DAFTAR TABEL
2.4 Model Penelitian
Dalam alur pikir di bawah tergambar pesatnya perkembangan pariwisata Kota Denpasar diikuti dengan meningkatnya sarana akomodasi. Ketersediaan sarana akomodasi di Kota Denpasar setiap tahunnya mengalami peningkatan. Penambahan jumlah sarana akomodasi tidak diikuti dengan peningkatan jumlah tamu yang menginap di Kota Denpasar. Ada empat jenis usaha sarana akomodasi yang telah diatur dengan peraturan di Kota Denpasar, antara lain : usaha hotel
melati, hotel bintang, pondok wisata dan condominium hotel (condotel). Saat ini ada jenis sarana akomodasi yang sedang berkembang di Kota Denpasar, yang dikenal dengan sebutan city hotel. Ciri-ciri city hotel yang paling menarik perhatian adalah lokasinya di pusat kota, bentuk bangunannya modern minimalis dengan fasilitas sekelas hotel bintang. Masalah mulai timbul ketika city hotel menawarkan harga sewa kamar yang tidak jauh berbeda dengan harga sewa kamar hotel melati. Persaingan harga sewa kamar ini dikhawatirkan tidak saja mempengaruhi kelangsungan usaha hotel melati, tetapi juga akan berpengaruh terhadap city hotel itu sendiri. Selain persaingan harga sewa kamar, pembangunan
city hotel yang tidak terkendali dapat mengancam daya dukung alam Kota
Denpasar sebagai sebuah destinasi. Dari poin-poin tersebut di atas ditetapkan tiga rumusan masalah yang akan diteliti yaitu faktor-faktor penyebab berkembangnya city hotel di Kota Denpasar, dampak perkembangan city hotel terhadap usaha hotel melati di Kota Denpasar, persaingan dan strategi bisnis city
hotel serta pengaruhnya terhadap strategi bisnis hotel melati di Kota Denpasar.
Ketiga rumusan masalah tersebut dibatasi oleh konsep city hotel dan hotel melati terhadap topik yang dibahas dengan tiga teori untuk menganalisis masalah tersebut antara lain teori penawaran dan permintaan, teori dampak dan teori kebijakan pariwisata.
Teori penawaran dan permintaan digunakan untuk menjawab rumusan pertama dan ketiga yaitu faktor-faktor penyebab terjadinya perkembangan city
hotel, persaingan dan strategi bisnis antar-city hotel serta pengaruhnya terhadap
Faktor yang digunakan adalah harga sewa kamar, fasilitas dan lokasi hotel yang ditawarkan, tingkat hunian hotel, dan lama tinggal tamu serta pengelolaan hotel. Penelitian dilakukan terhadap pengusaha city hotel, hotel melati dan tamu di kedua hotel tersebut. Dari faktor-faktor tersebut dapat diketahui penyebab berkembangnya city hotel, persaingan dan strategi bisnis antar-city hotel serta pengaruhnya terhadap strategi bisnis hotel melati di Kota Denpasar.
Teori dampak digunakan untuk menjawab rumusan kedua dan ketiga yakni dampak perkembangan city hotel terhadap usaha hotel melati dan persaingan antar-city hotel serta pengaruhnya terhadap hotel melati. Faktor dampak yang diteliti adalah harga sewa kamar, jumlah tamu yang menginap, tingkat hunian kamar, pendapatan hotel, lama tinggal dan jenis tamu yang menginap dan promosi yang dilakukan. Penelitian akan dilakukan dengan mewawancarai pengusaha hotel melati dan city hotel menggunakan kuisioner. Dengan faktor tersebut dapat diketahui dampak positif dan negatif perkembangan city hotel terhadap usaha hotel melati dan city hotel.
Kepada Pemerintah dilakukan wawancara dengan faktor-faktor, data kepariwisataan bidang sarana akomodasi, perencanaan penataan sarana akomodasi dan kebijakan tentang sarana akomodasi. Dari faktor tersebut dapat ditemukan kondisi secara umum dan khusus mengenai penataan sarana akomodasi di Kota Denpasar dan dampaknya terhadap usaha hotel melati dan antar-city hotel.
Wawancara yang dilakukan dengan menggunakan kuisioner ini berisi pedoman wawancara untuk mendapatkan data mendalam dari informan.
Untuk mengetahui data kepariwisataan terkait sarana akomodasi, klasifikasi kelas
city hotel yang berkembang, keterlibatan Asosiasi dalam penataan sarana
akomodasi di Kota Denpasar serta kondisi bisnis hotel di Kota Denpasar wawancara dilakukan kepada Pengurus PHRI dan ASITA.
Teori kebijakan kepariwisataan digunakan untuk menjawab rumusan masalah kedua mengenai dampak perkembangan city hotel terhadap usaha hotel melati dan antar-city hotel di Kota Denpasar. Penelitian dilakukan kepada pengusaha city hotel dan melati dengan faktor harga sewa kamar, tingkat hunian hotel, jumlah tamu menginap, pendapatan hotel, lama tinggal tamu dan jenis tamu. Kepada Pemerintah, Asosiasi Perhotelan dan Biro Perjalanan Wisata dilakukan wawancara dengan faktor antara lain menganalisa kebijakan sarana akomodasi yang sudah ada, serta dampak-dampak yang diakibatkan oleh perkembangan city
hotel terhadap usaha hotel melati, persaingan dan strategi bisnis city hotel serta
pengaruhnya terhadap strategi bisnis hotel melati di Kota Denpasar. Dengan faktor tersebut dapat diketahui apakah rumusan dampak yang terjadi akibat perkembangan city hotel tersebut dapat sebagai pertimbangan ataupun masukan untuk menyusun kebijakan publik dalam pengaturan dan pengendalian pembangunan city hotel di Kota Denpasar .
Gambar 2.1 Model Penelitian Dampak Perkembangan City Hotel di Kota Denpasar Pariwisata Kota Denpasar
Faktor-faktor penyebab berkembanganya city
hotel di Kota Denpasar
Dampak perkembangan
city hotel terhadap usaha
hotel melati di Kota Denpasar Konsep 1. City Hotel 2. Hotel Melati Teori 1. Teori Penawaran dan Permintaan 2. Teori Dampak Pariwisata 3. Teori Kebijakan Kepariwisataan Simpulan/ Saran
Persaingan dan strategi bisnis antar-city hotel serta pengaruhnya terhadap strategi bisnis hotel melati di Kota Denpasar
41
Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan. Sugiyono (2010, 8) menjelaskan ada dua jenis metode penelitian yaitu metode kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Yang dimaksud dengan metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan pengertian metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi yang alamiah, instrumennya adalah peneliti itu sendiri dengan teknik pengumpulan data bersifat triangulasi dan analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta yang ditemukan dilapangan.