KOTA DENPASAR
4.3 Perkembangan Perekonomian Kota Denpasar
Kemajuan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari beberapa indikator seperti laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ataupun laju inflasi harga di suatu daerah. Pengertian Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Besar kecilnya Produk Domestik Regional Bruto suatu daerah sangat tergantung pada potensi sumber ekonomi yang dimiliki daerah tersebut.
Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar setiap tahunnya mengalami peningkatan. Tahun 2013 laju pertumbuhan PDRB Kota Denpasar mencapai 6,54 persen dibandingkan tahun 2011 mencapai 6,77 persen dan 6,18 persen pada tahun 2012. Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar menduduki peringkat dua di Provinsi Bali setelah Kabupaten Badung. Kontribusi terbesar dari PDRB Kota Denpasar bersumber dari sektor tersier yaitu bidang perdagangan, hotel dan restoran sebesar 74,86 persen (Statistik Daerah Kota Denpasar 2014).
Pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar juga bersumber dari sektor tersier, yaitu pariwisata. Peningkatan kunjungan wisatawan merupakan faktor penting yang perlu terus diupayakan. Berbagai program disusun oleh Pemerintah Kota Denpasar guna meningkatkan kualitas Kota Denpasar sebagai suatu daerah tujuan wisata.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak saja dinilai dari PDRB yang diperoleh, namun kestabilan inflasi merupakan hal penting. Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial, ekonomi, masyarakat.2
Tingkat inflasi di Kota Denpasar pada tahun 2013 mencapai 5 persen sampai 7 persen, capaian ini lebih tinggi dari tingkat ideal sekitar 4,5 persen dengan deviasi + 1 persen berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.011/ 2012 tentang Sasaran Inflasi tahun 2013, 2014, dan 2015 tanggal 30 April 2012. Komoditas makanan dan pangan menjadi penyebab tingginya tingkat inflasi di Kota Denpasar.
Bila diukur dari capaian kualitas hidup manusia yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM), capaian Indeks Pembangunan Manusia di Kota Denpasar terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2013 Indeks Pembangunan Manusia Kota Denpasar mencapai 79.41 merupakan capaian tertinggi di Provinsi Bali.
Indeks Pembangunan Manusia diukur berdasarkan indeks gabungan terdiri dari indeks kesehatan (Angka Harapan Hidup), indeks pendidikan (Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah) dan indeks ekonomi (Tingkat Daya Beli Penduduk). Meskipun tingkat Indeks Pembangunan Manusia terus meningkat namun di Kota Denpasar masih dapat ditemukan keluarga miskin. Hal ini merupakan dampak dari kenaikan tingkat inflasi yang tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan masyarakat dari golongan pendapatan rendah.
____________________________________
2
Pertumbuhan ekonomi di Kota Denpasar menunjukkan ke arah positif, dalam artian capaian PDRB dan IPM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kestabilan inflasi harus terus ditekan agar mencapai standar ideal, sehingga standar hidup masyarakat tidak semakin menurun dan tidak menambah jumlah kemiskinan di Kota Denpasar.
Posisi Kota Denpasar yang berada di tengah-tengah Pulau Bali memberikan manfaat besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Selain itu, Kota Denpasar juga merupakan daerah pemasaran produk barang dan jasa karena banyaknya jumlah penduduk dan kunjungan wisatawan. Untuk menunjang pendistribusian barang, telah tersedia fasilitas berupa pelabuhan Benoa yang berlokasi di Denpasar Selatan.
Selain itu, perdagangan dan jasa juga didukung dengan adanya 842 bank, baik bank pemerintah ataupun swasta serta lembaga keuangan yang ada di Kota Denpasar. Perkembangan ekonomi di Kota Denpasar juga ditunjang oleh kegiatan ekspor. Pada tahun 2013 nilai ekspor mencapai $ 76 juta yang didominasi oleh ekspor hasil kerajinan sebesar $ 71 juta (Selayang Pandang Kota Denpasar 2014). Kondisi ini selaras dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif yang mendorong masyarakatnya berinovasi dalam berkarya dengan mengedepankan kearifan lokal yang diwujudkan dalam karya-karya seninya. Perekonomi di Kota Denpasar menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.
Pemerintah Kota Denpasar juga berupaya untuk menciptakan iklim dunia usaha yang sehat demi mendorong perekonomian masyarakatnya. Pembangunan ekonomi tidak saja dilihat dari tingginya transaksi perdagangan dan jasa juga
dilihat dari adanya infrastruktur ataupun meningkatnya dana yang terhimpun oleh bank, namun yang lebih penting lagi adalah meningkatnya pendapatan masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat dapat terjadi bila adanya peluang usaha dan lapangan kerja bagi penduduk Kota Denpasar yang semakin hari semakin bertambah. Salah satu peluang usaha dan lapangan kerja adalah adanya penanaman modal asing ataupun dalam negeri yang dilakukan di Kota Denpasar. Lokasi yang strategis dengan infrastruktur yang memadai dapat menarik minat para penanam modal untuk berinvestasi di Kota Denpasar. Dengan adanya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Pemerintah Kota Denpasar sangat berpeluang untuk memberikan pelayanan kepada Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Meskipun izin PMA dan PMDN dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal RI di Jakarta, namun penanam modal harus menindaklanjuti dengan perizinan-perizinan yang ada di daerah.
Pada tahun 2013 tercatat realisasi PMA di Kota Denpasar sebesar US$ 10 juta, sedangkan realisasi PMDN sebesar Rp. 2,9 triliun. Realisasi PMA dan PMDN didominasi oleh sektor tersier yaitu bidang perdagangan, hotel dan restoran. Besaran penanaman modal di Kota Denpasar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, oleh karena itu Pemerintah Kota Denpasar berkewajiban menjaga iklim investasi yang kondusif agar para penanam modal merasa aman dalam menanamkan modalnya. Iklim investasi yang kondusif dengan menjaga keamanan, memberikan pelayanan perizinan yang cepat dan tepat dan menyediakan informasi lengkap mengenai potensi investasi yang ditawarkan.
Meskipun investasi memberikan peluang usaha dan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan asli daerah, namun pemerintah juga tetap memperhatikan daya dukung Kota Denpasar. Sebagai contoh, investasi di bidang perhotelan saat ini sudah menjamur sehingga perlu ditata agar sesuai dengan kunjungan wisatawan dan sebaran pembangunan hotel di seluruh wilayah tanpa mengabaikan area peruntukan.