• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Teori

3. Model Pembelajaran Kuantum

Sekolah masa depan adalah sekolah yang ditandai dengan pola pembelajaran yang menyenangkan, karena terdapat sebuah adigium yang menyatakan, “belajar akan efektif, kalau ada dalam keadaan fun”. Revolusi cara belajar mengubah segalanya, ketika citarasa yang menyenangkan menjadi atmosfir pembelajaran. “Warung Jamu”, adalah sebuah kaidah yang merupakan kepanjangan dari Waktu-Ruang-Jumlah dan Mutu. Makna Warung Jamu adalah dimensi ukur yang harus diperhatikan, ketika seorang Guru melakukan pembelajaran. Uraian kaidah tersebut antara lain : a). Kapan [waktu], kita melakukan pembelajaran; b). Pada rentangan bagaimana atau pada kondisi yang bagaimana [ruang], kita melakukan pembelajaran; c). Kuantitas audience [jumlah]; dan d). Kulitas yang diharapkan [mutu]

Sejalan dengan kaidah tersebut, kita diingatkan pula dengan kaidah “ABCD” –[Audience, Behavior, Condition and Degree]. Kaidah inilah, yang

commit to user

menjadi pengarah para guru untuk memilih strategi pembelajaran yang disingkat EER ( Efektif – Efisien – Rasional ). Saat ini terjadi revolusi pembelajaran, yang melahirkan banyak metode pembelajaran, namun yang perlu kita cermati adalah berubahnya paradigma pembelajaran. Dari paradigma Teachers center atau Guru sebagai pusat pembelajaran, atau semuanya sangat ditentukan dari atas “driver company”, menuju pembelajaran yang memberikan ruang gerak secara utuh dan menyeluruh pada peserta didiknya “driver customer”. Paradigma inilah yang menuntut setiap Guru untuk cermat dalam memilih strategi dan metode pembelajaran. Dr. Georgi Lozanov, yang dikenal sebagai bapak pembelajaran dipercepat [accerated learning], pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen

dengan suggestology ternyata mengilhami Bobi DePorter untuk mengembangkan

strategi pembelajaran, yang mengubah cahaya menjadi energi. Pembelajaran inilah yang disebut dengan “Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)”. Model pembelajaran ini diadopsi dari beberapa teori, antara lain teori sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistic. Buah pikir ini telah sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun oleh de Porter. Dari penelitian yang dilakukan untuk disertasi doktoralnya pada 1991, dengan melibatkan sekitar 6.042 responden, Super Camp berhasil mendongkrak potensi psikis peserta didik, antara lain peningkatan motivasi 80 %, nilai belajar 73 %, dan memperbesar keyakinan diri 81 %. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Kuantum ini dapat memperbaiki kualitas pembelajaran.

commit to user Quantum yaitu : E = mc2 , dengan :

E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar, semangat) m = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik) c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)

(Bobby De Porter & Mike Hernacki, 2005 : 16)

Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami bahwa interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar para peserta didik. Kata Kuantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Pembelajaran Kuantum menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan berenergi/ menyenangkan, dengan cara mengolah unsur yang ada pada peserta didik dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas. Bila strategi ini diterapkan, maka guru akan lebih mencintai pekerjaannya dan lebih berhasil dalam menyampaikan materi pembelajaran serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai strategi pembelajaran. Apalagi dalam Pembelajaran Kuantum, ada istilah ”Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan hantarlah dunia kita ke dunia mereka”. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan metode pembelajaran kuantum tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari peserta didik. Tetapi lebih dari itu, peserta didik juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam pembelajaran dan ketika belajar. Selain itu, ada beberapa prinsip Pembelajaran Kuantum, yaitu : 1). Segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar; 2). Segalanya bertujuan, peserta didik diberi tahu apa

commit to user

tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan; 3). Pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan peserta didik diperoleh banyak konsep; 4). Akui setiap usaha, menghargai usaha peserta didik sekecil apa pun; 5). Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada peserta didik yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus!, baik!, atau pemberian hadiah.

Lebih jauh, dunia pendidikan akan semakin maju ke depannya. Sebab, pembelajaran Kuantum akan membantu peserta didik dalam menumbuhkan minat belajarnya dengan semangat. Apalagi pembelajaran Kuantum juga sangat menekankan pada pentingnya bahasa tubuh, seperti tersenyum, bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan peserta didik dan diselingi humor yang bertujuan agar KBM tidak membosankan. Guru juga perlu memiliki Emotional Intelligence, yaitu kemampuan guru untuk dapat mengelola emosi.

Strategi pembelajaran kuantum diperkuat dengan pendekatan multisensori, multi kecerdasan, dan berdasarkan kerangka rancangan belajar yang dikenal sebagai TANDUR :

Berikut ini adalah tinjauan sekilas mengenai TANDUR dan maknanya :

T : Tumbuhkan minat dengan memuaskan, ”Apakah Manfaatnya Bagiku”

(AMBAK).

A : Ciptakan atau datangkan pengalaman umum ( Alami ) yang dapat dimengerti semua peserta didik.

N : Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi ( Namai ) sebagai sebuah masukan.

commit to user

D : Sediakan kesempatan bagi peserta didik untuk ”menunjukkan bahwa mereka

tahu” ( Demonstrasi pengetahuannya ).

U : Tunjukkan pada peserta didik cara-cara mengulang materi dan menegaskan, ”Aku tahu bahwa aku memang tahu tentang ini”.

R : Rayakan / pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan model pembelajaran kuantum, guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan multisensori sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.

Jika seorang guru belum pernah sama sekali mengenal tentang pembelajaran Kuantum, memang akan merasa kesulitan untuk melaksanakannya dalam ruangan kelas. Hal ini wajar karena tidak semua guru mengenal tentang pembelajaran Kuantum. Oleh karena itu disini akan diuraikan beberapa petunjuk yang dapat dijadikan pedoman untuk menerapkan pembelajaran Kuantum di ruang-ruang kelas. Ada beberapa petunjuk yang dapat dimanfaatkan seorang guru antara lain : 1). Guru wajib menjadi teladan dalam tingkah laku, misalnya jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira ( tersenyum); 2). Guru harus dapat membuat suasana belajar yang menyenangkan, ”learning is most effective when it’s fun.” Kata menyenangkan / gembira disini berarti bangkitkan minat, libatkan secara maksimal peserta didik, terciptanya makna dan pemahaman (penguasaan) atas materi yang dipelajari serta nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik; 3). Ciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan pengubahan formasi

commit to user

tempat duduk, perubahan warna cat, adanya tanaman segar serta poster, slogan atau kata mutiara yang dapat memacu semangat peserta didik; 4). Guru harus dapat mempengaruhi suasana emosi peserta didik dengan memberikan selingan yang dapat melepaskan stres, seperti bernyanyi bersama, outbond, permainan, pelayanan konsultasi masalah emosional, atau makan bersama; 5). Pemutaran musik sebagai relaksasi dalam proses pembelajaran; 6). Pemberian arahan dari guru pada peserta didik tentang manfaat materi pelajaran, dan pemberian waktu untuk merekam data secara menyeluruh; 7). Menerapkan 8 kata kunci keunggulan tiap hari : Integritas, sukses, niat baik, hidup saat ini, komitmen, tanggung jawab, luwes dan fleksibel, seimbang, tuntaskan tugas, demonstrasi / unjuk kerja. Disamping itu, agar pembelajaran Kuantum dapat terlaksana dengan baik di sekolah, perlu adanya dukungan dari sistem yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Sistem tersebut meliputi : 1). Masuk dan pulang tepat waktu; 2). Tidak ada jam tambahan saat istirahat berlangsung; 3). Perangkat mengajar lengkap dan ciptakan suasana belajar yang kondusif dan tenang; 4). Guru bersifat proaktif terhadap ketertiban di lingkungan sekolah; 5). Melibatkan seluruh indera dalam proses kegiatan pembelajaran; 6). Manfaatkan media pembelajaran seefektif mungkin; 7). Belajar tidak harus selalu dalam ruang kelas, dapat di luar kelas; 8). Terapkan gaya belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik; 9). Pemberian reward atau penghargaan pada peserta didik yang telah berhasil mengubah prilaku belajarnya menjadi lebih bermakna.

Guru harus mampu mengarahkan peserta didik ke arah

commit to user

psikomotor dan afektif. Hal ini akan dapat membantu peserta didik untuk membangun kecerdasan otaknya agar mampu bersaing dengan peserta didik yang lain. Oleh sebab itu suasana belajar harus selalu diperhatikan oleh seorang guru. Karena suasana belajar akan mampu mempengaruhi belajar anak. Suasana belajar juga melibatkan mental, fisik, emosi sosial peserta didik secara aktif supaya mampu memberikan peluang besar bagi peserta didik untuk mengamati, dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil

memberikan argumentasi dan sejumlah penalaran. Pada prinsipnya

pembelajaran Kuantum bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang hidup, penuh semangat, suka untuk datang dan menjelajahi dunia belajar.

Dokumen terkait