• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAHAM KESETARAAN GENDER

Secara etimologis kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti ―jenis kelamin‖.188 Dalam Webster's New World Dictionary, sebagaimana yang dikutip Nasaruddin Umar dalam Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif Al-Qur‟an, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.189

Di dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.190 Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender secara terminologis, sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, 191 seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender).192

Munculnya paham kesetaraan gender ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh konsep masyarakat Barat yang telah lama mengalami problem hubungan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi dalam kata pengantar buku Indahnya Keserasian Gender dalam Islam karya Henri Shalahuddin (dkk.),

188

John M Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000, cet. XXV, hlm. 265. Sebenarnya arti ini kurang tepat, karena dengan demikian gender disamakan pengertiannya dengan sex yang berarti jenis kelamin. Persoalannya karena kata gender termasuk kosakata baru sehingga pengertiannya belum diketahui di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lihat, Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bhasa Indonesia, Jakarta: Difa Publisher, tt.

189 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif Al-Quran, Jakarta, Paramadina, 2001, cet. II, hlm. 33.

190

Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, cet. I, hlm. 4. Lihat juga, Nasaruddin Umar, Argumen..., hlm. 34

191

Lihat pembahasan Azhari, Pendidikan Anak Perempuan Dalam perspektif Islam dan Kesetaraan Gender, Bogor: Ulil Albaab, 2012.

192 Nasaruddin Umar, Perspektif Jender dalam Islam,

148 | S T U D I I S L A M I I I

bahwa konsep tersebut terbentuk dari protes para wanita dalam sebuah gerakan yang disebut gerakan feminisme (feminism).193

Jadi, awal mula munculnya paham kesetaraan gender ini berasal dari gerakan para aktivis feminisme194 yang menuntut adanya kesetaraan195 dan keadilan196 gender dengan laki-laki dalam segala hal. Istilah feminisme berasal dari bahasa Latin ―femina‖, perempuan. Konon dari kata fides dan minus menjadi fe-minus. Dalam buku Witches Hammer yang ditulis oleh dua orang Inquisitor Diminican, yang diulas ulang oleh Ruth Tucker dan Walter L Liefeld dalam buku berjudul Daughter of the Church dinyatakan bahwa, “The very word to describewoman, femina, according to the authors of (Wichen Hammer) is derived from fe and minus or fides minus, interpreted as less in faith. Infatti i due domenicani asserivano che la parola “femmina” derivasse da “fidesminus”.197

Terlepas apakah dasar etimologis kata femina itu benar atau sekadar mengolok-olok, yang pasti perempuan di Barat dalam sejarahnya, memang diperlakukan seperti kurang iman. Artinya di sana ada masalah serius dalam soal hubungan laki-laki dan perempuan dan diselesaikan tanpa jalur agama. Buktinya, lawan kata feminis yakni masculine “masculinus” atau “masculinity” tidak juga berarti penuh iman tapi justru strength of sexuality. Tidak heran jika perempuan di Barat pada masa lalu menjadi korban inqusisi (penyiksaan atas dasar kesalahan dalam beragama) dan juga perkosaan. Jika kondisi itu merupakan faktor penting dalam melahirkan wacana dan bahkan teori feminisme dan gender, maka dapat disimpulkan bahwa keduanya merupakan konstruk sosial masyarakat Barat postmodern yang misi utamanya adalah mengembangkan kesetaraan (equality). Dengan kata lain, timbulnya gerakan feminisme adalah keyakinan dasar (basic belief) masyarakat Barat yang merupakan kombinasi dari berbagai unsur yang mencerminkan worldview mereka. Sebab worldview secara teoritis, menurut

193

Henri Shalahuddin (et. al), Indahnya..., hlm. xix.

194 Menurut Henri Shalahuddin, bahwa feminisme sendiri bermula dari peregrakan sekelompok aktivis perempuan Barat yang lambat laun mendapat sambutan banyak pihak dan menjadi ideologi yang mengakar dalam masyarakat. Feminisme kemudian berkembang menjadi sebuah disiplin akademik khusus, dan dikenal dengan sebutan “women studies”. Lihat, Henri Shalahuddin, Gender: dari Wacana Kontroversial menjadi

Rancangan Undang-Undang (Telaah Kritis terhadap Konsep Keadilan dan Kesetaraan Gender) yang disampaikan

dalam acara “sidang fatwa gender” di Kantor Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) pada 18 Mei 2012, Jakarta, hlm. 1.

195

Dalam draf RUU KKG pada Ketentuan Umum Bab I Pasal 1 mendefinisikan kesetaraan gender,

“kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan.”

196

Sedangkan keadilan gender adalah “suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya

persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota masyarakat, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara.”

197

149 | S T U D I I S L A M I I I

Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart merupakan sumber gerakan intelektual dan sosial. Kenyataannya, worldview Barat liberal menghasilkan feminis liberal marxis-sosialis, Barat postmodern melahirkan feminis posmo dan seterusnya.198

Lebih lanjut Hamid menegaskan dalam Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam pada Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, bukti bahwa feminisme dan gender itu berasal dari Barat dapat ditelusuri dari argumen mereka. Di Barat telah terjadi perubahan sosial dari masyarakat tradisional agrikultur atau praindustri kepada masyarakat industri. Jika pada masyarakat tradisional laki-laki (suami) berperan sebagai pemburu atau hunter (di luar rumah) dan perempuan sebagai peramu atau getherer (di dalam rumah), maka di zaman industri teori fungsional struktural tidak dapat dipertahankan lagi dan harus diubah. Menurut Wollstonecraft dalam A Vindication of the Rights of Women, di abad ke-18, perempuan mulai kerja di luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Perubahan fungsi itu awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tetapi kemudian berkembang menjadi ambisi sosial, atau tuntutan hak sosial dan politik. Maka tidak heran jika perempuan Barat pada zaman industri dibingungkan oleh dua pilihan; apakah menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga.199

Secara historis, suara-suara feminis mulai terdengar di Barat (dalam hal ini Eropa) pada abad pertengahan di mana gereja, pada saat itu berperan sebagai sentral kekuatan dan Paus sebagai pemimpin gereja, menempatkan dirinya sebagai pusat dan sumber kekuasaan. Menurut Adian Husaini dalam Tinjauan Historis Konflik Yahudi, Kristen, Islam, sampai abad ke-17, gereja masih tetap mempertahankan hegemoninya, berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja, dianggap heresy dan dihadapkan ke Mahkamah Inquisisi.200

Robert Held, dalam bukunya Inquisition, sebagaimana dikutip Adian Husaini dalam Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh gereja ketika itu. Dipaparkannya lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksa yang sangat brutal, seperti alat pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia,

198

Ibid., hlm. xxi.

199

Hamid Fahmy Zarkasyi, Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, vol. III no. 5, 2010, hlm. 4-5.

200

150 | S T U D I I S L A M I I I

pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah perempuan. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan sekitar 2 sampai 4 juta wanita telah dibakar hidup-hidup di daratan Katolik maupun Protestan Eropa.201

Inilah titik ekstrim di mana masyarakat Barat, khususnya perempuan, ingin melepaskan diri dengan sebebas-bebasnya dan lepas kendali dari kekejian doktrin-doktrin gereja yang sangat ekstrim dan tidak sesuai dengan kodrat manusia. Munculnya perlakuan biadab tersebut karena didasari anggapan negatif terhadap kaum perempuan.

Maududi berpendapat, sebagaimana yang dikutip Dinar Dewi Kania dalam Isu Gender: Sejarah dan Perkembangannya, ada dua doktrin dasar gereja yang membuat kedudukan perempuan di Barat abad pertengahan tak ubahnya seperti binatang. Pertama, gereja menganggap perempuan sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan jahat. Perempuanlah yang menjerumuskan laki-laki ke dalam dosa dan kejahatan, dan menuntunnya ke neraka. Tertullian (150 M) sebagai Bapak Gereja pertama menyatakan bahwa wanita yang membukakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan membuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan.202

Doktrin gereja lainnya yang menentang kodrat manusia dan memberatkan kaum perempuan adalah menganggap hubungan seksual antara pria dan wanita adalah peristiwa kotor walaupun mereka sudah dalam ikatan perkawinan sah. Hal ini berimplikasi bahwa menghindari perkawinan adalah simbol kesucian, kemurnian, dan ketinggian moral. Jika seseorang menginginkan hidup dalam lingkungan agama yang bersih dan murni, maka lelaki tersebut tidak diperbolehkan menikah, atau mereka harus berpisah dari istrinya, mengasingkan diri, dan pantang melakukan hubungan badan. Kehidupan keras yang dialami

201

Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Jakarta: GIP, 2005, cet. I, hlm. 15-16. Menurut Adian Husaini, masyarakat Barat seperti terjebak dalam berbagai titik ekstrimdan lingkaran setan yang tiada ujung pangkal dalam soal nilai. Mereka berangkat dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya. Lihat, Adian Husaini, Kesetaraan Gender: Konsepe dan Dampaknya terhadap Islam, dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam “Islamia”, vol. III, no. 5, 2010, hlm. 15.

202 Dinar Dewi Kania, Isu Gender:Sejarah dan Perkembangannya, dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban ISLAMIA, vol. III no. 5, 2010, hlm. 28.

151 | S T U D I I S L A M I I I

oleh perempuan-perempuan pada saat gereja memerintah Eropa tertuang dalam essai Francis Bacon yang berjudul Marriage and Single Life pada tahun 1612.203

Pada awal mula Abad Pencerahan yaitu abad ke-17, saat Bacon menulis essainya tentang kondisi perempuan Inggris saat itu yang mengalami kehidupan sulit dan keras. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan Ratu Elizabeth. Saat itu yang bertindak sebagai penguasa adalah Raja James I, dan ternyata ia sangat membenci perempuan. Pembunuhan dan pembakaran terhadap perempuan-perempuan yang diruduh sebagai ―nenek sihir‖ yang dipelopori oleh pendeta, pada dasarnya merupakan ekspresi anti perempuan. Hukuman yang brutal dijatuhkan kepada seorang perempuan yang melanggar perintah suaminya. Tradisi ini mengembangkan pemikiran bahwa perempuan menyimpan bibit-bibit keburukan sehingga harus terus menerus diawasi dan ditertibkan oleh anggota keluarganya yang laki-laki atau suaminya bila ia sudah menikah. Pemikiran ini membawa konsekuensi bagi pemikiran lainnya seperti ide bahwa lebih baik seorang laki-laki tinggal sendiri, tidak menikah, dan jauh dari perempuan. Hidup tanpa nikah ini merupakan kehidupan laki-laki, jauh dari pengaruh buruk dan beban anak-anak sehingga laki-laki bisa berkonsentrasi pada dunia publiknya.204

Hal senada juga paparkan secara mendalam oleh Syamsuddin Arif dalam karyanya Orientalis dan Diabolisme Pemikiran yang berkaitan dengan ‗pandangan sebelah mata‘ terhadap perempuan (misogyny) dan berbagai macam anggapan buruk (stereotype) serta citra negatif yang dilekatkan kepada mereka. Semua itu bahkan telah mengejawantah dalam tata nilai masyarakat, kebudayaan, hukum, dan politik. Pakar Ibn Sina205 yang menguasai lebih dari lima bahasa ini (Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Greek, Latin, Hebrew, dan lain-lain) menuturkan:

―Bagi tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristotle di zaman pra Kristen, diikuti oleh St. Clement dari Alexandria, St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas pada Abad Pertengahan, hingga John Locke, Roesseau, dan Nietzche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan memang tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak (hamba sahaya) dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Paderi-paderi Gereja

203

Ibid., lihat juga, Inayati Ashriyah, Ibadah Ringan..., hlm. 51.

204

Dinar Dewi Kania, Isu Gender..., hlm. 29.

205 Dalam penelitiannya semasa kuliah di ISTAC-IIUM (S2 dan S3), ia memang mengkaji tentang Ibn Sina. Pada tahun 1999 ia menyelesaikan program S2 dengan tesis Ibn Sina’s Teory of Intuition dibawah bimbingan Alparslan Acikgenc. Program S3 berhasil diselesaikannya pada 2004 dengan disertasi berjudul Ibn Sina’s

Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam, di bawah supervisi Paul

152 | S T U D I I S L A M I I I

menuding perempuan sebagai sumber malapetaka dan pembawa sial, biang keladi kejatuhan Adam dari surga. Ditujukan kepada perempuan, tercatat ungkapan Tertullian, ―Tidakkah engkau menyadari bahwa engkaulah si Hawa itu? Kutukan yang dijatuhkan Tuhan kepada kaum sejenismu akan terus memberatkan dunia. Karena bersalah maka engkau mesti menanggung derita. Engkau adalah pintu masuknya setan‖.

Dalam pandangan St. Jerome, wanita adalah akar dari segala kejahatan (the root of all evil). Penilaian serupa dinyatakan oleh St. John Chrycostom, ―Tidak ada gunanya laki-laki menikah. Toh, perempuan itu tidak lain dan tidak lebih merupakan lawan dari persahabatan, hukuman yang tak terelakkan, kejahatan yang diperlukan, godaan alami, musuh dalam selimut, gangguan yang menyenangkan, ketimpangan tabiat, yang dipoles dengan warna-warna indah. Tokoh sesudahnya, St. Augustine, bahkan menganggap hubungan intim antara suami istri sebagai perbuatan kotor. St. Albertus Magnus menguatkan: Perempuan adalah laki-laki yang cacat sejak awalnya, serba kurang dibanding laki-laki. Makhluk yang tidak pernah yakin pada dirinya sendiri dan cenderung melakukan berbagai cara demi mencapai keinginannya, dengan berdusta dan tipu muslihat ala iblis. Perempuan tidak cerdas namun licik, seperti ular berbisa dan setan bertanduk. Jika rasio menuntun laki-laki pada kebaikan, emosi menyeret perempuan pada kejahatan. Demikian pula St. Thomas Aquinas yang menyamakan perempuan dengan anak-anak, secara fisik maupun mental. Wajarlah jika kemudian peran wanita dibatasi dalam lingkup rumah tangga saja. Perempuan tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan laki-laki.206

Jelaslah, penindasan terhadap perempuan Barat di bawah pemerintahan gereja membuat suara-suara perempuan yang menginginkan kebebasan semakin menggema di mana-mana. Perempuan Barat menjadi makhluk lemah dan tidak berdaya dilihat dari hampir seluruh aspek kehidupan. Hal itulah yang mendorong para perempuan Barat bergerak untuk mendapatkan kembali hak individu dan hak sipil mereka yang terampas selama ratusan tahun.

Latar belakang perempuan Barat yang kelam akhirnya memunculkan gerakan-gerakan perempuan yang menuntut hak dan kesetaraan dengan kaum laki-laki serta mulai mempersoalkan masalah perceraian, prostitusi, dan peran gereja dalam mensubordinasi perempuan.

206

153 | S T U D I I S L A M I I I

Revolusi yang terjadi di Eropa membuat gerakan perempuan mendapatkan kesempatan untuk ikut menyuarakan kepentingan mereka. Pada Revolusi Puritan di Inggris Raya pada abad 17, kaum perempuan Puritan berusaha untuk mendefinisakan ulang area aktifitas perempuan dengan menarik legitimasi dari doktrin-doktrin yang menjadi otoritas bapak, laki-laki, pendeta, dan pemimpin politik. Revolusi Puritan telah menghasilkan ferment di mana semua bentuk hierarki ditulis semua oleh anggota sekte yang radikal di Inggris Raya. Pada tahun 1890, kata feminis digunakan untuk mendeskripsikan kampanye perempuan pada pemilihan umum ketika banyak organisasi telah didirikan di Inggris untuk menyebarkan ide liberal tentang hak individual perempuan.207

Revolusi Prancis (1789) juga telah memberi pengaruh besar pada gerakan perempuan di Barat. Kaum perempuan pada saat itu terus bergerak memanfaatkan gejolak politik di tengah revolusi yang mengusung isu liberty, equality, dan fratenity. Pada bulan Oktober 1789 perempuan-perempuan pasar di Prancis berjalan dari Versailles yang diikuti oleh pasukan keamanan nasional. Roti hilang dari pasaran, para perempuan miskin melakukan aksi masa menuntut Raja agar mengontrol harga dan konsumsi dan menyediakan roti murah bagi rakyat. Di Prancis saat itu masyarakat terpecah menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok modrat yang masih menghendaki Konstitusi Monarki dan kelompok radikal yang menginginkan Monarki berakhir. Gerakan perempuan aktif mendukung kelompok radikal yang mendukung ide-ide Republik, walaupun kemudian akhirnya mereka terlibat pertikaian politik antar faksi-faksi yang ada. Dan akhirnya pada tahun 1792, kaum perempuan memperoleh hak untuk bisa bercerai dari suaminya.208

Dua feminis yang terkemuka, Lucretia Mott dan Elizabeth Cady Stanton, pada tahun 1848 mengorganisir pertemuan akbar Konvensi Hak-Hak Perempuan di Seneca Falls yang dihadiri oleh 300 peserta laki-laki dan perempuan. Pertemuan itu kemudian menghasilkan deklarasi yang menuntut reformasi hukum-hukum perkawinan, perceraian, properti, dan anak. Di dalam deklarasi tersebut mereka memberi penekanan pada hak perempuan untuk berbicara dan berpendapat di dunia publik. Konvensi di Seneca Falls merupakan bentuk protes kaum perempuan terhadap pertemuan akbar konvensi

207Ibid., hlm. 30.

208

154 | S T U D I I S L A M I I I

penghapusan perbudakan sedunia pada tahun 1840, di mana kaum perempuan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.209

Pada awal abad 20 feminisme mulai digunakan di Amerika dan Eropa untuk mendeskripsikan elemen khusus dalam pergerakan perempuan yang menekankan pada keistimewaan dan perbedaan perempuan, daripada mencari kesetaraan. Feminisme digunakan untuk mendeskripsikan tidak hanya kampanye politik untuk pemilihan umum tetapi juga hak ekonomi dan sosial, seperti pembayaran yang setara (equal pay) sampai KB atau birth control. Dari sekitar perang dunia I, beberapa perempuan muda meyakinkan bahwa feminisme saja tidak cukup, kemudian mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai feminis sosialis. Kaum sosialis perempuan yang lain menentang feminisme. Mereka melihat feminisme hanya mengekspresikan secara eksklusif kepentingan perempuan kelas menengah dan profesional.210

Kaum feminis kemudian mengembangkan konsep gender pada tahun 1970 sebagai alat untuk mengenali bahwa perempuan tidak dihubungkan dengan laki-laki di setiap budaya dan bahwa kedudukan perempuan di masyarakat pada akhirnya berbeda-beda. Kemudian wacana gender diperkenalkan oleh sekelompok feminis di London pada awal tahun 1977. Sejak itu para feminis mengusung konsep gender equality atau kesetaraan gender sebagai mainstream gerakan mereka. Untuk itu perlu untuk dipaparkan apa itu feminisme.

209Ibid.

210

155 | S T U D I I S L A M I I I

BAB XII