• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

4.3 Metode Penentuan Sampel

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan sekaligus convenience sampling. Purposive sampling yaitu pemilihan sampel secara sengaja dengan pertimbangan bahwa responden adalah pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang kondisi dilapangan. Sedangkan convenience sampling yaitu pengambilan responden yang mudah ditemui dan mempunyai kemampuan sebagai responden. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah dalam memperoleh data dan informasi dalam penelitian. Responden adalah masyarakat yang tinggal di kawasan Kamojang yaitu Desa Ibun Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung dan Desa Sukakarya Kecamatan Samarang Kabupaten Garut yang berada di kawasan Kamojang.

Responden dalam penelitian ini dibagi berdasarkan metode penelitian yang digunakan, terdiri atas lima kelompok yaitu:

1. Responden untuk analisis deskriptif berjumlah 10 orang sebagai key information, terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan pengelola, serta aparat pemerintah daerah terkait yang memahami kondisi kawasan Kamojang.

2. Responden untuk productivity method berjumlah 60 orang, terdiri dari petani, pedagang dan pengusaha yang memanfaatkan sumberdaya alam di sekitar kawasan Kamojang. Seluruh responden akan diwawancarai untuk mengetahui berapa besar produktivitas sumberdaya alam yang mereka manfaatkan.

3. Responden untuk Willingness To Pay (WTP) nilai keberadaan dan nilai warisan berjumlah 120 kepala keluarga (KK) atau orang yang dianggap sebagai kepala keluarga dari suatu unit keluarga, terdiri dari masyarakat umum yang tinggal dan bermukim di kawasan Kamojang yaitu Desa Ibun Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung dan Desa Sukakarya Kecamatan Samarang Kabupaten Garut yang berada di kawasan Kamojang. Seluruh responden akan diwawancarai untuk mengetahui kesediaan membayar masyarakat terhadap nilai “pelestarian” sumberdaya alam yang diwariskan di kawasan Kamojang.

23

4. Responden untuk travel cost method (TCM) nilai ekowisata berjumlah 60 orang, terdiri dari wisatawan lokal maupun asing yang sedang melakukan kunjungan wisata ke permandian air panas Kamojang. Seluruh responden akan diwawancarai untuk mengetahui kesediaan membayar masyarakat terhadap situs wisata yang mereka kunjungi.

Metode bertanya kepada responden yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan ditanya secara langsung berapa besar nilai yang ingin dibayarkan atau kemampuan responden untuk membayar tiket/karcis masuk ke kawasan kawah dan permandian air panas kamojang. Responden juga diminta memilih beberapa pilihan yang ada pada kuesioner tentang situasi jalan menuju tempat wisata, keindahan, fasilitas, dan keamanan di kawasan Kamojang yang paling disukai sampai yang paling tidak disukai, dengan demikian responden diminta memilih WTP yang realistik menurut preferensinya untuk beberapa hal yang ditawarkan dalam bentuk pilihan. Kelebihan metode ini adalah memberikan semacam stimulan untuk membantu responden berpikir lebih leluasa tentang nilai maksimum yang akan diberikan tanpa harus terintimidasi dengan nilai tertentu. 4.4 Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam analisis pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

4.4.1 Productivity Method

Productivity method adalah nilai ekonomi untuk suatu ekosistem seperti produk atau jasa yang berkonstribusi terhadap barang-barang komersial yang ada di pasar (Simanjuntak 2010). Adapun beberapa tahapan yang digunakan dalam perhitungan productivity method diantaranya menghitung kerugian produktifitas (loss in productivity), pengeluaran defenitif (defensive expenditure) dan biaya pengganti (replacement cost) atau biaya restorasi (restoration cost) suatu jasa lingkungan. Productivity method ini digunakan untuk mengetahui kualitas lingkungan secara langsung, apakah mempengaruhi biaya produksi sumberdaya alam yang dipasarkan. Keuntungan dari productivity method yaitu secara umum merupakan metode yang diakukan secara langsung serta persyaratan data yang terbatas dan data yang relevan serta tersedia sehingga metode ini dapat relatif murah untuk diterapkan, dengan persamaan sebagai berikut :

Nilai Produktivitas SDA = (∑ Produksi/ha x P) – (Biaya Input) Keterangan :

Nilai Produktivitas SDA : Nilai produktivitas dari sumberdaya alam ∑ Produksi : Jumlah produksi dari komoditi (hektar)

P : Harga komoditi sekarang (Rp/kg)

Biaya Input : Biaya non-sumberdaya alam

Dengan menggunakan nilai atau satuan moneter sebagai perantara, maka dalam suatu satuan akan didapatkan keseluruhan jumlah dari sumberdaya alam. Secara teori tidak dapat dengan mudah untuk menjumlahkan antara komoditi-komoditi tersebut, misalnya sumberdaya dari pertanian dengan kehutanan (antara satuan volume dengan satuan berat). Perumusan pada productivity method dengan mudah dapat memecahkan permasalahan tersebut.

4.4.2 Water Residual Value

Water residual value merupakan perkiraan nilai ekonomi untuk sumberdaya air. Metode water residual value adalah perhitungan yang paling sederhana dalam menilai sumberdaya air yang tersedia, karena menggunakan pendekatan nilai air (Simanjuntak, 2010). Adapun tahapan dalam penghitungan water residual value yaitu total nilai produksi sumberdaya alam dikurangi dengan biaya input sumberdaya alam dan dibagi dengan jumlah air yang digunakan dalam setiap periode produksi. Secara sederhana rumus umum yang digunakan untuk menghitung water residual value adalah sebagai berikut:

Keterangan:

TVP : Nilai total produksi (Total Value of Pruduction) Pw : Nilai sisa air (Water Residual Value)

Qw : Jumlah air per periode produksi Pi : Harga input

Qi : Jumlah input

Nilai air (water residual value) yang dihitung merupakan nilai air yang terdapat didalam nilai produktivitas suatu sumberdaya alam. Nilai air tersebut merupakan penggunaan air secara langsung dalam suatu produksi sumberdaya alam. Untuk menghitung nilai air yang terkandung didalam suatu sumberdaya alam maka water residual value dapat memecahkan masalah tersebut.

25

4.4.3 Contingent Valuation Method (CVM)

Contingent valuation method (CVM) ialah merupakan suatu pemikiran tentang nilai ekonomi yang hampir semua ekosistem atau jasa lingkungan. Metode CVM kebanyakan digunakan untuk memperkirakan nilai non-guna (non-use value) atau nilai guna pasif (passive (non-use value). Langsung meminta kepada individu atau masyarakat dan menyatakan kesediaan mereka untuk membayar jasa lingkungan yang spesifik berdasarkan skenario hipotetik.

Keuntungan atau kelebihan dari CVM yaitu sangat fleksibel karena dapat digunakan untuk memperkirakan semua nilai ekonomi. Namun yang terbaik adalah dapat memperkirakan nilai untuk barang dan jasa yang mudah diidentifikasi dan dipahami oleh pengguna yang dikonsumsi dalam unit diskrit, bahkan jika tidak ada perilaku yang dapat diamati yang tersedia untuk menyimpulkan nilai-nilai lain yang berarti. CVM adalah metode yang paling banyak diterima untuk mengestimasi nilai ekonomi total (total economic value), termasuk semua jenis nilai non-guna (non-use value) atau nilai guna pasif (passive use value). CVM juga dapat memperkirakan nilai guna (use value), nilai keberadaan (existence value), nilai pilihan (option value), dan nilai warisan (bequest value). CVM telah banyak digunakan, dan juga banyak penelitian yang dilakukan, guna membuat hasil lebih valid dan dapat diandalkan, sehingga untuk menentukan nilai WTP dengan menggunakan CVM dapat dilihat pada persamaan sebagai berikut :

Keterangan :

TWTP : Total WTP

WTPi : WTP individu sampai ke-i ni

N : Jumlah sampel

: Jumlah sampel ke-i yang bersedia membayar sebesar WTP P : Jumlah populasi

i : Responden ke-i yang bersedia membayar jasa sumberdaya alam dan lingkungan

Pada tahap valuasi dengan menggunakan CVM maka memerlukan pendekatan seberapa besar tingkat keberhasilan dalam pengaplikasian CVM. Hasil survei apakah mengandung tingkat penawaran sanggahan yang tinggi, ataukah ada bukti bahwa responden benar-benar mengerti mengenai pasar hipotetik. Seberapa besar tingkat kesalahan responden dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Seberapa baik pasar hipotetik yang digunakan dalam menangkap setiap aspek dalam barang lingkungan. Seberapa baik permasalahan yang terjadi diasosiasikan dengan CVM. Untuk mengevaluasi dengan menggunakan model CVM dapat dilihat tingkat keandalan (reliability) fungsi (WTP) willingness to pay. Uji yang dapat dilakukan dengan uji keandalan yang melihat nilai R2

4.4.4 Travel Cost Method (TCM)

dari metode (OLS)Ordinary Least Square WTP.

Biaya perjalanan digunakan sebagai pengganti harga yang harus dibayar untuk penggunaan suatu sumberdaya lingkungan yang dihitung dari surplus konsumen. Pendekatan ini mengunakan biaya transportasi atau biaya perjalanan terutama untuk menilai lingkungan pada objek - objek wisata. Pendekatan ini menganggap bahwa biaya perjalanan dan waktu yang dikorbankan para wisatawan untuk menuju objek wisata itu dianggap sebagai nilai lingkungan yang dibayar oleh para wisatawan. Dalam suatu perjalanan (Travel) orang harus membayar “biaya finansial”(financial cost) dan “biaya waktu”(time cost). Biaya waktu tergantung pada biaya kesempatan (opportunity cost) masing-masing.

Pendekatan biaya perjalanan diterapkan untuk valuasi SDAL, terutama sekali untuk jasa lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan rekreasi. Disamping itu, pendekatan ini juga dipakai untuk menghitung surplus konsumen dari SDA atau lingkungan yang tidak mempunyai pasar. Pendekatan teknik ini dilakukan melalui pertanyaan yang difokuskan pada peningkatan biaya perjalanan sebagai pasar pengganti. Pendekatan ini menggunakan harga pasar dari barang-barang untuk menghitung nilai jasa yang tidak diperdagangkan melalui mekanisme pasar.

Nilai atau harga transaksi merupakan kesediaan seseorang untuk membayar terhadap suatu komoditi yang diperdagangkan dengan harapan dapat mengkonsumsinya dan mendapat kepuasan darinya. Kegiatan rekreasi alam, budaya, atau sejarah merupakan contoh untuk penerapan pendekatan ini. Biasanya

27

biaya yang dikeluarkan untuk membayar tarif masuk tidak sebanding dengan manfaat atau kepuasan yang diterima oleh pemakai. Sehingga untuk menghitung nilai total dari surplus konsumen dilakukan melalui perhitungan kurva permintaan dari pemanfaatan tempat rekreasi tersebut secara aktual.

Kurva permintaan yang dibentuk menunjukan hubungan antara biaya perjalanan dan jumlah kunjungan diasumsikan mewakili permintaan untuk rekreasi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa biaya perjalanan mewakili harga rekreasi dan jumlah kunjungan mewakili kuantitas rekreasi. Hubungan ini ditunjukan melalui perhitungan oleh program regresi sederhana yang dapat dilakukan oleh alat hitung atau program spreadsheet.

Pendekatan biaya perjalanan dalam prakteknya berhubungan dengan tempat khusus dan mengukur nilai dari tempat tertentu dan bukan rekreasi pada umumnya. Kawasan wisata diidentifikasikan, dan kawasan yang mengililinginya dibagi ke dalam zona konsentrik, semakin jauh jarak akan menunjukan biaya perjalanan yang makin tinggi. Survei terhadap para pengunjung kawasan wisata kemudian dilakukan pada tempat rekreasi untuk menentukan zona asal, tingkat kunjungan, biaya perjalanan, dan berbagai karakteristik sosial ekonomi lainya. Adapun beberapa tahapan TCM yaitu :

- Survei dari individual pengunjung (responden) - Mengumpulkan data

- Membuat fungsi permintaan untuk kunjungan ke tempat wisata menggunakan teknik ekonometrik regresi sederhana, yang dapat ditulis sebagai berikut.

Dimana : Vij

C

= Jumlah kunjungan oleh individu I ke tempat j

ij

T

= Biaya perjalanan yang dikeluarkan individu i untuk mengunjungi lokasi j

ij

Q

= Biaya waktu yang dikeluarkan individu I untuk mengunjungi lokasi j

ij = Presepsi responden terhadap keindahan (Alam) lokasi yang dikunjungi

Sij

M

= karakteristik subtitusi yang mungkin ada di tempat lain (Permandian air panas)

ij

- Untuk menghitung nilai ekonomi wisata potensial, maka dihitung juga WTP wisatawan terhadap Entry Fee di kawasan Kamojang.

= Pendapatan individu i (Pendapatan utama)

Dari persamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahwa jumlah kunjungan ke suatu lokasi wisata dipengaruhi oleh banyak faktor. Model umum yang dipakai untuk menentukan jumlah kunjungan ke suatu lokasi wisata tertentu. Dalam aplikasinya, tidak semua faktor – faktor atau variabel perubahan tersebut sesuai dengan lokasi yang diteliti.

4.4.5 Analisis Regresi Linier Berganda

Menurut Juanda (2009), analisis regresi linier berganda (multiple regression) adalah persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara beberapa peubah bebas (independent variable) dan suatu peubah tak bebas (dependent variable). Analisis regresi linier berganda pada penelitian ini digunakan untuk mengevaluasi penggunaan Travel Cost Method (TCM). Evaluasi penggunaan model TCM dapat dilihat pada tingkat keandalan dari fungsi willingness to pay (WTP). Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP responden yaitu dengan persamaan regresi sederhana, seperti berikut :

Keterangan :

WTP : Nilai WTP responden (Rp/Orang) β0

β

: Intersep

0,…, βn

UL : Usia/lama bermukim responden (Tahun) : Koefisien Regresi

TP : Tingkat Pendidikan Responden PK : Jenis Pekerjaan Responden

PD : Pendapatan Responden (Rp/Bulan) KL : Jumlah Keluarga Responden AD : Asal Daerah Responden

JT : Jarak Tempat Tinggal Responden (Km) FS : Fasilitas yang Tersedia di Ekowisata KA : Keindahan Alam Ekowisata

29

Pl : Pengetahuan Lokasi Kawasan PL : Pengetahuan Kelestarian Kawasan ε : Error

i : Responden ke-i (i = 1,2,3,…n)

Metode yang digunakan untuk menduga parameter regresi adalah metode kuadrat terkecil (MKT) atau dikenal dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Metode tersebut merupakan uji yang dapat dilakukan dengan uji keandalan untuk melihat nilai R2 dari metode OLS (WTP). model OLS adalah metode yang umum dipakai dan mudah dikerjakan, baik secara manual maupun dengan komputer. Adapun prinsip dasar dari OLS yaitu meminimumkan jumlah kuadrat simpangan antara data aktual dengan data dugaannya. Nilai R2

4.4.6 Identifikasi Manfaat dan Fungsi Ekosistem Hutan

untuk penelitian yang berkaitan dengan barang-barang lingkungan masih dapat ditolerir hingga 15 persen Mitchell dan Carson, (1989).

Identifikasi ini bertujuan memperoleh data tentang berbagai macam manfaat dan fungsi ekosistem hutan terutama yang di peroleh masyarakat yang ada disekitar kawasan yaitu:

1. Manfaat Langsung (ML)

Nilai manfaat langsung adalah nilai yang diperoleh dari manfaat secara langsung seperti kayu pertukangan, kayu bakar, hewan buruan dan sayuran (Fauzi, 2002).

ML = MEKHP+MEKB+MEHB+MESA+ MEH+METOA+MEP Dimana :

ML = Manfaat Langsung

MEKB = Manfaat Ekonomi Kayu Hutan Produksi MEKP = Manfaat Ekonomi Kayu Bakar

MEBB = Manfaat Ekonomi Hewan Buruan MES = Manfaat Ekonomi Sayuran Alami MEL = Manfaat Ekonomi Hortikultura

METO = Manfaat Ekonomi Tanaman Obat Alami MEP = Manfaat Ekonomi Panas Bumi

2. Manfaat Tidak Langsung (MTL)

Adapun manfaat yang tidak langsung baik barang maupun jasa karena adanya hutan (Fauzi, 2002) manfaat yang secara tidak langsung diperoleh dari areal kawasan hutan adalah pengaturan tata air, pengendali banjir dan penyerapan karbon.

MTL = MTLE + MTLA + MTLC Dimana :

MTL = Manfaat Tidak Langsung

MTLE = Manfaat Tidak Langsung Ekowisata

MTLA = Manfaat Tidak Langsung Pengaturan Tata Air MTLC = Manfaat Tidak Langsung Penyerapan Karbon 3. Manfaat Pilihan

Manfaat pilihan adalah nilai yang menunjukan kesediaan seseorang atau individu untuk membayar demi kelestarian sumberdaya tersebut, bagi potensi yang ada dimasa depan (Fahrudin, 1996). Pada nilai manfaat pilihan ini bisa didekati dengan CVM “Contingen Value Method (Wellingness to pay/WTP) untuk dampak yang dirasakan oleh masyarakat disekitar kawasan panas bumi Kamojang. WTP digunakan untuk menilai manfaat pelestarian kawasan panas bumi Kamojang dengan tujuan dana tersebut digunakan untuk pengelolaan, seperti kegiatan rehabilitasi, pengamanan dan kebakaran hutan yang sering terjadi apabila datangnya musim kemarau. Adapun persamaan yang digunakan dalam menghitung nilai pelestarian alam dari WTP yaitu :

Nilai Pelestarian =

4.4.7 Kuantifikasi Seluruh Manfaat dan Fungsi Secara Moneter

Setelah dilakukan pengambilan data baik secara primer maupun sekunder maka dilakukan perhitungan tangible dan intangible dari manfaat-manfaat langsung dan tidak langsung dari kawasan tersebut kemudian dikuantifikasi dengan beberapa teknik diantaranya:

1. Nilai pasar, yang digunkan untuk menilai hasil hutan yang langsung diperdagangkan seperti, kayu olahan, kayu bakar, obat-obatan alami, binatang buruan dan pertanian hortikultura serta sayur-sayuran alami.

31

2. Harga tidak langsung yang digunakan untuk menilai manfaat tidak langsung seperti pengaruh banjir dengan pendekatan kerugian akibat banjir, penyedia O2 berdasarkan pendekatan produksi O2 dari hutan alam serta peneyerapan CO2 (Anonim, 1999). Jika belum ada penelitian tentang penyedia O2 dan peneyerapan CO2

3. Untuk sumberdaya alam yang tidak diperdagangkan dipasar, tetapi barang substitusinya ada dipasar maka menggunakan Metode Harga Substitusi, misalnya kayu bakar dengan harga minyak yang dijual dipasaran (Yusran, 2001; Askary, 2004)

maka dilakukan dengan analogi penelitian yang sudah ada perhektar.

4. Untuk proses perhitungan nilai sekarang dari pendapatan (Net Present Value), maka digunakan tabel diskonto (discount table) dengan persamaan sebagai berikut :

NPV =

Dimana :

NPV = Nilai sekarang bersih i = Tingkat diskonto t = Waktu

5. Dan untuk mendapatkan Nilai Manfaat Ekonomi Total dari Kawasan Panas Bumi Kamojang maka dapat digunakan persamaan :

NMET = NML + NMTL + NEK + NEW + NMP Dimama :

NMET = Nilai Manfaat Ekonomi Total NML = Nilai Manfaat Langsung NMTL = Nilai Manfaat Tidak Langsung NEK = Nilai Ekonomi Keberadaan NEW = Nilai Ekonomi Warisan NEP = Nilai Ekonomi Pilihan

4.4.8 Benefit Transfer

Menurut Fauzi (2010), benefit transfer merupakan salah satu solusi untuk menilai perkiraan manfaat dari tempat lain dimana suatu sumberdaya alam tersedia. Manfaat tersebut kemudian ditransfer untuk memperoleh perkiraan kasar mengenai manfaat lingkungan. Secara prinsipil pendekatan ini dilakukan dengan hati-hati karena banyak kelemahan yang terkandung didalamnya. Hal ini

disebabkan karena belum adanya protokol kesepakatan untuk menggunakan metode ini. Berbagai pertimbangan perlu dipikirkan secara matang, sebelum teknik ini dilaksanakan. Pertimbangan ini menyangkut dengan biaya dan manfaat yang mengadopsi teknik benefit transfer tersebut, serta desain dan koleksi data untuk keperluan studi ditempat lain.

Menurut Brown dan Pearce (1994), hutan alam primer mempunyai kemampuan menyimpan karbon sebesar 283 ton per hektar, hutan alam sekunder mempunyai kemampuan menyimpan karbon sebesar 194 ton per hektar dan hutan alam tersier mempunyai kemampuan menyimpan karbon sebesar 100 ton per hektar. Menurut Hamilton et al (2010) dalam Prasetyo (2011) jika ada disuatu kawasan yang memiliki hutan cagar alam yang luas, maka kawasan ini pasti memiliki pohon dengan ukuran besar dan usia yang lama sehingga tingkat penyimpan karbon pun akan banyak, dengan demikian untuk menilai karbon yang ada maka digunakan harga yang telah ditentukan yaitu sebesar US$ 4,6 per ton dengan nilai kurs US$ 1 setara dengan Rp10.000 sehingga US$ 4,6 adalah Rp46.000/ton

Langkah-langkah dalam melakukan teknik perhitungan benefit transfer untuk nilai karbon yaitu :

1. Mengindentifikasi studi yang ada atau nilai-nilai yang dapat digunakan untuk transfer. Dalam hal ini, peneliti akan mencari penelitian yang menggunakan nilai karbon. Untuk keperluan ini, diasumsikan bahwa peneliti telah menemuka dua studi yang diperkirakan nilai untuk dua korbon.

2. Menentukan apakah nilai-nilai yang ada dialihkan. Nilai-nilai yang ada akan dievaluasi berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa faktor yang menentukan komparabilitas adalah sejenis hutan (misalnya hutan di wilayah tropis), kualitas yang sama dari situs (misalnya kualitas air dan fasilitas), dan ketersediaan serupa substitusi (misalnya sejumlah tanaman yang ada didekatnya). Apakah karakteristik populasi yang relevan dan sebanding, misalnya demografi sama antara daerah dimana penelitian dilakukan dan daerah yang dinilai. Jika tidak, apakah data tersedia untuk melakukan penyesuaian atau tidak.

33

3. Mengevaluasi kualitas yang akan ditransfer. Semakin baik kualitas studi awal, nilai yang akan ditransfer akan lebih akurat. Hal ini membutuhkan peneilaian professional peneliti. Misalnya peneliti memutuskan bahwa kedua studi dapat diterima dalam hal kualitas.

4. Menyesuaikan nilai-nilai yang ada agar lebih mencerminkan nilai karbon yang dipertimbangkan, serta menggunakan informasi apapun yang tersedia dan relevan. Penelitian mungkin akan perlu untuk mengumpulkan beberapa data tambahan untuk melakukan ini dengan baik. Misalnya, karbon yang dinilai dalam setiap studi yang ada beberapa dari situs yang menarik. Peneliti perlu menyesuaikan nilai dari studi pertama dengan menerapkan data demografis untuk menyelesaikan perbedaan pada pengguna. Jika studi kedua memiliki fungsi manfaat yang meliputi jumlah situs pengganti, fungsi dapat disesuaikan untuk mencerminkan jumlah yang berbeda dari pengganti yang tersedia dilokasi penelitian.

4.4.9 Matriks dan Asumsi Penelitian

Matriks penelitian bertujuan untuk melihat tujuan, alat dan karakteristik data penelitian secara sistematis.

Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Pengunjung yang memperoleh manfaat total yang sama dari tempat wisata

2. Hanya masyarakat yang ada disekitar kawasan saja dalam penelitian ini yang memanfaatkan hasil hutan sebagai kayu bakar adalah sebanyak 80%

3. Estimasi kemampuan hutan untuk menyimpan karbon diterapkan menurut Brown dan Peace (1994). Untuk penentuan harga karbon menurut (Hamilton et al 2010) dalam Prasetyo (2011) harga karbon yang diperdagangkan yaitu US$ 4,6 /ton dimana US$ 1 = Rp10.000. Untuk menghindari perhitungan yang terlalu tinggi (over estimate) maka digunakan faktor koreksi sebesar 90%.

4. Harga pasar dihitung pada saat penelitian, jika tidak mempunyai nilai pasar maka digunakan nilai barang substitusinya.

5. Tread point penentuan WTP berdasarkan harga karcis masuk untuk wisata sedangkan untuk nilai warisan dan keberadaan ditetapkan berdasarkan harga bibit kayu suren yang ada di Kamojang.

Adapun untuk melihat tujuan, alat analisis dan karakteristik data yang dilakukan pada penelitian, “valuasi ekonomi sumberdaya alam kawasan panas bumi Kamojang Jawa Barat”, maka dapat dilihat pada urain Tabel 3 berikut : Tabel 3. Matriks Penelitian

No Tujuan Penelitian Metode Analisis Sumber Data Responden Jumlah

1

Identifikasi Sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di kawasan panas bumi Kamojang

Deskriptif dan kualitatif Sekunder dan Wawancara Q person 10 2

Menghitung dan menganalisis nilai ekonomi manfaat langsung dan manfaat tidak langsung yang ada di kawasan panas bumi Kamojang. Produktivity Method, Water Residual Value, TCM & Benefit Transfer Wawancara dengen responden Menggunakan Kuesioner 60 3

Menghitung nilai ekonomi keberadaan (Existence Value), dan warisan (Bequest Value), yang ada di kawasan panas bumi Kamojang. CVM (Contingent Value Method) Wawancara dengen responden Menggunakan Kuesioner 170 4

Menghitung nilai ekonomi total sumberdaya alam dan lingkungan yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.

Total Economic Value dan Net Present Value Wawancara dengen responden Menggunakan Kuesioner 240

Keterangan :

PK : Produksi kayu /m HK : Harga kayu (Rp./m

3 3

NEPK : Nilai ekonomi Produksi Kayu (Rp./tahun) )

HKB : Harga kayu bakar (Rp./ikat)

PKB : Pengambilan Kayu Bakar (Ikat/Bulan) ∑RKK : Jumlah Kepala Keluarga /responden NEKB : Nilai ekonomi Kayu Bakar (Rp./tahun) JSB : Jumlah Satwa Buru (Ekor/Bulan) HSB : Harga Satwa Buru (Rp/Ekor)

NESB : Nilai ekonomi Satwa Buru (Rp./tahun)

JSA : Jumlah Sayuran Alami (Ikat, Rumpun dan Kg/Bulan) HSA : Harga Sayuran Alami (Rp/ Ikat, Rumpun dan Kg) NESB : Nilai ekonomi Sayuran Alami (Rp./tahun)

TPH : Total Produksi Hortikultura (Kg/Panen) HSH : Harga Sayuran Hortikultura (Rp/Kg) BPH : Biaya Produksi Hortikultura (Rp/Kg)

NEPH : Nilai ekonomi Produksi Hortikltura (Rp./tahun) TPOA : Total Penggunaan Obat Alami (Kg/Bulan) HOA : Harga Obat Alami (Rp/Kg)

∑RKK : Jumlah Kepala Keluarga /responden NEO : Nilai ekonomi Obat Alami (Rp./tahun) PPB : Potensi Panas Bumi (MW/Jam)

Dokumen terkait