• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Tingkat Menengah

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam (Halaman 63-67)

Sketsa Pendidikan Islami Masa Depan

2. Pendidikan Tingkat Menengah

Pendidikan tingkat menengah adalah kelanjutan dari pendidikan tingkat dasar yang telah diberikan terdahulu. Setelah para pelajar menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dengan kurikulum yang diajarkan, maka akan kelihatan bakat, kemampuan serta minatnya masing-masing sebagai konsekwensi logis pendidikan yang diberikan kepadanya. Karena sistem pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk tersempurna yang dijadikan Allah dan memiliki keistimewaan tertentu yang terpendam dalam dirinya. Tugas pendidikan Islam dengan pengajaran utamanya yang bersumberkan wahyu Allah akan memastikan potensi terpendam itu tampil ke permukaan sehingga dapat menga-rahkannya

bakat dan kemampuannya secara maksimal sehingga menjadi manusia terunggul dalam tingkatannya. Pencarian potensi terpendam melalui pendidikan Ilahiyah inilah yang tidak dimiliki sistem pendidikan manusiawi sehingga menyamaratakan pendidikan para pelajar yang akhirnya berakibat fatal, dengan lahirnya para lulusan yang tidak berminat atau tidak berbakat pada bidangnya sehingga menghabiskan waktunya dengan pekerjaan sia-sia dan memubazirkan pengetahuan yang telah dipelajarinya bertahun-tahun karena tidak dimanfaatkannya dalam kehi-dupannya sebagaimana yang banyak menimpa para lulusan pendidikan manusiawi masa kini.

Itulah pentingnya penanaman al-Qur’an sedini mungkin agar jiwa dan fikiran para pelajar didominasi wahyu bukannya hawa nafsu. Jika wahyu sudah tertanam pada seorang pelajar dan menjadi bagian dari kehidupannya mereka akan menjadi manusia yang mudah dididik dan dikembangkan potensi dirinya secara maksimal sehingga mampu menjadi manusia unggul sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Rasulullah, para shahabat dan cendikiawan Muslim terdahulu. Tidak seperti para pelajar yang sudah tercemar oleh pengaruh buruk pendidikan sekuler yang telah menjadikan para pelajar sebagai manusia-manusia yang susah dididik, sukar dikembangkan potensinya, kehilangan jati diri bahkan lebih mementingkan kenikmatan duniawi sehingga mendorong mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan, penyelewengan bahkan melakukan tindak kriminal yang mengganggu ketertiban umum, bahkan sanggup saling membunuh akibat perkara sepele. Semua ini terjadi karena jiwa dan fikirannya telah dikuasai oleh hawa nafsu jahat sehingga kehidupannya mudah dikontrol oleh syaithan yang senantiasa menyesatkan manusia. Jika sudah demikian keadaannya, maka berapa kerugian yang diderita sebuah bangsa akibat salah mendidik generasi mudanya.

Pada tingkatan menengah ini, yang memakan waktu antara 5-7 tahun lebih merupakan seleksi awal untuk mengetahui spesialisasi yang akan diberikan kepada para pelajar. Para pelajar yang sudah dididik dan dibiasakan dengan semangat al-Qur’an dengan mukjizat Ilahiyah yang terkandung di dalamnya akan menjadikan mereka sebagai bibit-bibit unggul pilihan yang akan disemai sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Dengan dasar-dasar pengetahuan fardhu ain dan fardhu kifayah yang dikuasainya, para pelajar perlu diberikan pelajaran-pelajaran yang lebih spesifik yang bersifat pengembangan dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Tingkat menengah dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu menengah pertama (tsanawiyah) dan menengah atas (aliyah) atau menjadi satu tingkatan saja seperti yang diterapkan pondok pesantren di Indonesia.

Pendidikan tingkat menengah ini akan sangat efektif jika diterapkan sistem berasrama kepada semua pelajar, disamping untuk memaksimalkan kebarhasilan pendidikan juga sangat efektif untuk menjaga pergaulan para pelajar agar dapat terhindar dari perkara-perkara buruk dunia modern yang penuh dengan seruan kemaksiatan dan penyelewengan. Karena pada usia seperti ini mereka akan memasuki masa puber yang sangat sensitif dengan perkara-perkara baru. Jangan sampai materi pendidikan yang telah diberikan hilang begitu saja akibat masuknya pemikiran-pemikiran sesat yang akan menyesatkannya, terutama jangan sampai menghilangkan amalan-amalan ibadah mereka yang merupakan proses pendidikan kerohanian yang berkelanjutan. Rasulullah ketika mendidik para shahabat sangat ketat memelihara jiwa, pemikiran dan pergaulan mereka

agar jangan tercemar kejahiliyahan. Apalagi zaman ini yang penuh dengan berbagai bentuk kejahiliyahan yang akan mengurangi keberhasilan pendidikan Ilahiyah yang menghendaki penyucian jiwa dan fikiran terus menerus agar wahyu dapat menjadi bagian kehidupan. Karena sesuatu yang suci dan agung seperti wahyu hanya dapat berada pada jiwa-jiwa yang suci dan agung pula. Itulah sebabnya para cendikiawan Muslim terdahulu sangat menjaga diri mereka dari perkara-perkara jahiliyah yang dapat merusak jiwa dan pemikiran mereka agar wahyu menjadi bagian kehidupan mereka dengan mudah dan dapat mengantarkan mereka menuju kesempurnaan hidup.

Demikian pula pada masa pendidikan ini idealnya pendidikan laki-laki dengan perempuan dipisahkan agar masing-masing dapat berkembang menurut kodrat pencipta-annya masing-masing sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Islam tidak sepenuhnya menerima konsep pendidikan campuran antara laki-laki dengan perempuan sebagaimana yang diterapkan pendidikan sekuler Barat yang memberikan mereka pelajaran yang sama. Karena pendidikan ini banyak mudharatnya dari manfaatnya. Akibat paling minimal adalah pendidikan campuran ini akan membiasakan pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan yang akhirnya akan memudahkan mereka melakukan perkara-perkara buruk yang dilarang agama. Tidak diragukan pendidikan ini telah mendorong timbulnya seks bebas dikalangan muda mudi sebagimana yang terjadi di Barat yang memang membolehkannya dan telah mulai menjadi mode di kalangan generasi muda Muslim. Untuk menjaga perkara-perkara buruk ini Islam berusaha mencegahnya dari awal, misalnya laki-laki dan wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan, dilarang bersentuhan kulit, dilarang berduaan dan dilarang mendekati perkara-perkara yang akan mengakibatkan timbulnya perzinaan. Demikian pula dengan beberapa mata pelajaran yang mungkin kurang tepat diberikan secara bersamaan karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fungsi dan tugas masing-masing. Pemisahan pendidikan antara laki-laki dengan perempun akan memberikan beberapa keutamaan, diantara-nya terhindarnya para pelajar dari pergaulan bebas dan dapat memaksimalkan pendidikan yang diberikan.

Di tingkat menengah pertama (tsanawiyah) yang umumnya memakan waktu 3-4 tahun, dengan beberapa pelajaran fardhu ain dan fardhu kifayah yang diberikan untuk melengkapi pelajaran yang diberikan di tingkat dasar, diharapkan para pelajar sudah dapat diketahui bakat dan minatnya masing-masing. Lembaga pendidikan dan orang tua tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada para pelajar untuk mengambil jurusan tertentu yang bertentangan dengan bakat dan minat pelajar. Karena dalam kehidupan ini tidak semua orang diciptakan untuk menjadi ulama, ekonom, politisi, pegawai, pekerja ataupun buruh. Namun Allah sebagai Pencipta manusia telah memberikan kelebihan pada masing-masing orang dengan kadarnya, ada yang berbakat jadi ulama, jadi ekonom, politisi ataupun buruh kasar. Pemaksaan terhadap bakat dan minat akan menjadikan para pelajar frustasi dan tidak bergairah terhadap pelajaran. Hal seperti ini perlu diperhatikan untuk mensukseskan program pendidikan. Pengetahuan-pengartahun fardhu ain yang diberikan pada tingkat dasar harus dikembangkan, terutama pemamahan terhadap al-Qur’an yang merupakan pelajaran utama agar para pelajar yang sudah menghafalnya dapat menangkap maksudnya kemudian mengamalkannya dalam kehidupan. Pemahaman dan pengamalan yang benar terhadap al-Qur’an akan menghantarkan para pelajar menjadi manusia-manusia

yang mengenal bakat terpendam-nya dan sekaligus akan menumbuhkan minatnya padanya.

Bagi para pelajar yang memiliki kadar intelegensia menengah dan rendah diarahkan pada dasar-dasar pengeta-huan kejuruan praktis, seperti perdagangan, pertanian, peternakan, industri kecil, teknologi tepat guna dan sejenisnya sebagai ilmu fardhu kifayah. Dengan dasar pengetahuan keislaman yang dimilikinya kelak mereka diharapkan sebagai seorang petani, pedagang ataupun pengusaha Muslim yang sukses. Lembaga pendidikan Islam harus menyiapkan pendidikan kejuruan dengan pengelolaan sederhana yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.

Bagi yang memiliki kadar intelegensia tinggi harus diperhatikan dan diberikan pendidikan yang lebih khusus dan intensif. Jangan sampai kelebihannya tersia-sia akibat sistem pendidikan yang salah. Karena mereka kelak diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin ummah sesuai kemampuannya masing-masing. Mereka harus diberi perhatian dan dipacu menurut minat dan bakatnya. Bagi yang berbakat dan berminat menjadi ulama ataupun spesialis di bidang agama, porsi pelajaran ilmu agama lebih diperbanyak, terutama ilmu-ilmu alat yang akan menghan-tarkan mereka menjadi ahli dalam bidang spesialisnya, seperti baik pengetahuan dasar pengetahuan keislaman ataupun bahasa Arab dan lainnya. Disamping itu mereka harus tetap diberikan pengetahuan-pengetahuan umum yang akan menopang keahliannya kelak. Demikian pula bagi yang berminat pada pengetahuan umum, diberikan kebebasan dan bimbingan agar berkembang kemampuannya secara maksimal, porsi pengetahuan umum yang diminatinya dapat lebih diperdalam dengan khusus dan lebih intensif. Diharapkan setelah mengakhiri tingkat menengah pertama ini para pelajar sudah mengetahui dengan pasti bakatnya masing-masing, tinggal diarahkan dan lebih dispesialisasikan lagi.

Pada tingkat menengah atas (aliyah) yang memakan waktu antara 2 sampai 3 tahun, penjurusan para pelajar lebih terarah dan khusus. Dengan dasar-dasar pengetahuan yang diberikan sebelumnya baik yang fardhu ain ataupun fardhu kifayah para pelajar diberikan kebebasan untuk memilih jurusan sesuai dengan bakat dan minatnya. Bagi yang berminat memperdalam pengetahuan eksak ataupun pengetahuan humaniora/sosial dan pengetahuan keislaman dapat lebih menghususkan diri dengan minat dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian di tingkat menengah atas ini ada 3 jurusan yang dibagi menjadi beberapa sub jurusan, yaitu jurusan eksak dengan beberapa sub jurusan seperti fisika, kimia, biologi, matematika dan lainnya, jurusan sosial dengan beberapa sub jurusan dan jurusan keislaman dengan beberapa sub jurusan yang dirancang menurut perkemba-ngan pengetahuan tersebut. Masing-masing jurusan memiliki mata pelajaran fardhu ain yang sama, diantaranya seperti al-Qur’an-tafsir/ilmu tafsir, al-Hadits-ilmu Hadits, aqidah-kalam, akhlak, Ibadah-fiqh/ushul fiqh, sejarah Islam, bahasa Arab, dan beberapa pengetahuan dasar penunjang lainnya seperti matematika, bahasa nasional, bahasa Inggris dan lainnya.Yang membedakan masing-masing jurusan adalah mata pelajaran spesialisasinya (fardhu kifayah). Misalnya jurusan eksak sub jurusan biologi. Para pelajar sub jurusan ini disamping mempelajari pengetahuan biologi secara mendalam dengan beberapa pengetahuan penunjangnya, namun diajarkan mata pelajaran fardhu ain sama dengan jurusan keislaman sub jurusan ilmu tafsir misalnya. Jadi pelajar jurusan biologi dan jurusan

ilmu tafsir sama tingkat pelajaran pengetahuan fardhu kifayahnya, pengetahuan al-Qur’an mereka sama, pengetahuan bahasa Arab mereka sama, pengetahuan aqidah akhlak mereka sama dan lainnya, namun yang membedakan adalah pengetahuan fardhu kifayah mereka sebagai spesialisasi. Para pelajar yang mengambil jurusan biologi ahli dalam ilmu biologi beserta cabang-cabangnya sementara jurusan ilmu tafsir ahli dalam bidang tafsir dan cabang-cabangnya.

Mungkin ada yang berpendapat penjurusan ini terlalu dini dengan mengambil perbandingan sistem pendidikan masa kini yang memulai penjurusan pada tingkat tinggi. Penjurusan yang dimaksudkan di sini adalah penjurusan yang lebih spesifik agar para pelajar lebih maksimal dalam menguasai bidang pengetahuannya. Kerena terbukti sistem pendidikan modern telah banyak mengajarkan pengetahuan yang terlalu umum sehingga kurang mendatangkan manfaat bagi para pelajar dalam mengembangkan pengetahuannya. Untuk menciptakan manusia unggul, sebagai tujuan utama pendidikan Islam, mereka harus diarahkan dan didorong untuk mengetahui hakikat dirinya terlebih dahulu, termasuk bakat dan minatnya. Setelah mereka mengetahui bakat dan minatnya, wahyu yang diajarkan pada sistem pendidikan Islam akan mendorong mereka secara maksimal untuk mencapai kesempurnaan dalam bakatnya sehingga mereka menjadi yang terbaik dan terunggul.

Sistem pendidikan modern yang terlalu umum telah melahirkan para lulusan yang bingung karena tidak mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan. Ini akibat dari terlambatnya mereka mengetahui bakat dan minatnya, sehingga mengambil jurusan semaunya, yang akhirnya membingungkan mereka sendiri. Apalagi pengetahuan yang diberikan hampir semuanya pengetahuan yang sangat umum sehingga banyak lulusannya yang mengambil profesi yang lain dengan pendidikan yang diperolehnya. Walaupun mereka mungkin berhasil dalam karir, namun pasti mengalami kekurangan akibat tidak mempelajari dasar-dasar profesi yang diminatinya secara serius akibat kesalahan sistem pendidikan. Berapa banyak lulusan jurusan pendidikan namun menjadi seorang usahawan yang berhasil, jika mereka mengambil jurusan ekonomi sebelumnya, maka tentu mereka akan semakin berhasil.

Jadi penjurusan pengetahuan dari awal ini dimaksud-kan agar para pelajar yang memiliki minat pada pengetahuan tertentu dapat sedini mungkin diberikan dasar-dasar pengetahuan yang akan mendukung minat dan bakatnya serta agar tidak diberikan pengetahuan yang tidak diminati-nya. Ketika mereka memasuki perguuruan tinggi kelak, mereka sudah siap dengan dasar-dasar pengetahuan yang diminatinya. Dan ini akan memaksimalkan pengetahuan yang akan diberikan kepada para pelajar. Karena Islam sendiri memberikan kebebasan kepada pengikutnya untuk menguasai pengetahuan sebanyak yang mereka mampu memperolehnya.

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam (Halaman 63-67)

Dokumen terkait