BAB III PENELITIAN TERHADAP PARA PASANGAN SUAMI-ISTRI
3.3 Analisa Hasil Penelitian
3.3.1 Kuantitatif
3.3.1.2 Pemahaman Nilai-Nilai Sakramen Perkawinan
Beberapa hal penting yang hendak dibahas pada bagian ini yaitu perihal pemahaman para pasangan suami-istri katolik tentang nilai-nilai dasar sakramen perkawinan secara teologis dan yuridis. Di dalam pembahasan ini dimasukkan pula hal-hal teknis, seperti persiapan perkawinan dan tata peneguhan kanonik (forma canonica).
a) Analisa Pemahaman Nilai-Nilai Sakramen Perkawinan
Sebagai tahap awal analisa, perlu diketahui dari mana para responden mendapatkan sumber pengetahuan tentang nilai-nilai sakramen perkawinan.
Kesadaran yang ingin ditumbuhkan berkaitan dengan hal ini adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan iman khususnya pendidikan tentang panggilan hidup berkeluarga.
Tabel 3.3 Sumber Pengajaran tentang Sakramen Perkawinan
Pertanyaan: Dari mana Anda pertama kali mendapatkan pemahaman tentang sakramen perkawinan ?
Pendidikan
Sumber Pengajaran Sakramen Perkawinan
N orangtua sekolah
katolik
pelajaran
katekumen KPP
SMP 0 0 0 3 3
SMA 5 7 14 15 41
D3 2 4 2 4 12
S1 5 10 6 23 44
12 21 22 45 100
Hampir separuh (45%) responden mendapatkan pengetahuan tentang sakramen perkawinan dari Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Dua puluh dua persen mendapatkan pengetahuan melalui pelajaran katekumen. Dua puluh satu persen mendapatkan di bangku sekolah katolik. dua belas persen mendapatkan pengetahuan hidup berkeluarga secara khusus dari orangtua. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.3.
Ada beberapa penjelasan yang disampaikan para responden berkaitan dengan sumber pengetahuan tentang sakramen perkawinan. Hampir separuh (45%) responden baru sungguh-sungguh mempelajari tentang nilai-nilai sakramen perkawinan saat mengikuti KPP. Hanya sedikit (12%) yang menyadari bahwa orangtua telah menyiapkan bekal jangka panjang untuk membangun hidup berkeluarga. Sedikit dari total responden ini mengungkapkan bahwa orangtua yang telah memberi teladan dan menanamkan iman serta ajaran Gereja Katolik yang kuat. Orangtua cenderung mengarahkan anak-anak mereka untuk memilih
pasangan yang sama-sama beriman katolik dengan kepribadian baik supaya perkawinan hanya berlangsung satu kali seumur hidup.
Esensi perkawinan dalam Gereja Katolik terletak pada perjanjian. Sebab itu, penting bagi mereka yang menikah secara katolik, memahami betul arti perjanjian perkawinan. Berdasarkan data yang diperoleh, para responden memahami dengan cukup baik paham perjanjian perkawinan. Hal ini terlihat pada tabel 3.4 dan 3.5
Tabel 3.4 Pemahaman tentang Perjanjian Perkawinan
Pertanyaan: Apa yang Anda pahami tentang perjanjian perkawinan?
Pendidikan
Hampir semua (99%) responden memahami perjanjian perkawinan sebagai ikatan suci seumur hidup yang dibentuk oleh seorang lelaki dan seorang perempuan.
Tabel 3.5 Pemahaman tentang Makna Perjanjian Perkawinan
Pertanyaan: Ketika menikah, Anda mengikrarkan janji nikah. Apa makna perjanjian nikah yang Anda hidupi?
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai makna dari perjanjian perkawinan, jumlah responden yang sebelumnya hampir semua (Tabel 3.4; 99%) menjawab sebagai ikatan seumur hidup, berkurang menjadi 83% yang sungguh paham bahwa makna perjanjian nikah adalah saling memberikan diri secara total kepada pasangannya.
Sedikit (15%) responden memaknai perjanjian perkawinan sebagai ikatan sipil dan sisanya (2%) memaknainya sebagai janji keterikatan biologis yang mantap (tidak berganti-ganti partner seksual).
Konsekuensi dari perjanjian perkawinan itu adalah tercapainya tujuan utama perkawinan. Tujuan utama perkawinan adalah kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta terarah pada kelahiran dan kesejahteraan anak-anak (bonum prolis). Bagaimana para responden memahami tujuan perkawinan? Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.6 di bawah ini.
Tabel 3.6 Pemahaman tentang Tujuan Utama Perkawinan Pertanyaan: Apakah tujuan utama Anda menikah?
Pendidikan
Tujuan Utama Kesejahteraan N
suami-istri dan anak-anak
Kewajiban orang dewasa
Penyaluran nafsu
SMP 1 2 0 3
SMA 34 6 1 41
D3 9 3 0 12
S1 32 11 1 44
76 22 2 100
Mayoritas (76%) responden memahami tujuan utama perkawinan. Dua puluh dua persen menyatakan bahwa menikah adalah tujuan utama orang yang sudah dewasa
(kewajiban). Sangat sedikit (2%) responden yang memandang tujuan utama menikah adalah wadah penyaluran nafsu biologis.
Tabel 3.7 Pemahaman tentang makna kelahiran anak-anak
Pertanyaan: Bagaimana Anda memaknai kelahiran anak-anak dalam perkawinan Anda?
Pendidikan
Makna Kelahiran Anak-anak
N buah cinta
yang menyem-purnakan
satu-satunya tujuan kawin
hak suami-istri
alasan perkawinan
SMP 2 0 1 0 3
SMA 39 1 0 1 41
D3 12 0 0 0 12
S1 41 0 2 1 44
94 1 3 2 100
Berkaitan dengan tujuan perkawinan tersebut, perlu diketahui pandangan responden tentang keterarahan pada kelahiran anak (prokreasi). Hampir semua (94%) responden memaknai kelahiran anak-anak sebagai buah kasih yang menyempurnakan cinta suami-istri. Hal ini dapat dilihat dalam tabel 3.7 di atas.
Tabel 3.8 Pemahaman tentang Sakramen Perkawinan
Pertanyaan: Perkawinan dua orang dibaptis adalah sakramen. Apa yang Anda pahami tentang perkawinan sebagai sakramen?
Pendidikan
Paham Sakramen Perkawinan tanda&sarana N
rahmat dalam realitas
dirayakan dalam ekaristi
Gereja meneguhkan
ikatan
SMP 1 0 2 3
SMA 26 5 10 41
D3 8 0 4 12
S1 33 1 10 44
68 6 26 100
Berkaitan dengan perkawinan sebagai sakramen, dapat dilihat pada tabel 3.8. Lebih dari separuh (68%) responden memahami perkawinan sebagai sakramen yang mewujudkan tanda dan sarana rahmat Allah dalam realita hidup berkeluarga. Hampir sepertiga (26%) responden memahami perkawinan sebagai sakramen karena perkawinan mereka diteguhkan dalam Gereja Katolik. Sangat sedikit (6%) responden menganggap perkawinan menjadi sakramen jika dirayakan dalam liturgi ekaristi. Pemahaman yang terakhir ini kurang tepat sebab yang menjadikan perkawinan itu sakramen adalah pembaptisan kedua mempelai, bukan liturgi ekaristi.
Tabel 3.9 Kaitan Antara Janji Perkawinan dan Sakramen
Pertanyaan: Menurut Anda, apa kaitan antara perjanjian perkawinan dan sakramen?
Pendidikan
Kaitan Janji dengan Sakramen Kristus angkat janji nikah N
ke martabat sakramen
Hampir semua (97%) responden dapat menjawab bahwa Kristus sendiri yang mengangkat perkawinan ke martabat sakramen. Sedangkan sisanya (3%) belum memahami kaitan antara janji nikah dan sakramen. Hal ini terlihat pada tabel 3.9 di atas.
Tabel 3.10 Ciri Teologis Sakramen Perkawinan
Pertanyaan: Apa yang mencirikan perkawinan sebagai sebuah sakramen secara teologis?
Pemahaman tentang nilai-nilai sakramen perkawinan bersumber dari ciri teologis dan yuridis perkawinan katolik. Dari segi teologis, mayoritas (85%)
responden dapat memahami rahmat kesetiaan yang lahir dari sakramen perkawinan. Rahmat kesetiaan ini merupakan gambaran kesetiaan Kristus kepada Gereja-Nya yang absolut. Sedikit (9%) yang menganggap ciri teologis sakramen perkawinan yaitu melakukan upacara perkawinan di gereja, dan sisanya (3%) menilai ciri teologis berasal dari perjanjian dua orang baptis serta (3%) dihadiri oleh imam. Berkaitan dengan ciri teologis itulah maka perkawinan dalam Gereja Katolik tidak dapat diceraikan.
Tabel 3.11 Alasan Tak-terceraikan-nya Perkawinan
Pertanyaan: Gereja mengajarkan bahwa perkawinan sakramental tidak dapat diceraikan. Menurut Anda, mengapa demikian?
Pendidikan
Alasan Perkawinan Tidak Dapat Cerai tanda kasih N
Tuhan
diatur hukum gereja
konsekuensi nikah gereja
SMP 3 0 0 3
SMA 34 5 2 41
D3 8 3 1 12
S1 39 4 1 44
84 12 4 100
Dalam tabel 3.11 diperlihatkan bagaimana pemahaman responden tentang alasan teologis tak terceraikannya perkawinan katolik. Mayoritas (84%) responden menjawab alasan tak terceraikannya perkawinan mereka karena sakramen perkawinan yang telah mereka terima merupakan tanda kasih setia Tuhan dalam hidup berkeluarga. Sedikit (12%) responden yang menjawab tak terceraikannya perkawinan mereka karena sudah diatur oleh hukum gereja. Hal ini tidaklah salah, namun jawaban ini berlaku dalam tataran yuridis (hukum). Sisanya
(4%) menganggap tak terceraikannya perkawinan sebagai suatu konsekuensi yang harus ditanggung apabila menikah dalam Gereja Katolik.
Tabel 3.12 Ciri Yuridis Sakramen Perkawinan
Pertanyaan: Apa yang mencirikan perkawinan sebagai sebuah sakramen dalam hukum Gereja?
Pendidikan
Ciri Yuridis Sakramen Perkawinan rahmat N
kesetiaan
perjanjian dua orang baptis
upacara gereja
dihadiri imam
SMP 2 0 1 0 3
SMA 25 2 10 4 41
D3 7 2 1 2 12
S1 31 6 5 2 44
65 10 17 8 100
Penemuan di lapangan yang signifikan adalah kurangnya pemahaman dalam segi hukum Gereja tentang sakramen perkawinan. Pada tabel 3.12, lebih dari separuh (65%) responden menjawab ciri yuridis sakramen perkawinan sama dengan ciri teologisnya yaitu rahmat kesetiaan dari Allah. Seharusnya ciri yuridis sakramen perkawinan adalah perjanjian perkawinan orang-orang dibaptis175. Hanya sedikit (10%) yang menjawab dengan benar. Sisanya (17%) berpendapat bahwa melangsungkan sakramen perkawinan dengan upacara di gereja memang diatur oleh hukum, dan (8%) memandang perkawinan harus dihadiri imam untuk menjadi sakramen.
175 Kitab Hukum Kanonik 1983, Kanon 1055.
Tabel 3.13 Pengertian Monogam/Unitas dalam Perkawinan Katolik
Pertanyaan: Gereja mengajarkan bahwa perkawinan katolik bersifat monogam (unitas). Menurut Anda, apa artinya monogam/unitas?
Pendidikan
Arti Monogam (Unitas) kawin sah N
1laki&1perempuan
nikah hanya 1x
setia pada satu orang yang resmi
SMP 2 1 0 3
SMA 21 17 3 41
D3 4 4 4 12
S1 23 16 5 44
50 38 12 100
Berkaitan dengan ciri yuridis sakramen perkawinan, perlu diperhatikan secara tegas mengenai sifat monogam perkawinan katolik. Separuh (50%) responden memahami unsur monogam dalam ciri hakiki perkawinan katolik yaitu perkawinan hanya sah jika dilaksanakan hanya antara seorang laki-laki dan seorang perempuan176. Lebih dari sepertiga (38%) responden memahami pengertian monogam yaitu hanya menikah satu kali seumur hidup, padahal berkaitan dengan meninggalnya pasangan, apabila pasangan yang ditinggal ingin menikah lagi beberapa waktu setelah pasangannya meninggal maka perkawinan boleh dilaksanakan asalkan status liber terpenuhi, artinya tidak ada halangan menikah apapun177. Hanya sedikit (12%) yang menganggap perkawinan monogam berarti setia pada satu pasangan yang resmi secara sipil. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.13.
176 R. Rubiyatmoko, 21, 155.
177 R. Rubiyatmoko, 147. Bdk. Kanon 1141.
Tabel 3.14 Persiapan Perkawinan
Pertanyaan: Sebelum menikah persiapan pernikahan macam apakah yang Anda lakukan?
Pendidikan
Persiapan Perkawinan ikut KPP dibantu N
Romo
rembuk keluarga
tanpa persiapan
SMP 1 1 1 0 3
SMA 26 2 11 2 41
D3 9 3 0 0 12
S1 33 3 7 1 44
69 9 19 3 100
Hal terakhir yang ditinjau untuk membandingkan variabel pertama adalah persiapan perkawinan yang dulu dilakukan oleh para responden. Duapertiga (69%) responden mengikuti KPP sebagai persiapan perkawinan jangka pendek.
Sedikit (19%) responden memandang rembug keluarga adalah persiapan yang paling penting. Sisanya (9%) langsung dibantu oleh Romo Paroki tanpa mengikuti KPP. Sangat sedikit (3%) yang menikah tanpa persiapan yang berarti.
b) Analisa Pengaruh Iman dalam Penghayatan Nilai-Nilai Sakramen Perkawinan
Setelah melihat pemahaman responden tentang nilai-nilai sakramen perkawinan, penulis akan menganalisa pengaruh iman dalam penghayatan nilai-nilai sakramen perkawinan. Penulis ingin menguji pemikiran bahwa iman yang teguh akan memperkuat penghayatan nilai-nilai sakramen perkawinan. Artinya, semakin beriman seseorang, semakin teguh pula hidup perkawinannya. Untuk mengetahui peranan iman dalam membangun perkawinan yang sakramen, penulis
menanyakan kepada responden, apakah mereka sengaja memilih pasangan yang sama-sama beriman katolik sebelum memutuskan untuk menikah. Hal itu dapat dilihat pada tabel 3.15.
Tabel 3.15 Sengaja Cari Pasangan Katolik
Pertanyaan: Apakah Anda sengaja mencari pasangan yang sama-sama katolik?
Pendidikan Sengaja Cari Pasangan Katolik
ya tidak N
SMP 2 1 3
SMA 28 13 41
D3 10 2 12
S1 39 5 44
79 21 100
Mayoritas (79%) responden sengaja memilih pasangan yang sama-sama beriman katolik. Sedangkan sisanya (21%) tidak mengharuskan mendapat pasangan yang sama-sama katolik. Para responden yang tidak mengharuskan mendapat pasangan yang seiman pada akhirnya merasa beruntung karena bisa mendapatkan pasangan yang katolik.
Untuk meninjau lebih jauh pengaruh iman dalam penghayatan nilai-nilai sakramen perkawinan, perlu diketahui seberapa sering responden mendapatkan santapan rohani melalui ekaristi kudus. Hal itu dapat dilihat pada tabel 3.16 di bawah ini.
Tabel 3.16 Frekuensi Mengikuti Perayaan Ekaristi
Pertanyaan: Seberapa sering Anda mengikuti perayaan Ekaristi?
Pendidikan
Frekuensi Ekaristi tiap hari tiap N
minggu
sebulan
sekali Na-Pas
SMP 0 3 0 0 3
SMA 0 40 0 1 41
D3 1 10 1 0 12
S1 2 42 0 0 44
3 95 1 1 100
Frekuensi kehadiran dan keterlibatan dalam Sakramen Ekaristi dapat memengaruhi kesetiaan hidup berkeluarga. Gagasannya adalah rahmat sakramen perkawinan dapat terus menerus diperkuat melalui Sakramen Ekaristi. Mayoritas (95%) responden mengikuti Ekaristi tiap minggu. Hasil ini dirasa cukup untuk meneguhkan dinamika hidup berkeluarga setiap minggunya178. Sangat sedikit (3%) responden yang menyempatkan diri menerima Sakramen Ekaristi setiap hari.
Sisanya (2%) ada yang hanya merayakan Ekaristi sebulan sekali dan saat Perayaan Natal dan Paskah. Realita ini masih sesuai dengan hukum gereja yang menghimbau umat beriman mengikuti Ekaristi minimal satu kali dalam setahun dalam masa Paskah179.
Selain memperkuat rahmat sakramen perkawinan, Sakramen Ekaristi juga menghasilkan buah-buah dalam hidup berkeluarga dan menggereja. Hal itu dapat dilihat dalam tabel 3.17 di bawah ini.
178 Kanon 898.
179 Kanon 920.
Tabel 3.17 Buah-buah Sakramen Ekaristi
Pertanyaan: Buah Ekaristi apa yang Anda alami dalam keluarga?
Pendidikan
Buah Ekaristi Satu dengan N
Tuhan &
sesama
Makin setia &
cinta keluarga
Tenteram karena menjalankan
kewajiban
SMP 2 1 0 3
SMA 17 20 4 41
D3 6 6 0 12
S1 28 12 4 44
53 39 8 100
Berkaitan dengan hal ini, data yang diperoleh menunjukkan bahwa separuh (53%) responden merasakan kedekatan dan kesatuan dengan Tuhan dan sesama di dalam maupun di luar keluarga sebagai buah dari Ekaristi. Sepertiganya (39%) merasa dikuatkan untuk makin setia dan mencintai keluarga. Sangat sedikit (8%) yang merasa bahwa mengikuti Ekaristi sebagai kewajiban yang harus dilakukan supaya tenteram.
Selain berkumpul bersama umat Allah untuk merayakan Ekaristi, keluarga-keluarga sebaiknya perlu berkumpul dan berdoa bersama dalam lingkup keluarga di rumah. Berikut ini disajikan tabel 3.18 yang memperlihatkan apakah responden melaksanakan doa keluarga di rumah.
Tabel 3.18 Pelaksanaan Doa dalam Keluarga
Pertanyaan: Apakah ada kebiasaan doa bersama dalam keluarga Anda?
Pendidikan Doa Keluarga
Berdasarkan data, duapertiga (65%) responden mengaku rutin berdoa bersama di dalam keluarga. Sedangkan sisanya (35%) belum sempat atau tidak rutin melakukan doa bersama keluarga karena sibuk dengan rutinitas harian masing-masing anggota keluarga. Dari enam puluh lima persen responden yang melaksanakan doa keluarga, mereka merasakan manfaat doa keluarga seperti yang tertera pada tabel 3.19 di bawah ini.
Tabel 3.19
Pertanyaan: Jika ya, apa manfaat yang Anda rasakan melalui doa keluarga?
Pendidikan
Responden yang melakukan doa keluarga bersama (65%), mayoritas (81,5% dari 65 responden) merasa lebih dekat dengan Tuhan dan keluarganya. Sedikit (12,3%)
yang merasa makin setia pada keluarga. Sangat sedikit (4,6%) yang merasa doa keluarga memberi ketenteraman karena telah menjalankan kewajiban sebagai keluarga katolik. Sisanya (1,5%) merasa biasa saja atau belum merasakan manfaat dari doa bersama keluarga.
Selain perayaan ekaristi dan doa bersama keluarga, demi mengembangkan keimanan dan pelayanan dalam keluarga, mereka juga dapat belajar dengan cara mengikuti berbagai kegiatan dalam hidup menggereja.
Tabel 3.20 Keaktifan dalam Hidup Menggereja
Pertanyaan: Apakah Anda aktif terlibat dalam kegiatan Gereja?
Pendidikan Aktif Kegiatan Gereja
Ya Tidak N
SMP 2 1 3
SMA 29 12 41
D3 6 6 12
S1 29 15 44
66 34 100
Duapertiga (66%) responden mengaku aktif dalam kegiatan di paroki dan lingkungan. Sisanya (34%) mengaku belum sempat atau hanya kadang-kadang mengikuti kegiatan di paroki maupun lingkungan.
Dari 66 responden yang aktif dalam hidup menggereja, mayoritas (71,2%) merasakan lebih dekat dengan Allah dan sesama melalui pelayanan di paroki dan lingkungan. Hal ini berdampak juga pada kedekatan antar anggota keluarga.
Hampir seperempatnya (22,7%) merasa bahagia dan bangga karena sekeluarga dapat aktif dan dekat dengan hidup menggereja. Sisanya (6,1%) merasa bahwa
keterlibatan dalam hidup menggereja hanya sekedar memenuhi kewajiban sebagai umat Allah. Hal itu dapat dilihat pada tabel 3.21 di bawah ini.
Tabel 3.21 Manfaat Keaktifan dalam Hidup Menggereja
Pertanyaan: Jika ya, apa manfaat dari kegiatan menggereja yang Anda rasakan dalam hidup perkawinan?
Pendidikan
Manfaat Keaktifan dalam Hidup Menggereja Dekat dengan N
Allah & sesama
Keluarga dekat
dengan Gereja Kewajiban
SMP 1 1 0 2
SMA 19 7 3 29
D3 4 1 1 6
S1 23 6 0 29
47 15 4 66
Dengan berbagai cara untuk memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah, para responden mengaku pernah merasakan dan mengalami rahmat sakramen perkawinan sungguh bekerja dalam keluarga mereka. Hal itu dapat dilihat pada tabel 3.22 di bawah ini.
Tabel 3.22 Pengalaman Rahmat Sakramen Perkawinan
Pertanyaan: Apa yang Anda alami dengan rahmat sakramen perkawinan?
Pendidikan Pengalaman Rahmat Sakramen Perkawinan Penyertaan rohani Persoalan selesai N
SMP 3 0 3
SMA 36 5 41
D3 11 1 12
S1 38 6 44
88 12 100
Mayoritas (88%) responden mengaku mengalami penyertaan secara rohani dalam setiap proses (bela-rasa suka-duka) hidup berkeluarga. Sisanya (12%) lebih merasakan rahmat sakramen perkawinan secara nyata ketika mampu mengatasi setiap persoalan dalam hidup perkawinan mereka.
c) Analisa Penghayatan Kesetiaan Perkawinan
Penghayatan terhadap kesetiaan perkawinan sebaiknya dilihat sejak awal mengambil keputusan untuk menikah. Dalam hukum perkawinan kanonik telah diatur bahwa setiap orang yang tidak terkena halangan nikah apa pun dan tanpa paksaan, bebas untuk melangsungkan perkawinan dengan sah180. “Bebas” dalam hal ini dapat bermakna bebas dari halangan nikah apa pun yang sudah ditentukan oleh hukum Gereja (status liber)181, dan dapat pula berarti memilih pasangan dengan bebas kemudian memutuskan untuk menikah dengan bebas pula tanpa paksaan182. Hal kebebasan ini berkaitan erat dengan kesepakatan perkawinan yang diucapkan melalui janji nikah oleh kedua mempelai. Kesepakatan ini harus bersifat sungguh-sungguh183, penuh184, dan bebas185. Apabila ketiganya atau salah satu dari ketiganya tidak terpenuhi, maka perkawinan akan menjadi tidak sah sebab cacatnya kesepakatan perkawinan.
180 Kanon 1058.
181 Kanon 1083-1094.
182 Kanon 1103.
183 Kanon 1101§1: Kesepakatan batin dalam hati diandaikan sesuai dengan kata-kata atau isyarat yang dinyatakan dalam merayakan perkawinan.
184 Kanon 1101§2: Tetapi bila salah satu atau kedua pihak dengan tindakan positif kemauannya mengecualikan perkawinan itu sendiri, atau salah satu unsur hakiki perkawinan, atau salah satu proprietas perkawinan yang hakiki, ia melangsungkan perkawinan dengan tidak sah.
185 Kanon 1103: Tidak sahlah perkawinan yang dilangsungkan karena paksaan atau ketakutan berat yang dikenakan dari luar, meskipun tidak dengan sengaja, sehingga untuk melepaskan diri dari ketakutan itu seseorang terpaksa memilih perkawinan.
Berkaitan dengan hal ini, penulis ingin melihat pernyataan responden mengenai dampak kebebasan yang dulu dimiliki saat memutuskan untuk menikah.
Alasannya adalah dampak kebebasan ini dapat memperlihatkan penghayatan responden dalam hidup berkeluarga mereka. Hal itu dapat dilihat pada tabel 3.23 di bawah ini.
Tabel 3.23
Pertanyaan: Kalau Anda melihat kembali kebebasan dalam memutuskan untuk menikah, apakah dampak kebebasan itu pada saat ini?
Pendidikan
Dampak Kebebasan untuk Menikah Meneguhkan N
perkawinan
Beban
besar Formalitas
SMP 2 1 0 3
SMA 32 8 1 41
D3 8 4 0 12
S1 26 18 0 44
68 31 1 100
Pada tabel 3.23 terlihat duapertiga (68%) responden mengaku kebebasan mereka saat memilih pasangan untuk menikah, hingga saat ini meneguhkan ikatan perkawinan mereka. Sepertiga (31%) responden merasakan tanggung jawab dan beban besar yang timbul akibat keputusan mereka untuk menikah. Beban besar itu antara lain mengurus anak dan pasangan hidupnya. Hanya 1% responden yang menganggap kebebasan hanyalah formalitas dengan alasan memang sudah waktunya menikah.
Lalu bagaimana dengan dampak perjanjian nikah yang telah diucapkan terhadap penghayatan kesetiaan perkawinan? Apakah isi janji perkawinan itu tetap lekat dalam ingatan dan dihayati dalam langkah laku hidup berkeluarga?
Tabel 3.24 Dampak Perjanjian Perkawinan
Pertanyaan: Sejauh mana janji nikah yang pernah diucapkan di hadapan Imam dan para saksi, berdampak bagi Anda dalam menjaga dan mengembangkan keutuhan keluarga?
Pendidikan
Dampak Perjanjian Perkawinan meneguhkan N
perkawinan
mengingatkan komitmen
bertanggung jawab
tidak berdampak
SMP 3 0 0 0 3
SMA 30 6 4 1 41
D3 11 1 0 0 12
S1 33 9 2 0 44
77 16 6 1 100
Mayoritas (77%) responden merasa janji perkawinan yang telah mereka ucapkan selalu memperteguh hidup perkawinan mereka. Sedikit (16%) responden yang merasa janji itu mengingatkan pada komitmen yang harus dipertahankan. Sangat sedikit (6%) responden yang merasa harus bertanggung jawab karena telah mengikat janji perkawinan dengan pasangannya, apalagi dengan hadirnya anak-anak dalam perkawinan mereka. Sisanya (1%) mengganggap perjanjian perkawinan itu biasa saja karena memang harus diucapkan sebagai syarat terjadinya perkawinan.
Banyaknya kasus perceraian di masyarakat secara umum bisa jadi memengaruhi hidup berkeluarga seseorang. Pendapat para respoden terhadap fenomena kawin-cerai dapat dilihat pada tabel 3.25 berikut ini.
Tabel 3.25 Pengaruh Perceraian di Masyarakat
Pertanyaan: Apakah masalah perceraian di masyarakat mempengaruhi sikap Anda terhadap perkawinan?
Pendidikan
Pengaruh Cerai di Masyarakat tidak N
pengaruh
biasa saja
sangat
pengaruh lain2
SMP 3 0 0 0 3
SMA 30 6 4 1 41
D3 9 2 1 0 12
S1 29 11 3 1 44
71 19 8 2 100
Mayoritas (71%) responden mengaku tidak terpengaruh oleh permasalahan kawin-cerai seperti itu. Sedikit (19%) responden yang merasa biasa saja karena tidak mau menanggapinya. Sangat sedikit (8%) responden yang khawatir akan terpengaruh oleh permasalahan kawin-cerai di masyarakat. Lainnya (2%) punya pendapat tersendiri mengenai pengaruh kawin-cerai di masyarakat.
Selain pengaruh fenomena perceraian, ada pula faktor-faktor lain dalam perkawinan yang memungkinkan timbulnya permasalahan besar dalam dinamika hidup berkeluarga. Kriteria permasalahan besar dalam perkawinan yaitu masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan anak, dan ketidaksetiaan pasangan (selingkuh).
Tabel 3.26 Adanya Masalah Besar dalam Perkawinan
Pertanyaan: Apakah Anda pernah mengalami masalah besar dalam perkawinan Anda?
Pendidikan Terdapat Masalah Besar dalam Perkawinan
Ya Tidak N
SMP 1 2 3
SMA 16 25 41
D3 5 7 12
S1 21 23 44
43 57 100
Berkaitan dengan permasalahan yang pernah dialami selama hidup perkawinan responden, penulis menemukan lebih dari separuh (57%) responden tidak mengalami kesulitan besar selama membina hidup berkeluarga. Sedangkan sisanya (43%) mengaku pernah mengalami kesulitan yang besar selama membina hidup berkeluarga. Namun, para responden yang mengaku pernah mengalami masalah yang berat, cenderung tidak mau menyebutkan apa jenis permasalahannya. Mereka hanya mengungkapkan sebatas masalah ekonomi, kesehatan, atau pendidikan anak misalnya. Penulis memperkirakan jawaban responden atas pertanyaan ini bersifat subjektif dan agak ditutup-tutupi.
Berkaitan dengan masalah kesetiaan, penulis memberikan pertanyaan mengenai faktor yang memungkinkan terjadinya ketidaksetiaan dalam perkawinan. Pertanyaan ini tidak bermaksud menegaskan bahwa responden pernah tidak setia melainkan menurut mereka faktor apa yang dapat memicu masalah kesetiaan perkawinan dan faktor itu kerap terjadi. Pertanyaan ini dimaksudkan agar para responden dapat saling terbuka memberikan pendapat dan menyadari untuk lebih bertanggung jawab terhadap pasangan. Jawaban responden tertera pada tabel 3.27.
Tabel 3.27 Pemicu Masalah Ketidaksetiaan
Pertanyaan: Masalah apa yang paling kerap muncul dalam keluarga Anda terkait dengan kasih dan kesetiaan perkawinan?
Pendidikan
Hampir duapertiga (65%) responden menjawab permasalahan kesetiaan dapat timbul karena komunikasi yang kurang lancar. Sisanya (21%) responden menjawab karena pasangan kurang memberikan perhatian yang seharusnya, dan (12%) karena kurang mempercayai pasangannya. Sangat sedikit (2%) responden yang menjawab bahwa pasangannya memang kurang setia.
Tabel 3.28 menyajikan cara yang ditempuh para responden untuk mengatasi masalah dalam perkawinan, duapertiga (69%) responden memilih untuk melakukan rekonsiliasi dengan mengintrospeksi diri masing-masing.
Sebagian (22%) responden memilih untuk membawa masalah perkawinan ke dalam keluarga dan saling berembug untuk mengatasinya. Sedikit (6%) responden yang mengatasinya dengan komunikasi satu arah atau sepihak, dan sisanya (3%)
Sebagian (22%) responden memilih untuk membawa masalah perkawinan ke dalam keluarga dan saling berembug untuk mengatasinya. Sedikit (6%) responden yang mengatasinya dengan komunikasi satu arah atau sepihak, dan sisanya (3%)