• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neonatus dan Bayi Perawatan untuk Neonatus

POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DESA TANJUNG PASIR

3.1. Kesehatan Ibu Dan Anak

3.1.7. Neonatus dan Bayi Perawatan untuk Neonatus

Perawatan untuk bayi cukup berbeda dengan si ibu, jika ibu biasanya hanya dibantu mandi setelah melahirkan saja, si bayi akan dimandikan selama masa tali pusatnya belum putus. Mandi 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Mandi untuk

neonatus dengan kelahiran tepat bulan akan dimandikan dengan bidan kampung dengan air hangat, sedangkan jika neonatus lahir

sebelum bulannya bidan kampung tidak mau memandikannya, biasanya hanya di lap saja dengan kain dengan menggunakan air hangat. Untuk peralatan mandinya pun masyarakat sudah cukup mampu membeli sabun dan shampoo khusus bayi.

Setelah mandi baru biasanya tali pusat diberikan ramuan campuran yang digunakan selama belum putus. Ramuan yang digunakan adalah campuran bedak dingin ataupun bedak bayi yang dicampurkan dengan garam dan dicampurkan dengan air sehingga menjadi suatu adonan (seperti adonan kue). Nantinya campuran bahan tersebut akan ditaruh di atas kain kecil yang dipotong bagian tengahnya sebagai lubang untuk memasukkan si tali pusat. Di atas kain itulah nanti adonan ramuan tadi ditaruh dan dipakai untuk membungkus si tali pusat.

Ramuan tersebut akan diganti setiap mandi. Untuk sisa-sisa yang menempel di tali pusat akan dilap secara perlahan-lahan oleh bidan ketika bayi itu dimandikan. Dalam perawatan tali pusat ini ternyata hampir semua bidan kampung menggunakan metode yang sama. Berdasarkan hasil wawancara dengan bidan kampung dari Etnik Laut, tidak ada bedanya

dengan bidan kampung yang berasal dari Etnik Banjar ataupun Melayu.

Para bidan kampung yang ada di desa ini menyatakan bahwa sebenarnya mereka pernah ditegur untuk tidak menggunakan ramuan itu lagi oleh si bidan desa, bahkan terkadang mereka juga diberikan obat antiseptik dan kassa sebagai pengganti ramuannya tersebut. Namun berdasarkan pengamatan peneliti, sekalipun ada obat tersebut para bidan

kampung tetap menggunakan ramuan mereka sendiri. Alasan

para bidan kampung adalah obat antiseptik dan kassa tersebut tidak selalu mereka punya, sementara bidan tidak rutin memberikannya. Selain itu menurut mereka campuran yang mereka buat lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan jika menggunakan betadine. Jika betadine bisa sampai 7 hari sampai tali pusat lepas, maka dengan menggunakan campuran mereka hanya membutuhkan waktu 3 hari. Selain alasan tali pusat akan lepas lebih cepat, menurut mereka campuran yang mereka buat tidak menimbulkan bau busuk seperti bau yang ditimbulkan oleh obat antiseptik.

Setelah tali pusat lepas, perawatan secara tradisional tetap dilaksanakan untuk merawat pusat tersebut. Biasanya mereka menggunakan buah manjakani. Sebelumnya buah ini akan direndam di air panas dahulu sebentar, lalu akan digesekkan ke batu atau parang. Dari gesekan tersebut nantinya akan ada cairan kental seperti odol yang nantinya akan dibalurkan di pusat si bayi tersebut.

Untuk pengganti buah manjakani tersebut bisa juga menggunakan celak mekah berupa serbuk yang lalu diberi air sedikit baru ditaruh di pusat bayi tersebut.

Gambar 3.4.

Buah Manjakani untuk Pusat Bayi Sumber: Dokumentasi Peneliti

Menyusui dan ASI

Hampir dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat di desa ini tidak ada yang melakukan ASI eksklusif. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan banyak ibu yang belum paham betul mengenai pentingnya ASI, bukan hanya terjadi pada ibu dengan anak pertama, tapi juga ibu yang sudah memiliki anak sebelumnya.

Masyarakat percaya bahwa madu merupakan yang terbaik yang diberikan kepada bayi yang baru lahir. Madu dipercaya dapat mengeluarkan semua lendir yang berasal dari ketuban ibu yang mungkin tersedot oleh si bayi, selain itu juga dianggap dapat mencegah adanya sariawan. Oleh karena itu setelah melahirkan, pada hari itu juga, bayi terus diberikan madu adengan harapan lendir yang tertelan akibat menelan ketuban ibu akan segera dimuntahkan. Menurut informan setiap anak

menangis maka akan diberikan madu, sesudah itu baru diberikan susu ASI ataupun susu botol. Madu pun diberikan dengan menggunakan cincin yang tidak bermata dan diikatkan dengan benang, sehingga ketika memberikan madu tersebut cukup dengan melilitkannya ke tangan sehingga cincin yang dioleskan madu sudah tergantung dan didekatkan ke mulut bayi dan bisa diisap olehnya.

Lama pemberian madu pun cukup berbeda antar satu keluarga dengan keluarga lainnya, ada yang memberikan hanya pada saat segera setelah melahirkan, ada juga yang memberikannya selama 2 hari pertama dengan diselingi susu formula.

Gambar 3.5.

Madu diberikan untuk Bayi yang Baru Lahir Sumber: Dokumentasi Peneliti

Untuk kolostrum atau masyarakat menyebutnya air kotor tidak sedikit ibu yang membuangnya dan tidak diberikan kepada anak. Menurut mereka karena kotor tersebut menunjukkan

kualitas susu tersebut jelek sehingga lebih baik tidak diminumkan daripada bayi meminum air yang kotor tersebut.

Biasanya memang ibu setelah melahirkan mengalami kesulitan mengeluarkan ASI, sehingga biasanya ibu dibantu oleh si bidan kampung untuk membantu mengeluarkannya dengan cara mengurut-urut payudaranya. Namun jika tetap tidak mau keluar, bidan kampung akan mengarahkan untuk minum susu formula. Sehingga dari pengamatan selama penelitian berlangsung bayi yang baru lahir kurang dari 24 jam sudah mendapatkan bantuan susu formula.

Setelah itu meskipun air susu badan sudah keluar, ibu tetap saja lebih banyak memberikan susu formulanya daripada susu badan, hal ini karena mereka beranggapan memberikan susu badan membutuhkan waktu yang lama hingga anaknya kenyang, padahal ibu memiliki pekerjaan lain selain menyusui tersebut, seperti membersihkan rumah, memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya yang juga menyita waktu, sehingga susu formula tersebut menjadi solusi mudah untuk menjawab kebutuhan ibu yang sibuk tersebut.

Sayangnya bidan kampung yang menjadi tempat utama ibu berkonsultasi dari mulai persalinan malah mendorong ibu untuk juga mengkonsumsi susu formula sebelum usia 6 bulan karena alasan lebih mudah dan lebih sehat untuk bayi dan tidak menyusahkan ibu.

“Itu coba kita liat kotorannya si budak, kalau kuning itu jelek kan, nah itu karena ibunya. Yang namanya budak kalau minum susu makanya tergantung mamaknya makan apa. Kalau mamaknya tidak jaga makanan, maka anaknya itulah bisa jelek eeknya. Coba kalau minum susu s** (susu formula) tidak mungkin jelek, karena mamaknya bisa makan apa saja, anaknya tidak kena jelek mamaknya.”

Suami dari si ibu menyusui pun ternyata memberikan pengaruh terhadap pemilihan susu tersebut, karena banyak dari mereka yang juga tidak paham terhadap fungsi ASI akan mendorong ibu untuk memberikan susu formula. Ada informan yang bahkan mengatakan ia disuruh suaminya untuk memberikan susu formula karena takut jika fokus memberikan susu badan kepada anaknya maka ia tidak bisa mengurus badannya.

Selain itu ada yang lagi memberikan susu formula karena adanya iklan-iklan di media yang cukup sering dan menggambarkan fungsi dari susu formula tersebut. Berikut kutipan cerita dari informan kader Posyandu kak Iy:

“Di sini kaka liatnya itu susu formula tuh malah jadi kebanggaan itu kalau anaknya dikasih itu. Padahal dibilang mahal ya mahal karena kan sekotak bisa Rp. 12.000,- bisa untuk 2-3 hari aja. Tapi ya itu mungkin malah karena bayar jadi bangga. Itu pula di tivi-tivi kan katanya susu bisa bikin anak sehat, ada pula katanya anak bisa lebih cepat pintar. Mereka tuh mau anaknya seperti itu.”

Selain susu formula, peneliti juga sempat menemukan bahwa ada ibu yang telah memberikan biskuit atau roti kering dengan alasan anaknya tidak kenyang meminum susu dan sering menangis kelaparan sehingga diberikanlah biskuit tersebut. Ada pula yang memberikan susu kental manis yang sebenarnya tidak boleh dikonsumsi oleh bayi.

Selain itu bisa dibilang bahwa bidan desa masih kurang dalam memberikan pengetahuan akan ASI tersebut kepada masyarakat. Bahkan dalam pengamatan ketika ada yang ibu bersalin, bidan tidak memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) kepada si ibu, ia malah justru menyarakankan si ibu untuk membeli susu formula jika air susu ibu belum keluar.

Tidur di Atas Nampan dan Kain Lapis

Salah satu tradisi pada saat bayi baru dilahirkan adalah dengan menaruh bayi baru lahir tersebut di atas nampan yang sebelumnya ditaruh kain sebagai alas tempat tidur mereka. Kain yang menjadi alas pun bukan hanya satu namun biasanya bisa 3 atau bahkan ada yang sampai 7 kain, hal ini tergantung keinginan dari masing-masing keluarga si bayi. Di antara kain dan nampan biasanya ditaruh uang-uang yang didapatkan dari orang-orang yang mengunjungi bayi tersebut. Kain tersebut nantinya akan dilepaskan satu per satu setiap harinya, sebelum akhirnya bayi tersebut dapat ditaruh di atas dipan atau kasurnya.

Gambar 3.6.

Bayi di Atas Nampan dan Kain Berlapis Sumber: Dokumentasi Peneliti

Alasan kenapa tradisi itu harus dilakukan dijawab oleh para ibu karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat disini, jika tidak dilaksanakan memang tidak mengakibatkan apapun namun mereka merasakan tidak enak karena tidak mengikuti kebiasaan yang ada di desa ini.

Pokong Bayi

Salah satu khas pada masyarakat Desa Tanjung Pasir terhadap bayi adalah pokong dalam buai. Pokong adalah posisi bayi yang didudukkan di dalam buainya. Jika biasanya anak hanya dibaringkan begitu saja di dalam buai (ayunan), maka pokong ini bayi diposisikan seperti sedang duduk.

Untuk melakukan pokong pada bayi maka dibutuhkan kain panjang selain kain alas ayunan yang sudah ada dan biasa menjadi alas tidur bayi. Kain tersebut berguna untuk mengikat bayi. Kain tersebut diikat di bagian tepat di bawah kepala bayi untuk menopang badannya. Ikatan tidak boleh terlalu keras, patokannya adalah kepala bayi tersebut masih bisa bergerak ke kanan dan ke kiri.

Menurut masyarakat jika bayi dipokong maka biasanya tidurnya akan lebih nyenyak di dalam buai, jika dibandingkan jika hanya ditaruh dalam posisi biasa. Hal ini membuat bayi merasa tidur sambil dipeluk.

Biasanya bayi mulai dapat dipokong ketika menginjak usia 1 bulan dan berakhir pada usia 1 tahun. Gambar di bawah ini menunjukkan gambar bayi berusia 3 bulan yang sedang tidur di

buai dengan posisi pokong.

Karena membutuhkan teknik tertentu untuk mengikat tali sehingga menjadi pokongan, memang tidak semua ibu bisa memokong anaknya, apalagi ibu muda sekarang ini. Biasanya bayi dipokong dengan bantuan neneknya atau siapapun keluarganya yang lebih tua. Ada lagi yang malah tidak mau memokong anaknya karena takut anaknya tercekik dan posisinya malah membuat anaknya jatuh ke bawah.

Gambar 3.7. Pokong Bayi

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Tradisi yang dilakukan Ketika Masa Bayi

Pada masyarakat Desa Tanjung Pasir, masih ada beberapa tradisi yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir. Tradisi tersebut antara lain tepung tawar, cuci lantai, naik buai dan gunting rambut. Tepung tawar pun biasanya ada di dua proses, yaitu tepung tawar bidan dan tepung tawar untuk bayi. Untuk tepung tawar bidan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan cuci lantai dan juga naik buai, tapi bisa juga dilakukan secara terpisah; sedangkan gunting rambut merupakan acara tersendiri. Pada acara gunting rambut biasanya akan diadakan lagi tepung tawar khusus untuk bayi.

Tepung Tawar Bidan

Selepas bayi lepas pusat, maka keluarga harus segera melakukan apa yang disebut dengan tepung tawar. Tepung

tawar pada dasarnya adalah adat Melayu yang berfungsi sebagai

mensucikan diri, dan juga membuang atau menghapuskan segala bentuk penyakit yang ada di tubuh manusia. Tepung tawar pada dasarnya dilakukan pada saat prosesi-prosesi yang berkaitan dengan daur hidup, seperti kelahiran, gunting rambut anak ataupun pernikahan. Ada juga yang melaksanakannya pada saat setelah mengalami sakit ataupun mengalami kecelakaan.

Sifat pelaksanaan tepung tawar pun sebenarnya tidak wajib, namun pada masyarakat Desa Tanjung Pasir, tepung tawar sangat wajib dilakukan pada saat setelah kelahiran anak, biasanya menunggu hingga waktunya lepas pusat. Bahkan ketika anak bayi pun itu sudah meninggal tepung tawar harus dilakukan untuk ibu dan bidan kampung yang menolongnya, karena mereka sudah terlanjur terkena darah ibu yang telah melahirkan tersebut. Selain itu tepung tawar juga harus dilakukan kepada siapapun yang menolong si ibu melakukan persalinan, termasuk orang-orang yang mendorong perut ibu berapapun banyaknya orang tersebut.

Tepung tawar sangat wajib dilakukan karena jika tidak

dilakukan maka bayi tersebut dianggap adalah milik dari bidan

kampung dan bukan milik orang tuanya, meskipun secara fisik

dari lahir bayi tersebut sudah bersama orang tuanya, namun jiwanya milik si bidan kampung. Oleh karena itu maka sebisa mungkin harus segera dilakukan prosesi ini.

Dalam tepung tawar ada penabur yang wajib ada di dalam prosesnya, yaitu antara lain: tepung beras (sebagai simbol pembersihan), daun pandan (sebagai alat papay untuk menimbulkan bau harum), beras kuning dan putih (sebagai simbol kesejahteraan). Tepung beras tadi akan diberi air sehingga

menjadi campuran yang akan dicipratkan ke tubuh yang akan ditepung tawar.

Prosesinya nanti secara bergantian dilakukan. Awalnya

bidan kampung akan menepung tawari ibu dan bayinya. Lalu

nantinya ibu yang telah ditolong untuk melahirkan akan

menepung tawari bidan dan siapapun yang menolongnya pada

saat bersalinan.

Dengan posisi keduanya duduk di lantai, bidan kampung dan ibu akan bergantian melakukan tepung tawar, dimana yang akan ditepung tawari harus duduk dalam keadaan tegak namun kaki diselonjorkan ke depan. Bermula dari bidan akan mengambil sedikit beras putih dan beras kuning dan menaburkannya ke sekeliling tubuh si ibu, seperti ke kepala, ke pundak, ke tangan, dan kaki si ibu. Sehabis itu campuran tepung tadi dicipratkan ke ibu dengan menggunakan beberapa helai daun pandan yang telah diikat menjadi satu. Air tepung juga sama dicipratkan ke badan ibu, dari mulai kepala, kedua pundak, kedua tangan dan kedua kaki. Setelah bidan menepung tawari ibu, baru dilakukan kepada bayi. Jika bayi karena ukuran masih kecil, bayi tetap diselemuti dan dicipratkan sedikit-sedikit ke atas seluruh badan, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ibu pun lalu melakukan hal yang sama kepada bidan kampung dan siapun yang membantunya.

Dalam proses tepung tawar ini, ada juga proses

penguncian yang biasa dilakukan untuk “mengunci” penyakit

pada umumnya yaitu menggunakan asam garam. Asam garam nanti dilakukan agar tidak ada penyakit yang datang kepada

bidan kampung, ibu ataupun si bayi. Sedikit asam dan juga garam

akan diambil menggunakan jarum jahit dan dimantrakan oleh

bidan kampung dan disuapkan kepada si ibu.

Proses tepung tawar ini wajib dilakukan jika tidak ingin ibu dan bayinya sakit. Bidan kampung pun juga bisa sakit. Bahkan

menurut bidan kampung sebenarnya bidan nakes pun ada baiknya harus dilakukan tepung tawar, namun kebanyakan mereka tidak mau. Seperti yang dikatakan bidan kampung Mamak S berikut ini:

“Ga bisa nanti badan saya sakit semua (kalau tidak tepung tawar). Itu bidan saja kemarin ada yang datang saya ke saya sakit. Saya bilang tidak bisa itu karena belum di tepung tawarkan. Ia sakit badannya. Saya kasih tepung tawar. Itu kan soalnya dia banyak darah kemarin. Mamak sama budak kecilnya bisa juga sakit, kalau melambat tepung tawar.”

Basuh (Cuci) Lantai

Seperti nama upacaranya basuh (cuci) lantai, secara harfiah memang upacara ini merupakan pencucian lantai, lebih tepatnya membersihkan lantai dari percikan darah pada saat ibu melahirkan di dalam rumah. Perlu dibersihkan karena lantai rumah dianggap sudah tidak bersih karena ikut terpercik darah pada saat prosesnya. Jika tidak dilakukan, orang halus di dalam rumah akan merasa terganggu dan akhirnya dapat mengganggu baik itu bidan, ibu ataupun si bayi sehingga ketiganya bisa terkena penyakit.

Dalam cuci lantai ini biasanya bidan kampung juga akan diberikan peduduk atau barang-barang sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong persalinan. Peduduk yang biasanya antara lain:

1) Beras 1 gantang (3 kg) 2) Kain putih 1 kabang (1,5 m)

3) Kain 1 lembar (tergantung jenis kelamin. Jika bayi laki-laki kain untuk laki-laki, begitupun sebaliknya)

5) Pisau kecil 6) Pulut kuning 7) Telur 1 buah

8) Ayam kampung 1 ekor

9) Uang seberapa mampu keluarga

Karena peduduk tersebut memang cukup merepotkan, kini bidan kampung mengembalikan ke keluarga apakah mau tetap dengan barang tersebut atau menggantinya dengan uang. Namun untuk pulut kuning dan ayam kampung harus tetap ada. Jika menggunakan peduduk biasanya masyarakat hanya memberikan uang kepada bidan kampung dengan nominal yang tidak terlalu besar, sekitar Rp. 20.000,- hingga Rp. 50.000,-. Sedangkan jika tidak ada peduduk, uang bisa lebih besar antara Rp. 150.000,- hingga Rp. 200.000,-.

Biasanya cuci lantai diawali dengan memandikan ibu dan bayi. Mandi menggunakan air yang dicampurkan dengan potongan-potongan jeruk nipis. Ibu nantinya akan mandi dengan menggunakan kain yang dipakainya pada saat melahirkan. Mandi si ibu pun biasanya dilakukan di atas tempat ia melahirkan. Setelah itu bayi juga dimandikan. Urutan mandi tidak boleh bayi dahulu baru ibunya, karena katanya kelak nanti anaknya bisa sering melawan kepada orang tuanya.

Setelah itu bidan kampung akan membersihkan lantai dalam kamar tempat bersalin dengan menggunakan ayam kampung. Nantinya bidan kampung akan membacakan doa dan juga mantra. Lalu diambillah ayam dan secara perlahan–lahan kaki ayam tersebut dicakarkan ke lantai, ke depan, ke kanan, ke kiri dan dilakukan sebanyak 7 (tujuh) kali di tempat ibu bersalin tadi. Karena cuci lantai merupakan acara kenduri selamatan, maka setelah kedua prosesi tersebut maka tetangga terdekat pun dipanggil untuk sama-sama membaca doa dan mencicipi

makanan ala kadarnya yang telah disediakan oleh keluarga yang punya acara.

Selesai makan, maka biasanya ibu dan bidan kampung akan saling berhadapan dan secara resmi ibu akan mengucapkan terima kasih kepada bidan kampung atas bantuannya dan diharapkan mau menerima peduduk ala kadarnya, setelah itu diikuti dengan bidan kampung yang mengucapkan rasa terima kasih dan mendoakan keselamatan untuk si ibu dan si bayi. Upacara sudah resmi selesai dilaksanakan dan bidan dapat dipersilahkan kembali dengan membawa peduduknya tersebut. Naik Buai

Masyarakat Desa Tanjung Pasir memiliki kepercayaan bahwa ketika anak ingin dimasukkan ke dalam buai atau ayunan pertama kali ada hal-hal yang harus dilakukan agar ketika sudah masuk ayunan tersebut bayi tidak mudah menangis dan tidak terkena penyakit. Untuk naik buai ini tentunya membutuhkan orang yang ahli, bukan sembarang orang. Di desa ini biasanya

naik buai kembali lagi diserahkan kepada si bidan kampung.

Terlebih dahulu bidan kampung akan mendoakan ayunan sebelum digantungkan. Jika ada alat sisa tepung tawar, maka air juga dicipratkan ke ayunan tersebut guna mensucikan ayunan tersebut.

Setelah besi dipasangkan dan kain pun telah digantungkan bayi pun tidak boleh langsung masuk. Sebelumnya batu dan juga kucing dimasukkan ke dalam ayunan tersebut. Setelah keduanya masuk dan diayun beberapa kali, keduanya dihentakkan oleh sang bidan kampung untuk keluar dari ayunan. Baru selanjutnya bayi boleh dimasukkan ke dalam ayunan dengan bidan kampung serta keluarga yang ada membacakan salawat nabi.

Peletakkan ayunan juga tidak bisa di sembarangan tempat, ayunan tidak boleh ditempatkan di bawah persis persilangan kayu di atas rumah, hal ini untuk menghindari

kelintasan agar bayi tidak sakit-sakitan dan diganggu roh halus.

Gunting Rambut

Jika biasanya gunting rambut seorang anak erat kaitannya dengan aqiqah seperti yang dikerjakan umat muslim, maka lain dengan gunting rambut tradisi yang ada pada masyarakat Etnik Laut. Gunting rambut merupakan tradisi membuang beberapa helai rambut anak untuk membuang sial dan membuang keburukan anak tersebut. Acara ini biasanya juga sekaligus atas keselamatan dari si anak tersebut. Biasanya dilakukan tergantung kemampuan dari pihak masing-masing keluarga. Bisa dilakukan bersamaan dengan proses cuci lantai tapi bisa juga menunggu sampai uangnya terkumpul. Berikut merupakan deskripsi acara gunting rambut yang diikuti oleh tim peneliti.

Acara dimulai pada pukul 8 pagi. Di ruang tengah bapak-bapak sudah berkumpul. Yang datang hanya sekitar 20 orang, tidak ada ibu-ibu. Kebanyakan hanya keluarga dan para pemuka agama. Di belakang para ibu-ibu keluarga sedang menyiapkan makanan.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat al quran. Di tengah ruangan ada hiasan bunga dari plastik, dmana di batangnya sudah ditusukkan telur. Telur yang sudah masak tersebut sudah ditempeli label nama dari sang bayi yang akan di potong rambutnya.

Setelah alunan ayat selesai dibacakan, si anak akan