HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.2 Penyajian Data
4.1.3.5 Tataran Mitos Pada Foto 5
Di Pulau Jawa terdapat salah satu daerah yang sampai sekarang masih menjunjung tinggi nilai adat istiadat dan budaya setempat, daerah tersebut yaitu Jawa Tengah. Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah di Pulau Jawa yang letaknya berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian barat dan Jawa Timur di bagian timur. Budaya yang terdapat di daerah Jawa Tengah pun tidak jauh berbeda
dengan yang terdapat di daerah lainnya yaitu terdiri dari beberapa elemen penyusunan yang salah satunya adalah Pakaian Adat. Mungkin sebagai dari Anda sudah pernah tahu bahkan pernah memakai baju adat Jawa Tengah, namun kebanyakan orang belum tahu apa saja nama pakaian adat Jawa Tengah yang sering di pakai oleh masyarakat setempat.
Salah satu yang khas dari pakaian adat Jawa adalah kemben atau baju kebaya.
Kebaya merupakan jenis busana yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya lingkungan budaya Yogyakarta dan Sukarta, Jawa Tengan. Biasanya disertai dengan kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara.
Pada busana upacara baju kebaya menggunakan peniti renteg dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas atau bunga dibagian sanggul. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemen ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Nilai filosofi dari kebaya adalah kepatuhan, kehalusan dan tindak tanduk wanita yang harus serba lembut. Kebaya selalu identik dipadangkan dengan jarik atau kain yang membebat tubuh. Kain yang membebat tubuh tersebut secara langsung akan membuat siapapun wanita yang mengenakannya kesulitan untuk bergerak dengan cepat. Itulah sebabnya mengapa wanita Jawa selalu dengan pribadi yang lemah gemulai. Aksesoris yang digunakan pada pakaian adat jawa berupa apaes, aniting, kalung, gelang dan lainnya memiliki makna harapan yang baik terhadap perempua yang menenakannya. (https://serba-serbi-dunia-fashion.weebly.com/html)
Untuk pakaian laki-laki dinamakan sebagai busana kejawen. Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktifitas sehari – hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta segala sesuatu dimuka bumi ini. Dan khusus untuk pakaian adat pria ini kurang lebih terdiri dari Blangkon, Surjan/beskap, Keris, Kain Jarik (Kain Samping), sabuk sindur dan canela/cemila/selop. Penggunaan pakaian adat yang sekarang ini suah jarang dilakukan atau hanya sekedar dipakai pada saat ada hajatan saja, berakibat pengetahuan tentang tata cara pemakaian pakaian adat menjadi semakin minim. Terlebih lagi kebanyakan dari masyarakat sudah jarang yang memiliki sendiri seperangkat pakaian adat.
4.2 Pembahasan
Peneliti menggunakan sebuah foto Instagram untuk melihat bagaimana Jovi direpresentasikan sebagai sosok androgini. Foto-foto tersebut berupa kegiatan yang dilakukan oleh Jovi pada tahun 2018 yang dipilih dari like terbanyak pada tahun tersebut. Dari ratusan foto, peniliti memilih lima diantaranya sebagai objek yang mewakili androgini. Peneliti menganalisis dari segi makna denotasi, konotasi dan mitos pada akhir hasil tanpa mengenyampingkan subjektifitas peneliti.
Pernyataan Barthes dalam buku Imaji, Musik dan Teks bahwa penafsiran terhadap foto selalu bersifat historis, dimana pembaca harus mengerti sisi dari latar belakang suatu gambar yang akan ditelaah dalam beberapa rangkaian visual.
Ungkapan tersebut relevan digunakan dalam menafsirkan atau mengartikan tanda dalam sebuah foto yang memiliki identitas gender androgini pada akun
@joviadhiguna. Sebuah gender yang jarang diterima oleh masyarakat begitu relevan terhadap makna mitos yang akan dikaji dengan konsep Barthes terhadap dinamika sosial budaya. (Roland Barthes, 2010: 14)
Tanda atau kode dapat ditemukan dimana saja dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sebuah rambu lalu lintas “tikungan tajam” yang terletak dipinggir jalan.
Rambu tersebut untuk memberitahukan bahwa terdapat sebuah tikungan yang harus dilewati secara hati-hati. Rambu tersebut merupakan sebuah tanda atau kode yang ditempatkan sesuai dengan fungsinya yang berguna membaca tanda.
Barthes menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutkan sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Pada signifikasi tahap kedua yang berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos. (Alex Sobur, 2004: 63)
Menurut Barthes pada saat media membagi pesan , maka pesan-pesan yang berdimensi konotatif itulah yang menciptakan mitos. Pengertian mitos di sini tidak senantiasa merujuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari seperti halnya cerita-cerita tradisional, legenda dan sebagainya. Bagi Barthes, mitos adalah sebuah cara pemaknaan dan ia menyatakan mitos secara lebih spesifik sebagai jenis pewacanaan atau tipe wacana. Mitos tidaklah dapat di gambarkan melalui obyek pesannya, melainkan cara pesan tersebut disampaikan maka ditemukan beberapa mitos dalam foto Jovi Adhiguna.
Tujuan utama menganalisis foto ini dengan menggunakan analisis semiotika adalah untuk “membaca” gambar. Dalam sebuah gambar penafsir harus menemukan makna terselubung (latent meaning) yang terkait dengan mitos dan muatan ideologinya. Persoalannya, relativitas kebenaran makna dalam semiotika menyebabkan sebuah tanda dapat dimaknai beragam. Setiap tanda dalam bahasa Barthes, memiliki sifat polisemi atau berpotensi multitafsir. Hal tersebut disebabkan oleh sifat ambigu dari penanda dan kemungkinan yang diberikan oleh penanda tersebut untuk diinterpretasikan. (Gottdiener, 1995: 20)
Sajian visual adalah representasi informasi melalui ekspresi visual. Informasi yang biasanya berupa citra kata dan karakternya diwujudkan secara konkrit melalui
obyek dan rupa (shape). Suasana, atmosfer, dan skala suatu konsep atau ide yang sulit dikomunikasikan dalam bentuk kata akan lebih jelas jika dipaparkan dalam bentuk gambar. Bentuk komunikasi dan penyajian semacam ini dapat menghilangkan celah terjadinya miskomunikasi.
Sejarah telah membuktikan bahwa penglihatan mempunyai dampak yang besar pada pikiran manusia. Sejak manusia tinggal di gua-gua, gambar merupakan kristalisasi peristiwa dan gagasan diluar diri manusia (Laseau 1980). Melalui media gambar dunia batin, mitos, angan-angan dapat direalisasikan. Gambar sebagai ungkapan pikiran telah menjadi bagian penting dari kehidupan umat manusia.
Manusia yang „melihat‟ burung terbang di angkasa, menginginkan untuk dapat terbang pula. Konsep terbang pun diwujudkan dalam sketsa-sketsa. Gambar itu kemudian dicoba, direalisasikan sesuai dengan kemampuan manusia agar dapat menjelajahi angkasa.
Gambar adalah bagian yang penting dalam suatu proses desain. Bahasa perancangan adalah bahasa gambar. Kemampuan berkomunikasi secara grafis merupakan kompetensi utama seorang perancang. Untuk itu menurut Laseau (1980) seorang perancang harus 1) memahami unsur-unsur dasar komunikasi (komunikator, penerima, pengantara, dan tautan) dan peranannya bagi ke-efektif-an komunikasi; 2) mampu mengembangkan bahasa gambar agar dapat membuat sketsa yang paling efektif untuk tujuan-tujuan komunikasi tertentu. Komunikasi secara grafis adalah komunikasi dengan menggunakan tanda-tanda, lambang-lambang, dan simbol-simbol (Cullen, pada Arifin 1988). Di dalam komunikasi tersebut terjadi transformasi informasi yang berawal dari ide seseorang dan berakhir pada pikiran orang lain (Toda, pada Arifin 1988).
Jovi Adhiguna sebagai obyek androgini yang masih dianggap tabu oleh masyarakat merupakan fenomena yang sering diperbincangkan. Androgini sendiri dapat di artikan sebagai gender yang bekerja dengan feminitas dan maskulinitas yang seimbang. Androgini adalah istilah seseorang dimana menunjukkan pembagian peran
dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Pemikiran bahwa aspek maskulin dan feminin mampu saling melengkapi dan bukan bertentangan memunculkan konsep androgenitas yang memadukan kedua peran gender laki-laki dan perempuan yakni maskulin dan feminin dalam diri individu sama tinggi (Setyaningsih, 2009).
Beberapa ilmu seputar gender salah satunya adalah cabang dari ilmu sosial yaitu kajian gender. Seksiologi dan ilmu saraf juga membahas beberapa hal mengenai gender. Kajian gender umumnya membahas gender sebagai sebuah kontruksi sosial.
Sementara ilmu-ilmu alam membahas mengenai perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang dapat mempengaruhi perkembangan gender pada manusia.
Kedua pendekatan tersebut berkontribusi dalam menyelidiki seberapa jauh perbedaan biologis mempengaruhi pembentukan identitas gender pada seseorang.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Gender)
Penampilan adalah salah satu tolok ukur penilaian gender pada diri manusia.
Androgini ini melibatkan dua unsur dalam satu tubuh yang keduanya dapat dilihat dengan panca indera. Jovi yang juga dikenal sebagai fashion stylist berupaya untuk mengekpresikan dirinya melalui sesuatu yang Ia kenakan. Secara visual, sosok Jovi memiliki mode fashion yang sangat dominan dengan feminitas tapi tidak menghilangkan sisi maskulinitasnya. Penggunaan long dress, make up, anting, dan sepatu high heels merupakan komponen yang biasa digunakan oleh para perempuan.
Dalam satu wawancara Jovi menyebutkan bahwa:
“aku memang suka memakai baju perempuan, tapi tidak selalu memakainya tiap hari dan kesukaan ini udah aku lakuin sejak SMA. Hari ini aku memakai blazer perempuan dan celana laki-laki. Semuanya tergantung kondisi juga. Lagian kenapa sih, kalau cewek bisa pakai baju cowok dan nggak papa, tapi giliran cowok pakai baju cewek dibilang banci, bencong atau cewe jadi-jadian. Kalau aku sih, dari diri aku, aku sama sekali tidak berencana atau berusaha mengganti gender aku sama sekali. Aku terlalu bro untuk menjadi sis. Itu kasarnya. Haha. Even bentuk aku seperti ini, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk ganti kelamin, atau apapun, sama sekali nggak ada. karena I can look feminine, I can look masculine at the same
time juga, tapi nggak selalu feminin." (https://woop.id/article/jovi-adhiguna.media.html)
Dalam dunia fashion, androgini tidak lagi dianggap sebagai hal tabu.
Perempuan yang menggunakan pakaian laki-laki begitu juga sebaliknya sering kali di publikasikan dalam acara catwalk maupun majalah di berbagai negara.
Perkembangan fashion sedikit banyaknya telah memperkenalkan androgini ke mata publik, walau demikian masyarakat Indonesia masih tetap hidup dengan stigma-stigma yang mendasari keyakinan sosiokultural yang hanya mengetahui laki-laki dan perempuan. Jika ada seseorang diluar dari golongan tersebut, maka akan itu dianggap sebagai prilaku menyimpang.
Fenomena androgini yang popular di kalangan kaum hawa pada dasarnya termasuk suatu hal yang relatif baru, karena kata androgini sendiri baru benar-benar menyebar luas pada dekade 1960-an. Sekalipun konsep ini sudah muncul sejak era Yunani-Romawi Kuno di Eropa. Androgini dimaknai sebagai sebuah style fashion (bukan gaya hidup) pada dekade terakhir abad ke-20. Style ini juga menginspirasi para penggiat fashion untuk menciptakan pakaian unisex yang bisa dipakai pria maupun wanita tanpa menghilangkan karakteristik feminin dan maskulin pada seseorang. Di masa modern saat ini, gaya androgini khususnya dalam fashion wanita sudah dianggap sebagai sesuatu hal yang lumrah. Sebab saat fashion kembali pada gaya tahun 1980 dan 1990-an, androgini ini menjadi istilah yang sering tampil dalam majalah Mode, Runaway bahkan media televisi. (https://fitinline.com/article/read/seja rah-singkat-dan-perkembangan-androgynous-style-dalam-dunia-fashion/)
Jovi berupaya memadupadankan elemen-elemen fashion menjadi ciri dari dirinya sendiri. Jovi dengan rambut panjangnya yang berwarna “ombre” dengan mode gelombang menjadi salah satu bentuk feminitas yang dominan. Jovi yang bekerja sebagai fashion stylist ini merupakan salah satu celebrity endorser brand make up yaitu Maybelline, dan baru-baru ini Jovi berkolaborasi dengan local brand Floret. Produknya berupa lipstik berwarna merah darah dan merah muda. Lipstik berwarna merah darah diberi nama “Okurrr” dan warna merah muda diberi nama
“Guitar”. Dua nama tersebut berupa kata-kata yang sering di lontarkan Jovi pada sebuah video yang di unggah di Youtube maupun Instagram Story. Penggunakan make up tidak lagi hanya digunakan untuk para perempuan namun sering kali digunakan untuk para laki-laki, misalnya pada model laki-laki yang akan melakukan foto shoot untuk sebuah majalah. Make up dianggap sebagai suatu alat untuk menambah kecantikan atau menutupi kekurangan pada wajah yang membuat seseorang semakin percaya diri.
Jovi seringkali menjadi celebrity endorser untuk mempromosikan produk pakaian, aksesoris, make up sampai dengan makanan dari brand lokal maupun internasional yang cukup ternama. Pada akun Instagram nya, Jovi sering memposting foto atau video dengan menggunakan pakaian, aksesoris atau make up merek tertentu yang ditampilkan dengan sangat modis. Postingan tersebut sebagai bentuk promosi untuk produk yang digunakan dan di foto, lalu pada foto Jovi memberi tag nama akun brand tersebut agar kalayak mengetahui brand apa yang sedang Ia kenakan. Dengan jumlah pengikut yang cukup banyak pada akunnya, nama Jovi sering disebut-sebut sebagai sosok yang memiliki gaya yang unik. Kepercayaan diri Jovi membuat Ia semakin dikenal dan publik semakin tidak asing dengan yang namanya fashion androgini.
Suatu waktu, Jovi di undang sebagai bintang tamu dalam acara kecantikan.
Hal ini merupakan rekam jejak Jovi pada dunia kecantikan yang identik dengan para perempuan. Jovi satu-satu nya bintang tamu yang berjenis kelamin laki-laki pada saat itu. Dalam beberapa kegiatan lainnya, Jovi sering kali bersanding dengan para artis dan influencer perempuan untuk menjadi model catwalk maupun untuk acara promosi. Acara yang dilaksanakan oleh Zilingo yaitu salah satu perusahaan online ini yang diadakan di Marrakech, Maroko melibatkan Jovi beserta artis beserta influencer yaitu Hanggini, Acha Sinaga, Pevita Pearch, Irish Bella, Michelle Joan, Gwango Amsin dan Ladi Prang sebagai celebrity endorser. Acara ini dibuat untuk mempromosikan Zilingo sendiri dan menginformasikan pelaksanaan giveaway yang
memposting foto serta video ke akun media sosial Instagram nya masing-masing.
Jovi sendiri mengiklankan foto mereka yang berada di pinggir kolam renang agar lebih menjangkau lebih luas kalayak pengguna Instagram. Dalam foto-fotonya, Jovi tidak sedikitpun terlihat berbeda dengan yang lainnya.
Beberapa foto Jovi yang berada di Marrakech memperlihatkan sisi feminitas yang tinggi, sehingga tiada perbedaan yang terlihat secara visual. Jovi selalu memperlihatkan gayanya yang modis dengan dress pendek garis dan sepatu high heels berwarna hitam. Pakaian yang demikian pada dasarnya adalah pakaian yang sampai hari ini masih sering digunakan para perempuan. Karena itu, Jovi disebut sebagai androgini atau orang yang memiliki gaya unik. Berkat kepercayaan dirinya, Jovi menjadi tren fashion yang banyak diikuti oleh para pengikutnya di Instagram yang tidak segan untuk menyatakan Jovi memiliki wajah yang cantik.
Jovi terlihat sangat profesional dengan fashion, gestur dan ekspresinya saat berfoto. Jika Jovi sedang mempromosikan suatu brand pakaian, make up atau aksesoris, Jovi selalu menunjukkan wajah tanpa senyuman serta menatap kamera dengan tegas. Gestur tubuh yang tidak pernah berdiri tegak melainkan selalu menekuk kaki yang kanan atau kiri serta mencondongkan area pinggang ke depan memberi kesan fleksibelitas sehingga tampak tidak kaku. Perpaduan antara ekspresi dan gesture tubuh merupakan komponen yang harus dimiliki oleh para model. Wajah tanpa senyum dianggap sebagai bentuk profesionalitas dari seorang model dan suatuyang menunjukkan kelas mereka. Untuk itu gaya seperti ini terlihat seperti sangat sombong dan angkuh. Gestur tubuh itu untuk menunjukkan bagian tubuh disesuaikan dengan pakaian yang sedang dikenakan. Namun, gesture tubuh ini sering kali diposisikan dengan acak sesuai dengan kebutuhan foto yang diinginkan.
Jovi sebagai sosok androgini membawa pembaharuan pada dunia fashion di Indonesia terkhususnya. Feminitas yang dapat dilihat secara visual pada diri laki-laki sering kali dianggap tidak lazim. Jika dipahami secara umum, maskulinitas yang ada pada diri perempuan juga dikatakan sebagai androgini. Pada masa ini para perempuan
sering menggunakan celana, kemeja, jas atau blazer atau sepatu boots yang pada dasarnya adalah komponen yang sering digunakan dan diciptakan untuk para laki-laki pada mulanya. Namun ketika digunakan oleh para perempuan, masyarakat tidak beranggapan sensitif terhadapnya, karena sesuatu itu dianggap lumrah. Jika dikaitkan dengan defenisi androgini, fenomena ini juga termasuk sebagai androgini. Tetapi saat ini masyarakat hidup dengan norma-norma kultural yang hanya memandang androgini sebagai laki-laki yang feminitasnya bisa dilihat secara visual saja. Pada dasarnya androgini ada pada banyak orang, bila parameternya ada pada fashion yang dilihat dengan kasat mata. Karena banyak diantara perempuan saat ini yang menggunakan celana untuk digunakan di kesehariannya.
BAB V