IDENTIFIKASI SUMBERDAYA ALAM KAMOJANG
6.2 Potensi Taman Wisata Alam .1Daya Tarik Obyek.1Daya Tarik Obyek
Cagar alam dan taman wisata alam Kamojang memiliki keindahan alam, udaranya yang sejuk dan nyaman beserta flora dan fauna didalamnya merupakan pemandangan yang indah untuk dinikmati. Ada juga beberapa kawah yaitu Kawah Manuk, Kawah Berecek, Kawah Sorekat, Kawah Kamojang, Kawah Cikahuripan, Kawah Kereta Api, Kawah Pojok, Kawah Hujan, Kawah Cibuliran, Kawah Racun dan lainnya. Diantara kawah-kawah ini, Kawah Kereta Api merupakan Oring Kab II eksplorasi sumber panas bumi sebagai pembangkit tenaga listrik dan merupakan
49
kawah paling menarik bagi pengunjung, juga terdapat sumber air panas yang dimanfaatkan untuk penyembuhan penyakit kulit.
Berdasarkan pelaporan data dari BKSDA Jawa Barat selaku pengelola TWA Kamojang, pada tahun 2011 jumlah kunjungan wisatan ke daerah tersebut sebanyak 29.857 jiwa, yang terbagi dalam wisatawan domestik dan wisatawan luar negeri. Namun kebanyakan wisatawan yang melakukan kunjungan adalah wisatawan domestik (berasal Pulau Jawa sendiri serta berasal diluar dari pulau Jawa yang telah berdomisili di Pulau Jawa) dan adapun beberapa diantaranya adalah wisatawan mancanegara.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan yang dilakukan, taman wisata alam Kamojang memiliki nuansa alam yang unik dengan keberadaan beberapa kawah alami, pemandiaan sauna alami yang dimanfaatkan dari pancaran uap air dari sela-sela bebatuan yang ada serta adanya Kawah Kereta dimana kawah ini menghasilkan bunyi seperti kereta api yang terdengar sampai radius 3 km, adanya bunyi ini disebabkan tekanan uap dari perut bumi yang muncul ke permukaan yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga dengan keunikan ini TWA Kamojang mampu menarik wisatawan yang ingin mengetahui keunikan dari TWA Kamojang itu sendiri.
Namun disisi lain dari TWA Kamojang masih sangat minim dengan fasilitas yang mendukung kegiatan wisatawan seperti tidak adanya listrik, penginapan atau vila serta rumah makan atau restoran yang memadai, sehingga wisatawan yang berkunjung ke tempat ini tidak menginap dan langsung kembali. Kebanyakan wisatawan menjadikan tempat ini sebagai tempat persinggahan ketika wisatawan hendak ke tempat wisata lainya seperti Kampung Sampireun atau pemandian Cipanas Garut Jawa Barat.
6.2.2 Kegiatan Wisata Alam yang dapat dilakukan
Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan ini adalah :
1. Menikmati keindahan dan keunikan kawah yang terbentuk secara alami seperti Kawah Manuk, Kawah Berecek, Kawah Sorekat, Kawah Kamojang, Kawah Cikahuripan, Kawah Kereta Api, Kawah Pojok, Kawah Hujan, Kawah Cibuliran, Kawah Racun dan lainnya
2. Wisata ilmiah berupa pengamatan flora, fauna, kehutan dengan kayu dan hutan yang masih alami dan gejala alam.
3. Mandi sauna alami dan air panas 4. Lintas alam
6.2.3 Sarana, Prasarana dan Aksesibilitas
Sarana dan Prasarana yang terdapat di kawasan ini antara lain : loket karcis, pos penjaga, toilet, lapangan parkir, pemandian sauna alam dan warung. Untuk mencapai kawasan TWA Kamojang dapat di tempuh dengan jalur kendaraan umum antara lain :
1. Melalui Garut dengan rute Bandung - Tarogong - Samarang – Pangkalan - Kawah Kamojang dengan jarak tempuh ± 100 Km.
2. Dari Bandung - Majalaya – Ibun - Kawah Kamojang, sejauh ± 31 Km. 6.3 Potensi Kehutanan
Kawasan panas bumi Kamojang memiliki potensi sumberdar daya alam yang melimpah. Selain kawasan penghasil panas bumi. Kawasan Kamojang secara administratif terdapat di hutan cagar alam pemerintah provinsi Jawa Barat dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 110/Kpts-II/90 tanggal 14 Maret 1990, yang menetapkan TWA Kamojang seluas 8.286 Ha dan Cagar Alam seluas 7.805 Ha, yang terbentang diantara Gunung Mesigi, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray. Kawasan ini juga terdapat hutan produksi hasil kayu yang dikelolah DEPHUT Jawa Barat dengan luasan area 50,35 ha. Untuk potensi kayu dapat diliht pada uraian Tabel 5 sebagai berikut :
Tabel 5 Jenis dan Potensi Sumberdaya alam Kayu Hutan Produksi di Kawasan Panas Bumi Kamojang
Jenis Kayu Potensi (Ha) Produksi
(m3) 0 - 5 th 6 - 10 th > 10 th Eucalyptus 145 50 46 5.636 Suren 85 3 6 2.192 Salamander 31 2 0 760 Jumlah 261 55 52 8.589
51
Hutan cagar alam di kawasan ini sangatlah luas bila dibandingkan dengan hutan produksi yang ada di kawasan Kamojang. Luas hutan cagar alam yang berada di kawasan Kamojang yaitu 7.805 hektar atau kurang lebih 155 kali lebih luas dari kawasan hutan produksi yang ada di kawasan panas bumi Kamojang.
Perum Perhutani unit III Jabar-Banten KPH Garut dan BKSDA SKW V Garut tentang pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsinya berdasarkan Surat Keputusan Menhut No. 195 tahun 2003. Dengan fungsi hutan dan luas areal yang terbagi dalam kawasan hutan produksi dan lindung dan kawasan hutan konservasi yang terdapat di 42 Kecamatan. Untuk luasan hutan produksi 166,10 hektar, hutan produksi terbatas 5.400,42 hektar, hutan lindung 75.944,13 hektar, hutan taman wisata alam 979,85 hektar, cagar alam darat 17.030,15 hektar, cagar alam laut 1.150,00 hektar dan taman buru 2.747,60 hektar, sehingga total luasan secara keseluruhan adalah 103.418,25 hektar.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan yang dilakukan di kawasan panas bumi Kamojang, kondisi hutan cagar alam dan hutan produksi yang ada tidak mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh masyarakat yang melakukan aktifitas disekitar kawasan seperti illegal logging, konversi lahan dan sebagainya. Kawasan kamojang selalu terjaga dengan adanya pengontrolan rutin yang dilakukan oleh Pemerintah setempat melalui dinas BKSDA dan perusahaan terkait yang bekerja sama dengan menempatkan polisi hutan yang setiap saat melakukan pengontrolan sehingga kawasan ini selalu terjaga kelestariaannya.
Adapun kerusakan hutan yang sering terjadi dikawasan Kamojang disebabkan oleh alam bukan karena kesengajaan kerusakan akibat manusia, seperti kebakaran hutan pada saat datangnya musim kemarau. Dengan kejadiaan alam seperti ini maka pihak perusahaan dalam hal ini PT. Pertamina Geothermal Energy mengambil insiatif yaitu melakukan penanaman pohon dengan jumlah ± 10.000 pohon per tahun di kawasan Kamojang. Menurut pihak pengelola jika kawasan Kamojang sampai terjadi kerusakan baik oleh alam maupun ulah manusia dan tidak sesegera mungkin dilakukan langkah pencegahan yaitu dengan penanaman pohon maupun yang lainya untuk mempertahankan kelestarian kawasan Kamojang, maka akan berdampak pada perusahaan itu sendiri yang mana akan terjadi penurunan jumlah persediaan air yang nantinya digunakan
untuk menghasilkan uap, sehingga target yang direncanakan untuk pencapaian produksi listrik yang maksimal tidak akan tercapai. Jenis pohon dan tanaman yang sering ditanam oleh pihak pengelola yang melibatkan masyarakat sekitar adalah jenis pohon dan tanaman endemik (tanaman asli) seperti kihujan, puspa, mara dan lain-lain sebagainya dan ada juga yang non-endemik (bukan tanaman asli) seperti suren, kicareuh dan lain-lain sebagainya.