• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Tingkat Dasar/Permulaan

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam (Halaman 60-63)

Sketsa Pendidikan Islami Masa Depan

1. Pendidikan Tingkat Dasar/Permulaan

Pada tingkat dasar, dimulai dari umur 5-6 tahun sampi berumur baligh (12-13 tahun), para pelajar diwajibkan mempelajari dasar-dasar membaca dan menulis, terutama bahasa Arab. Sesudah mereka dapat membaca dengan baik diwajibkan menghafal al-Qur’an, beberapa hadits-hadits Arbain dan syair-syair Arab yang pendek dan mudah. Setelah anak-anak-anak dapat lancar membaca dan menulis ditambahkan ilmu-ilmu dasar keislaman (fardhu ain) seperti ilmu aqidah-akhlaq, ibadah-syareah, sejarah Islam, Bahasa Arab, dan lain-lainnya disamping beberapa pengetahuan dasar umum seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa nasional, bahasa inggris dan lainnya menurut kebutuhan.

Kebanyakan kaum Muslimin kurang memperhatikan pendidikan dasar ini kepada anak-anak mereka, padahal di masa inilah potensi anak sangat memungkinkan untuk dikembangkan, terutama untuk menghafal al-Qur’an secara sempurna sebagai dasar utama sistem pengetahuan dan kehidupan Islam. Pemanfaatan waktu perlu dimaksimalkan, anak-anak harus di asramakan setengah hari dari pagi sampai magrib atau asrama penuh jika sudah memungkin-kan, karena anak-anak akan bergembira jika memiliki banyak kawan dalam belajar, namun waktu diatur sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kebosanan anak-anak dengan aktivitas-aktivitas yang menarik dan bermanfaat seperti rekreasi, kunjungan atau olah raga, bela diri (silat/karate), menunggang kuda, berenang dan sejenisnya.

Sehubungan dengan pendidikan dasar ini, Dr. Muhammad Athiyah al-Abrasi menulis :

Bahan-bahan pokok yang diberikan kepada anak-anak dalam tingkat pertama atau permulaan secara umumnya adalah sebagai berikut : al-Qur’an dan sendi-sendi agama, membaca, menu-lis, berhitung, bahasa, sajak-sajak yang mengan-dung ajaran akhlak, menulis halus,

cerita-cerita dan latihan berenang dan menunggang kuda.97

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar para pelajar yang sudah menjalani pendidikan selama 6 sampai 8 tahun, diharapkan sudah menghafal al-Qur’an 30 juz atau beberapa juz menurut kemampuan, menguasai beberapa kitab hadits seperti Arbain An-Nawawi atau Riyadush Sholihin atau sejenisnya, memahami dasar-dasar ilmu keislaman seperti aqidah-tauhid, akhlak, sejarah para Nabi, Rasul dan Shahabat, ibadah-syareat dan bahasa Arab sebagai dasar percakapan. Disamping itu menguasai pula dasar-dasar ilmu umum seperti matematika, pengetahuan alam, sosial, ketrampilan dan bahasa nasional-Inggris.

Di sini perlu ditegaskan sekali bahwa pendidikan dasar dengan kurikulum utamanya penghafalan al-Qur’an dan pengenalan dasar-dasar pengetahuan keislaman dan umum ini adalah fase terpenting bagi pendidikan generasi Islam. Ibarat sebuah bangunan, maka pendidikan dasar adalah fondasi yang harus disiapkan dengan perencanaan yang matang, karena bangunan pasti akan roboh jika fondasinya rapuh. Kenakalan remaja dengan segala penyimpangannya yang telah menjadi gejala umum sosial saat ini tidak lain adalah akibat kegagalan sistem pendidikan menanamkan fondasi keagamaan yang kuat kepada para pelajar. Jika anak-anak telah terlatih dari kecil dengan amalan dan budaya Islami, maka perkara ini akan senantiasa menjadi jalan hidupnya kelak sesudah dewasa. Anak-anak yang diibaratkan sebagai kain putih bersih harus diwarnai dengan tinta suci dan agung agar tinggi nilainya. Itulah sebabnya Rasulullah, para shahabat dan para cendikiawan Muslim terdahulu sangat memperhatikan pendidikan dasar anak-anak mereka dan mengisi pengetahuan pertamanya dengan wahyu Allah dengan segala mukjizat yang menyertainya. Tujuan mereka sangat jelas, yaitu untuk memberikan fondasi terkuat bagi kehidupan generasi mereka. Adakah sebuah pengetahuan yang lebih suci, lebih mulia, lebih tinggi, lebih agung selain dari wahyu Sang Pencipta alam yang diturunkan kepada Rasul-Nya ? Jika ayat-ayat Allah ini telah tertanam dalam fikiran dan hati sanubari generasi muda, maka ia akan senantiasa menjadi pengontrol dan pembimbing hidup yang paling efektif, sebagimana disebut-kan al-Qur’an :

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal salih, bahwa bagi mereka ada ganjaran besar.

(al-Isra’ : 9)

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami telah menjelaskannya ilmu pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

(al-A’raf : 52)

Penghafalan al-Qur’an adalah mutlak dan senantiasa harus diutamakan dari segala bentuk pengetahuan pada pendidikan tingkat dasar ini. Begitu pelajar dapat membaca al-Qur’an maka mereka harus diwajibkan menghafalnya semaksimal kemampuannya tanpa dapat ditawar-tawar. Ini dimaksudkan agar al-Qur’an benar-benar menjadi fondasi utama pembentukan manusia unggul sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dan

agar benar-benar menjadi bagian dari kehidupan mereka sampai dewasa kelak. Al-Qur’an bagi seorang Muslim bukan seperti pengetahuan biasa yang dapat diajarkan atau tidak, tetapi ia adalah sumber dan induk dari segala pengetahuan yang diturunkan Sang Pencipta alam kepada manusia dengan segala kemuk-jizatan dan perbendaharaan Ilahiyah yang turun bersamanya. Tidak ada satu kitabpun di muka bumi ini yang akan dapat menyamainya, baik dari segi kandungan ataupun susunan kata-katanya yang telah menaklukkan para penyair agung. Dengan masuknya al-Qur’an beserta semangat Ketuhanan yang menyertainya pada para pelajar, maka ia akan membimbing mereka menuju puncak kecemerlangan dan keagungan, baik intelektual mapun spiritual sebagimana telah dibuktikan para generasi Islam terdahulu.98

Musuh-musuh Islam mengerti benar akan perkara ini sehingga mereka telah berusaha dengan segala daya kemam-puan untuk memisahkan al-Qur’an dari generasi Islam. Sehubungan dengan ini, Dr. Abdullah Nashih Ulwan ketika menukilkan rencana menghancurkan Islam dan ummatnya :

Kedua: Menghancurkan dan Menghapus al-Qur’an

Hal ini dilakukan karena ajaran salib beranggapan bahwa al-Qur’an adalah sumber pokok kekuatan orang-orang Islam, sumber mereka untuk kejaya-an,

kekuatan dan kemajuannya yang telah lalu.

1. Gladstone, yang menjabat perdana menteri Inggris selama empat kali (1864-1894) dalam majelis umum (the House of Commons) Ingg-ris, sambil mengangkat al-Qur’an, berkata :

“Selama al-Qur’an ini berada di tangan orang-orang Islam, maka Eropa sama sekali tidak akan dapat menguasai Dunia Timur. Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam”.

2. Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata :”Jika al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Makkah dapat diputuskan hubu-ngannya dari negara-negara Arab,maka sangat memungkinkan bagi kita untuk meli-hat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.”

3. Seorang missionaris lain, Catly, berkata: “Kita harus menggunakan al-Qur’an sebagai senjata yang paling ampuh dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita dapat menghancurkannya. Kita harus menerapkan kepada kaum Muslimin bahwa yang benar dalam al-Qur’an bukanlah baru, dan yang baru bukanlah benar.”

4. Seorang penguasa kolonial Prancis di Alja-zair, dalam peringatan berlalunya seratus tahun kedudukannya, berkata :”Kita harus melenyapkan al-Qur’an yang berbahasa Arab itu dari kehidupan mereka, dan melenyapkan bahasa Arab dari lidah mereka agar kita dapat berkuasa penuh”.99

98 Lebih detil lihat : Hilmy Bakar Almascaty, Generasi Penyelamat Ummah, (Kuala Lumpur: Berita Publ, 1995) khususnya bab 2.

Maka dengan demikian tidak diragukan lagi maha pentingnya penanaman al-Qur’an kepada generasi muda Islam sedini mungkin, sebelum jiwa dan pemikiran mereka dirusak berbagai propaganda sesat yang dilakukan syaithan dengan para pengikut setianya. Ketika anak sudah menyelesaikan pendidikan dasarnya, mereka dapat diibaratkan sebagai bibit-bibit unggul al-Qur’an berjalan di muka bumi yang menghafal al-Qur’an, memahaminya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupnya. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan tingkat dasar ini difokuskan sepenuhnya untuk penghafalan al-Qur’an beserta cabang pengetahuannya dan adapun pengetahuan-pengeta-huan lainnya adalah pengetahuan penunjang dan tambahan. Al-Qur’an harus menjadi pengetahuan yang pertama diajar-kan sehingga menjadi pengetahuan pertama yang akan mem-pengaruhi perkembangan jiwa dan pemikiran anak. Al-Qur’an dengan mukjizat Ilahiyahnya akan menjadi penyaring dan penetral semua pengetahuan yang diterima para pelajar sehingga mereka terhindar dari kesesatan yang akan membawa mereka kepada kerusakan dan kehancuran. Kegagalan pengajaran al-Qur’an pada pendidikan tingkat tinggi sebagaimana dialami kaum Muslimin tidak lain disebabkan oleh pengajarannya yang terlambat kepada para pelajar, yaitu setelah para pelajar mendapat pengetahuan-pengetahuan duniawi yang tidak steril dari pengaruh pemikiran sesat yang akan menghambat masuknya semangat Qur’an. Itulah sebabnya, ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengajarkan al-Qur’an kepada para pengikutnya, sebelumnya mereka disucikan/dibersihkan dari segala bentuk kejahiliyahan terlebih dahulu sebagaimana diterangkan ayat terdahulu. Pemikiran inilah yang melandasi bahwa al-Qur’an harus diajarkan sedini mungkin, yaitu ketika para pelajar masih bersih dari kejahiliyahan.

Itulah sebabnya, pendidikan Islam ideal mesti memiliki kurikulum yang berbeda dengan pendidikan Islam konven-sional sekuler ataupun tradisional Islam yang diterapkan sebagian besar kaum Muslimin saat. Karena sistem pendidi-kan ini pada hakikatnya secara langsung atau tidak dirancang dan didirikan oleh para kolonialis Barat dengan tujuan yang jelas agar kaum Muslimin tetap dalam keterbela-kangan dan kemunduran sehingga tetap menjadi budak-budak setia Barat. Sementara pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia unggul yang akan mem-bebaskan dunia dari segala bentuk kejahiliyahan dan menegakkan keadilan ajaran Islam yang menjadikan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan tindakannya.

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam (Halaman 60-63)

Dokumen terkait