• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil analisis kuesioner dan wawancara, metode tanya jawab sering digunakan di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Jumlah siswa yang memilih sering menggunakan metode tanya jawab sebesar 34 siswa dari 95 siswa dengan persentase sebesar 35,8%, dan dari 13 responden yang diwawancarai terdapat 6 responden yang mengatakan sering menggunakan metode tanya jawab.

Dilihat dari sisi kualitas, metode tanya jawab ini tergolong memiliki kualitas yang cukup baik karena nilai rata-rata yang diperoleh adalah 22,1684 dan bisa membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Dari nilai rata-rata yang diperoleh ini terdapat 47 siswa yang sangat setuju, 38 siswa setuju, dan 10 siswa tidak setuju dengan metode tanya jawab.

Di dalam metode tanya jawab ada hubungan timbal balik antara guru dan murid. Guru bertanya dan murid menjawab atau murid bertanya dan guru menjawab. Menurut Mufarrokah (2009:87), pertanyaan yang diberikan sebagai stimulus dan jawaban atas pertanyaan tersebut sebagai pengarahan aktivitas belajar.

Maka pertanyaan yang diberikan bukanlah pertanyaan yang berbelit-belit, tetapi pertanyaan yang mudah dipahami. Siswa yang paham akan pertanyaan dari guru dapat mengarahkannya untuk melakukan suatu aktivitas dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Artinya bahwa di dalam metode tanya jawab ini siswa bisa berinteraksi dengan materi pembelajaran, dengan melakukan aktivitas mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan.

Proses mencari jawaban membuat siswa menjadi semangat untuk berpikir bahkan melakukan suatu penyelidikan atas pertanyaan yang diberikan. Adanya respon timbal balik antara siswa dan guru akan membuat siswa semakin terampil dan berani dalam menjawab dan memberikan pendapat. Keberanian siswa inilah sebagai salah satu nilai yang positif karena di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik, siswa dituntut untuk mampu mensharingkan pengalaman imannya.

Pertanyaan dari guru yang mudah dipahami, memberi peluang yang besar bagi siswa untuk melakukan sharing atas pengalaman imannya.

2. Metode Demonstrasi

Salah satu metode yang digunakan di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik adalah metode demonstrasi. Dilihat dari jangka waktu penggunaan metode, sebagian besar siswa yang menjawab kuesioner dan wawancara mengatakan pernah mengikuti metode demonstrasi. Dari 95 siswa yang mengisi kuesioner, sebanyak 54 siswa memilih pernah mengikuti metode demonstrasi dengan persentase sebesar 56,8%. Sedangkan dilihat dari kualitas, metode ini

memiliki kualitas yang cukup baik, karena nilai rata-rata yang diperoleh adalah 20,8526.

Dari hasil analisis kuesioner dan wawancara, sebagian besar siswa merasa bahwa pembelajaran yang menggunakan metode demonstrasi menarik, karena mereka tidak hanya mendengar tetapi melihat secara langsung. Selain itu, pembelajaran semakin jelas dan konkret apabila diperagakan. Menurut Chotimah dan Fathurrohman (2018:338), metode demonstrasi ini sangat efektif bagi peserta didik untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Hal ini dikarenakan pada usia SD, pemikiran siswa mulai berkembang untuk berpikir secara konkret dan rasional. Maka di dalam metode demonstrasi diberikan beberapa kecakapan yang bisa mengembangkan pola pikirnya. Mereka bisa secara langsung berinteraksi dengan ilmu pengetahuan melalui alat peraga dan mendapatkan kecakapan baru dari guru. Kecakapan inilah yang membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan di dalam diri mereka.

Siswa menjadi semakin aktif mengamati, agar bisa menyesuaikan antara teori dan kenyataan. Setelah itu, ia akan mencobanya sendiri. Ketika siswa sudah melakukan dan bisa menjelaskan dengan baik, maka tingkat pemahamannya menjadi sangat baik. Contohnya ketika memperagakan cara mengaku dosa. Siswa yang terlibat dalam mengikuti gerakkan mengaku dosa akan membuatnya menjadi lebih mudah mengingat dan paham. Bahkan muncul pertanyaan dari apa yang sedang diperagakan. Pertanyaan inilah yang membuat mereka berdiskusi dengan teman lainnya atau menanyakan pada guru.

Suasana pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dapat membuat siswa menjadi aktif dan cepat menangkap apa yang sedang diperagakan. Maka alat peraga yang digunakan guru memang harus sesuai dengan materi yang sedang dipelajari oleh siswa.

3. Metode Diskusi

Berdasarkan hasil analisis kuesioner dan wawancara, metode diskusi pernah digunakan di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Jumlah siswa yang pernah mengikuti metode diskusi sebesar 44 siswa dari 95 siswa dengan persentase sebesar 46,3%. Dilihat dari sisi kualitas, metode diskusi ini tergolong memiliki kualitas yang cukup baik karena nilai rata-rata yang diperoleh adalah 33,4316. Dari nilai rata-rata ini terdapat 41 siswa yang sangat setuju, 42 siswa setuju, dan 9 siswa tidak setuju dengan metode diskusi.

Kualitas dari metode tanya jawab dilihat dari tingkat pemahaman siswa dan tujuan yang dicapai dari metode ini. Menurut Chotimah dan Fathurrohman (2018:341), tujuan dari metode diskusi ini adalah pertama, siswa dapat memecahkan masalah. Kedua, menjawab pertanyan. Ketiga, menambah dan memahami pengetahuan siswa dan yang keempat adalah membuat suatu keputusan.

Masalah yang diberikan guru menuntut siswa untuk mencari tahu sendiri jawaban atau solusi yang diberikan secara bersama-sama. Maka tukar pendapat menjadi hal yang mendasar di dalam diskusi.

Saat diskusi, siswa dapat melatih dan membiasakan diri untuk menghargai pendapat temannya. Tidak hanya terbiasa untuk menghargai pendapat teman, tetapi juga menjadi kreatif dalam mengungkapkan pendapat atau memberikan terobosan baru. Pendapat-pendapat tersebut menjadi wawasan baru bagi siswa. Maka di dalam diskusi ini siswa dituntut untuk menjadi pribadi yang berani. Berani dalam memberikan pendapat dan berani dalam mengambil keputusan atas hasil diskusi yang telah dilakukan.

4. Metode Tugas Perorangan

Berdasarkan hasil analisis kuesioner dan wawancara, metode tugas perorangan sering digunakan di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.

Jumlah siswa yang sering mengikuti metode tugas perorangan sebesar 42 siswa dari 95 siswa dengan persentase sebesar 44,2%. Dilihat dari sisi kualitas, metode tugas perorangan ini tergolong memiliki kualitas yang cukup baik karena nilai rata-rata yang diperoleh adalah 20,9684. Dari nilai rata-rata ini terdapat 39 siswa yang sangat setuju, 40 siswa setuju, 11 siswa tidak setuju, dan 1 siswa sangat tidak setuju dengan metode diskusi.

Metode tugas perorangan yang digunakan saat mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, membantu siswa untuk semakin paham dengan materi yang telah disampaikan guru. Siswa berinisiatif untuk mengerjakan tugas secara mandiri, dan mampu mengembangkan kreativitas saat mengerjakan tugas. Sebab menurut Sani (2019:163), metode pembelajaran digunakan untuk mengembangkan inisiatif siswa

secara individual, dan membangkitkan rasa percaya diri serta mengembangkan diri mereka sendiri.

Siswa yang dengan setia mengerjakan tugas memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin yang tinggi. Tugas tersebut tidak dijadikan sebagai sebuah beban tetapi semangat dalam belajar. Siswa secara langsung berinteraksi dengan ilmu pengetahuan saat mengerjakan tugas. Misalnya saja tugas membuat kliping yang berkaitan dengan materi yang sedang didalami. Selain itu, adanya tugas membantu guru dalam mengetahui tingkat pemahaman siswa akan materi yang telah disampaikan.