• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELANGI LEBARAN: SEPUTAR PROBLEMATI KA SOSI O-KULTURAL DALAM CERPEN

Dalam dokumen buku hiski 5compressed (Halaman 126-132)

Bakdal Ginanjar

Universitas Muhammadiyah Purworejo e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Sejauh pengamatan, usaha mengangkat satu tema tertentu dalam sebuah antologi cerpen bersama boleh dikatakan langka. Di balik keberagam dan kekayaan tema, sesungguhnya ada kecenderungan bahwa tema cerpen melukiskan kegelisahan yang sama: jeritan atas keterpurukan negeri ini. Jika tema yang sama dihimpun, sangat mungkin ia menjadi sebuah potret sosial atas carut-marutnya negeri ini.

Salah satu usaha dilakukan Kompas dengan mengusung tema tentang puasa dan lebaran dalam antologi berjudul Korma: Cerpen-Cerpen Puasa-Lebaran. Jika dilihat dari sejarah perjalanan kesusastraan I ndonesia, tema ini sudah muncul sejak tahun 1929. Namun, mengingat di dalamnya terkandung dimensi sosio-kultural maka pemaknaan dan penafsiran atas tema tersebut secara menyeluruh terus-menerus mengalami pergeseran sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat yang bersangkutan.

Cerpen Tukang Jahit adalah karya Agus Noor yang muncul di akhir tahun 2007 di harian

Kompas dengan mengangkat tema tersebut. Cerpen ini terpilih sebagai salah satu cerpen dalam

antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007. Dipilihnya cerpen ini untuk dibicarakan dalam tulisan ini tidak berarti merendahkan kualitas cerpen lainnya yang mengambil tema sejenis. Cerpen ini

menggabungkan dua dunia yang biasa mewarnai suasana menjelang Lebaran.

Dua dunia yang dimaksud yaitu pertama bulan puasa dimaknai sebagai bulan penuh barokah dan menyimpan kisah-kisah gaib/ supernatural. Bulan puasa senantiasa menyimpan misteri tentang kisah gaib dan serangkaian cerita irasional yang tidak masuk akal. Kedua, lahirnya problem sosial yang beragam, seperti mudik dan keterpurukan wong cilik. Dengan mengolaborasikan dua dunia ini sang pengarang bermaksud memberi estetika cerpen yang baru yang bertema Lebaran. Dalam konteks yang demikian, cerpen ini justru penting untuk melakukan pemaknaan kembali konsep puasa dan lebaran pada kerangka solidaritas sosial.

Kata-kata kunci: cerpen, lebaran, problem sosial-budaya

-1-

Cerita pendek (cerpen) berjudul “Tukang Jahit” karya Agus Noor pertama kali muncul pada harian Kompas edisi Minggu, 7 Oktober 2007. Cerpen ini kemudian terpilih sebagai salah satu cerpen Kompas pilihan 2007. Cerita pendek, apalagi ditampilkan melalui surat kabar yang berskala nasional semacam Kompas, tentunya sedikit banyak akan mencerminkan permasalahan sosial yang cukup kaya dan sedang melanda negeri ini. Bagaimanapun juga seorang pengarang dalam menuliskan ide-ide ke dalam sebuah cerita (pendek) sesungguhnya menuangkan respons atau tanggapannya terhadap apa saja yang bergejolak di sekitarnya yang tentu saja menarik perhatiannya. Hall (2002: 1275) mengatakan bahwa “Whatever people do, they express the times they live in.

When authors write, they reflect their own era by deploring it, by celebrating it, or even by writing to escape it”. Para penulis yang menuangkan pengalaman mereka dalam

merespons fenomena hidup di sekitarnya dapat melakukannya dengan cara yang berbeda-beda: sebagian mengkritik dan mengecam, yang lain merayakan dan penuh

harap, dan sebagian lagi bahkan mungkin menulis sebagai bentuk pelarian karena merasa jengah atau resah atas kondisi sosial kehidupan yang semakin payah. Apa pun bentuk dan alasannya, sebuah karya baik secara gamblang maupun tersamar akan terlahir.

Potret kehiduan masyarakat yang dituangkan dalam bentuk karya sastra dapat murni imajinasi atau dapat pula berawal dari fakta yang dituangkan kembali dengan berbagai bumbu imajinasi pengarangnya. Fakta kehidupan suatu masyarakat yang diolah dengan ramuan bumbu-bumbu imajinasi dan diwujudkan dalam karya sastra menjadikannya sebuah karya denga nuansa problem kehiduan yang sarat permasalahan.

Kembali ke cerpen Agus Noor, ditinjau dari isinya cerpen ini termasuk karya dengan objek sebuah komunitas manusia dengan problem kehidupan yang memungkinkan merupakan potret kehidupan masyarakat. Objek yang diangkat dalam cerpen ini adalah peristiwa seputar Lebaran yang oleh masyarakat I slam-Indonesia dirayakan setiap tahun. Setiap tahun pula mendapat perhatian khusus karena ternyata di balik kegembiraan perayaan hari raya tersebut, ternyata berbagai persoalan sosial budaya yang akhirnya menjadi persoalan nasional tercipta di dalamnya.

Tulisan ringkas ini mengangkat bagaimana representasi sosial budaya masyarakat menyambut lebaran akhir-akhir ini dilihat dari kacamata cerpen “Tukang Jahit”? Kemudian, apakah muncul pergeseran atau perubahan sosial budaya dikaitkan dengan cerpen dengan isi serupa yang terbit sebelumnya? Jika ada, dalam hal apakah pergeseran atau perubahan itu terjadi?

-2-

Beberapa cerpen bertema lebaran berikut diambil dari pembahasan Mahayana (2006 117-130). Armijn Pane melalui cerpen “Jika Pohon Jati Berkembang” (1937) menggambarkan bagaimana orang-orang berkumpul dan terheran-heran mendengarkan suara gamelan atau khotbah Lebaran cukup dari sebuah radio. Dalam ceren “Lebaran di Kampung”, Muhammad Dimyati (1952) mengisahkan bagaimana kedatangan seseorang di kampung halamannya disambut bagai pahlawan perang meskipun ia tidak membawa barang apa pun untuk dibagikan kepada sanak familinya.

Dalam antologi cerpen yang berjudul Korma, Cerpen-cerpen Puasa-Lebaran dapat juga dipandang sebagai representasi kultur masyarakat I slam-I ndonesia dalam sebuah perjalanan waktu. Secara struktural ke-11 cerpen dalam antologi tersebut terbagi ke dalam dua kelomok besar. Pertama, yang menempatkan puasa dan Lebaran sebagai bulan yang penuh barokah atau yang menyimpan kisah-kisah gaib dan menghadirkan peristiwa supernatural ke dalam struktur cerita.

Kelompok pertama memperlihatkan betapa ramadan senantiasa menyimpan misteri kisah gaib yang mencekam, peristiwa ajaib yang menakjubkan, dan serangkaian cerita irasional yang tak masuk akal. Kisah itu merepresentasikan potret sosial umat I slam-I ndonesia yang tidak dapat meninggalkan keberimanannya pada dunia gaib.

Kelompok kedua memperlihatkan bahwa puasa dan Lebaran melahirkan problem sosial-kultural yang sama mudik dan keterpurukan wong cilik. Mudik menjadi begitu penting dan menenggelamkan hakikat utama puasa dan makna idul fitri. Makna mudik ditafsirkan menyangkut status sosial dan martabat jati diri. Dalam konteks kultur I slam- I ndonesia mudik seolah-oleh sengaja ditempatkan sebagai puncak prosesi perjalanan ramadan, yakni puasa, tarawih, sahur, takbir, Lebaran, dan mudik.

-3-

Di bagian awal cerpen “Tukang Jahit”, ada seorang ibu sedang bercerita tentang keberadaan tukang jahit yang menghiasi kota di mana ibu itu tinggal. Tukang jahit yang berjumlah banyak selalu datang ke kota menjelang Lebaran sampai malam takbiran. Kedatangan mereka menjadi sesuatu yang berharga bagi anak-anak maupun orang-orang tua. Para orang tua menjahitkan baju baru yang disiapkan untuk menyambut Lebaran ke tukang-tukang jahit tersebut tak terkecuali baju untuk anak-anak mereka. Anak-anak menunggu tukang jahit bekerja dengan perasaan yang gembira sambil berceloteh riang bersama teman-temannya. Tukang jahit pada waktu itu menjadi identik dengan lebaran. Seperti tampak pada kutipan berikut.

Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kedatangan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” . (TJ, a )

Penggambaran peristiwa di atas terjadi ketika sang ibu yang sedang bercerita kira-kira masih remaja atau bahkan masih anak-anak. Pendeskripsian tersebut merepresentasikan keadaan masyarakat I slam-I ndonesia menyambut datangnya hari raya. Kegembiraan senantiasa menjalari umat I slam dari anak-anak sampai orang tua. Suasana tersebut ditandai dengan kemeriahan hati para umat I slam. Kegembiraan itu sampai-sampai menyebabkan bunyi mesin jahit dari para penjahit yang sibuk bekerja pun terdengar serasa gema burung pelatuk yang sedang mematuk pepohonan. Dalam kutipan itu pula tampak adanya sesuatu yang baru yang meskipun tidak wajib tetapi diusahakan tersedia pada saat Lebaran, yakni baju baru. Dengan demikian, gambaran suasana menyambut Lebaran tersebut dipandang sebagai potret masyarakat I slam-I ndonesia yang diselimuti kebahagiaan dan kegembiraan pada saat itu. Hampir-hampir tidak ada sesuatu pun yang menggambarkan keterpurukan masyarakat.

Tahun-tahun berjalan, jumlah penjahit yang semula menghiasi kota tinggal beberapa orang. Bahkan, sampai terakhir tinggal seorang penjahit yang bertahan. Hilangnya banyak penjahit tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, disinyalir maraknya pusat perbelanjaan yang mendesak para penjahit. Kutipan berikut mencerminkan keadaan tersebut.

Keberadaan para tukang jahit seiring berjalannya waktu kian berkurang jumlahnya. Sejak banyak toko fashion, factory outlet, butik, dan pusat perbelanjaan di kota ini, orang-orang lebih suka membeli pakaian jadi. Tak ada lagi keriuhan mesin jahit di kota ini setiap menjelang lebaran. (TJ, a )

Wajah kota saat ini berbeda kiranya. Timbulnya perdagangan kemudian disusul kapitalisme global telah mengubah perilaku kehiduan masyarakat. Penggalan kutipan di atas cukup jelas menggambarkan suasana kenyataan zaman modern tersebut. Orang cenderung lebih memilih sesuatu yang sudah jadi, misalnya pakaian jadi yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka sudah mulai enggan untuk sekadar menunggu lama dan bertemu dengan penjahit ketika menjahitkan kain. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kemanusiaan tak lagi dianggap primer. Yang primer adalah kebutuhan dan efisiensi.

Ketika tukang jahit yang masih bertahan hanya satu orang, anehnya orang- orang yang mencarinya kian hari kian bertambah banyak. Seorang penjahit ini sekian

lama pula ditunggu-tunggu kedatangannya sejak dini hari sebelum matahari pagi memancarkan sinarnya. Anehnya, orang-orang menunggu si tukang jahit tersebut bukan untuk menjahitkan pakaian, melainkan menjahitkan hati yang sedang dilanda kesedihan.

Kau tahu, Nak, di tangan tukang jahit itu, kebahagiaan yang robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Ia menjahitnya dengan rapi, halus, dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. (TJ, a )

Kebahagian atau pun kegembiraan yang seharusnya dirasakan saat merayakan Lebaran berganti dengan rasa sedih. Kutipan di atas mencerminkan keadaan yang dimaksud. Kesedihan yang dirasakan banyak orang ini pastilah ada sebab-musababnya.

“Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia, Ayah?”

“Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Tak bisa membelikan

baju baru. Bingung karena masih nganggur. Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja....” (TJ, a )

Jawaban dari sang ayah kepada anaknya tersebut mendeskripsikan keadaan yang terjadi setidaknya akhir-akhir ini pada umat I slam-I ndonesia menjelang Lebaran. Rasa sedih senantiasa menggelayuti sebagian umat yang kalau boleh dikatakan kurang mengedepankan makna dalam menjalani proses ibadah ramadan dan tujuan akhir dari ibadah tersebut.

Budaya mudik atau pulang kampung menempati posisi pertama dalam kutipan tersebut yang menyebabkan timbulnya kesedihan. Orang-orang yang ingin pulang kampung terpaksa tidak dapat melakukannya karena kurangnya kemampuan dana. Mereka berkeinginan merayakan Lebaran di kampung halaman dengan membawa hasil kesuksesannya selama merantau. Mereka tidak mau malu pulang kampung tanpa sesuatu yang dapat dibanggakan orang di kampung halaman. Oleh sebab itu, nafsu untuk membawa sejumlah materi dalam jumlah banyak musti dilakukan ketika akan mudik. Jika tidak dapat terpenuhi, ujung-ujungnya kesedihan yang dirasakan. Padahal, mudik semestinya membawa jiwa yang tenteram. Rahman (2011: 2) mengatakan bahwa mudik dilakukan dalam rentang waktu yang sebentar sekadar mereguk udara dan meneguk air tempat asalmu yang barangkali sudah lama terlupa.

Kebiasaan di tengah-tengah masyarakat menjelang datangnya Lebaran adalah menyediakan sesuatu yang baru, terutama yang berhubungan dengan kebendaan. Hal itu tanpa disadari akan membentuk budaya konsumerisme tinggi. Oleh sebab yang demikian, kita sering melihat masyarakat berbondong-bondong membeli baju baru, kerudung baru, celana baru, atau memoles sedemikian rupa penampilan fisik sehingga mendapat wajah baru di saat Lebaran. Apabila hal-hal tesebut tidak dapat terpenuhi, rasa sedihlah yang kemungkinan besar akan berkecamuk dalam pikiran masyarakat. Melupakan dan melalaikan esensi utama dari ibadah puasa.

Di samping rasa sedih, dari petikan di atas tampak adanya kekhawatiran terhadap eksistensi diri seseorang karena masih menjadi pengangguran. Keadaan seperti itu rupanya membuat orang menjadi pemalu atau rendah diri demi menjaga gengsi, terutama saat bertemu dengan banyak orang di hari lebaran. Ditambah lagi, persoalan naiknya harga-harga semua hal yang dapat dibeli menambah kelamnya suasana seperti tergambar dalam cerpen.

Sebagaimana cerpen yang telah muncul sebelumnya, tukang jahit memberikan aroma irealis dalam peristiwa realis. Dalam cerita muncul Nabi Khidir sebagaimana tercatat dalam petikan berikut.

Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. (TJ, a )

Kemunculan tersebut membuat sesuatu yang baru bagi cerpen dibanding dengan cerpen lainnya yang bertema sama. Pengarang membentuk estetika baru dengan memadukan unsur gaib dengan problematika nyata.

-4-

Pembahasan serba sedikit tentang cerpen “Tukang Jahit” karya Agus Noor ini dapat dipetik suatu hal bahwa pengarang cukup jeli dan cermat mengamati gejala-gejala kehiduan dan problem-problem sosio-kultural pada umat I slam-I ndonesia ketika situasi menjelang Lebaran. Pada dasarnya, perilaku masyarakat menjelang lebaran mengalami dinamikanya sendiri sejalan dengan perguliran waktu. Akan tetapi, pergeseran tersebut mengarah kepada masyarakat yang sedih ketika menghadapi Lebaran dan berdampak pada perilakunya di kehidupan ini. Seyogyanya, hari raya I slam ini disambut dengan sukacita oleh umat dan sekarang berpindah pada kondisi lebaran yang identik dengan kesedihan. Hal ini merupakan akibat tak terelakkan dari pengaruh kehidupan masyarakat global yang dari hari ke hari semakin menampakkan cirinya sebagai masyarakat hedonis dan materialistik.

Sementara itu, kisah yang beraroma kegaiban dalam cerpen ini bagi masyarakat bukanlah sesuatu yang baru. Hal itu merupakan representasi dari kultur keindonesiaan yang tidak hitam putih. Tambahan pula, sudah sejak lama hal itu terejawantahkan dalam tradisi narasi masyarakat kita. Dalam konteks ini, meskipun di sana ada baju I slam – lebaran- mengingat hal itu sudah sejak lama menjadi warna pelangi I ndonesia maka sesungguhnya baju I slam itu telah melesap dalam kultur keindonesiaan.

Begitu buramkah keadaan sosial kultural menyambut lebaran sebagaimana yang tergambar dalam cerpen ini? Di situlah sesungguhnya sastra hendak memainkan peranan sosialnya. Sisi gelap yang ditampilkannya justru untuk memberi penyadaran bahwa betapa masyarakat di sekeliling kita memerlukan kepedulian kita. Sangat boleh jadi, dari cerpen ini kita tidak hanya memperoleh penyadaran atas nilai-nilai solidaritas kemanusiaan kita, tetapi juga menyelusupkan secercah pencerahan agar bangsa ini segera bangun dan membenamkan keterpurukannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hall, Donald. 2002. To Read Literature: Fiction, Poetry, Drama. Boston: Heinle & Heinle Thomson Learning.

Mahayana, Maman S. 2006. Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen

I ndonesia. Jakarta: Gramedia.

Pambudy, Ninuk M (ed). 2008. Cinta di Atas Perahu Cadik: Cerpen Kompas Pilihan 2007. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Rahman, Jamal D. 2007. “Ramadan dalam I majinasi Nabi” dalam Horison. Tahun XLI I / 9. Jakarta: Yayasan I ndonesia. Halaman 4-6.

_______. 2011. “Mudiklah, Wahai Jiwa yang Tenteram” dalam Horison. Tahun XLVI / 9. Jakarta: Yayasan I ndonesia. Halaman 2-5.

I NTERNALI SASI NI LAI -NI LAI MULTI KULTURAL

Dalam dokumen buku hiski 5compressed (Halaman 126-132)