HUTAN TANAMAN CENDANA DI OMTEL DAN AMAKLAT KABUPATEN ALOR NUSA TENGGARA TIMUR
B. Model Pengelolaan Hutan Tanaman Cendana 1. Omtel
Pengelolaan hutan tanaman cendana Omtel banyak melibatkan KTH dalam merawat dan memelihara tanaman cendana. KTH yang bernama Uhe Doy ini pada satu sisi diperbolehkan untuk melakukan kegiatan budidaya tanaman pangan maupun pemungutan biji cendana. Jarak tanam 3 x 5 m menyebabkan penutupan tajuk cendana relatif tidak terlalu rapat. Pada sisi lain KTH diberi tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga tanaman cendana sampai berhasil tanpa adanya intensif dari pemerintah. Pola pendekatan yang dilakukan oleh dinas kehutanan Kabupaten Alor ini dianggap mampu mendukung keberhasilan kegiatan pembuatan hutan tanaman cendana.
Anggota KTH yang berjumlah 50 orang ini rutin melakukan penanaman berbagai jenis tanaman pangan, beberapa diantaranya : mentimun (Cucumis sativus), ubi jalar (Ipomea batatas), ubi kayu (Manihot utilisima), kacang tanah (Arachis hypogaea), kacang panjang (Vigna sinensis) dan kacang hijau (Phaseolus radiatus). Sampai dengan saat ini masyarakat masih melakukan aktivitas tersebut pada sela-sela tanaman cendana.
Dengan melibatkan masyarakat seperti ini, tingkat pencurian dan perusakan cendana di dalam kawasan dapat ditekan sampai pada tingkat nol persen. Hal ini sangat mendukung upaya pemerintah kabupaten dalam rangka mengembalikan potensi jenis andalan ini. Penyerahan tanggung jawab pengelolaan kepada KTH ini sekaligus dapat mencapai 2 keuntungan yaitu: 1). masyarakat sebagai pengelola dapat memenuhi kebutuhannya melalui penanaman tanaman pangan, 2). keamanan cendana dapat dijamin anggota KTH.
76
Sejalan dengan pertambahan waktu, sebagian dari kawasan hutan tanaman cendana Omtel telah ditunjuk oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Bali dan Nusa Tenggara sebagai sumber benih cendana dengan nomor sumber benih 53.07.001, seluas 5,4 Ha dengan status sebagai kelas benih teridentifikasi.
2. Amaklat
Hal yang berbeda terjadi pada hutan tanaman cendana Amaklat, keberadaan KTH hanya berlangsung hingga tahun ke 3 setelah penanaman. Terdapat 2 (dua) KTH yang terlibat dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaan hutan tanaman cendana Amaklat yaitu KTH Melati I dan KTH Melati II. Jarak tanam yang tidak terlalu lebar (3 x 3 meter) menyebabkan terbatasnya ruang untuk kegiatan budidaya tanaman pangan, sehingga memasuki tahun ke 4 setelah penanaman, aktifitas penanaman tanaman pangan dihentikan. Dalam perkembangannya hutan tanaman ini tidak murni lagi karena di dalam kawasan tersebut banyak sekali tumbuh/ditanam spesies-spesies tanaman lain seperti: mangga, pinang, jati dan cengkeh.
Kawasan di Amaklat ini relatif tidak aman karena tidak adanya pengamanan baik dari masyarakat, anggota KTH maupun dinas kehutanan setempat. Lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk menyebabkan keberadaan hutan tanaman cendana ini rawan terjadi gangguan, terutama dalam beberapa tahun terakhir setelah cendana memiliki gubal/isi. Gangguan pada kawasan Amaklat ini setidaknya disebabkan oleh 2 faktor yaitu : 1). Pengamanan dari Dinas Kehutanan kabupaten Alor yang masih rendah, kegiatan pengamanan hanya dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat bahwa terdapat indikasi pencurian, 2). Tidak adanya aktifitas KTH di dalam kawasan seperti halnya di kawasan Omtel.
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan cendana pada 2 (dua) lokasi terlihat adanya perbedaan rata-rata tinggi dan diameter pohon. Meskipun kedua lokasi ditanam pada tahun yang sama, akan tetapi pada lokasi Omtel terlihat mempunyai rata-rata tinggi dan diameter lebih baik bila dibandingkan dengan di Amaklat. Pengaruh pemeliharaan dan kandungan bahan organik tanah yang berbeda berdampak pada adanya perbedaan respon pertumbuhan pada dua lokasi.
Pada tanah dengan kandungan hara yang terbatas sangat diperlukan pemberian pupuk untuk mendukung pertumbuhan tanaman termasuk cendana. Namun demikian kebutuhan masing-masing tanah dapat berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. Menurut Soemarno (2011) bahwa aplikasi pupuk ke tanah dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah, sehingga diharapkan akar tanaman dapat
77
menyerap lebih banyak hara dari dalam tanah. Bahan pupuk yang diaplikasikan ke tanah akan mengalami serangkaian reaksi fisik, kimia dan biologi, sehingga unsur hara yang dikandungnya secara bertahap akan dilepaskan ke tanah dalam bentuk yang tersedia bagi akar tanaman atau dapat diserap oleh akar tanaman.
Pemupukan pada tanaman cendana di lapangan dapat dilakukan untuk merangsang pertumbuhan cendana, terutama pada tanah-tanah yang miskin hara. Jenis pupuk yang umumnya digunakan adalah pupuk majemuk yaitu pupuk NPK. Menurut Surata, I. K (2006) bahwa pemupukan terhadap cendana dapat dilakukan 1 kali setahun terutama pada musim hujan dengan dosis pupuk NPK 60 gr/pohon pada umur 2 bulan dan 120 gr/pohon pada umur 1-3 tahun setelah tanam. Pemupukan dilakukan dengan membuat larikan dengan kedalaman 10 cm dan radius 20 cm di sekitar pohon, bekas larikan pupuk selanjutnya ditimbun dengan tanah. Selain melalui pemupukan, pemilihan jenis tanaman pangan (pola agroforestry) yang tepat juga dapat mendorong pertumbuhan cendana yang lebih baik. Menurut Juliao (2011), bahwa agroforestry cendana, turi (Sesbania grandiflora), jagung (Zea mays), kacang gude (Cajanus cajan, Mill). dan labu (Cucurbita, sp) (AF 1) menunjukkan pertumbuhan tinggi dan diameter cendana yang lebih baik dibandingkan agroforestry cendana, jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), gaharu (Aquilaria sp), jagung, kacang gude dan labu (AF 2) serta agroforestry cendana, jati, jagung dan singkong (Manihot utilissima) (AF 3).
IV. KESIMPULAN
Cendana dapat hidup pada kisaran tempat tumbuh yang cukup luas, dari tanah berpasir, tanah merah liat, bahkan pada tanah berbatu jenis ini dapat tumbuh dengan baik. Tanah dengan tingkat kesediaan unsur yang cukup, kondisi pH mendekati netral serta kadungan bahan organik yang baik seperti tanah pada hutan tanaman cendana Omtel akan direspon oleh cendana dengan pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan tanah yang miskin hara seperti di Amaklat.
Selain faktor tapak atau tempat tumbuh, keberhasilan pembangunan hutan tanaman cendana juga dapat dipengaruhi pola tanam yang digunakan, pelibatan masyarakat atau kelompok tani hutan sangat berperan dalam mendukung keberhasilan kegiatan. Pemilihan jarak tanam 3 x 5 m seperti pada hutan tanaman cendana Omtel memberi ruang bagi KTH untuk melakukan penanaman tanaman pangan pada sela-sela cendana, sehingga pada satu sisi menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan pada
78
sisi lain mereka turut menjaga keberadaan cendana dari berbagai gangguan. Pelibatan KTH ini berimplikasi pada tingkat keberhasilan kegiatan pembangunan hutan tanaman cendana lebih tinggi seperti pada hutan tanama cendana Omtel, sedangkan pada hutan tanaman cendana Amaklat potensi gangguan terus meningkat seiring dengan penambahan umur cendana.
Pelibatan stakeholders dalam kegiatan pembangunan hutan nanaman cendana perlu mendapat perhatian ditengah upaya pemulihan cendana yang terus digalakkan oleh pemerintah NTT dalam beberapa tahun terakhir ini. Keterlibatan semua pihak diharapkan dapat menjadi sebuah modal, sehingga koordinasi antara pihak dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Salah satu pihak yang juga sangat menentukan keberhasilan kegiatan penanaman cendana adalah masyarakat lokal atau kelompok tani hutan, karena pada akhirnya merekalah yang akan menjadi garda terdepan dalam pemeliharaan dan penjagaan tanaman di lapangan. Dengan demikian dalam pembangunan hutan tanaman cendana atau upaya pemulihan populasi cendana kedepan, selain faktor site atau tempat tumbuh, pelibatan stakeholders perlu mendapat perhatian yang serius sehingga kegiatan yang dilakukan menjadi tanggung jawab bersama dan keberhasilan penanaman menjadi lebih baik.
Pada lahan yang kurang subur, pemberian pupuk NPK dengan dosis 60 gr/tanaman pada umur 2 bulan dan 120 gr/tanaman pada umur 1-3 tahun setelah tanam akan sangat membantu mencukupi kebutuhan unsur-unsur pertumbuhan yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Pemerintah Kabupaten Alor. 2005. Pokok-pokok Kebijakan dan Strategi Pembangunan Daerah dalam rangka percepatan dan pemantapan pelaksanaan pembangunan daerah tertinggal Kabupaten Alor tahun 2005-2009 (Materi Expose Bupati Alor pada Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Departemen/Lembaga terkait lainnya di Jakarta pada tanggal, 31 Mei 2005). Pemerintah Kabupaten Alor, Bappeda 2005.
BPS Kab. Alor. 2009. Kabupaten Alor dalam Angka tahun 2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor.
Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi. 1979. Petunjuk Teknis Pembuatan Tanaman Cendana. Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi. Jakarta
Hamzah, Z. 1976. Sifat Silvika dan Silvikultur Cendana (Santalum album L) di Pulau Timor. Laporan No.227. Lembaga Penelitian Hutan, Bogor.
Hardjowigeno, S. 1990. Ilmu Tanah. Edisi revisi. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta
79
Harisetijono. 2002. Analisis Kebijakan Pengelolaan Cendana Di NTT. Prosiding ekspose/diskusi hasil-hasil penelitian BPPKBNT. 23 November 2002 Kupang. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.
Hidayat, E. W dan Sudaryanto, A. 2006. Prospek Pembangunan Sumberdaya Alam Kabupaten Alor.
Juliao, D. A. 2011. Pertumbuhan Tanaman Pokok Cendana pada Sistem Agroforestry di Desa Samirin, Kecamatan Balibo Kabupaten Bobonaro – Timor Leste. Skripsi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Neil, P.E. 1990. Growing Sandalwood in Nepal – Potential Silvicultur Methods and Research Priorities. USDA Forest Service Gen. Tech. Rep. PSW-122. 72-75. Schmidt. F G and J.H.A. Ferguson. 1951. Rainfall Types Based on Dry and Wet Period
Ratios for Indonesia with Western New Guinea. Verhandelingen No. 42. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Indonesia.
Sinaga, M dan Surata, I. K, 1997. Pedoman Budidaya Cendana. Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Aisuli Volume I, No. 3. Kupang.
Surata, I K. 1997. Laporan Perkembangan Penelitian Cendana. Laporan Teknis Intern. Balai Penelitian Kehutanan Kupang. (Tidak dipublikasikan).
Surata, I. K. 2004. Teknik Budidaya Cendana. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Aisuli, Nomor :18. Kupang
Surata, I. K. 2006. Teknik Budidaya Cendana. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Aisuli, Nomor :21. Kupang
Sumarno, 2011. Dasar-Dasar Rekomendasi Pupuk. Bahan kajian MK Pupuk dann Pemupukan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Troup, R.S. 1921. The Silviculture of Indian Trees. Vol. III. Clarendon Press, Oxford.
81
ANALISIS SPASIAL DEFORESTASI: