• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Originalitas Penelitian

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Auditya & Husaini (2013) Analisis Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi pada SKPD Provinsi Bengkulu), Astuti (2013) Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi dan Fungsi Pemeriksaan Intern terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi pada SKPD Pemerintah Kabupaten Grobogan) dan Rahayu (2016) Pengaruh Pelaksanaan Good Governance terhadap Kinerja SKPD Pemerintah Kabupaten Gresik. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah:

1. Lokasi penelitian sebelumnya pada SKPD Provinsi Bengkulu, SKPD Kabupaten Grobogan dan SKPD Kabupaten Gresik sementara penelitian ini pada SKPD Kabupaten Langkat.

2. Penelitian ini menambah 3 (tiga) variabel independen responsiveness, rule of law serta efficiency and effectiveness.

Tabel 1.3

Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian Sekarang

Kriteria Penelitian

Peneliti Auditya & Husaini Astuti Dwi Inggarwati Rahayu Erian azmal

Judul

Pemerintah Propinsi Bengkulu

berpengaruh signifikan

terhadap kinerja

pemerintah daerah.

namun Transparansi kebijakan publik tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Gresik

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

Bab ini membahas tentang tinjauan teori dari definisi, konsep dan hasil penelitian yang berkaitan dengan kinerja pemerintah daerah. Dilanjutkan penentuan grand theory yang mendasari penelitian dan teori yang digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi yang berkaitan dengan akuntabilitas, transparansi, responsiveness, rule of law serta efficiency and effectiveness.

2.1.1. Teori Agensi ( Agency Theory)

Grand Theory yang mendasari penelitian ini yaitu Agency Theory.

Menurut Jensen & Meckling (1976) hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak antara agent dengan principal. Sebagai agent, pemerintah bertanggung-jawab secara moral untuk mensejahterakan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kontrak. Masyarakat sebagai principal akan

menerima output dan outcome atas dana yang telah diberikan. Manajemen diberikan kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan principal. Oleh karena itu manajemen wajib mempertanggung jawabkan semua upayanya kepada principal.

Teori keagenan berusaha mendeskripsikan hubungan antara agen dan prinsipal dengan menggunakan mekanisme suatu kontrak. Teori keagenan menggunakan penekanan pada penyelesaian 2 (dua) masalah yaitu:

1. Masalah keagenan yang muncul ketika keinginan/tujuan antara agen dan prinsipal bertentangan, dan sulit bagi prinsipal memverifikasi hasil kerja agen yang sesungguhnya.

2. Masalah pembagian resiko (risk sharing) yang terjadi ketika prinsipal dan agen mempunyai preferensi dan sikap yang berbeda terhadap suatu resiko.

Menurut Zimmerman (1977) mengatakan bahwa agency problem terjadi dalam semua organisasi, di sektor privat antara pemegang saham dengan manajemen, di sektor publik antara pemerintah daerah dengan rakyat. Fokus teori keagenan, penentuan kontrak yang paling efesien mengatur hubungan antara prinsipal dan agen (Eisenhardt, 1989).

Hubungan teori agensi dengan penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah menerima kewenangan (agent) dan memiliki pemahaman seluruh aspek pemerintahan serta berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan seluruh kewenangan tersebut kepada masyarakat (principal) yang mengharapkan sarana dan prasarana pelayanan publik dan kesejahteraan secara adil, merata dan berkesinambungan.

2.1.2. Kinerja Pemerintah Daerah

Kinerja atau prestasi kerja berasal dari pengertian performance. Menurut Robbin & Judge (1994) kinerja adalah ukuran hasil kerja yang dilakukan dengan menggunakan kriteria yang disetujui bersama. Kinerja (performance) adalah gambaran dalam perumusan skema strategis (strategic planing) mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi dalam periode tertentu (Mahsun, 2011).

Menurut Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 1 ayat 35 kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.

Pengukuran kinerja adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, akuntabilitas, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Menurut Mardiasmo (2009) pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manajer dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik. Permenpan Nomor 25 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi instansi pemerintah.

Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari suatu penilaian (assessment) yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikator-indikator masukan (input), hasil (output) dan dampak (outcome).

Menurut Mahsun (2011) penggunaan indikator kinerja sangat penting untuk mengetahui suatu aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif. Penentuan indikator kinerja perlu mempertimbangkan komponen berikut:

1. biaya pelayanan (cost of service) 2. penggunaan (utilization) 3. kualitas dan standar pelayanan (quality and standards) 4. cakupan pelayanan (coverage) 5.

kepuasan (satisfaction). Penetapan indikator kinerja pada tingkat sasaran dan kegiatan merupakan prasyarat bagi pengukuran kinerja. Kriteria yang dipakai adalah target kinerja yang ditetapkan pada awal tahun melalui perencanaan kinerja (performance plan) selanjutnya dibandingkan dengan realisasinya pada akhir tahun, sehingga diketahui celah kinerja/perbedaan antara target kinerja dengan realisasinya dimana realisasi lebih rendah daripada target (performance gap).

Selisih yang timbul akan dianalisis guna menetapkan strategi untuk peningkatan kinerja di masa datang (performance improvement).

Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (2007) kinerja instansi pemerintah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi dan strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang ditetapkan. Kinerja pemerintah daerah sangat penting untuk dilihat dan diukur tingkat pencapaian program/kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya pada pelaksanaan otonomi daerah. Otonomi daerah adalah wewenang yang dimiliki daerah otonom untuk mengatur dan mengurus masyarakatnya menurut kehendak sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Halim & Kusufi, 2013). Keberhasilan suatu pemerintah

daerah dapat dilihat dari berbagai ukuran kinerja yang telah dicapainya. Setelah suatu sistem pengelolaan keuangan terbentuk, perlu disiapkan suatu alat untuk mengukur kinerja dan mengendalikan pemerintahan agar tidak terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan ketidakjelasan arah dalam kebijakan pembangunan. Menurut Mascarenhas (1996) pengukuran kinerja dilakukan untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manager dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik, akuntabilitas bukan sekedar kemampuan menunjukkan bagaimana uang publik telah dibelanjakan secara ekonomis, efesien dan efektif tetapi juga menunjukkan tingkat pencapaian kinerja pemerintah.

Konsep yang sering dipergunakan untuk melihat kinerja organisasi publik daerah sering dikaitkan dengan penggunaan anggaran. Konsep ini sering dikenal dengan istilah performance in term of the monetary calculus of efficiency.

Menurut Mardiasmo (2009) pemahaman mengenai konsep kinerja organisasi publik dapat dilakukan melalui 2 (dua) pendekatan yaitu 1. Melihat kinerja organisasi publik dari perspektif birokrasi itu sendiri 2. Melihat kinerja organisasi publik dari persepektif kelompok sasaran atau pengguna jasa organisasi publik.

Kedua perspektif tersebut saling berinteraksi di antara keduanya, karena pemahaman mengenai konsep kinerja organisasi publik sangat terkait erat dengan lingkungan tempat organisasi publik hidup dan berkembang. Khusus mengenai organisasi publik terkait erat dengan akuntabilitas, transparansi, responsiveness, rule of law serta efficiency and effectiveness. Sebagai pihak yang diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat, pemerintah daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban untuk dinilai apakah kinerja pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik

atau tidak. Indikator kinerja pemerintah daerah mencakup : 1. perbandingan antara anggaran dan realisasi 2. perbandingan antara standar biaya dengan realisasi 3.

target dan persentase fisik 4. standar pelayanan yang diharapkan. Indikator pengukuran kinerja yang baik mempunyai karakteristik relevant, unambiguous, cost-effective dan simple serta berfungsi sebagai sinyal yang menunjukkan bahwa terdapat masalah yang memerlukan tindakan manajemen dan investigasi lebih lanjut (Sumarsono, 2010).

Kinerja tersebut dapat diketahui dari ukuran keberhasilan yang dicapai pada setiap unit organisasi perangkat daerah, saling keterkaitan dan saling menunjang untuk memperbaiki efektivitas pengelolaan pemerintahan daerah secara keseluruhan dari tolak ukur kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

Selanjutnya pengukuran kinerja diartikan sebagai suatu indikator keuangan atau non keuangan dari suatu pekerjaan yang dilaksanakan atau hasil yang dicapai dari aktivitas, proses suatu unit organisasi.

Dari uraian diatas menurut pendapat peneliti pengertian kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran sesuai dengan pedoman, dilakukan oleh seluruh aparatur sesuai program/kegiatan dari penjabaran visi, misi dan strategi instansi pemerintah daerah yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga tersedia sarana dan prasarana yang pada akhirnya berdampak untuk menunjang pertumbuhan kemandirian ekonomi daerah, meningkatkan pelayanan publik dan mensejahterakan masyarakat secara adil, merata dan berkesinambungan.

2.1.3. Akuntabilitas

Akuntabilitas (accountability) mempunyai akar dalam bahasa latin yaitu computare terdiri dari 2 ( dua ) suku kata ( cum dan putare ), cum berarti dengan atau bersama sedangkan putare berarti mengandaikan, menghitung, memperhitungkan, mempertimbangkan (Simpson, Cassell New Latin Dictionary, 1960 dalam Haryatmoko, 2011) akuntabilitas mengacu pada pengertian menghitung bersama atau mempertimbangkan bersama. Menurut Caiden (1988) akuntabilitas sebagai memenuhi tanggung jawab, menjalankan kewajiban, memperhitungkan dan menyerahkan apa yang dilakukan dan diminta sebagai pertanggung jawaban atau yang ingin diketahui oleh pihak luar organisasi, terutama oleh publik yang dilayani. Menurut Behn (2001) dalam Haryatmoko (2011) ada 3 (tiga) hal yang mau dicapai melalui akuntabilitas yaitu fairness, menghindarkan penyalahgunaan kekuasaan dan kinerja. Akuntabilitas merupakan kewajiban menyampaikan pertanggungjawaban kinerja dan tindakan seseorang/

badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk minta keterangan pertanggungjawaban. Akuntabilitas publik terdiri dari akuntabilitas vertical (vertical accountability) dan akuntabilitas horizontal (horizontal accountability).

Konsep akuntabilitas pada pemerintah daerah memang bukan merupakan hal yang baru, hampir seluruh pemerintah daerah menerapkan konsep ini khususnya dalam menjalankan fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi meliputi pertanggungjawaban pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan guna untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan menekan penyimpangan dalam pengelolaan keuangan dan non keuangan pemerintah daerah. Menurut Sopanah (2005) pemerintah yang accountable memiliki ciri-ciri :

1. mampu menyajikan informasi penyelenggaraan pemerintah secara terbuka, cepat dan tepat kepada masyarakat 2. mampu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi publik 3. mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses pembangunan dan pemerintahan 4. mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan publik secara proposional 5. adanya sarana publik untuk menilai derajat pencapaian pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah.

Menurut Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (2003) akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

Akuntabilitas diartikan sebagai bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Stanbury, 2003 dalam Ismiarti, 2013). Pada dasarnya, akuntabilitas adalah pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja finansial kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Schiavo-Campo & Tomasi, 1999 dalam Mardiasmo, 2009).

Selain dari kajian teoritis peneliti juga merujuk penelitian empiris yang dilakukan oleh Auditya & Husaini (2013) pada kinerja pemerintahan daerah di Pemerintah Provinsi Bengkulu, melakukan penelitian kualitatif dengan metode survey, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden pegawai yang terlibat dalam proses pengelolaan keuangan berjumlah 72 (tujuh puluh dua) orang.

Riswanto (2016) pada Kinerja Pemerintah Daerah di Kabupaten Jember melakukan penelitian analisis deskriptif, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden DPRD Kabupaten Jember berjumlah 50 (lima puluh) orang. Astuti (2013) pada kinerja pemerintah daerah di Kabupaten Grobogan melakukan penelitian studi kasus, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden pegawai dinas pendapatan pengelolaan keuangan dan asset daerah berjumlah 80 (delapan puluh) orang.

Dari uraian diatas menurut pendapat peneliti pengertian akuntabilitas adalah suatu konsep kewajiban terkait penyajian informasi penyelenggaraan dan pengungkapan (disclosure) setiap aktivitas dari satu pihak dengan mekanisme pertanggungjawaban ke pihak yang lain secara konsisten dan proposional guna untuk mewujudkan tata kelola yang baik dan menekan penyimpangan dalam pengelolaan keuangan dan non keuangan.

2.1.4. Transparansi

Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya serta hasil-hasil yang dicapai. Menurut Mardiasmo (2009) transparansi berarti keterbukaan (openness) pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumberdaya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi.

Menurut Annisaningrum (2010) transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka

dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. Penyelengaraan pemerintahan yang transparan akan memiliki kriteria yaitu adanya pertanggungjawaban terbuka, adanya aksesibilitas terhadap laporan keuangan, adanya publikasi laporan keuangan, hak untuk tahu hasil audit dan ketersediaan informasi kinerja.

Menurut Werimon, et.al (2007) dalam Auditya (2013) transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaanya serta hasil-hasil yang dicapai. Kontrol yang besar dari masyarakat ini akan menyebabkan pengelola pemerintahan akan bekerja sesuai dengan ketentuan yang ada dan pada akhirnya akan mampu menghasilkan kinerja pemerintahan dengan baik dan memihak kepada rakyat. Menurut Werimon, et.al (2007) prinsip transparansi meliputi 2 aspek yaitu komunikasi publik oleh pemerintah dan hak masyarakat terhadap akses informasi. Kerangka konseptual dalam membangun transparansi organisasi sektor publik dibutuhkan empat komponen yang terdiri dari : 1. adanya sistem pelaporan keuangan, 2. adanya sistem pengukuran kinerja, 3. dilakukannya auditing sektor publik dan 4. berfungsinya saluran akuntabilitas publik (channel of accountability).

Menurut Coryanata (2007) transparansi dibangun di atas dasar arus informasi yang bebas seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Anggaran yang

disusun oleh pihak eksekutif dikatakan transparan jika memenuhi beberapa kriteria berikut : 1. terdapat pengumuman kebijakan anggaran 2. tersedia dokumen anggaran dan mudah diakses 3. tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu 4. terakomodasinya suara/usulan rakyat 5. terdapat sistem pemberian informasi kepada publik.

Kondisi yang mengharuskan pemerintah memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat terkait pengelolaan pemerintahan secara tidak langsung pengelola pemerintahan berusaha untuk memberikan yang terbaik (kinerja terbaik) kepada masyarakat dengan meningkatkan pencapaian tujuan pemerintah sesuai dengan visi dan misi (Rahmanurrasjid, 2008). Menurut Krina (2003) prinsip transparasi paling tidak dapat diukur melalui sejumlah indikator seperti : 1. mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua proses-proses pelayanan publik 2. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik maupun proses-proses didalam sektor publik 3. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik didalam kegiatan melayani publik.

Pemerintah berkewajiban memberikan informasi keuangan dan non keuangan yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Azas keterbukaan (transparansi) dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah azas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan vertical accountability antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dan horizontal accountability antara pemerintah daerah dengan masyarakat sehingga tercipta pemerintahan daerah yang bersih berdasarkan rule of law, efektif, efisien, akuntabel dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat. Selain dari kajian teoritis peneliti juga merujuk dari penelitian empiris yang dilakukan oleh Krisherdiyan (2015) pada Kinerja Pemerintah Daerah di Kabupaten Jember, melakukan penelitian deskriptif kualitatif, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden anggota komisi DPRD Kabupaten Jember berjumlah 45 (empat puluh lima) orang. Horison & Sayogo (2014) dengan judul Transparency, Participation and Accountability Practices in open Government, melakukan penelitian a Comparative Study. Wiguna & Yuniarta & Darmawan (2015) pada Kinerja Pemerintah Daerah di Kabupaten Buleleng, melakukan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode survey, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden pegawai yang terlibat dalam proses audit dan pengawasan pengelolaan keuangan berjumlah 34 (tiga puluh empat) orang.

Dari uraian di atas menurut pendapat peneliti pengertian transparansi adalah keterbukaan (openness) informasi yang terkait dengan kebijakan, regulasi, prosedur, tata kerja dan batasan kerahasiaan suatu strategi dari satu pihak ke pihak yang berhak membutuhkan informasi dengan jujur, benar dan tidak diskriminatif.

2.1.5 Responsiveness

Responsiveness atau daya tanggap merupakan kemampuan pemerintah untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda prioritas dan mengembangkannya ke dalam program-program yang sesuai dengan aspirasi dan

kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu responsivitas menunjuk pada kesesuaian antara program dan kegiatan yang ada dengan aspirasi atau kebutuhan masyarakat.

Responsivitas juga dapat diukur dari sejauh mana daya tanggap pemerintah daerah dalam merespon kebutuhan ataupun keluhan masyarakat (Rosyada, 2016).

Lembaga-lembaga pemerintah harus, tanggap, responsif terhadap kepentingan masyarakat sebagai stakeholder-nya. (Suprapto, 2006).

Perubahan perkembangan teknologi informasi, situasi dan kondisi yang sangat cepat saat ini mengakibatkan masyarakat akan menghadapi berbagai masalah dalam mengikuti perubahan itu. Mengantisipasi hal tersebut peran pemerintah daerah harus lebih responsif cepat tanggap dalam mengambil prakarsa untuk menyelesaikan masalah yang telah dan sedang terjadi maupun memprediksi masalah yang kemungkinan akan terjadi. Pemerintah daerah juga harus mengakomodasi aspirasi masyarakat sekaligus menindaklanjutinya dalam bentuk peraturan, kebijakan, program dan kegiatan dengan menyediakan pusat pelayanan pengaduan/keluhan masyarakat, kotak saran, surat pembaca dan bentuk lainnya.

Tindakan prakarsa pemerintah daerah dalam responsiveness yaitu 1. Menyediakan layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami masyarakat, 2.

Menindaklanjuti dengan cepat laporan pengaduan yang diterima, 3. Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap itikad kebijakan pemerintah daerah, 4.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk tetap konsisten memberikan koreksi dan saran dalam pemerintahan dan 5. Meningkatkan jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pengawasan pembangunan daerah. Selain dari kajian teoritis peneliti juga merujuk dari penelitian empiris yang dilakukan oleh Pratiwi (2012) pada kinerja pemerintah daerah di Pemerintah Kota Bekasi, melakukan penelitian

deskriptif analitis, pada responden menilai capaian kinerja Pemerintah Kota Bekasi melalui persepsi masyarakat .

Dari uraian di atas menurut pendapat peneliti pengertian responsiveness adalah kemampuan reaksi pemerintah daerah menanggapi perubahan kebijakan, saran dan koreksi mayarakat sesuai batas kewenangan untuk meminimalisir dampak masalah.

2.1.6 Rule of law

Rule of law atau aturan hukum pada hakekatnya adalah memposisikan hukum sebagai landasan bertindak dari seluruh elemen bangsa dalam sebuah negara. Menurut Hartono (1976) menyebut inti pengertian rule of law adalah jaminan apa yang disebut sebagai keadilan sosial. Menurut Sumantri (1992) Pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasar atas hukum atau perundang-undangan, adanya jaminan terhadap hak azasi manusia (warga negara), adanya pembagian kekuasaan dan adanya pengawasan dari badan-badan peradilan. Terdapat 3 (tiga) unsur yang harus mendapat perhatian yang sama pada implementasi penegakan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan atau hasil guna dan kepastian hukum.

Pemerintah berkewajiban memastikan rule of law optimal dalam segala aspek dan menjamin keberlangsungannya dengan 1. Adanya penegakan hukum secara utuh dalam berbagai aspek pemerintahan daerah 2. Adanya peraturan hukum serta perundang-undangan yang jelas dan tegas serta yang mengikat seluruh aparat pemerintahan daerah tanpa terkecuali 3. Adanya lembaga peradilan dan hukum yang kredibel dan bebas KKN 4. Melaksanakan kebijakan dan pelayanan publik berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang

berlaku 5. Mengimplementasikan rancangan dan ketetapan semua produk hukum sesuai kaidah regulatory practice principle 6. Melakukan rancangan perundang-undangan berdasarkan analisis kebijakan yang holistic dan sistemik. Selain dari kajian teoritis peneliti juga merujuk dari penelitian empiris yang dilakukan oleh Rahayu (2016) pada kinerja SKPD di Pemerintah Kabupaten Gresik, melakukan penelitian kuantitatif dengan metode survey, menggunakan kuesioner sebagai data primer pada responden Kepala Dinas, Sekretaris, dan Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan SKPD yang berjumlah 36 (tiga puluh enam) orang.

Dari uraian di atas menurut pendapat peneliti pengertian rule of law adalah aturan hukum yang dipedomani bersama berlangsung terus menerus dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan tujuan keadilan, kemanfaatan atau hasil guna dan kepastian hukum .

2.1.7 Efficiency and Effectiveness

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, efisiensi adalah hubungan antara masukan dan keluaran, efisiensi merupakan ukuran apakah penggunaan barang dan jasa yang dibeli dan digunakan oleh organisasi perangkat pemerintahan untuk mencapai tujuan organisasi perangkat pemerintahan dan dapat mencapai manfaat tertentu. Menurut Mardiasmo (2004) mendefinisikan bahwa efisensi adalah pencapaian output yang maximum dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu. Menurut Adisasmita (2011) mengatakan bahwa efisiensi adalah suatu proses internal atau sumber daya yang diperlukan oleh organisasi untuk menghasilkan satu satuan output. Karena itu efisiensi dapat diukur sebagai rasio output terhadap input.

Menurut Kartikahadi dalam Sukirno (2000) efisiensi didefinisikan sebagai

bertindak dengan cara yang dapat meminimalisir kerugian atau pemborosan sumber daya dalam melaksanakan atau menghasilkan sesuatu dalam arti bertindak untuk membuat pengorbanan yang paling tepat dibandingkan dengan hasil yang dikehendaki. Indikator efisiensi mengambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suatu unit organisasi (misalnya staf, upah, biaya administratif) dan keluaran yang dihasilkan (Sumenge, 2013).

Menurut Mardiasmo (2004) mendefinisikan bahwa efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang di tetapkan. Secara

Menurut Mardiasmo (2004) mendefinisikan bahwa efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang di tetapkan. Secara