• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Metode Analisis

3. Pelaku ( actors ) kelembagaan KIBARHUT

Pelaku yang terlibat dalam kelembagaan KIBARHUT di Pulau Jawa adalah (i) INPAK; (ii) Petani; (iii) Perusahaan Mitra/Koordinator/Keltan. Jika model transaksi pasokan bahan baku60 dari Gibbons (2005) dijadikan acuan mendefinisikan principal

agents maka INPAK disebut Hilir (downstream parties) atau principal murni dan petani sebagai Hulu (upstream parties) atau agents murni. Perusahaan Mitra/Koordinator/Keltan adalah mitra antara yang bertindak sebagai agents pada hubungan tingkat pertama, tetapi menjadi principal pada hubungan tingkat kedua. a. INPAK

INPAK selaku principal kelembagaan KIBARHUT di lokasi contoh, adalah: (i) PT. BKL (group) di Kab. Tasikmalaya; (ii) PT. SGS (group) di Kab. Batang; dan (iii) PT. KTI di Kab. Probolinggo. KIBARHUT dimulai sejak tahun 1999 di PT. KTI sebagai langkah uji coba, dan mulai aktif diimplementasikan pada tahun 2001/02. Dua tahun kemudian atau pada tahun 2003/04, PT. SGS dan PT. BKL juga melakukan kegiatan KIBARHUT. Deskripsi ketiga INPAK tersebut adalah sebagaimana hasil kajian berikut ini.

60 Menggambarkan hubungan kemitraan atas transaksi penawaran suatu komoditas (transaksi supply)

1) PT. Bineatama Kayone Lestari

PT. Bineatama Kayone Lestari (BKL)61 memproduksi moulding dan komponen bahan bangunan, khususnya daun pintu dan bare core62. Produk bare core dipasarkan ke Taiwan, Korea, Cina, Singapura dan Malaysia dan dijual lokal ke beberapa pabrik

block board di Jawa Barat. PT. BKL juga adalah IUIPHHK yang memproduksi veneer

yang dipakai sendiri guna memproduksi block board.

Bahan baku menggunakan kayu kelompok jenis Meranti dan Rimba Campuran, serta Sengon. Pasokan kayu Meranti dan Rimba Campuran berasal dari Kalimantan, sedangkan kayu Sengon dari hutan rakyat di sekitar pabrik terutama dari Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, dan Kuningan. Mengantisipasi pasokan kayu Sengon yang semakin terbatas, PT. BKL melaksanakan KIBARHUT sejak tahun 2003. Visi yang disosialisasikan adalah “Hutan Lestari, Masyarakat Mandiri, Investasi Kembali”.

KIBARHUT dilakukan di: (i) hutan negara dikelola Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, yaitu di KPH Tasikmalaya, KPH Garut dan KPH Sumedang; (ii) tanah kas desa (TKD) atau pengangonan bekerjasama dengan pemerintah desa setempat; (iii) lahan HGU kebun, kerjasama dimulai tahun 2003/04 tetapi penanaman direalisasikan bertahap pada tahun 2003/04–2005/06 dan dilanjutkan pada tahun 2008/09 dan seterusnya; (iv) lahan milik TNI di Ciamis, dan (v) lahan milik/perorangan.

Realisasi KIBARHUT terfokus di 4 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Tasikmalaya, Garut, Sumedang, dan Ciamis. Selama kurun waktu 4 musim tanam, PT. BKL mengklaim telah melakukan kemitraan membangun hutan seluas 3.381,46 ha dengan rincian sebagaimana pada Tabel 13.

Pada tahun tanam 2007/08, hampir seluruh bibit yang dipasok pihak penyedia tidak memenuhi standard bibit berkualitas layak tanam63 sehingga tanaman banyak yang tidak tumbuh dan mati. Kegiatan dianggap gagal dan dilakukan penanaman

61 Beroperasi berdasarkan izin usaha dari Kepala Kanwil Depperindag Prov. Jawa Barat No. 003/

Kanwil.10.08.18/IHPK/b/Iz.00.03/IV/99 tanggal 27 April 1999.

62

Bare core adalah bentuk produk setengah jadi yang dipergunakan sebagan bahan baku produk kayu

bersifat jadi seperti pintu atau meja. Bare core merupakan bahan lembaran tengah untuk block-board dimana face-backnya menggunakan veneer.

63 Bibit berkualitas memenuhi syarat layak tanam di lapangan jika: (i) berumur 2,5–3 bulan, ii) tinggi

bibit mencapai 25–30 cm, (iii) diameter batang minimal 3 mm pada leher akar, (iv) daun utuh dan batang tidak rusak, (v) tanah dan perakaran yang bagus dalam kantong plastik yang tidak boleh pecah (SNI 1-5006.1-1999 : Mutu Bibit; SNI 01-5006.6-2001 : Mutu benih Jeungjing; SNI 01-5006.7-2002 : Istilah dan definisi yang berkaitan dengan perbenihan dan pembibitan tanaman kehutanan).

   

ulang pada tahun 2008/09. Pada tahun tersebut, bekerjasama dengan BPDAS Citarum Citanduy juga dilakukan penanaman seluas 500 ha di Tasikmalaya, Garut dan Sumedang.

Tabel 13 Data kemitraan membangun hutan bersama rakyat oleh PT. BKL

Tahun Tanam Mitra Lokasi Luas (ha)

2003/2004 Keltan dan petani penggarap kebun Tasikmalaya 139,90

Kodim Ciamis dan Petani Ciamis 250,00

KTH dan Petani Ciamis 60,00

2004/2005 KPH Tasikmalaya dan KTH/LMDH Tasikmalaya 862,56

2005/2006 KPH Garut dan KTH/LMDH Garut 720,00

KPH Sumedang dan KTH/LMDH Sumedang 16,80

2006/2007 Keltan dan Petani Tasikmalaya 796,58

Keltan dan Petani Ciamis 468,62

Keltan dan Petani Garut 17,00

Jumlah 3.381,46

Sejak tahun 2007, untuk mensinergikan kegiatan KIBARHUT dan pasokan bahan baku kayu (supply) maka PT. BKL membentuk PT. Bina Inti Lestari (BIL). PT. BIL merupakan anak usaha yang konsentrasi kegiatannya pada pelaksanaan KIBARHUT dan memasok kebutuhan bahan baku untuk PT. BKL. BIL mengkoordinir bantuan gergaji mesin (band saw) ke kelompok usaha penggergajian (KUP) di sekitar lokasi KIBARHUT. KUP, selanjutnya, wajib memasok kayu gergajian sesuai ukuran64 yang ditentukan PT. BKL. Berdirinya KUP di sekitar lokasi penanaman, memberikan jaminan ke petani mengenai pembeli dan pasar kayu KIBARHUT. Mulai tahun 2008, PT. BIL meminta KUP juga terlibat berpartisipasi membangun hutan. Setiap KUP diharapkan memiliki 60–100 ha lahan ditanami Sengon, yang dilakukan pada lahan milik sendiri, sewa lahan, atau bekerjasama dengan petani di sekitar wilayah KUP.

2) PT. Sumber Graha Sejahtera

PT. Sumber Graha Sejahtera (SGS) adalah kelompok industri perkayuan berlokasi di Tangerang berdiri tahun 2002. Berdasarkan izin industri65, perusahaan memproduksi plywood (kayu lapis), Laminated Veneer Lumber (LVL), floorbase dan produk kayu lainnya dengan kapasitas 60.000 m³ per tahun. Produk PT. SGS

64 Kalangan usaha perkayuan di Tasikmalaya mengenal produk tersebut sebagai “pallet” yaitu balok

kayu ukuran panjang 130cm, lebar bervariasi antara 8–16 cm dan tebal sekitar 5 ± 0,2 cm.

mayoritas dipasarkan di dalam negeri, dan sebagian kecil diekspor ke Malaysia, Korea, dan Timur Tengah. Di Batang (Jawa Tengah) terdapat 2 industri termasuk PT. SGS Group yaitu PT. Kharisma Megah Dharma (KMD)66 dan PT. Makmur Alam Lestari (MAL)67. Keduanya merupakan INPAK penghasil veneer dengan kapasitas produksi masing-masing 30.000 m³ per tahun. Veneer hasil produksi PT. KMD dan PT. MAL, selanjutnya dikirim ke pabrik PT. SGS di Balaraja, Tangerang untuk diolah menjadi produk jadi/akhir.

PT. SGS Group merintis program pembangunan hutan rakyat kemitraan sejak tahun 2003, dengan harapan dapat (i) menyediakan peluang usaha bidang perkayuan dengan pasar yang jelas, dan berdasarkan harga berlaku di pasar; (ii) memberikan nilai ekonomi yang menguntungkan petani dan kelompok tani; (iii) mengoptimalkan pemanfaatan lahan milik petani yang kurang produktif; dan (iv) menjamin ketersediaan pasokan bahan baku untuk PT. SGS group. Lokasi lahan kegiatan KIBARHUT diupayakan berjarak maksimal 40 km dengan lokasi pabrik.

KIBARHUT telah dilaksanakan di 5 kabupaten pada 3 provinsi di Pulau Jawa. Tabel 14 menunjukkan bahwa selama kurun waktu 4 musim tanam (2003/04 s.d. 2006/07), PT. SGS mengklaim telah melakukan kemitraan penanaman Sengon sejumlah 3.449.906 batang. Bibit ditanam pada lahan seluas 6.980,74 ha tersebar di 5 kabupaten yaitu Pandeglang dan Lebak (Prov. Banten), Bogor (Prov. Jawa Barat), Banyumas dan Batang (Prov. Jawa Tengah). Pada tahun tanam 2007/08, kemitraan penanaman Sengon sekitar 3 juta batang Sengon yang tersebar di 5 (lima) provinsi, yaitu di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Pada saat pengumpulan data lapangan, realisasi penanaman belum seluruhnya masuk ke Divisi BioForest. Khusus di Batang, penanaman terealisasi sejumlah 185.000 bibit pada lahan seluas 462,50 ha yang tersebar di Bawang (60.000 bibit pada lahan seluas 150 ha), Tersono, dan Grinsing.

66 Izin Usaha Industri (IUI) No. SK.340/MENHUT-II/2007 tanggal 8 Oktober 2007 67 Izin Usaha Industri (IUI) No. SK.341/MENHUT-II/2007 tanggal 8 Oktober 2007

   

Tabel 14 Data kemitraan membangun hutan bersama rakyat pola PT. SGS

Tahun Tanam Lokasi (Kab. / Prov.) Jumlah Bibit (btg) Luas lahan (ha)

2003/2004 Lebak, Banten 29.500 218,75

Pandeglang, Banten 52.500 131,25

Batang, Jawa Tengah 278.000 685,63

2004/2005 Lebak, Banten 150.000 212,99

Pandeglang, Banten 44.500 85,46

Banyumas, Jawa Tengah 120.000 300,00

Batang, Jawa Tengah 316.000 487,50

2005/2006 Lebak, Banten 377.900 554,71

Pandeglang, Banten 150.006 366,77

Bogor, Jawa Barat 349.525 874,00

Banyumas, Jawa Tengah 120.500 301,25

Batang, Jawa Tengah 865.805 807,00

2006/2007 Lebak, Banten 282.170 694,43

Pandeglang, Banten 86.500 203,00

Batang, Jawa Tengah 227.000 1.058,00

Jumlah 3.449.906 6.980,74

PT. SGS Group melakukan kemitraan membangun hutan dalam 3 (tiga) bentuk yaitu bantuan (hibah) bibit, kerjasama (bagi hasil) dan sistem sewa tanah. Hibah bibit dengan membagikan bibit Sengon gratis ke petani. Bibit Sengon didatangkan sampai lokasi penanaman, kemudian petani melakukan penanaman di lahan yang dikuasainya dengan biaya sendiri. Petani memiliki seluruh kayu hasil panen (100%). Kerjasama dengan bagi hasil dilakukan dengan petani/mitra yang mempunyai lahan cukup luas dalam satu areal. Petani berkewajiban mengolah tanah, menanam, dan memelihara tegakan. PT SGS Group menyediakan bibit Sengon, pupuk, biaya pengolahan tanah dan pemeliharaan. Kayu hasil produksi dijual ke pabrik dan dengan porsi bagi hasil yang disepakati bersama (prosentase bagi hasil sesuai input produksi masing-masing pihak, tetapi praktek di lapangan adalah 50% untuk petani dan 50% untuk PT. SGS). Sewa tanah dilakukan dengan cara membayar uang sewa ke pemilik lahan sesuai harga standard sewa tanah yang berlaku. Penyediaan bibit, pupuk, pelaksanaan pekerjaan penanaman dan pemeliharaan dilakukan PT. SGS dengan melibatkan petani pemilik lahan sebagai buruh kerja. Hasil panen seluruhnya menjadi milik PT. SGS.

Kegiatan membangun hutan rakyat kemitraan semenjak tahun 2007 telah dikelola khusus oleh Divisi Plantation (Bio Forest). Di Kab Batang, Jawa Tengah, kegiatan dilaksanakan petugas lapangan (Soeranto DN cs) yang tidak memiliki akses langsung atau kewenangan dalam hal pembelian kayu. Soeranto cs, selaku petugas kemitraan, mengakui tidak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan Mandira atau PT. Nusantara Makmur Sentosa (NMS) dan PT. Setya Alba (SA). Keduanya

adalah perusahaan di dalam kelompok PT. SGS yang bertanggungjawab mengatur ketersediaan bahan baku kayu untuk pabrik kelompok PT. SGS di Grinsing, Batang. Kendala tersebut, memunculkan ide petugas lapangan melakukan berbagai kegiatan pendukung KIBARHUT. Program pendukung yang ditawarkan adalah :

a). Kredit tunda tebang yaitu fasilitas pinjaman uang ke petani yang membutuhkan dana mendesak (biaya sekolah, hajatan, hari raya, dsb), namun pohonnya masih belum mencapai umur tebang (5 tahun). Sosialisasi dilakukan sejak awal tahun 2008, dilanjutkan pendataan petani di Kec. Bawang yang berminat bergabung, dan inventarisasi tegakan. Pada kegiatan tersebut, INPAK memberikan subsidi bunga karena bunga kredit dibebankan adalah 0,5% per tahun. Agunan yang diminta dari petani adalah (i) legalitas kepemilikan lahan milik (copy sertifikat, letter C atau SPPT); (ii) surat pernyataan yang menyatakan lahan tidak dalam sengketa, (iii) tanaman sengon yang dijadikan agunan adalah tanaman yang dalam waktu 6 bulan– 2 tahun kemudian sudah siap ditebang. Namun sampai dengan penelitian dilakukan belum ada realisasi kegiatan dimaksud.

b). Pembentukan koperasi untuk kegiatan pemasaran kayu. Koperasi selanjutnya bertindak sebagai supplier kayu untuk INPAK. Koperasi Graha Mandiri Sentausa (GMS) sudah terbentuk melalui pertemuan petani KIBARHUT di Desa Surjo, Kec. Bawang pada bulan Juli 2008.

3) PT. Kutai Timber Indonesia

PT. Kutai Timber Indonesia (KTI) memulai operasional produksi plywood dan

lumber di Probolinggo pada tahun 1974. Kapasitas produksi plywood sekitar 147.000 m³/tahun, dan wood working sebesar 36.000 m³/tahun berdasarkan SK Menhut No. 63/Menhut-VI/BPPHH/2006 tanggal 16 Januari 2006. Pada bulan Maret 2008, PT. KTI mulai memproduksi particleboard dengan kapasitas produksi 128.000 m³/tahun. PT. KTI melakukan kegiatan penanaman jenis cepat tumbuh (fast growing species/FGS), yaitu Sengon Laut (Paraserianthes falcataria), Balsa (Ochroma sp.), Jabon (Anthocephalus cadamba), Mindi (Melia azedarach), Sungkai (Peronema canescens), Waru (Hibiscus sp.), Gmelina (Gmelina arborea), dan jenis lainnya. Kegiatan dilakukan sejak tahun 1998 di kebun percobaan Sepuh Gembol, Kec Wonomerto, Probolinggo.

Mulai tahun 2001 kegiatan diperluas menjadi program KIBARHUT, dan dikelola oleh Divisi Penanaman dan Lingkungan (Divisi P & L). KIBARHUT dilakukan dengan maksud (i) mengurangi ketergantungan kebutuhan terhadap kayu dari hutan alam, dan dalam jangka panjang seluruh pasokan kebutuhan bahan baku menggunakan kayu dari hutan tanaman; dan (ii) memanfaatkan lahan rakyat yang

   

tidak/kurang produktif di Jawa Timur. Sampai dengan tahun tanam 2006/2007, PT. KTI telah melakukan kemitraan membangun hutan seluas 4.174,92 ha tersebar di 4.333 lokasi (11 kabupaten se-provinsi Jawa Timur) sebagaimana Tabel 15. Realisasi KIBARHUT tahun 2007/2008 di Krucil seluas 595,56 ha tersebar di 901 lokasi dengan keterlibatan sejumlah 461 pemilik lahan.

Tabel 15 Data penanaman kemitraan PT. KTI

Tahun Lokasi Kategori Mitra Luas (ha) Sites Jenis tanaman

1997/98 Probolinggo Swakelola 2,50 1 Campur

2001/02 Lumajang Masyarakat 1,00 7 Sengon

Probolinggo swakelola, institusi,

masyarakat

314,66 32 Sengon, Gmelina, Jabon,

Balsa, Waru

Pasuruan Masyarakat 7,56 11 Sengon

Malang Masyarakat, institusi 16,61 5 Sengon

Surabaya Institusi 24,98 4 Sengon

2002/03 Pasuruan Masyarakat 68,23 118 Sengon

Bondowoso Masyarakat 39,92 112 Balsa

Probolinggo Masyarakat,swakelola 24,84 43 Sengon, Balsa

Malang Masyarakat 37,20 66 Sengon

2003/04 Probolinggo Masyarakat, institusi 335,69 200 Sengon, Balsa

Pasuruan Masyarakat 11,00 38 Sengon

Jember Institusi (PTPN XII

di Jember & Jatim)

588,15 50 Sengon, Balsa, Waru,

Gmelina, campur

Banyuwangi Masyarakat 1,42 11 Sengon

2004/05 Blitar Masyarakat 181,43 357 Sengon

Jember Institusi 200,00 4 Sengon

Pasuruan Masyarakat 4,28 9 Sengon

Probolinggo Masyarakat, Institusi 142,10 178 Sengon,Gmelina, campur

Tulungagung Institusi 10,00 1 Sengon

2005/06 Probolinggo Masyarakat, Institusi 377,59 587 Sengon, Balsa

Malang Institusi 20,66 29 Sengon, Balsa

Jember Masyarakat 81,39 197 Sengon, Balsa

Pasuruan Masyarakat 15,79 55 Sengon

Tulungagung Institusi 261,80 4 Sengon

2006/07 Situbondo Masyarakat 4,94 7 Sengon, Gmelina

Probolinggo Masyarakat, Institusi 1.266,00 1.865 Sengon, Jabon, Balsa,Waru

Blitar Masyarakat 1,48 4 Sengon

Malang Masyarakat 12,25 22 Sengon

Bondowoso Masyarakat 31,54 68 Sengon

Lumajang Masyarakat 20,98 66 Sengon

Jember Masyarakat 68,93 182 Sengon, Balsa, Jabon

J u m l a h 4.174,92 4.333

KIBARHUT dilakukan dengan menggunakan berbagai macam jenis tanaman berkayu, dan dua jenis mayoritas adalah Sengon (47,84%) dan Balsa (44,65%). Pada awal kegiatan, pembangunan hutan KIBARHUT didominasi jenis Sengon sedangkan jenis lainnya hanya ditanam pada lahan swakelola. Jenis Balsa mulai ditanam dalam skala besar pada lahan yang dikuasai mitra institusi (Aviland, KTI bk dan PTPN XII)

pada tahun tanam 2003/2004, dan penanaman secara luas di lahan milik petani sejak tahun tanam 2005/2006.

KIBARHUT dilakukan bekerjasama dengan mitra yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Mitra terlibat adalah perorangan atau kelompok, instansi pemerintah, perguruan tinggi, BUMN, swasta, institusi keagamaan (pesantren dan gereja), dan LSM/Yayasan. Kemitraan pada periode awal (tahun tanam 2001/02–2003/04) dilakukan dengan mengalokasikan sumberdaya sebagai faktor produksi KIBARHUT yang lebih besar. Untuk tahun tanam 2005/06 dan selanjutnya, PT. KTI hanya membantu faktor produksi bibit tanaman, namun tetap memberikan bimbingan teknis, saran, pertimbangan, dan jaminan pasar terhadap hasil panen.

b. Petani

Petani sebagai Hulu atau agents murni pada kelembagaan KIBARHUT dibedakan menjadi (i) petani pemilik lahan yaitu petani yang melakukan kerjasama dan bekerja pada lahan miliknya atau yang dikuasainya, dan (ii) petani non-pemilik lahan yaitu petani terlibat dalam arena aksi sebagai penggarap (authorized user) pada lahan yang dimiliki atau dikuasai mitra antara atau pihak lain. Petani pelaku KIBARHUT dapat dideskripsikan sebagai berikut (i) di Tipe 1 Bawang adalah warga desa terdaftar sebagai anggota Keltan desa atau tidak terdaftar (2 tingkat) atau perorangan (1 tingkat); (ii) di Tipe 2 Sukaraja adalah anggota Keltan yang dibentuk koordinator wilayah atau Korwil (2 tingkat); (iii) di Tipe 2 Krucil adalah anggota kelompoknya koordinator pengelola atau KP (2 tingkat) atau warga perorangan (1 tingkat); (iv) di Tipe 3 Sukaraja adalah anggota KTH/LMDH; (v) di Tipe 3 Krucil adalah penggarap lahan HGU.

Mayoritas (65,56%) umur petani contoh berada pada usia diatas 41 tahun. Temuan ini memperkuat fenomena yang umum disinyalir bahwa telah terjadi perubahan/pergeseran budaya, sehingga tenaga kerja (petani) umumnya di dominasi penduduk yang sudah tua atau berusia lanjut. Jika pun terdapat petani berusia muda maka jumlahnya sangat sedikit, dan biasanya karena sangat terpaksa atau karena tidak ada alternatif pekerjaan lainnya (Ali, 2007; diskusi dengan Soeranto DN, 2008). Kaum muda desa umumnya lebih tertarik menjadi tukang ojek atau memburuh ke kota. Kondisi ini sesungguhnya menjadi peluang pengembangan tanaman Sengon karena perawatan atau pemeliharaannya tidak perlu rutin. Setelah penanaman, tanaman

   

Sengon cenderung ditinggalkan dan hanya ditengok ketika dirasakan waktunya untuk ditebang, sehingga sebagaimana juga diungkapkan oleh Arnold dan Dewess (1998) bahwa pengelolaan pohon sesungguhnya membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan dengan pengelolaan tanaman keras/perkebunan.

Proses memperoleh dan memanfaatkan informasi dan pengetahuan ditentukan juga oleh tingkat pendidikan petani. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan (Yuwono, 2006). Sebagian besar agents (78,9%) adalah berpendidikan non- SD & SD, sehingga untuk kelancaran dan menjembatani hubungan agents dan

principal pada kelembagaan KIBARHUT adalah dengan adanya keterlibatan dan peranan mitra antara. Peran penting mitra antara ditunjukkan dengan keterlibatan sebagian besar agents (95,6%) adalah pada hubungan kontraktual 2 tingkat.

c. Mitra antara

Mitra antara berperan dalam mengorganisasikan petani peserta dan mengadministrasikan KIBARHUT. Pada KIBARHUT Tipe 1 Bawang, mitra antara

adalah kelompok tani (Keltan) yang dibentuk oleh desa, dan perangkat desa bertindak sebagai pengurus Keltan. Keterlibatan mitra antara pada arena aksi di Bawang dapat diabaikan karena tidak ada tindakan manajemen apa pun guna mendukung pelaksanaan KIBARHUT, termasuk tidak adanya input dikeluarkan dan tidak ada output menjadi bagian pelaku.

Pada Tipe 2 dan Tipe 3, kegiatan KIBARHUT dikoordinasikan mitra antara

sehingga terjalin hubungan kelembagaan 2 tingkat. Pada hubungan tingkat pertama,

principal mendelegasikan kewenangan memproduksi dan menentukan pasokan kayu sesuai spesifikasi proses produksinya; sedangkan mitra antara menjalankan sebagian kewenangan principal. Pada hubungan tingkat kedua, mitra antara bertindak sebagai pemilik sebagian kewenangan menentukan pasokan kayu, mengorganisasikan petani, dan menjamin pasar komoditas yang dikuasakan principal; sedangkan agents

bertindak sebagai pelaku yang melaksanakan hak dan kewajiban untuk memproduksi dan memasok kayu KIBARHUT.

Mitra antara pada Tipe 2 adalah tokoh warga/pemuka agama dan bukan merupakan suatu lembaga formal, serta tidak ada pemilikan asset atau sumberdaya yang melekat ke pelakunya. Sumberdaya yang menjadi input share adalah

kemampuan manajemen atau pengorganisasian pelaksanaan KIBARHUT, khususnya pemanfaatan pengetahuan dan informasi yang dimiliki mitra antara tentang INPAK dan petani. Mitra antara di Sukaraja adalah koordinator wilayah (Korwil) yang merupakan koordinator kelompok tani di desanya. Di Krucil, koordinator pengelola (KP) selaku mitra antara bertugas mengorganisasikan petani, mengadministrasikan kegiatan, melakukan monev, dan pengamanan tanaman. Pada Tipe 3, mitra antara

merupakan institusi formal yang mempunyai organisasi lengkap. Mitra antara

menguasai asset yang menjadi input produksi KIBARHUT, yaitu hutan negara (KPH Tasikmalaya) atau lahan HGU kebun (Aviland/KTI bk).