• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERTUNJUKAN BARONGSAI DI KOTA TEBING TINGGI

3.6 Pendukung Pertunjukan

3.6.4 Panggung

Di Kota Tebing Tinggi, sebenarnya pertunjukan barongsai tidak sering ditampilkan diatas panggung. Tetapi, disana lebih sering mengadakan pawai / arak arakan barongsai yang mengelilingi Kota Tebing Tinggi. Namun, barongsai juga mau diadakan di depan panggung pada saat acara ritual sembahyang Buddha di vihara dan acara hiburan di rumah rumah sesuai permintaan masyarakat.

3.6.5 Kostum

Dahulu, kostum yang dibuat pada bagian kepala singa ( Sam Sie ) dibuat mengikuti adat istiadat masyarakat Tionghoa dalam bentuk ukirannya.

Warna kostum singa juga dahulu menggunakan beberapa warna saja. Tetapi, pada

masa sekarang ini, ukirannya lebih bersifat modern, dan kostum singa sekarang pun sudah banyak warna yang digunakan mengikuti permintaan masyarakat. Pada saat hari raya Tahun baru China, biasanya model baru kepala tarian singa bertambah pada sambutan Tahun Baru Cina. Kepala singa juga terbagi dua jenis yaitu Fu San (mulut besar) dan He san (mulut muncung seperti itik). Sam Sie memiliki lingkar kepala 135-140 cm, dengan tinggi kepala 60 cm. Walaupun ukuran kepala singa berbeda beda, tetapi ukuran panjang ekor kostum singa tetap sama yaitu dua meter. Tetapi, ada juga kostum singa yang memiliki panjang ekor hingga tiga meter. Sehingga, panjang kostum singa dari kepala ke ekor mau mencapai hingga empat meter.

Kostum yang sering digunakan di Indonesia adalah kostum singa selatan yaitu Fat San dan Hok San. Begitu juga Tim HSS di Kota tebing Tinggi juga menggunakan

kostum singa selatan. Warna kostum yang sering dipakai tim barongsai HSS yaitu : biru, merah dicampur dengan hitam, kuning, pink, dan putih. (Irawan , 2013:53) mengatakan bahwa “warna merupakan ungkapan jiwa dan warna berpengaruh terhadap jiwa”. Warna adalah salah satu unsur seni rupa yang membuat suatu ciptaan para seniman terasa hidup dan lebih ekspresif.

Singa merupakan hewan yang paling dihormati bagi masyarakat Tionghoa dan ada lima lambang warna singa yaitu, kuning, hitam, hijau, merah, dan putih yang merupakan warna kostum barongsai tradisional. Lima warna itu adalah tanda dari lima arah dalam kompas Tiongkok yang memiliki kontrol dan lima unsur kehidupan. Kuning adalah bumi (pusat), hitam adalah air (utara), hijau adalah kayu (timur), merah adalah api (selatan), dan putih adalah logam (barat).

Setiap warna kostum barongsai yang digunakan tersebut mencerminkan keadaan acara apa yang sedang di laksanakan. Pada perkembangan modern kostum barongsai saat ini, terdapat kostum barongsai dengan warna lain seperti biru,

merah jambu dan lain-lain. kostum barongsai dengan warna baru ini tidak memiliki makna tertentu, hanya sebagai keindahan dan atas dasar pertimbangan estetika saja. Beberapa makna lain dari warna kostum singa, yaitu warna kuning merupakan lambang kebijaksanaan, dan warna Kekaisaran seperti halnya di Cina hanya digunakan bagi Kaisar. Warna dasar merah yang bercampur dengan warna hitam melamangakan keberanian, kebajikan dan kesetiaan. Putih yang berarti suci, bersih, jujur, terang, kebenaran dan murni. Sedangkan warna kostum barongsai yang digunakan Tim HSS di Kota Tebing Tinggi yaitu, merah, kuning, biru, putih, dan merah muda.

BAB IV

ANALISIS MUSIK BARONGSAI

4.1 Analisis Musik Barongsai

Dalam pertunjukan barongsai di Kota Tebing Tinggi saat melakukan atraksi, musik mengikuti setiap gerakan dari barongsai/ singa. Seperti gerakan saat singa diam dengan mengedipkan mata, singa sedang tidur, mabuk, marah, sedih, senang, melompat, berjalan, minum dan takut. Berikut dinamika permainan musik barongsai yang mengikuti ekspresi dari singa :

a. Musik barongsai yang dimainkan dengan tempo yang cepat dan bersemangat merupakan ekspresi singa yang sedang bergembira dengan cara berjalan dan melompat.

b. Alat musik barongsai yang dipukul dengan pukulan yang kuat dan tempo yang cepat sehingga menghasilkan suara yang keras merupakan ekspresi singa yang sedang marah.

c. Musik yang dimainkan dengan tempo yang lambat dengan pukulan yang lembut merupakan ekspresi singa yang sedang tidur dan minum.

d. Musik yang dimainkan dengan pukulan yang pelan dan tempo yang lambat merupakan ekspresi singa yang sedang merasa sedih.

e. Sedangkan musik yang dipukul dengan tempo yang lambat dan pelan serta terkadang ketukan irama yang tersentak sentak merupakan ekspresi singa yang sedang ketakutan.

4.2. Transkripsi

Nettl (1964:98) menyatakan bahwa transkripsi adalah proses penotasian bunyi yang merupakan suatu usaha mendeskripsikan musik yang memberikan dua pendekatan, yaitu:

1. menganalisa dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan

2. mendeskripsikan apa yang dilihat dan menulisnya di atas kertas dengan suatu cara penulisan tertentu.

Dari kedua hal di atas untuk dapat memvisualisasikan musik iringan pada pertunjukan barongsai, penulis melakukan transkripsi untuk lebih mudah menganalisisnya terutama pada ritme dan tempo. Sehingga dengan ini dapat membantu kita untuk mengkomunikasikan serta menyampaikan kepada pembaca tentang apa yang kita dengar.

Dalam pentranskripsian penulis menggunakan notasi Barat untuk mempermudah penulisan. Keberadaan musik pengiring dalam pertunjukan barongsai ini sangat penting untuk menghitung tempo gerakan penari barongsai. Analisis hanya dilakukan pada ritme yang dimainkan oleh musik pengiring saja. Akan tetapi, ada tahap awal yang digunakan untuk latihan sebelum mempelajari musik pengiring pertunjukan barongsai, yaitu disebut basic ini harus bisa dimainkan oleh semua pemain musik. Berikut transkripsi basic yang penulis buat dengan menggunakan notasi barat

Ritem Pengiring Barongsai

Transkripsi: Omega Putri Silitonga

4.2.1 Analisis Pola Rytem

Keberadaan musik pengiring dalam pertunjukan barongsai ini sangat penting untuk menghitung tempo gerakan penari barongsai. Analisis hanya dilakukan pada ritme yang dimainkan oleh musik pengiring saja.

Pawai musik barongsai berikut dimainkan dengan durasi sekitar 120 menit, menggunakan birama 4/4 dan penulis mendapat ritme sebanyak 27 birama yang terdiri dari delapan pola ritme. Berikut transkripsi yang penulis buat dengan notasi dari musik barongsai yang digunakan saat pertunjukan barongsai di Kota Tebing Tinggi :

a. Koot Fa Tau

Koot Fa Tau merupakan musik yang dimainkan diawal pertunjukan barongsai, yaitu barongsai membuat penghormatan kepada penonton.

b. Mat Dim

Mat Dim merupakan teknik permainan setelah barongsai melakukan penghormatan. Di bagian ini barongsai melakukan gerakan lompat ditempat sebanyak 2 kali.

c. Soh Dim

Soh Dim merupakan teknik permainan musik saat barongsai melakukan gerakan melangkah maju kedepan.

d. Tam Bo

Tam Bo merupakan musik yang dimainkan saat barongsai mengedipkan mata kanan dan kiri untuk melihat makanan yang disebut Cai Jing.

e. Jung Ching

Jung Ching merupakan teknik permainan musik saat barongsai sedang menggaruk badannya.

f. Boon Ching

Boon Ching merupakan teknik permainan musik saat barongsai melangkahkan kaki maju kedepan sebanyak 7 kali.

g. Ha Ching

Setelah barongsai melangkahkan kaki maju kedepan 7 kali, barongsai melakukan gerakan melangkahkan kaki ke tonggak pilar dan melihat Cai Jing (makanan yang dilihat barongsai seperti daging tetapi setelah barongsai

memakan, ia memuntahkannya karena makanan tersebut adalah sayur). Pada saat barongsai melakukan gerakan ini musik yang dimainkan yaitu Ha Ching.

h. Chik Ching

Chik Ching merupakan teknik permainan musik saat barongsai sudah berada diatas tonggak pilar.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan dari bab satu sampai empat, maka ada dua kesimpulan yang didapat oleh penulis, yaitu sebagai berikut.

Barongsai merupakan tarian singa dari kebudayaan masyarakat Tionghoa. Mereka

percaya bahwa barongsai dapat memberi keberuntungan, kesuksesan dan dapat menolak kesialan dan hawa jahat. Begitu juga dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa yang ada di Kota Tebing Tinggi. Pertunjukan barongsai yang ada di Kota Tebing Tinggi di pergelarkan pada acara ritual dan hiburan. Tim barongsai HSS biasa mempertunjukkan barongsai dengan mengadakan pawai yaitu dengan cara barongsai diarak mengelilingi Kota Tebing Tinggi. Pada acara hari besar Buddha yang salah satunya Imlek, barongsai yang ada di Kota Tebing Tinggi lebih banyak dipertunjukkan yaitu selama seminggu berturut-turut dengan mengadakan pawai dan dipertunjukkan juga di Vihara pada saat melakukan upacara ritual.

Alat musik yang digunakan mengiringi barongsai adalah tambur, simbal, dan gong. Tiga alat musik ini yang dapat disebut ensambel musik selalu ada dalam pertunjukan barongsai dan tidak pernah dan ditambah dengan alat musik lain. Dalam pertunjukan barongsai, bukan penari barongsai yang mengikuti musik melainkan pemusik yang mengikuti gerakan dari barongsai. Jadi, ketika pertunjukan dimulai penari barongsai yang terlebih dahulu menggerakkan

tubuhnya setelah melakukan penghormatan lalu pemusik pun mengikutinya.

Musik barongsai dimainkan tergantung kepada penari dan pemain musik. Ritem dan cara memainkan barongsai pada saat upacara ritual dan hiburan sama saja, tidak ada perbedaan sama sekali karena hanya berfungsi sebagai musik pengiring yang pola ritem nya sudah termemori dalam pikiran penari dan pemain musik karena adanya hubungan emosional musikal.

5.2 Saran

Dari pembahasan dan beberapa kesimpulan yang telah diuraikan, ada saran yang akan penulis kemukan, mengingat semakin berkembangnya zaman penulis menyarankan kepada masyarakat khususnya pemuda/pemudi Tionghoa untuk tetap mencintai budaya dan tradisi yang ada serta memberikan perhatian baik terhadap kesenian yang ada terkhusus pada pertunjukan barongsai agar tetap ditampilkan pada saat hari besar Buddha.

Penelitian ini merupakan tahap awal dan masih banyak terdapat kekurangan serta perlu mendapatkan penyempurnaan. Penelitian ini hanyalah sebahagian kecil permasalahan yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu penulis menyarankan dan mengharapkan kepada siapa saja yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini untuk lebih mendalam lagi, sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan Etnomusikologi dan sebagai dokumentasi data mengenai kebudayaan masyarakat Tionghoa.

Kebudayaan barongsai ini perlu dilestarikan dan dibina serta dikembangkan sehingga generasi berikutnya dapat mempertahankan keberadaannya di tengah

masyarakat. Penulisan tentang musik dalam pertunjukan barongsai ini merupakan salah satu upaya pelestarian serta kesenian terhadap masyarakat Tionghoa dan masih diperlukan usaha yang lain sebagai penunjang kreatifitas, sehingga pelestarian kesenian ini tetap terjaga dan tidak hilang.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga tulisan ini dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap apresiasi budaya dan pengetahuan terhadap ilmu pengetahuan secara umum dan bidang Etnomusikologi secara khusus.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. Kota Tebing Tinggi

https://kotatebingtinggi.files.wordpress.com/2015/10/ipm2013-kota-tebing-tinggi.pdf diakses tanggal 10 Oktober 2018

Breman, Jan. 1997. Menjinakkan SangKuli. Jakarta. Grafiti

Edi, Sedyawati. 1981 Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta, Pustaka Jaya Irawan, 2013. Dasar-Dasar Desain. Depok: Griya Kreasi.

Jurnal Seni dan Budaya Vol. 1 Nomor 2. 2017. UNIMED

Kusumaningtyas, Diah Ayu 2009. Peran Seni Pertunjukan Barongsai Dalam Pengembangan Wisata Budaya di Kota Surakarta

Lubis, Ismalia 2012 . Etnik Tionghoa dan Pasar Hongkong di Tebing Tinggo Kota (1974-2012). Undergraduate thesis, UNIMED.

Mayolla, Siti S A. 2017. Pertunjukan Tari Liong ( Naga) Oleh Grup Naga dan Barongsai Vihara Setia Buddha Binjai, Medan : Skripsi USU

Merriam, Alan P. 1964 The Anthropology of Music. Chicago: Northwestern University Press

Moleong, J. Lexy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.

Nettl, Bruno. 1964 Theory and Method in Ethnomusicology. New York The Free Press of Glenco

Poerwanto, Hari. 2006. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ridna, 2015. Makna Simbolik Seni Pertunjukan Barongsai dalam Kebudayaan Tionghoa Di Kota Pekan Baru. Pekan Baru, Jurnal UNRI

Saragih, Raulina E M. 2012 Kajian Struktur dan Makna Pertunjukan Barongsai Pada Masyarakat Tionghoa di Medan, Medan : Thesis USU

Sariwati, 2011. Usik Barongsai dalam Masyarakat Etnis Cina di Vihara Ibu Agung Bahari Makassar

Saputra, Ferry Ferdian. 2015 Komunitas Etnis Tionghoa di Kota Tebing Tinggi, Medan : Thesis Unimed

Sembiring, Karina. 2017 Altar Sembahyang Untuk Dewi KWAN IM Pada Rumah Masyrakat Tionghoa Buddha Di Medan: Skripsi USU

Siahaan, Yudhistira. 2012 Kajian Musikal dan Fungsi Pertunjukan barongsai ada perayaan Cap Go Meh Masyarakat Tionghoa di Maha Vihara Maitreya, Komplek Perumahan Cemara Asri, Medan : Skripsi USU

Silaban, Eben Ezer. 2009. Studi Deskriptif Upacara Sacapme dan Penggunaan Musik pada Sembahyang Malam Tahun Baru Gong Xi Fat Cai di Vihara Pekong Kelurahan Polonia dalam Budaya Masyarakat Tionghoa Kota Medan. Medan : Skripsi Sarjana Etnomusikologi USU

Suyono, Aryono. 1985, Kamus Antropologi, Jakarta : Akademi Persindo.

Wikipedia, Encyclopedia

https://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_Indonesians diakses tanggal 12 November 2018

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Suhu Dharma Surya Usia : 51 Tahun

Alamat : Jl Tengku Hasyim Gg Saudara No 15, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Wiraswasta

2. Nama : Acek Ameng

Usia : 60 Tahun

Alamat : Jl. Sudirman no 27, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Wiraswasta

3. Nama : Kumara Chandra

Usia : 23 Tahun

Alamat : Jl Tengku Hasyim Gg Saudara No 15, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Wiraswasta

4. Nama : Ferdy Chen Usia : 28 Tahun

Alamat Jl Sudirman no 44, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Wiraswasta

5. Nama : Edi Usia : 15 Tahun

Alamat : Jl Letjend Suprapto No 22, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Pelajar

6. Nama : Andi Usia : 20 Tahun

Alamat : Jl Gatot Subroto No 30A, Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Wiraswasta

7. Nama : Antonio Usia : 17 Tahun

Alamat : Jl Griya Bulian Permai, blok B Kota Tebing Tinggi Pekerjaan : Pelajar

Dokumen terkait