C. Analisis Hukum Proses Pelaksanaan Diversi Dalam Tindak
3. Pelaksanaan Diversi Dalam Tindak Pidana Pencurian
Anak yang melakukan tindak pidana perdagangan orang pada hakekatnya selain berkapasitas sebagai pelaku tindak pidana juga sebagai korban dari dilakukannya tindak pidana pencurian dengan kekerasan. Dikatakan pelaku berkapasitas sebagai pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan karena anak
166Ibid., hal. 61
167Ibid.,
tersebut telah melakukan perbuatan yang sesuai dengan rumusan Pasal 365 KUHP.
Sebaliknya sebagai korban dalam hal terjadinya tindak pidana karena kapasitasnya yang masih berstatus sebagai anak, dimana dalam hal ini hak dan kepentingannya sebagai anak perlu mendapatkan perlindungan.
Suatu kejahatan, kenakalan atau perbuatan pidana yang dilakukan oleh seseorang pasti memiliki penyebab yang menjadi latar belakang mengapa perbuatan itu dilakukan. Faktor-faktor yang mendorong perbuatan itu dilakukan sering juga disebut sebagai motivasi dimana didalamnya mengandung unsur niat, hasrat, kehendak, dorongan kebutuhan, cita-cita yang kemudian diwujudkan dengan lahirnya perbuatan-perbuatan, demikian pula perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak tidak terlepas dari faktor yang mendukung anak yang melakukan perbuatan pidana.
Menurut Kartini Kartono, perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri, faktor yang mendorong anak melakukan perbuatan pidana yang berasal dari dirinya sendiri yang meliputi beberapa hal yaitu:168
a. Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan.
b. Meningkatkan agresifitas dan dorongan seksual.
c. Salah asuhan, salah didik dari orang tua sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya.
d. Hasrat untuk berkumpul dengan teman-teman senasib dan sebaya menjadi kesukaan untuk meniru-niru.
e. Kecenderungan pembawaan yang patologis.
f. Konflik batin sendiri dan kemudian mempergunakan mekanisme pelarian diri yang irasional.
168http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/59071/Chapter%20II.pdf?sequence
=3, diakses tanggal 9 Agustus 2017, Pukul 17:51 WIB
Menurut Kartini Kartono Faktor ekstern adalah faktor yang lahir dari luar dari anak faktor ini terdiri dari beberapa hal yaitu169:
a. Faktor Lingkungan Keluarga b. Faktor Lingkungan Sekolah
c. Faktor mass media atau media massa
Selain itu Hakim Sri wahyuni170juga mengatakan bahwa anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan adalah anak pelaku tindak pidana sekaligus anak tersebut adalah sebagai korban karena ada banyak faktor yang mempengaruhi anak melakukan tindak pidana yaitu :
a. Faktor ekonomi, dimana selazimnya seorang anak mendapat jajan dari orang tuanya untuk membeli kebutuhannya tetapi orang tua anak tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan anak begitu juga dengan
b. Faktor pergaulan, dalam hal ini anak terpengaruh dengan ajakan temannya yang sudah terbiasa dan berulang kali melakakukan pencurian dengan kekerasan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa anak dalam melakukan tindak pidana dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga dalam konteks ini maka posisi anak menjadi korban akibat beberapa faktor tersebut.
Berkaitan dengan itu, karena anak yang melakukan tindak pidana berkapasitas sebagai pelaku sekaligus korban, maka dalam rangka menyelesaikan
169Ibid.
170 Wawancara kepada Hakim Anak di Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 29 mei 2017
tindak pidana yang dilakukan anak tersebut perlu mempertimbangkan kepentingan anak.
Jika merujuk berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia ini tampak bahwa perlakuan terhadap anak yang melakukan tindak pidana, ditentukan sebagai berikut:
1. Setiap anak berhak untuk tidak dipisahkan dari orangtuanya, kecuali jika ada alasan dan aturan hukum yang sah yang menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak.
2. Hak anak untuk tetap bertemu langsung dan berhubungan pribadi secara tetap dengan orang tuanya tetap dijamin oleh undang-undang.
3. Berhak untuk tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.
4. Hukuman mati atau hukuman seumur hidup tidak dapat dijatuhkan untuk pelaku tindak pidana yang masih anak.
5. Penangkapan, penahanan atau pidana penjara anak hanya boleh dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir.
6. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan dengan orang dewasa, kecuali demi kepentingannya.171
Salah satu bentuk perlindungan kepentingan kepada anak sebagai pelaku tindak pidana melalui proses diversi. Secara normatifnya proses diversi berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (2) undang-undang No. 11 tahun 2012 tetang SPPA berbunyi diversi haya dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang ancaman hukumannya di bawah 7 (tujuh) dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana. Tetapi dalam rangka untuk melindungi kepentingan anak pelaku tindak pidana karena berkapasitas sebagai pelaku sekaligus korban, maka hakim dapat melakukan penerobasan hukum
171 https://media.neliti.com/media/publications/43220-ID-reformasi-perlindungan-hukum-terhadap-anak-sebagai-pelaku-tindak-pidana-dalam-pe.pdf diakses tanggal 9 Agustus 2017 pukul 17:48
dengan dasar argumentasi untuk melindungi kepentingan anak dengan memperhatikan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia.
Sebagai contoh dapat dilihat mengenai perbedaan ancaman hukuman pencurian biasa dengan ancaman pencurian dengan kekerasan dimana pencurian biasa di ancam dengan ancaman 5 (lima) tahun penjara sedangkan pencurian dengan kekerasan diancam dengan ancaman 9 (sembilan) tahun penjara.
Bila dihubungkan dengan syarat-syarat yang dapat dilakukan diversi sebagaimana yang diatur pada Pasal 7 ayat (2) SPPA yaitu ancaman hukumannya di bawah 7 (tujuh) tahun, dan bukan merupakan pengulangan tindak pidanamaka secara norma pencurian dengan kekerasan tidak dapat dilakukan diversi karena telah di batasi oleh syarat-syarat yang dapat dilakukannya diversi.
Berdasarkan hasil wawancara kepada Riana Pohan selakuHakim anak di Pengadilan Negeri Medan. Ia mengatakan sejauh ini belum pernah ada melakukan diversi kepada anak pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasankarena terhalang oleh batasan ancaman tindak pidana yang di lakukan oleh anak terlalu tinggi sehingga kemungkinan diversi cukup minim. Sebaliknya hakim dapat mengupayakan diversi kepada anak yang melakukan tindak pidana yang ancaman hukumannyadi bawah 7 tahun seperti pencurian biasa yang diatur dalam pasal
362KUHP dimana ancaman tersebut tidak menjadi persoalan mengenai syarat yang dapat dilakukan diversi dalam undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang SPPA.172
Adapun Diversi pada kasus pencurian dengan kekerasan yang dilakukan oleh anakdi Pengadilan Negeri Medan dapat dilihat dari Tabel berikut :
Tabel 1. Perkara Pencurian dengan Kekerasan yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Medan dari tahun 2015 s/d 2016.173
Tahun Jumlah
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa di Pengadilan Negeri Medan sejak tahun 2015 s/d 2016 belum perah dilakukan diversi terhadap anak pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan.
Menurut Sri wahyuni174 tidak dilakukannya diversi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan karena hakim anak berpedoman kepada Pasal 3 PERMA Nomor 4 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversidalam SPPA yang mengatur mengenai salah satu yang dapat dilakukannya diversi yaitu dakwaan subsidairitas, alternatif, kombinasi (gabungan).
172Wawancara kepada Hakim Anak Riana Pohan Pengadilan Negeri Medan Pada Tanggal `10 Mei 2017.
173Perkara pencurian dengan kererasan yang dilakukan oleh anak dari tahun 2015 s/d 2016 di pengadilan Negeri Medan.
174Wawancara kepada hakim anak Sri Wahyuni di pengadilan Negeri Medan pada tanggal 29 Mei 2017
Berkaitan dengan itu, maka pelaksanaan diversi pada kasus pencurian Pasal 362 KUHP di Pengadilan Negeri Medan dapat dijelaskan dengan proses pelaksanaan diversi yang telah dilakukan sesuai dengan Penetapan No. 61/Pid.Sus-Anak/2016/PN.Mdn.
Penetapan Nomor. 61/Pid.Sus-Anak/2016/PN.Mdn. terkait dengan kasus pencurian yang melibatkan Arya Perdana melakukan pencurian terhadap sepeda motor Merk Yamaha Mio milik Ismaildimana atas perbuatannya itu dilakukan Diversi yang meliputi tahap-tahap sebagai berikiut :175
1. Ketua Pengadilan Negeri Medan menetapkan Hakim untuk menangani perkara terdakwa anak dalam jangka waktu 3 (tiga) hari dan & (tujuh) hari terhitung setelah penetapan ketua pengadilan maka hakim wajib menawarkan kepada anak dan atau orangtua wali korban dalam hal ini Arya Perdana untuk menyelasaikan perkara melalui diversi dengan pendekatan keadilan restoratif;
2. Setelah pihak korban sepakat untuk dilakukannya diversi maka selanjutnya dilakukan musyawarah yang dibuka dan dinyatakan tertutup untuk umum oleh Fasilitator diversidalam hal ini Morgan Simajuntak. Proses diversi dihadiri oleh fasilitator (Morgan Simajuntak) panitera pengganti (Ristasi Sinabariba), pembimbing kemasyarakatan BAPPAS (Bungain), korban (Ismail), Anak176 (Arya Perdana) dan orang tua anak (Harianto);
175 Berdasarkan hasil wawancara dengan Hakim Anak Riana Pohan di Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 10 Mei 2017
176Menggunakan terminologi anak kepada pelaku merupakan Salah bentuk perlindungan terhadap pelaku anak dalam rangka untuk menghindari stigmanisasi kepada anak sebagai pelaku kriminal.
3. Pada saat musyawarah dibuka oleh Fasilitator, fasilitator mengajukan pertanyaan kepada anak orangtua/korban untuk menyetujui dilakukannya musyawarah.
4. Setelah itu fasilitator memberikan kesempatan kepada pembimbing kemasyarakatan untuk membacakan laporan penelitian laporan kemasyarakatan;
5. Selanjutnya fasilitator diversi memberikan kesempatan kepada anak/
orangtua/korban untuk memberikan pendapat sebagai berikut :
a. Arya Perdana menerangkan bahwa ianya masih mau melanjutkan sekolah ke jenjang yag lebih tinggi dan berjanji tidak akan mengulangi lagi melakukan pencurian;
b. Orantua Arya Perdana menerangkan bahwa ianya bersedia mendidik dan menjaga anak Arya Perdana kearah yang lebih baik lagi dan tidak melakukan perbuatan tindak pidana yang melanggar hukum dan undang-undang;
c. Ismail selaku korban bersedia menerima ganti rugi atas sepeda motornya yang telah dicuri oleh anak Arya Perdana;
6. Selanjutnya fasilitator diversi memerintahkan kepada anak/orangtua/korban/penasihat hukum untuk menjelaskan tentang perbuatan yang telah dilakukan anak dan alasannya sebagai berikut :
a. Orantua Arya Perdana menerangkan anaknya Arya Perdana telah melakukan pencurian sepeda motor milik Ismail karena pengaruh dari temannya;
7. Berdasarkan diskusi dalam musyawarah tersebut, telah disepakati hal-hal sebagai berikut :
a. Orangtua Arya Perdana bersedia mendidik dan menjaga anak tersebut kearah yang lebih baik lagi dan berjanji tidak melakukan perbuatan tindak pidana yang melanggar hukum dan undang-undang;
b. Anak Arya Perdana berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya apalagi yang berhubungan dengan pencurian dan peraturan perundang-undangan dikemudian hari;
c. Bahwa orangtua anak yang bernama Harianto bersedia mengganti kerugian kepaa korban sebesar Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah);
d. Orangtua Arya Perdana bersedia mengawasi pergaulan anaknya sehingga tidak melakukan pencurian maupun melanggar hukum dan undang-undang;
e. Apabila kesepakatan ini tidak dipenuhi para pihak maka proses pemeriksaan dilanjutkan dalam proses persidangan;
8. Selanjutnya kesepakatan tersebut ditanda tangani oleh anak (Arya Perdana) orang tua anak (Harianto) dan korban (Ismail) yang disaksikan oleh pembimbing kemasyarakatan (Bungain),jaksa penuntut umum (riski Harahap), dan diketahui oleh fasilitator (Morgan Simajuntak). Seterusnya dibuatlah berita acara pelaksanaan diversi yang ditanda tangani oleh panitera penggati (Rista Sinabariba) dan Fasilitator Diversi (Morgan Simajuntak).
BAB III
HAKIM SELAKU FASILITATOR DALAM PROSES DIVERSI PADA KASUS ANAK SEBAGAI PELAKU PENCURIAN DENGAN KEKERASAN A. Gambaran Umum Mengenai Pengadilan Negeri Medan
Pengadilan Negeri Medan terletak di ibukota provinsi Sumatera Utara yakni kota Medan. Pengadilan Negeri Medan merupakan bekas gedung Landraad yang merupakan bangunan yang dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1911. Pengadilan Negeri Medan terletak di atas tanah seluas 5.336 M2 dengan luas bangunan 3379 M2. Bangunan Kantor Pengadilan Negeri Medan sekarang merupakan salah satu cagar budaya yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Medan yang mana bangunannya tidak boleh diubah secara fisik.177
Pengadilan Negeri Medan merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan umum. Tugas pokok Pengadilan Negeri Medan adalah sebagai berikut:
a. Mengadili dan menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya sesuai dengan Undang-Undang No. 84 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Peradilan Umum.
b. Menyelenggarakan Administrasi Perkara dan Administrasi Umum lainnya.178
Pengadilan Negeri Medan masuk dalam wilayah hukum Pengadilan Tinggi Sumatera Utara dan daerah hukumnya meliputi wilayahdengan luas kurang lebih 26.510 Km2 yang terdiri dari 21 kecamatan. Pengadilan Negeri Medan tidak hanya berfungsi sebagai peradilan umum yang menangani perkara perdata dan pidana, tetapi
177 http://www.pn-medankota.go.id/v3/index.php/tentang-kami/profil-pengadilan/sejarah-pengadilan diakses pada tanggal 10 Juni 2017
178Ibid.
juga memiliki pengadilan-pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan peradilan umum. Hal tersebut dimungkinkan berdasarkan Pasal 15 Undang-undangNo. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman: “Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan”. Pada Pengadilan Negeri Medan terdapat lima pengadilan khusus yang masing-masing memiliki kewenangannya sendiri sebagaimana dijelaskan berikut dibawah ini, antara lain :179
1. Pengadilan Niaga, dibentuk dan didirikan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 97 Tahun 1999. Kewenangan Pengadilan Niaga antara lain adalah untuk mengadili perkara Kepailitan, Hak atas Kekayaan Intelektual, serta sengketa perniagaan lainnya yang ditentukan oleh Undang-undang.180
2. Pengadilan HAM, dibentuk dan didirikan berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000. Kewenang Pengadilan HAM adalah untuk mengadili pelanggaran HAM berat, sebagaimana yang pernah terjadi atas kasus pelanggaran hak asasi berat di Timor-Timur dan Tanjung Priok pada Tahun 1984. Pelanggaran hak asasi tersebut tengah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 2001 atas pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang saat ini diubah melalui Keputusan Presiden Nomor 96 Tahun 2001.181
3. Pengadilan Anak, dibentuk dan didirikan berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997, yangmana merupakan implementasi dari Konvensi Hak Anak
179Ibid.
180Ibid.
181Ibid.
yang telah diratifikasi, bahwa setiap anak berhak atas perlindungan, baik terhadap eksploitasi, perlakuan kejam dan perlakuan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana. Dan Yurisdiksi Peradilan Anak dalam hal perkara pidana adalah mereka yang telah berusia 8 tetapi belum mencapai 18 Tahun.182
4. Pengadilan Perselisihan Hubungan Industri, dibentuk dan didirikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial merupakan pengadilan khusus di bawah pengadilan negeri di ibukota provinsi.183
5. Pengadilan Perikanan, dibentuk dan didirikan berdasarkan Undang-undang Nomor31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Peradilan ini berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus tindak pidana di bidang perikanan, dan berada di lingkungan Peradilan Umum dan memiliki daerah hukum sesuai dengan daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.184
6. Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, dibentuk dan didirikan berdasarkan amanat Pasal 53 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pengadilan ini memiliki yurisdiksi untuk menangani perkara korupsi dan berkedudukan di Jakarta185 Berdasarkan gambaran mengenai pengadilan negeri diatas, peneliti menjadikannya sebagai objek sebagai tempat penelitian karena berdasarkan perkara
182Ibid.
183Ibid.
184Ibid.
185Ibid.
anak pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang ditangani di Pengadilan Negeri Medan sesuai dengan undang-undang SPPA merupakan perkara yang sering diproses oleh pengadilan negeri medan186
B. Kedudukan Hakim selaku Fasilitator Dalam Proses Diversi
Menurut Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan KehakimanHakim adalah Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya dalamlingkungan peradilan umum, lingkungan peradilanagama, lingkungan peradilan militer, lingkunganperadilan tata usaha negara, dan hakim pada pengadilankhusus yang berada dalam lingkungan peradilantersebut.
Selanjutnya menurut Pasal 1 angka 8 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pengadilan Khusus adalah pengadilan yang mempunyaikewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutusperkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salahsatu lingkungan badan peradilan yang berada di bawahMahkamah Agung yang diatur dalam undang-undang.
Jika merujuk kepada Undnag-undang nomor 3 tahun 1997 mengenai Pengadilan anak dalam Pasal 2 berbunyi Pengadilan Anak adalah pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan Peradilan Umum. Dimana menurut ketentuan Pasal 1 angka 7 Hakim adalah Hakim Anak.
Menurut Pasal 11 Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 mengenai Pengadilan anak menyebutkan bahwa :
186 Perkara anak dari tahun 2015 s/d 2016 di Pengadilan Negeri Medan.
(1) Hakim memeriksa dan memutus perkara anak dalam tingkat pertama sebagai hakim tunggal.
(2) Dalam hal tertentu dan dipandang perlu, Ketua Pengadilan Negeri dapatmenetapkan pemeriksaan perkara anak dilakukan dengan hakim majelis.
(3) Hakim dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang Panitera atau seorang Panitera Pengganti.
Selain hal tersebut di atas jika merujuk kepada Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang SPPA menentukan bahwa pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak dipengadilan negeri wajib diupayakan diversi. Dalam hal ini yang dimaksud degan frasa “perkara anak” dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang SPPA adalah perkara tindak pidana yang diduga dilakukan anak.187
Jika hanya dilihat pada perumusan Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 saja, maka kesimpulannya adalah diversi memang hanya terbatas dapat diupayakan sampai pada tingkat pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri.
Dengan demikian, jika diingat bahwa tujuan dari diversi adalah seperti yang disebutkan dalam pasal 6 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012tentang SPPA dan pemeriksaan di Pengadilan Tinggi sifatnya adalah devolutif, artinya seluruh pemeriksan perkara dipindahkan dan diulangkan oleh pengadilan Tinggi yang
187 R. Wiyono, Op.cit, hal. 49
bersangkutan, maka ada alasan untuk membenarkan bahwa diversi dapat pula diupayakan pada tingkat pemeriksaan di Pengadialan Tinggi.188
Jika dilihat dari ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang SPPA, dapat diketahui bahwa perkara anak yang diwajibkan diversi pada tingkat pengadilan yang dilksanakan oleh hakim selaku fasilitator adalah perkara anak yang ancaman pidananya di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.
Penjelasan Pasal 7 ayat (2) huruf b Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA menyebutkan bahwa pengulangan tidak pidana dalam ketentuan ini merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh anak, baik tindak pidana sejenis maupun tidak sejenis, termasuk tindak pidana yang dieselesaikan melalui diversi.
Pegertian “tidak wajib diupayakan diversi” tersebut pengertiannya adalah tidak bersifat imperatif atau fakultatif. Artinya perkara anak yang tindak pidananya diancam pidana penjara diatas 7 (tujuh) tahun atau merupakan pengulangan tindak pidana, dapat saja diupayakan diversi.
M. Nasir Djamil189 mantan pimpinan panja RUU Sistem Peradilan Anak komisi III DPR RI mengemukakan bahwa ketentuan yang terdapat Dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 menjelasakan bahwa anak yang melakukan tindak pidana yan ancamannya lebih 7 (tujuh) tahun dan merupakan sebuah pengulangan, maka tidak wajib diupayakan diversi. Hal ini memang penting, mengingat kalau ancaman hukuman lebih dari 7 (tujuh) tahun tergolong pada tindak pidana berat dan merupakan pengulangan, artinya anak pernah melakukan tindak pidana, baik itu sejenis
188Ibid. hal 51
189 M. Nasir Djamil, Op.cit. hal. 139
maupun tidak sejenis termasuk tindak pidana yang diselesaikan melalui diversi. pengulangan tindak pidana oleh anak, menjadi bukti bahwa tujuan diversi tidak tercapai, yakni menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak untuk tidak mengulangi perbuatan yang berupa tindak pidana. Oleh karena itu, upaya diversi terhadapnya bias saja tidak wajib diupayakan.
Pasal 8 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA menyebutkan bahwa proses diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan anak dan orang tua/walinya, korban dan/atau orang tua atau walinya, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial professional berdasarkan pendekatan keadilan restoratif.
Penjelasan Pasal 8 ayat (1)Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA menyebutkan bahwa orangtua dan wali korban dilibatkan dalam proses diversi dalam hal korban adalah anak.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia190, yang dimaksud dengan musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah.
Dengan demikian, yang dimaksuddalam Pasal 8 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA adalah proses diversi dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dengan maksud dan tujuan yaitu mencapai keputusan diversi untuk mencapai persetujuan kesepakatan diversi.
Pasal 8 ayat (2) Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang SPPAmenyebutkan bahwa dalam hal diperlukan, disamping musyawarah melibatkan
190 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2003) hal. 768
para pihak sebagaiman dimaksud oleh Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA, juga melibatkan tenaga kesejahteraan sosial atau masyarakat.
Penjelasan Pasal 8 ayat (2)Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang SPPA menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat antara lain tokoh agama, guru, dan tokoh masyarakat.
Pasal 8 ayat (3) undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang SPPA menyebutkan bahwa proses diversi wajib memperhatikan :
a. Kepentingan korban;
b. Kesejahteraan dan tanggung jawab anak;
c. Penghindaran stigma negatif;
d. Penghindaran pembalasan;
e. Keharmonisan masyarakat;
f. Kepatutan, kesulitan, dan ketertiban umum.
pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012tentang SPPA ditentukan bahwa penyidik, penuntut umum, dan hakim harus mempertimbangkan antara lain sebagai berikut :191
a. Kategori tindak pidana.
Dalam penjelasan Pasal 9 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 disebutkan bahwa ketentuan ini merupakan indikator bahwa semakin rendah ancaman pidana semakin tinggi prioritas diversi. Diversi tidak dimaksudkan untuk melaksanakan terhadap tindak pidana yang serius, misalnya pembunuhan, pemerkosaan, pengedar narkotika, dan terorisme yang diancam pidana diatas 7 (tujuh) tahun.
b. Umur anak.
191R. Wiyono, Op.Cit., hal. 54
Dalam penjelsan Pasal 9 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 disebut bahwa umur anak dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk menentukan prioritas pemberian diversi dan semakin muda umur ank semakin tinggi prioritas diversi.
c. Hasil penelitian kemasyarakatan dari BAPAS.
d. Dukungan lingkungan keluarga dan masyarkat.
Pertimbangan tersebut harus diperhatikan oleh penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam menentukan diversi. Di samping itu, menurut R. Wiyono, harus diperhatikan pula oleh pembimbing kemasyarakatan pekerja sosial professional dan
Pertimbangan tersebut harus diperhatikan oleh penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam menentukan diversi. Di samping itu, menurut R. Wiyono, harus diperhatikan pula oleh pembimbing kemasyarakatan pekerja sosial professional dan