KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma
2.2.5 New Media
Pakar komunkasi Denis McQuail dalam buku Teori Komunikasi Massa (2011: 43) menjelaskan, ciri utama new media antara lain adanya saling keterhubungan (interkonektivitas), aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasnya (interaksi dengan khalayaknya seakan-akan melakukan percakapan langsung), kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka serta sifatnya yang ada di mana-mana.
Jenis new media dapat dinilai dari dua aspek, yaitu berbasis internet atau berupa digital. new media yang berbasis internet, misalnya adalah website, sedangkan yang berwujud digital, misalnya adalah CD-ROM atau DVD. Namun demikian, 11 dalam penelitian ini new media difokuskan ke arah media yang berbasis internet, baik yang diakses melalui komputer maupun telepon selular.
Internet adalah salah satu bentuk dari media baru (new media). Internet dinilai sebagai alat informasi paling penting untuk dikembangkan kedepannya.
Internet memiliki kemampuan untuk mengkode, menyimpan, memanipulasi dan menerima pesan (Ruben, 1998: 110). Internet merupakan sebuah media dengan segala karakteristiknya. Internet memiliki teknologi, cara penggunaan, lingkup
layanan, isi dan image sendiri. Internet tidak dimiliki, dikendalikan atau dikelola oleh sebuah badan tunggal tetapi merupakan sebuah jaringan komputer yang terhubung secara intensional dan beroperasi berdasarkan protokol yang disepakati bersama. Sejumlah organisasi khususnya provider dan badan telekomunikasi berperan dalam operasi internet (McQuail, 2009: 28-29).
Internet berasal dari jaringan computer Departemen Pertahanan AS yang diciptakan pada 1969 yang disebut ARPAnet, singkatan dari Advanced Research Project Agency Network yang hanya menautkan empat komputer, di Universitas California di Los Angeles (UCLA), Universitas California di Santa Barbara, Universitas Utah dan Lembaga Penelitian Stanford (Stanford Research Institute/SRI). Pesan Internet pertama, antara UCLA dan SRI, juga merupakan pesan pertama yang gagal. Selama lebih dari dua dasawarsa setelah itu, hanya seidkit akademikus dan ahli komputer yang melakukan online. Melakukan log masuk (log on), mengirim e-mail, dan menggali informasi mengharuskan pemakai mengetik rangkaian panjang perintah-perintah yang rumit. Kemudian pada tahun 1991, sebuah tim di European Particle Physics Laboratory (CERN) yang dipimpin oleh Tim Berners Lee mengembangkan sistem komputer yang berhubungan melalui pranala (hyperlink) yang mereka sebut World Wide Web. Dua tahun kemudian, Mosaic yang merupakan peramban (browser) pertama dengan grafik antarmuka (graphic interface), dibuat menggunakan web semudah menunjuk dan mengklik. Itu adalah permulaan revolusi komunikasi (Hernandez. 2007:34).
Creeber dan Martin dalam Mondry (2008: 13), mendefenisikan media baru atau new media atau media online sebagai produk dari komunikasi yang termediasi teknologi yang terdapat bersama dengan komputer digital. New media terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya, di mana beberapa media dijadikan satu. Selain itu, new media merupakan media yang menggunakan internet, media online berbasis teknologi, berkarakter fleksibel, berpotensi interaktif dan dapat berfungsi secara privat maupun secara publik.
Tahun 1990 merupakan tahun paling bersejarah, saat itu Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang dapat menjelajah antara satu
komputer dengan komputer lainnya, hingga akhirnya membentuk jaringan.
Program tersebut akhirnya diberi nama www atau World Wide Web. Di tahun 1992, komputer yang saling terhubung dan membentuk jaringan sudah lebih dari satu juta komputer dan muncul istilah baru, yaitu Surfing The Internet (eswete.com).
Dunia berubah di tahun 1994 ketika situs internet tumbuh menjadi 3000 alamat halaman serta untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Yahoo! resmi didirikan pada tahun ini yang sekaligus menjadi kelahiran Netscape Navigator 1.0 yang sampai saat ini digunakan untuk perangkat komputer.Sejarah perkembangan internet kemudian menumbuhkan suatu alat komunikasi yang hingga saat ini tidak bisa terlepas dari masyarakat, khususnya masyarakat modern. Sudah hampir semua perangkat yang digunakan memanfaatkan jaringan internet sebagai media untuk kebutuhan komunikasi dan keperluan lainnya (detiktechno.com).
Pentagon membangun jaringan untuk bertukar informasi dengan kontraktor militer dan universitas yang melakukan riset militer. Pada 1983, National Science Foundation, yang diberi tugas mempromosikan sains, mengambil alih proyek ini. Jaringan National Science Foundation ini menarik lebih banyak pengguna, banyak diantaranya yang punya jaringan internal sendiri.
Misalnya, kebanyakan universitas yang bergabung dengan jaringan NSF punya jaringan komputer intrakampus. Jaringan NSF kemudian menjadi konektor untuk ribuan jaringan lainnya. Untuk sistem backbone yang menghubungkan jaringan – jaringan, Internet adalah nama yang tepat. Pada 1996, Internet telah tumbuh dengan lalu lintas data yang padat. Para teknisi 19 jaringan universitas mendesain backbone berkecepatan tinggi untuk menghubungkan jaringan-jaringan riset.
Jaringan ini dinamakan Internet dan mulai dijalankan pada 1999, membawa data dengan kecepatan 2,4 gigabits per detik – empat kali lebih cepat ketimbang pendahulunya. Konsorsium yang memiliki internet mencakup 203 universitas riset, 526 akademi, dan 551 komunitas universitas. Penggunaannya tak lagi sekadar berbagi informasi tetapi juga pembelajaran jarak jauh. Bahkan dengan
upgrade sampai 10 gigabits per detik pada 2003, tetap terjadi kepadatan arus data (Vivian, 2008:266).
Sekitar tahun 1995 itulah anak-anak muda mulai melakukan online dalam jumlah besar. Gallup survei pada tahun 1995 menemukan 9 persen remaja mengatakan bahwa mereka telah menggunakan Internet sebelumnya,dibandingkan 94 persen yang telah mendengarkan radio, dan 93 persen yang telah menonton televisi. Pada tahun 1997, 55 persen remaja mengatakan mereka pernah menggunakan Internet dalam hidupnya, meskipun hanya 29 persen yang memiliki akses di rumah. Saat ini , Internet berdiri dengan kokoh sebagai bentuk baru media massa, bergabung dengan televisi, radio dan media cetak. (Hernandez, 2007:34).
Perbedaan yang tampak antara media baru dan media lama yang jelas mencuat adalah dari segi penggunaannya secara individual yang diungkapkan oleh McQuail (2011:157) yaitu sebagai berikut:
1. Interaktif (interactivity): sebagaimana ditunjukkan oleh rasio respons atau inisiatif dari sudut pandang pengguna terhadap penawaran sumber atau pengirim.
2. Kehadiran sosial (atau sosiabilitas) (social presence or sociability):
dialami oleh pengguna, berarti kontak personal dengan orang lain dapat dimunculkan oleh penggunaan media .
3. Kekayaan media (media richness): jangkauan dimana media dapat menjembatani kerangka referensi yang berbeda, mengurangi ambiguitas, memberikan lebih banyak petunjuk, melibatkan lebih banyak indra dan lebih personal.
4. Otonomi (autonomy): derajat di mana seorang pengguna merasakan kendali atas konten dan penggunaan, mandiri dari sumber.
5. Unsur bermian-main (playfulness): kegunaan untuk liburan dan kesenangan sebagai lawan dari fungsi dan alat.
6. Privasi (privacy): berhubungan dengan kegunaan media dan/atau konten tertentu.
7. Personalisasi (personalization): derajat dimana konten dan penggunaan menjadi personal dan unik.
2.2.6 Instagram
Instagram adalah sebuah aplikasi untuk berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri (Dan Frommer:
2010). Aplikasi ini diciptakan oleh Burbn, Inc., yang merupakan sebuah perusahaan berbasis teknologi start up dan hanya berfokus pada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam.
Sejarah Instagram dimulai dari perusahaan Burbn, Inc. yang berdiri pada tahun 2010. Burbn, Inc. merupakan sebuah teknologi startup yang hanya berfokus kepada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam. Pada awalnya, Burbn, Inc. sendiri memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 mobile. Namun, kedua CEO, Kevin Systrom dan juga Mike Krieger memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja. Setelah satu minggu mereka mencoba untuk membuat sebuah ide yang bagus, pada akhirnya mereka membuat sebuah versi pertama dari Burbn, namun di dalamnya masih ada beberapa hal yang belum sempurna. Versi Burbn yang sudah final, aplikasi yang sudah dapat digunakan di dalam iPhone, yang di mana isinya terlalu banyak dengan fitur-fitur. Sulit bagi Kevin Systrom dan Mike Krieger untuk mengurangi fitur-fitur yang ada dan memulai lagi dari awal. Namun akhirnya, mereka hanya memfokuskan pada bagian foto, komentar dan juga kemampuan untuk menyukai sebuah foto. Itulah yang akhirnya menjadi Instagram.
Nama Instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “foto instan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya.
Sedangkan untuk kata “gram” berasal dari kata “telegram”, di mana cara kerja 15 telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan
menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itu, Instagram berasal dari instan-telegram.
Instagram telah menjadi tempat untuk menggunggah foto. Apapun kamera dan aplikasi pengelola fotonya, mengunggahnya di Instagram. Adapun filter-filter yang terdapat di dalam Instagram adalah sebagai berikut (Atmoko, 2012: 41):
A. Pengambilan gambar:
Langkah pertama yang harus dilakukan ketika akan sharing foto tertentu saja adalah mengambil gambar terlebih dahulu.
B. Olah digital sederhana:
Langkah berikutnya yaitu dengan memberikan efek sederhana kepada foto yang akan di unggah ke dalam Istagram dengan berbagai nuansa efek yang telah disediakan. Efek-efek tersebut memiliki nama dan fungsi tersendiri diantaranya adalah: Tilt-shift, Lux, Filter, Normal, X-Pro 11, Earlybird, Lomo-fi, Sutro, Toaster, Brannan, Valencia, Inkwell, Walden, Hafe, Nashville, 1997, Kelvindan yang terakhir adalah Sierra.
C. Deskripsi foto:
Setelah selesai memberikan efek yang pas pada foto lalu melakukan berbagai langkah sebelum melakukan sharing yaitu dengan member nama judul foto, hashtas, lokasi, kemudian mengirim ke jejaring sosial lainnya bila diperlukan.
D. Aktivitas jejaring sosial:
Meskipun menyebutkan dirinya sebagai layanan photo sharing, tetapi Instagram juga merupakan jejaring sosial karena bisa berinteraksi dengan sesame pengguna. Ciri khas jejaring sosial yang paling mencolok disini adalah kemampuannya untuk saling follow sesama pengguna, kemudian berkomentar dan memberikan tanda suka (like).
Namun, pada tahun 2016 dan 2017 Instagra, juga membuat beberapa fitur-fitur terbaru yaitu (www.jagoangadget.com):
1) Stories
Fitur ini memungkinkan setiap pengguna Instagram untuk melakukan posting foto atau video yang akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 24 jam, sama persis seperti fitur stories yang ada ada Snapchat.
2) Live Video
Instagram sebagai media sosial yang berada di bawah naungan Facebook mengimplementasikan fitur live video juga, dimana pengguna bisa melakukan live video dan menyimpan hasil live video tersebut untuk di-share jika pengguna menginginkannya.
3) Business Tools
Fitur ini semakin memanjakan para pelaku bisnis Instagram yaitu dengan menambahkan profil bisnis, analytics serta kemampuan untuk membuat iklan secara langsung melalui aplikasi Instagram pada smartphone.
2.2.7 Semoitika
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Manusia dengan perantara tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Pada dasarnya, suatu tanda memiliki hubungan antara tanda dengan makna yang terkandung di dalam tanda tersebut. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things) (Barthes dalam Sobur, 2004: 15). Semiotika berusaha menjelaskan tentang tanda, secara sistematik, menjelaskan esensi, ciri-ciri dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.
Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata yunani Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefenisikan sebagai suatu dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotika dapat diidentifikasikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Semiotika lahir untuk memisahkan secara tajam antara medium dan isinya. Bagi para ahli semiotika, isi merupakan perkara yang penting dan isi tergantung pada bacaan yang ada pada isi tersebut yang di dapat oleh khalayak.
Semiotika atau semiotik muncul pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika yaitu Chareles Sanders Peirce, merujuk pada doktrin formal tentang tanda-tanda. Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda dimana semiotika memfokuskan pada cara-cara produsen menciptakan tanda-tanda dan cara-cara yang dimengerti khalayak mengenai tanda-tanda.
Semiotika tidak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda melainkan dunia itu sendiri yang terkait dengan pikiran manusia karena jika tidak begitu manusia tidak akan menjalin hubungannya dengan realitas.
Menurut Eco (1979), secara terminologis semiotika dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan seluruh kebudayaan sebagai tanda. Van Zoest (1996) mengartikan semiotik sebagai “ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya; cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.” (Sobur, 2004: 96)
Dalam teori semiotika, pokok studinya adalah tanda atau bagaiman cara tanda-tanda itu bekerja juga dapat disebut semiologi. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti pada dirinya sendiri, dengan kata lain jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, dan kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitan dengan pembacanya, pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sebagai konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan.
Segala sesuatu yang memiliki sistem tanda, dapat dianggap teks, contohnya di dalam film, majalah, televisi, iklan, koran, brosur, novel, bahkan di surat cinta sekalipun.
Tiga bidang studi utama dalam semiotika adalah (Fiske, 2004: 60):
1. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda, cara-cara tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara-cara tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya. Tanda 59 adalah kontruksi manusia dan hanya bias dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya.
2. Sistem atau kode yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode yang dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu mas yarakat atau budaya atau mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia untuk mentrasmisikannya.
3. Kebudayaan dan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.
Melihat pada penggunaan katanya, ada yang menyebut studi mengenai tanda ini dengan semiologi, ada pula yang menggunakan kata semiotika.
Sebenarnya hal ini menunjuk pada pendirinya. Semiotika identik dengan Peirce dan istilah semiologi identik dengan Saussure. Menurut Masinambow, perbedaan kedua istilah itu menunjukkan perbedaan orientasi, semiologi mengacu pada tradisi Eropa yang bermula dari Ferdinand de Saussure dan semiotika pada tradisi Amerika yang bermula pada Charles Sanders Peirce (Sobur, 2004: 12).
Saussure mendefinisikan semiologi dengan „‟sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat‟‟, dimana terkait dengan tujuan untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda beserta kaidah-kaidah yang mengaturnya (Sobur, 2004: 12). Istilah Semiotika yang dimunculkan oleh Charles Sanders Peirce memuat bahwa yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda-tanda: tidak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri – sejauh terkait dengan pikiran manusia – seluruhnya terdiri dari tanda-tanda (Sobur, 2004: 13).
Teori yang dikemukakan Peirce menjadi teori utama dalam semiotik.
Gagasannya bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari semua sistem penanda.
Peirce berkeinginan untuk mengidentifikasi partikel dasar tanda dan menggabungkan kembali semua komponen tersebut dalam satu struktur tunggal.
Peirce ingin membongkar bahasa secara keseluruhan (Sobur, 2004: 97). Peirce berkeyakinan bahwa tanda tidak pernah merupakan suatu entitas yang sendirian, namun memiliki tiga aspek didalamnya. Peirce membuat contoh adanya kepertamaan, yaitu tanda itu sendiri. Kekeduaan adalah objeknya, dan penafsirnya –unsur pengantara – adalah contoh keketigaan. Keketigaan dalam konteks
berdiri sebagai suatu tanda, maka tanda harus ditafsirkan artinya harus ada penafsir (Sobur, 2004: 41).
Ikon
Indeks Objek
Gambar 2.1 Unsur Makna Menurut Peirce Sumber: Bungin, 2007: 168
Panah dua arah dalam gambar tipe tanda dari Peirce di atas digunakan untuk menekankan setiap istilah hanya dapat dipahami dalam relasinya dengan unsur yang lain. Hasil interaksi ketiganya dalam pikiran seseoranglah yang memunculkan makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda. Bagi Pierce, tanda
“is something whichstands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh Peirce disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant. Atas dasar hubungan ini, Pierce mengadakan klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground baginya menjadi qualisgn, sinsign dan lesign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, lemah, lembut, merdu. Sinsign adalah eksitensi aktual atau benda atau peristiwa yang ada pada tanda; misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai. Lesign adalah norma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia (Sobur, 2004:41).
Sebuah tanda menurut Pierce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu, dinamakan sebagai interpretan dari tanda yang pertama, pada gilirannya akan mengacu pada objek tertentu. Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks) dan symbol (simbol). Ikon adalah sesuatu yang
berfungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya. Indeks adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang megisyaratkan petandanya. Sedangkan simbol adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah secara konvensi telah lumrah digunakan dalam masyarakat (Bungin, 2007:166).
Berdasarkan interpretant, Peirce membagi tanda kepada tiga yang terdiri dari rheme tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan.
Dicent sign, tanda sesuai kenyataan. Argument, tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu (Sobur, 2004:42). Peirce menekankan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan perantaraan tanda. Dapat berkomunikasi juga menggunakan tanda-tanda.
Sedangkan Saussure memasukkan semiotika sebagai hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan langsung. Saussure mengemukakan bahwa seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut.
Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau coretan bermakna (Sobur, 2004: 46). Saussure menggambarkan tanda terdiri atas signifier dan signified itu sebagai berikut:
Sign
Composed Of
Signification Signifier Signified
External Reality Of Meaning
Gambar 2.2 Elemen-Elemen Makna dari Saussure Sumber: Sobur, 2004: 125
Saussure mengatakan signifier adalah bunyi atau coretan bermakna dan signified adalah gambaran mental atau konsep sesuatu dari signifier. Kedua unsur ini seperti dua sisi dari sekeping mata uang ataupun selembar kertas. Tanda bahasa dengan demikian menyatukan hal bukan dengan nama, melainkan konsep dan gambaran akustis. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut dinamakan signification. Dengan kata lain, signification menurut Fiske adalah upaya memberi makna terhadap dunia (Sobur, 2004: 125).
Charles Morris memudahkan dalam memahami ruang lingkup kajian semiotika. Menurut Morris, kajian semiotika pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan (branches of inquiry) yakni sintaktik, semantik dan pragmatik (Wibowo, 2011: 4).
1. Sintaktik
Sintaktik adalah suatu cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji hubungan formal di antara suatu tanda dengan tanda-tanda yang lain.
Dengan begitu hubungan-hubungan formal ini merupakan kaidah-kaidah yang mengendalikan tuturan dan interpretasi. Dalam hal ini, tanda tidak pernah mewakili dirinya, tanda selalu menjadi bagian dari sistem tanda yang lebih besar atau kelompok yang diorganisir melalui cara tertentu.
2. Semantik
Semantik adalah suatu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan designata atau objek-objek yang diacunya. Yang dimaksud designata adalah tanda-tanda sebelum digunakan dalam tuturan tertentu.
Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya, atau apa yang diwakili suatu tanda. Prinsip dasar semiotika adalah bahwa representasi selalu diperantarai atau dimediasi oleh kesadaran interpretasi seorang individu, dan setiap interpretasi atau makna dari suatu tanda akan berubah dari suatu situasi ke situasi lainnya (Morrisan, 2009: 29).
3. Pragmatik
Pragmatik merupakan suatu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakai-pemakai tanda. Tanda tidak dapat dilepaskan dari pemakainya, atau keberadaan suatu tanda dapat dipahami hanya dengan mengembalikan tanda itu ke dalam masyarakat pemakainya. Aspek pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam komunikasi, khususnya untuk mempelajari mengapa terjadi kepahaman dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi.