai pengetahuan modern sebagaimana produk sistem pendidikan lainnya. Tentu ini adalah isapan jempol belaka, mana mungkin pelajar menguasai dua pengetahuan sekaligus dalam tempo waktu yang sama dengan pendidikan sekuler, untuk itu perpanjangan waktu pendidikan adalah mutlak untuk keberhasilan pendidikan Islam. Karena Islam sendiri tidak pernah membatasi tempo waktu belajar kepada pengikutnya. Keempat, diperlukan sekumpulan kaum Muslimin yang bertekad bulat menegakkan dan mendukung sepenuhnya sistem pendidikan ini, baik sebagai pengelola pendidikan, para pelajar, orang tua dan masyarakat. Semua pihak harus yakin bahwa ini adalah perjuangan panjang menuju kebangkitan Islam yang dinantikan dunia. Kelima, menyiapkan fasilitas penunjang, baik berupa sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan semaksimal kemampuan. Namun tidak sepenuhnya meniru pendidikan yang sepenuhnya berorien-tasi material.
Sebagai agama langit terlengkap dan tersempurna, Islam menghendaki sistem pendidikan ideal yang sepenuhnya berorientasi pada tujuan suci dan mulia, yaitu pembentukan manusia unggul yang lahir dari didikan wahyu Ilahiyah yang akan menghantarkan manusia menuju kesempurnaan hidup. Dengan sistem pendidikannya yang paripurna, Islam tidak pernah membedakan dan mempertentangkan antara dunia dengan akhirat, antara aqal dengan wahyu antara ayat-ayat dengan pengetahuan, antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam sistem pendidikan Islam semuanya adalah satu kesatuan yang diciptakan Allah sebagai Sang Maha Pencipta untuk kegunaan dan kemudahan manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Wahyu harus menjadi dasar dari setiap pergerakan manusia, baik perbuatannya, perkataannya, berfikirnya dan berkaryanya serta seluruh aktivitas kehidupannya. Karena wahyu adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang mutlak kebenarannya, karena ia datang dari sumber Yang Maha Mutlak Kebenarannya. Itulah sebabnya sistem pendidikan Islam menjadikan wahyu sebagai fondamen utama filsafat keilmuannya yang harus difahami dan diamalkan para penganut Islam. Ketinggian dan kesempurnaan sistem pendidikan Islam semata-mata tidak lain
karena menjadikan wahyu sebagai tolak ukur aktivitas kehidupan. Dan manusia unggul yang telah dididik dengan wahyu akan menjadi pencinta-pencinta pengetahuan sejati sebagimana telah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu, wahyu akan mendorong mereka untuk senantiasa mencari dan mengembangkan berbagai cabang pengetahuan sebagai salah satu upaya menegakkan Islam di muka bumi. Dengan sistem pendidikan Islam yang diterapkan Rasulullah telah terbukti melahirkan generasi yang menguasai dan mengamal-kan Islam sekaligus menjadi pembangun peradaban baru dunia, dan sejak kaum Muslimin berpaling dari sistem pendidikan Rasulullah, mereka tidak pernah mampu melahirkan generasi seperti itu lagi.
Sistem pendidikan Islam ideal ini harus diterapkan sedini mungkin kepada kaum Muslimin, yaitu sejak anak-anak berada di buaian ibu secara informal sampai berusia 4 tahun. Dan dari usia 5 sampai 7 tahun mulai mengikuti klas-klas formal yang diadakan sampai jenjang yang memungkin-kan mereka menerima pendidikan formal sehingga terbentuk manusia-manusia unggul sebagimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Karena Rasulullah telah memerintahkan pengikutnya agar mencari ilmu dari buaian sehingga ke liang lahat. Sitim pendidikan Islam tidak pernah membatasi waktu bagi pelajarnya dalam mencari ilmu sebagaimana sistem pendidikan modern yang senantiasa memacu pelajarnya agar menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin agar dapat masuk ke pasar tenaga kerja. Sehingga menjadikan mereka seperti robot-robot yang diperhamba pengetahuannya yang akhirnya akan menimbulkan rasa frustasi. Apalagi jika mereka tidak dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di tengah masyarakat dan tidak mampu bersaing di pasar tenaga kerja akibat kedangkalan pengetahuannya yang dipaksakan penerimaannya. Itulah sebabnya pendidikan Islam dapat terealisasi apabila ada sekumpulan masyarakat Islam yang menyadari pentingnnya pendidikan ideal untuk generasi muda mereka dengan tidak membataskan waktu yang harus ditempuh untuk menjadi manusia-manusia unggul yang menguasai Islam dan mampu bersaing di dunia modern.
Pendidikan Islam yang ideal, sebagaimana pendidikan yang terapkan suri teladan kaum Muslimin, Rasulullah adalah pendidikan yang mengawali pelajarannya dengan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya, sebagimana diterangkan al-Qur’an :
sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(al-Baqarah : 151)
Ayat di atas dengan tegas menyebutkan asas pengajaran yang harus diterapkan kaum Muslimin, pertama mengajarkan tentang bacaan ayat-ayat al-Qur’an, kemudian mengajarkan kandungan al-Qur’an serta al-Hikmah secara mendalam baru kemudian sesudah itu diajarkan ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menopang kehidupan mereka di dunia. Bahasa Arab harus diberikan bersamaan dengan pelajaran membaca al-Qur’an agar kelak mereka dapat memahami apa yang terkandung didalamnya, karena hanya dengan memahami bahasa Arablah seseorang baru dapat mengerti al-Qur’an dengan baik dan benar. Idialnya seorang anak Muslim yang berusia 4-5 tahun, begitu mereka dapat
membaca tulisan Arab sebagai ilmu dasar yang wajib diajarkan, harus sudah mulai menghafal al-Qur’an sesuai dengan kemampuannya. Sebuah hadits menyatakan :
Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara : mencintai Nabimu, mencintai ahli baytnya dan membaca al-Qur’an.
(HR. al-Thabrani)
Sehubungan dengan dasar-dasar rancang bangun sistem pendidikan Islam ini, Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam menukilkan beberapa perkara yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan sebuah model pendidikan Islam ideal di masa depan :
1. Al-Jahidz meriwayatkan, bahwa Uqbah bin Abi Sufyan, ketika menyerahkan anaknya kepada seorang pendidik, ia berkata :
“Hendaklah engkau dalam memperbaiki anak-ku ini dengan memulai mempernbaiki dirimu sendiri. Sebab mata mereka itu terikat dengan matamu, yang baik menurut mereka adalah yang baik menurutmu dan yang jelek menurut mereka adalah yang jelek menurutmu. Ajarkanlah kepada mereka biographi orang-orang bijaksana, akhlak orang-orang terpelajar dan rasa takut kepadaku. Didiklah mereka agar menghormatiku. Jadilah engkau bagi mereka bagai dokter yang tidak terburu-buru memberikan resep obat sebelum mengetahui penyakitnya. Dan janganlah engkau bersandar kepada ketidak mampuanku. Karena sudah kuserahkan sepenuhnya kepada kemampuan-mu”.
2. Di dalam Muqaddimahnya, Ibnu Khaldun meriwayatkan bahwa ketika Harun al-Rasyid menyerahkan putranya, al- Amin, kepada seorang pendidik, ia berkata kepadanya:
“Hai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan belahan jiwanya dan buah hatinya kepadamu. Oleh karena itu, bentang-kanlah tanganmu untuknya. Dan ia wajib men-taatimu. Maka bertindaklah engkau terhadap-nya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Amirul Mukminin. Bacakanlah al-Qur’an kepa-danya, beritahukanlah kata-kata layak kepada-nya, riwayatkanlah sya’ir-sya’ir kepadakepada-nya, ajarkanlah sunnah-sunnah kepadanya, terang-kanlah tujuan-tujuan pembicaraan dan latar belakangnnya kepadanya, laranglah ia untuk tertawa selain pada waktunya, dan janganlah engkau membiarkan waktu berlalu begitu saja, kalau tidak, maka engkau telah memanfaatkan suatu faedah yang bermanfaat baginya tanpa tanpa membuatnya sedih, sehingga engkau mematikan pikirannya. Janganlah engkau membiarkan waktu libur baginya, sehingga ia bersenang-senang dengan waktu yang bersenang-senang itu. Luruskanlah ia semampumu dengan pen-dekatan dan kelemah lembutan. Dan bila ia tidak mau menerima, maka engkau harus menggunakan kekerasan”.
4. Abdul Malik bin Marwan menasihati orang yang mendidik anaknya :
“Ajarkanlah kebenaran kepada mereka sebagai-mana kamu mengajarkan al-Qur’an kepada me-reka. Riwayatkanlah sya’ir kepada mereka sehingga mereka berani...92
Sa’ad bin Abi Waqash ra berkata :
“Kami mengajar anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah saw
sebagaimana kami mengajarkan surat al-Qur’an kepada mereka”93
Dr. Muhammad Athiyah Abrasi menukilkan dalam bukunya Al-Tarbiyat
al-Islamiyat :
Pada suatu ketika, Mufaddal bin Zaid melihat anak seorang wanita Islam dari desa, maka beliau terpesona melihat wajahnya dan kesempurnaan bentuk badannya. Zaid bertanya kepada ibunyaa mengenai anak tersebut, dan di jawab : “Ketika ia berumur genap 5 tahun saya telah menyerahkan-nya kepada seorang juru didik, di mana ia belajar membaca dan menghafal al-Qur’an, kemudian disuruh mempelajari syair dan sesudah itu diberikan kepadanya sejarah nenek moyang dan kaumnya dan membaca jasa-jasa dan kemegahan mereka sehingga sampailah ia kepada umur dewasa kemudian ia dilatih mengendarai kuda dan mempergunakan senjata. Setelah ia mahir dalam soal-soal memakai senjata disuruh berjalan dari rumah ke rumah dan ia dapat mendengar suara minta tolong dan dengan cepat ia membantu dan menolong”.
Ibnu Sina di dalam bukunya al-Siyasah telah membentangkan pendapat-pendapat berharga dalam pendidikan anak-anak dan beliau menasihatkan supaya pendidikan anak-anak di mulai dengan pelajaran al-Qur’an yaitu segera setelah ada kesediannya secara fisik dan mental untuk belajar. Pada waktu yang sama ia belajar mengeja, membaca, menulis dan mempelajari dasar-dasar agama, setelah itu belajar syair dan mulai dengan yang singkat-singkat, karena menghafal syair-syair pendek itu lebih gampang dan lebih ringan... Bila si anak telah selesai dari menghafalkan al-Qur’an dan mengerti pula tata bahasa Arab barulah dilihat, diarahkan dan diberi petunjuk kepada ilmu yang sesuai dengan bakat dan kesediaannya”.
Ibnu Tawam berkata :”Yang seharusnya dilakukan oleh bapak-bapak sesudah anak-anaknya hafal al-Qur’an ialah mengajar mereka menulis, berhitung dan berenang”
92 Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam, (Beirut : Dar al-Salam, Tab. Tsaniyah, 1978) muqaddimah.
Al-Ghazali mewasiatkan supaya anak-anak di ajar al-Qur’an, sejarah dan kehidupan orang-orang besar kemudian beberapa hukum-hukum agama dan sajak yang tidak menyebut soal cinta dan pelaku-pelakunya.
Ibnu Khaldun mengisyaratkan kepada pentingnya penghafalan al-Qur’an bagi anak-anak, dan beliau menjelaskan bahwa pengajaran tentang al-Qur’an ini adalah sendi pendidikan dalam semua rencana pelajaran sekolah di berbagai negara Islam, oleh karena pengajaran al-Qur’an itu adalah syiar dari syiar-syiar agama Islam yang akan membawa kepada kepada semakin kokohnya iman seseorang.94
Selanjutnya beliau menukilkan hikmah mempelajari dan menghafal al-Qur’an.
Tujuan dari para filosof Islam dengan menghafal-kan al-Qur’an ialah mengambil berkat dari per-bendaharaan Ilahi dan kekayaan rohaniah yang Maha Besar di alam ini. Dengan menghafal ayat-ayat itu, anak-anak akan tertolong dalam penggu-naan terminologi yang halus dan indah, iramanya yang menarik, mukjizat, hikmah, sastra, logika, kisah dan wasiat-wasiat berharga yang terkan-dung di dalam al-Qur’an. Meskipun mereka tidak sanggup mengerti akan maksud surat-surat dan ayat yang mereka hafal oleh karena umur mereka yang masih kecil dan kekuatan fikiran yang masih rendah, namun demikian mereka dapat mengambil manfaat dengan adanya kekuatan angatan dan hafalan secara otomatis di waktu kecil. Hal ini tidak ada buruknya, karena bila telah mulai besar mereka akan sanggup mengenal tafsir, yaitu setelah pancaindera dan
kekuatan pemikiran mereka bertambah sempurna.95
Disamping al-Qur’an dan al-Sunnah, ada beberapa ilmu dasar keislaman yang wajib diketahui oleh seorang Muslim. Mengenai perkara ini, Said Hawa menyatakan :
2. Oleh karena seorang Muslim tidak akan menca-pai kefahaman yang sempurna apabila mempe-lajari hukum-hukum Allah secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, maka diharuskan baginya mempelajari ilmu-ilmu alat ataupun ilmu-ilmu yang dapat menghantarkan kepada pemahaman hukum-hukum Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Seperti dengan mempelajari ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu akhlak dan ilmu-ilmu yang telah dirumuskan para ulama dengan prinsip dan kaedah tertentu untuk mempermudah pemaha-man seorang Muslim, harus pula diketahui. Disebabkan hukum-hukum bersumber dari al-qur’an dan Sunnah, maka ada ilmu yang membahas cara pengambilan hukum dari al-Qur’an dan Sunnah, dikenal dengan ilmu Ushul Fiqh, inipun harus dikuasai seorang Muslim supaya ia mengetahui hakikat dari hukum yang dipelajarinya.
94 Dr. Athiyah al-Abrasi, al-Tarbiyat al-Islamiyyat, terj. DDPPI, hlm. 160-162 95 op.cit. hlm.163
3. Oleh karena sejarah Islam (tarikh Islam) meru-pakan gambaran lengkap dari sosok penam-pilan kaum Muslimin serta Islam yang dapat di-jadikan sumber teladan. Lagi pula sejarah Islam membahas tentang pola hidup Rasulullah dan para shahabat dan dengan demikian harus menjadi teladan yang harus diepelajari.
4. Oleh karena setiap Muslim dituntut agar senantiasa memperhatikan kepentingan-kepen-tingan kaum Muslimin seperti sabdanya “Ba-rangsaiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka mereka bukanlah termasuk golongannya (HR. Bukhori). Memper-hatikan kepentingan mereka tidak mungkin di-lakukan kecuali dengan mengenal kedudukan mereka. Oleh sebab itu harus dipelajari kondisi alam Islami dan mengetahui kedudukan kaum Muslimin.
5. Oleh karena adanya tantangan-tantangan dari musuh terhadap Islam dan kaum Muslimin, maka harus pula diketahui hal-hal tersebut dan sasarannya untuk mengelakkan ummat dari bencana yang ditimbulkannya.
6. Oleh karena bahasa Arab dan ilmu-ilmunya/ ilmu alat menjadi anak kunci dalam memahami dienul Islam, maka sudah seharusnya kaum Muslimin berusaha lebih giat untuk menguasainya dengan baik.
7. Oleh karena pengkajian Islam modern mempu-nyai kebaikan seperti dapat menyampaikan Islam sesuai dengan alam kekinian, maka pengkajian inipun harus diperlukan.
8. Karena ilmu-ilmu ini berguna untuk menjelas-kan tiga masalah utama bagi seorang Muslim, yaitu Allah, Rasul dan Islam, maka seorang Muslim mesti
mempelajarinya secara mendalam ketiga-tiga masalah tadi dengan seksama.96
Menurut beberapa keterangan di atas, pendidikan Islam ideal adalah pendidikan yang mampu memberikan dasar-dasar pengetahuan keislaman yang kuat kepada para pelajarnya. Untuk mencapai tujuan di atas maka setiap pelajar diwajibkan menguasai secara global beberapa cabang pengetahuan, yang biasa diistilahkan oleh para cendikiawan Muslim sebagai pengetahuan fardhu ain, diantaranya adalah:
1. Al-Qur’an dengan beberapa cabang ilmunya, dari tajwid, ulumul Qur’an sampai pada tafsir. Jika memungkinkan al-Qur’an dihafal seluruhnya atau beberapa bagian menurut kadar kemampuan pelajar. Pengajaran al-Qur’an lebih ditekankan pada aspek pengamalan dan bukan sebagai pengetahuan belaka.
2. Al-Sunnah dengan beberapa cabang ilmunya, dan jika memungkinkan dihafal beberapa hadits yang penting-penting.
3. Ilmu-ilmu alat yang telah dirumuskan para ulama untuk mempermudah memahami Islam seperti ilmu tauhid, akhlak, fiqh, ushul fiqh, tasawwuf, filsafat dan lainnya.
4. Tarikh Islam, sejarah para shahabat dan Nabi, kegemila-ngan peradaban Islam dan cabang-cabangnya
5. Bahasa Arab dan cabang-cabang keilmuannya menurut kadar kemampuan agar dapat memahami al-Qur’an dan al-Sunnah.
6. Kajian-kajian keislaman modern dengan beberapa aspek-nya, termasuk didalamnya tentang keadaan dunia Islam dan tantangan-tantangan yang dihadapi Islam.
7. Ilmu-ilmu pendukung yang menumbuhkan keimanan dan keislaman seseorang, baik yang menyangkut hukum-hukum, spiritualitas ataupun pengembangan fisik dan mental pelajar.
Ilmu-ilmu fardhu ain di atas harus dikuasai secara maksimal oleh para pelajar menurut kadar kemampuan mereka masing-masing. Setelah mereka menguasai pengetahuan ini, diberikan pengetahuan fardhu kifayah yang merupakan spesialisasi mereka, baik dalam ilmu-ilmu umum seperti ekonomi, sosiologi, kimia, kedokteran ataupun dalam bidang tafsir, hadits, fiqh dan lainnya menurut minat dan bakat para pelajar.
Dengan sistem pendidikan Islam ideal ini kelak diharapkan akan lahir manusia-manusia unggul (al-Insan al-Kamil) dalam arti yang sebenarnya. Yaitu ahli-ahli fisika, kimia, matematika, kedokteran, pertanian, ekonomi, sosiologi, astronomi, komputer, ekonomi, penerbangan ataupun ahli fiqh, tafsir, hadits, tasawwuf dan lainnya namun memiliki kadar pemahaman fardhu ain yang sama sebagimana para shahabat ataupun para cendikiawan Muslim sesudahnya seperti Imam yang empat ( Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi), al-Ghazali, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusy, al-Kindi, Ibnu Khaldun dan lainnnya. Walaupun mereka adalah para filosof yang menguasai pengetahuan-pengetahuan aqliyah, namun pada saat yang sama mereka adalah ulama-ulama yang menghafal al-Qur’an dan menguasai ajaran Islam sehingga ada diantara mereka yang menjadi hakim agama dan mufti seperti Ibnu Sina yang ahli kedokteran dan Ibnu Khaldun penggagas sosiologi.
Para generasi Muslim terdahulu dapat menguasai kedua-dua pengetahuan sekaligus karena sistem pendidikan Islam tidak pernah memisahkan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, karena mereka berkeyakinan semua pengetahuan datangnya dari Allah. Sebagimana dikemukakan beberapa kutipan di atas, bahwa wahyu baik al-Qur’an ataupun al-Sunnah menjadi dasar pengajaran utama kepada generasi Islam. Setelah mereka menguasai pengetahuan-pengetahuan dasar sebagai fardhu ain, barulah mereka mempelajari fardhu kifayah menurut kemampuan dan minat mereka masing-masing. Sistem pendidikan Islam ini telah mendorong lahirnya para cendikiawan yang tidak memisah-misahkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, namun mereka hanya mengklassifikasikannya menurut tingkatan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, mana yang harus didahului dan mana yang harus dibelakangkan. Dan pemisahan pengetahuan dikenal dunia Islam setelah masuknya penjajah Barat yang menyebarkan sistem pendidikan sekuler yang memisah-misahkan antara agama, moral dan pengetahuan.