BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan menggunakan analisis deskriptif dan statistik dengan menggunakan SPSS version 16 untuk mendapatkan gambaran hasil penelitian dari data yang sudah dikumpulkan. Sedangkan untuk pembuatan diagram
dan penentuan nilai acuan norma menggunakan microsoft excel 2013. Penilaian acuan norma dalam menentukan kualitas dari metode seperti berikut ini:
Tabel 5. Penilaian Acuan Norma Skala Huruf Kriteria Rumus Acuan Norma
A Amat Baik mean + 1,5 SD
B Baik mean + 0,5 SD
C Cukup Baik mean - 0,5 SD
D Tidak Baik mean - 1,5 SD
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Responden
Responden dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar kelas IV, V dan VI yang telah mengikuti pembelajaran Agama Katolik dan sekolahnya ada di wilayah DIY. Rincian dari siswa tersebut sebagai berikut:
Tabel 6: Jumlah Siswa berdasarkan Kelas Frequency Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Kelas IV 43 45.3 45.3 45.3
Kelas V 35 36.8 36.8 82.1
Kelas VI 17 17.9 17.9 100.0
Total 95 100.0 100.0
Tabel di atas jumlah responden yang diperoleh sebanyak 95 siswa. Siswa kelas VI sebanyak 43 orang dengan angka persentase 45,3%, siswa kelas V sebanyak 35 orang dengan angka persentase 36,8%, dan siswa kelas VI sebanyak 17 orang dengan angka persentase 17,9%.
Tabel 7: Jumlah Siswa berdasarkan Sekolah Frequency Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Swasta 82 86.3 86.3 86.3
Negeri 13 13.7 13.7 100.0
Total 95 100.0 100.0
Dari data tersebut diperoleh jumlah siswa yang sekolah di Sekolah Swasta Katolik berjumlah 82 orang dan siswa yang sekolah di Sekolah Negeri berjumlah 13 orang.
2. Deskripsi Metode Tanya Jawab a. Jangka Waktu Penggunaan Metode
Tabel 8: Jangka Waktu Penggunaan Metode Tanya Jawab Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Pernah 34 35.8 35.8 35.8
Sering 34 35.8 35.8 71.6
Selalu 27 28.4 28.4 100.0
Total 95 100.0 100.0
Dari tabel di atas, total siswa siswa yang diperoleh sebanyak 95 siswa.
Sebanyak 34 siswa pernah mengikuti metode tanya jawab dengan persentase sebesar 35,8%. Sebanyak 34 siswa juga sering mengikuti metode tanya jawab dengan persentase sebesar 35,8%, dan sebanyak 27 siswa selalu mengikuti metode tanya jawab dengan persentase sebesar 28,4%. Maka diagram penggunaan metode tanya jawab seperti di bawah ini:
Dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa terbanyak yaitu siswa yang pernah mengikuti metode tanya jawab dan siswa yang sering mengikuti metode tanya jawab.
b. Kualitas Penggunaan Metode
Tabel 9. Kualitas Penggunaan Metode Tanya Jawab
Kriteria Interval Kategori Frekuensi Persentase
4 22,76 - 28 Sangat Setuju 47 49,5%
3 17,51 - 22,75 Setuju 38 40%
2 12,26 – 17,50 Tidak Setuju 10 10,5%
1 7 – 12,25 Sangat Tidak Setuju 0 0%
Dari hasil analisis data diperoleh sebanyak 47 siswa sangat setuju dengan metode tanya jawab dengan persentase sebesar 49,5%, 38 siswa setuju dengan persentase sebesar 40%, dan sebanyak 10 siswa tidak setuju dengan persentase sebesar 10,5%. Maka bentuk diagramnya seperti di bawah ini:
Diagram 1. Siswa yang Mengikuti Metode Tanya Jawab
Pernah Sering Selalu
Diagram tersebut menggambarkan bahwa jumlah siswa terbesar terdapat pada siswa yang sangat setuju dengan metode tanya jawab. Jumlah siswa yang sangat setuju sebanyak 47 siswa dengan persentase sebesar 49,5%.
Tabel 10. Rangkuman dari Kualitas Penggunaan Metode Tanya Jawab Statistics
N Valid 95
Missing 0
Mean 22.1684
Std. Error of Mean .36309
Median 22.0000
Mode 22.00
Std. Deviation 3.53900
Variance 12.525
Range 14.00
Minimum 14.00
Maximum 28.00
Sum 2106.00
Hasil pengolahan SPSS 16 ini diperoleh mean sebesar 22,1684, median sebesar 22, mode sebesar 22, nilai terendah sebesar 14 dan nilai tertinggi sebesar
Diagram 2. Kualitas Penggunaan Metode Tanya Jawab
SS S TS
28. Dari nilai rata-rata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode tanya jawab memiliki kualitas yang cukup baik, dengan melihat tabel PAN di bawah ini:
Tabel 11. Penilaian Acuan Norma Metode Tanya Jawab Skala Huruf Kriteria Rumus Acuan Norma Batas Bawah
A Amat Baik mean + 1,5 SD 27.476922
B Baik mean + 0,5 SD 23.937921
C Cukup Baik mean - 0,5 SD 20.398921
D Tidak Baik mean - 1,5 SD 16.85992
c. Hasil Wawancara
1) Jangka Waktu Penggunaan Metode
Jumlah responden wawancara ada 13 dengan rincian 6 guru agama Katolik dan 7 siswa yang mengikuti pembelajaran agama Katolik di sekolah. Dari 13 responden tersebut, ada 6 responden yang mengatakan sering mengalami metode tanya jawab yaitu R2, R3,R5, R7, R9, dan R11. Sebanyak 4 responden yang mengatakan selalu mengalami metode tanya jawab yaitu R1, R8, R12, R13, dan yang mengatakan kadang-kadang sebanyak 3 responden yaitu R4, R6, dan R10.
Dari 6 responden yang mengatakan sering, ada 3 responden yang menambahkan penjelasannya. R3 mengatakan bahwa ia sering menggunakan metode tanya jawab mulai dari introduksi, pendalaman materi sampai pada pembuatan rangkuman di akhir pembelajaran. R2 mengatakan sering menggunakan metode tanya jawab tetapi guru yang sering bertanya dibandingkan siswa. Jika siswa diminta bertanya mereka tidak mau, dan jika mereka bertanya terkadang di luar konteks materinya. R7 menambahkan bahwa
Tanya jawab sering dilakukan. Tanya jawab ini ada dua, baik saya dengan murid atau murid dengan murid. Jadi tidak selalu saya dengan murid tapi
murid dengan murid juga. Itu nanti mengarah ke metode diskusi. Jadi tanya jawab bisa melibatkan banyak orang, sehingga nanti mereka dapat menyampaikan pengalaman mereka. Mereka akan cerita. Memang tuntutan bagi orang-orang tertentu bahwa ini belum cukup dan lain sebagainya.
Empat responden yang menjawab selalu mengalami metode tanya jawab, ada satu responden yang menambahkan penjelasannya yaitu R8. R8 mengatakan bahwa setiap mengajar ia selalu menggunakan metode tanya jawab untuk mengetahui seberapa jauh siswa mendalami materi pada pertemuan sebelumnya.
Sedangkan dari 3 responden yang menjawab kadang-kadang, ada dua responden yang memberikan penjelasan singkat yaitu R6 dan R10. R6 mengatakan bahwa pelajaran agama yang dilakukan di sekolahnya lebih sering dijelaskan daripada tanya jawab. Sedangkan R10 mengatakan bahwa metode tanya jawab dilakukan kadang-kadang yaitu saat akhir materi.
2) Kualitas Penggunaan Metode
Berdasarkan uji statistik, metode tanya jawab tergolong memiliki kualitas yang cukup baik. Hal tersebut didukung dengan hasil wawancara tentang kelebihan dari metode tanya jawab termasuk apa saja yang dialami siswa dan apakah metode tanya jawab dapat mencapai tujuan pembelajaran, yang telah dilakukan oleh peneliti.
a) Kelebihan Metode Tanya Jawab
Bagi R1, R2, R3 dan R4 metode tanya jawab bisa membantu mereka mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami pembelajaran yang telah dilakukan dan membiasakan mereka untuk berinteraksi dengan guru. R2 bisa menanyakan kejelasan materi pada siswa, apakah siswa paham atau malah
sebaliknya. Siswa juga dilatih untuk berani bertanya pada orang lain. R3 (28 Mei 2020) mengatakan bahwa:
Kelebihan metode tanya jawab bagi saya yang pertama saya bisa melibatkan anak, mengajak anak dalam proses pembelajaran. Kedua, saya bisa mengajak anak untuk lebih fokus pada pembelajaran. Jadi dengan tanya jawab itu, anak akan terbawa ikut dalam pembelajaran. Ketiga, saya bisa merangsang anak untuk berpikir atau mengingat pembelajaran-pembelajaran yang sudah atau pengalaman-pengalaman yang sudah mereka jalani. Kemudian yang keempat saya bisa melatih anak untuk berpendapat.
Kadang anak itu kan malu atau mungkin malas. Nah, dengan tanya jawab itu mau tidak mau anak akan terlibat ikut berpendapat. Melatih keberanian anak untuk berbicara juga. Selanjutnya, saya bisa mengoptimalkan, memaksimalkan dalam menggali pengalaman anak. Sehingga dalam pembelajaran itu, pengalaman yang dimiliki anak bisa saya manfaatkan untuk lebih mendalami tema pembelajaran
R8 merasa bahwa metode tanya jawab sangat cocok dengan pembelajaran PAK karena dapat mengajak siswa untuk sharing pengalaman imannya. Suasana kelas menjadi lebih hidup. Sebagian besar siswa aktif mengikuti pembelajaran, walaupun ada beberapa dari mereka yang karakternya pendiam dan juga beberapa siswa yang bertanya dengan tujuan hanya untuk membuat gaduh.
R4 merasa senang bisa tanya jawab di dalam kelas. Jika menjawab salah maka ia akan mengetahui jawaban yang benar. Pertanyaan dari guru yang mudah dimengerti membuatnya berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Dia juga berhenti dari ribut ketika guru memberikan pertanyaan dan semangat berpikir untuk menemukan jawaban yang benar. R5 dan R6 juga merasa senang karena bisa menambah dan mengetahui ilmu pengetahuan, serta mengetahui hal-hal lain yang belum diketahui. R6 bisa bertanya pada guru tentang apa yang belum dimengertinya dan ini memudahkannya untuk mengerti materi agama.
Saat wawancara dengan R7, ia mengatakan bahwa siswa lebih kritis ketika mengikuti metode tanya jawab. Terkadang pertanyaan dari siswa di luar dugaan dan suasana yang dibangun menyenangkan. Menurut R9, siswa tidak hanya menjadi pendengar setia saja tetapi juga menjadi siswa yang aktif. Ada beberapa anak memang memiliki kecerdasan yang lebih, sehingga bisa mengingat pembelajaran yang telah berlalu. Tetapi ada beberapa anak yang harus dipancing untuk membantu ingatannya kembali akan pembelajaran sebelumnya. Pertanyaan yang diberikan juga merangsang siswa untuk berani dan terampil, karena setiap pertemuan siswa selalu ditekankan untuk tidak takut bertanya atau berpendapat dan membuat kelas menjadi lebih nyaman. Ketika tanya jawab, anak-anak menjadi fokus dan berlomba untuk menjawab pertanyaan karena ada nilai tambahan untuk mereka.
Pada saat metode tanya jawab, terkadang R10 merasa grogi karena dadakan antara siap dan tidak siap, dan terkadang tidak bisa menjawab. Sama seperti R4, R10 dan R12 juga semangat berpikir dalam menjawab pertanyaan karena bagi mereka bisa menambah nilai dan bisa mengingat materi sebelumnya. Sebenarnya bagi R10, pertanyaan dari guru mudah tapi jawabannya yang susah. Sedangkan bagi R12, ia akan menjawab dan memberikan pertanyaan apabila ia belajar, sebaliknya jika ia tidak belajar maka ia tidak dapat menjawab dan memberi pertanyaan. R10 menambahkan lagi bahwa pertanyaan dari guru bisa membuatnya berhenti dari ribut walaupun hanya sebentar.
R11 mengatakan bahwa di dalam metode tanya jawab guru tidak menunjuk siswa untuk menjawab. Siswa yang bisa menjawab menunjuk dirinya sendiri dengan cara mengangkat tangan. Pertanyaan yang diberikan mudah maka R11
sering menjawab dan hal tersebut membuatnya merasa senang. Adanya metode tanya jawab juga membuat R13 bisa berinteraksi langsung dengan guru dan saat memberikan pendapat, ia bisa berdiskusi dengan teman.
b) Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Hasil wawancara pada tiga belas responden, semuanya mengatakan bahwa metode tanya jawab dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Bagi R1 metode tanya jawab sangat membantu karena bisa mengajarkan siswa untuk berani berbicara di muka umum dan mengajak mereka untuk mengeluarkan pendapat. R3 menjelaskan lagi bahwa:
Metode tanya jawab sangat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran itu ada empat aspek yaitu sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Metode tanya jawab lebih-lebih dalam hal pengetahuan sangat membantu siswa. Jadi sejauh mana kita akan bisa melihat anak itu mencapai tujuan lebih-lebih dalam hal pengetahuan dengan tanya jawab itu. Tetapi memang ada kekurangannya, jika lebih-lebih kalau di sekolah negeri. Mungkin siswa-nya tidak terlalu banyak, ketemu dengan siswa yang sulit untuk diajak tanya jawab, memang itu membutuhkan pendekatan dan juga kreativitas guru dalam menggunakan tanya jawab ini, supaya anak itu mampu menyampaikan atau mengutarakan memberikan pendapatnya. Tetapi memang secara intinya itu metode tanya jawab sangat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. sedangkan tujuan pembelajaran agama katolik di bidang pengetahuan itu bisa kita tempuh salah satu teknik yang digunakan atau mungkin biasa kita sebut dengan penilaian itu diantaranya menggunakan teknik lisan. Jadi metode tanya jawab itu kita terapkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang kita berikan dikuasai oleh anak. Ketercapaian dari proses pembelajaran itu bisa diterima oleh anak dan juga mereka terapkan dapat kita ukur dari teknik yang kita pakai dengan tanya jawab itu.
R4 dan R5 bisa menambah pengetahuan dan wawasan mereka akan materi pembelajaran. R6 bisa bertanya apa saja yang belum jelas, dan R9 bisa mengetahui seberapa besar siswa dapat menangkap materi yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Bagi R10 dan R11, metode tanya jawab sangat membantunya
mencapai pembelajaran karena dapat mengingat dan mengulangi kembali pembelajaran yang telah diberikan guru. Sehingga saat ulangan, mereka tidak lupa, tidak bingung, dan tidak hanya diberi tahu jawabannya.
Begitu pula dengan R12 yang mengatakan bahwa metode tanya jawab dapat membantunya mencapai tujuan pembelajaran karena dapat mengetahui secara dalam materi yang sedang dipelajari. Ketika R13 lupa dan tidak mengerti, maka ia akan menanyakan dan ingat kembali dengan materi pembelajaran. R7 menambahkan lagi bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang cepat menangkap dan ada yang kesulitan. Pada hasil ujian guru akan memeriksa, dan menjelaskan kembali pada siswa yang menjawab salah agar ke depannya mereka paham. R8 hanya mengatakan jelas membantu. Akibat dari pemotongan jam mengajar, menurut R2 metode tanya jawab merupakan metode yang efektif bagi siswa.
3. Deskripsi Metode Demonstrasi a. Jangka Waktu Penggunaan Metode
Tabel 12. Jangka Waktu Penggunaan Metode Demonstrasi Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 4 4.2 4.2 4.2
Pernah 54 56.8 56.8 61.1
Sering 28 29.5 29.5 90.5
Selalu 9 9.5 9.5 100.0
Total 95 100.0 100.0
Hasil analisis kuesioner dari 95 siswa dapat diketahui jumlah metode pembelajaran demonstrasi yang dialami sebagai berikut: sebanyak 4 siswa tidak pernah mengalami metode demonstrasi dengan valid persentase 4,2%, 54 siswa pernah mengalami metode demonstrasi dengan valid persentase 56,8%, sebanyak 28 siswa sering mengalami metode demonstrasi dengan valid persentase 29,5%, dan sebanyak 9 siswa selalu mengalami metode demonstrasi dengan valid persentase 9,5%. Maka diagram penggunaan metode demonstrasi seperti di bawah ini:
Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa pernah mengikuti metode demonstrasi dengan jumlah sebesar 54 siswa dari total siswa yakni 95 siswa, dan besar persentasenya adalah 56,8%.
b. Kualitas Penggunaan Metode
Tabel 13. Kualitas Penggunaan Metode Demonstrasi
Kriteria Interval Kategori Frekuensi Persentase
4 22,76 - 28 Sangat Setuju 38 40%
3 17,51 - 22,75 Setuju 42 44,2%
2 12,26 – 17,50 Tidak Setuju 6 6,3%
Diagram 3. Jangka Waktu Penggunaan Metode Demonstrasi
Tidak Pernah Pernah Sering Selalu
1 7 – 12,25 Sangat Tidak Setuju 5 5,3%
0 Tidak Menjawab 4 4,2%
Dari hasil analisis data diperoleh sebanyak 38 siswa sangat setuju dengan metode demonstrasi dengan persentase sebesar 40%, 42 siswa setuju dengan persentase sebesar 44,2%, sebanyak 6 siswa tidak setuju dengan persentase sebesar 6,3%, sebanyak 5 siswa yang sangat tidak setuju dengan persentase sebesar 5,3%, dan sebanyak 4 siswa yang tidak menjawab karena pada nomor sebelumnya mereka menjawab tidak pernah mengikuti metode demonstrasi. Maka bentuk diagramnya seperti di bawah ini:
Diagram tersebut menggambarkan bahwa jumlah siswa terbesar terdapat pada siswa yang setuju dengan metode demonstrasi. Jumlah siswa yang sangat setuju sebanyak 42 siswa dengan persentase sebesar 44,2%.
Diagram 4. Kualitas Penggunaan Metode Demonstrasi
SS S TS STS TM
Tabel 14. Rangkuman dari Kualitas Penggunaan Metode Demonstrasi Statistics
N Valid 95
Missing 0
Mean 20.8526
Std. Error of Mean .56354
Median 22.0000
Mode 21.00
Std. Deviation 5.49268
Variance 30.170
Range 28.00
Minimum .00
Maximum 28.00
Sum 1981.00
Hasil pengolahan SPSS 16 ini diperoleh mean sebesar 20,8526, median sebesar 22, mode sebesar 21, nilai terendah sebesar 0 dan nilai tertinggi sebesar 28.
Dari nilai rata-rata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi memiliki kualitas yang cukup baik dengan melihat tabel PAN di bawah ini:
Tabel 15. Penilaian Acuan Norma Metode Demonstrasi Skala Huruf Kriteria Rumus Acuan Norma Batas Bawah
A Amat Baik mean + 1,5 SD 29.09165257
B Baik mean + 0,5 SD 23.59897191
C Cukup Baik mean - 0,5 SD 18.10629125
D Tidak Baik mean - 1,5 SD 12.61361058
c. Hasil Wawancara
1) Jangka Waktu Penggunaan Metode
Berdasarkan hasil wawancara 10 dari 13 responden pernah mengalami metode demonstrasi yakni R1, R2, R3, R5, R6, R8, R9, R10, R11, dan R13.
Sedangkan R4, R7, dan R12 belum pernah mengalami metode demonstrasi. Bagi R1 dan R9, metode demonstrasi ini digunakan pada materi yang sungguh-sungguh cocok dengan metode tersebut. R2 pernah melakukan metode ini pada materi tentang “Kisah Penciptaan” dan “Sikap Berdoa yang Baik” serta “Sakramen”. R3 menambahkan lagi bahwa ia pernah melakukan metode demonstrasi sejauh materi tersebut dimungkinkan untuk didemonstrasikan. Misalnya saja tentang menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, berdoa yang meliputi tanda salib dan doa-doa harian yang dihafalkan, sikap mencintai lingkungan dengan cara menanam tanaman, pembaptisan, mengaku dosa, dan perayaan ekaristi agar anak bisa terlibat langsung dengan melaksanakannya. Begitu juga dengan R11.
Kelas V dan VI sering mengikuti metode demonstrasi yang diberikan oleh R8, seperti membuat kelompok untuk menerapkan kisah kitab suci yang sedang dibahas kemudian ditampilkan di depan kelas dengan membuat gerak dan lagu atau membuat karya lain. R13 pernah memimpin doa jalan salib ketika mengikuti metode demonstrasi. R5 dan R6 hanya mengatakan pernah mengalami metode tanya jawab tetapi jarang.
2) Kualitas Penggunaan Metode
Responden yang mengisi kuesioner sebagian besar pernah mengalami metode tanya jawab. Dari nilai rata-rata yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa metode demonstrasi merupakan metode yang memiliki kualitas cukup baik. Hasil wawancara juga mengatakan demikian. Berikut ini penjelasan tentang kualitas metode demonstrasi:
a) Kelebihan Metode Demonstrasi
R3 memaparkan bahwa siswa yang mengikuti metode demonstrasi akan lebih jelas menerima pembelajaran dan pembelajaran menjadi lebih konkret.
Pembelajaran yang konkret akan mudah diterima oleh siswa. Selain itu pembelajarannya menjadi lebih menarik karena siswa terlibat langsung untuk mendemonstrasikan. Hal tersebut membuat mereka menjadi aktif menghubungkan antara teori yang sudah diberikan dengan praktek langsung. Pada intinya mereka lebih bisa memahami dan mengetahui maknanya. Begitu juga dengan R2, metode ini membantu siswa untuk materi pembelajaran yang disampaikan melalui alat peraga.
R5, R6, R10, R11, dan R13 merasa senang mengikuti metode demonstrasi.
Bagi mereka, metode ini membantu mereka untuk mengetahui dan menambah ilmu dalam pembelajaran. R8 mengatakan bahwa pembelajaran menjadi menyenangkan dan bisa melatih siswa untuk percaya diri. Pembelajaran menjadi lebih bervariasi.
Bagi R9, metode ini membantu siswa untuk lebih kreatif, lebih mendalami materi pembelajaran, dan suasana yang dibangun tidak monoton. Maka ia menyesuaikan alat peraga dengan materi yang akan diberikan pada siswa.
Pada saat metode demonstrasi, R10 dan R11 diminta untuk terlibat dalam memperagakan sesuatu. Berdasarkan pengalaman R10, terkadang alat peraga yang digunakan guru tidak sesuai. R13 merasa mudah mengerti materi pembelajaran karena dipraktekkan secara langsung. Bagi R1 (26 Mei 2020), perhatian siswa menjadi terpusat dan proses belajar siswa lebih terarah pada satu materi.
Pengalaman siswa sebagai hasil pembelajaran akan lebih melekat dan mengesan di dalam diri mereka.
b) Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Sepuluh responden yang mengatakan pernah mengikuti metode tanya jawab mengakui bahwa metode demonstrasi ini dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. R1, R2, dan R8 hanya mengatakan “membantu” tanpa memberikan alasan. Sedangkan R3, R5, R6, R9, R10, R11, dan R13 memberikan alasan atas jawabannya mereka.
Metode demonstrasi ini membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran terutama di bidang keterampilan, karena langsung mempraktekkan (R3, 28 Mei 2020). Selain itu juga menurut R5, metode ini membuat dia dan teman-temannya bisa saling mengetahui dan memahami materi pembelajaran. R6 merasa lebih jelas ketika mengikuti metode demonstrasi.
Metode ini membuat R11 mudah mengingat materi yang sedang dipelajari.
Sebab, Anak yang terlibat langsung akan membuatnya menjadi lebih mudah memahami materinya (R9, 29 Mei 2020). R10 dan R13 akan mengerti cara untuk melakukan atau memperagakan dan bisa memimpin dalam acara tertentu.
4. Deskripsi Metode Diskusi
a. Jangka Waktu Penggunaan Metode
Tabel 16. Jangka Waktu Penggunaan Metode Diskusi Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 3 3.2 3.2 3.2
Pernah 44 46.3 46.3 49.5
Sering 38 40.0 40.0 89.5
Selalu 10 10.5 10.5 100.0
Total 95 100.0 100.0
Dari tabel di atas, total siswa siswa yang diperoleh sebanyak 95 siswa.
Sebanyak 3 siswa tidak pernah mengikuti metode diskusi dengan persentase sebesar 3,2%, 44 siswa juga pernah mengikuti metode diskusi dengan persentase sebesar 46,3%, sebanyak 38 siswa sering mengikuti metode diskusi dengan persentase sebesar 40%, dan sebanyak 10 siswa selalu mengikuti metode diskusi dengan persentase sebesar 10,5%. Maka diagram penggunaan metode diskusi seperti di bawah ini:
Diagram 5. Jangka Waktu Penggunaan Metode Diskusi
Tidak Pernah Pernah Sering Selalu
Dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa terbanyak yaitu siswa yang pernah mengikuti metode diskusi dan siswa yang sering mengikuti metode diskusi.
b. Kualitas Penggunaan Metode
Tabel 17. Kualitas Penggunaan Metode Diskusi
Kriteria Interval Kategori Frekuensi Persentase
4 35,76 - 44 Sangat Setuju 41 43,2%
3 27,51 - 35,75 Setuju 42 44,2%
2 19,26 – 27,50 Tidak Setuju 9 9,5%
1 11 – 19,25 Sangat Tidak Setuju 0 0%
0 Tidak Menjawab 3 3,2%
Dari hasil analisis data diperoleh sebanyak 41 siswa sangat setuju dengan persentase sebesar 42,3%, sebanyak 42 siswa setuju dengan persentase sebesar 44, 2%, sebanyak 9 siswa tidak setuju dengan persentase sebesar 9,5 siswa, dan sebanyak 3 siswa tidak menjawab karena mentode diskusi tidak pernah diikuti.
Maka bentuk diagramnya seperti di bawah ini:
Diagram 6. Kualitas Penggunaan Metode Diskusi
SS S TS STS TM
Diagram tersebut menggambarkan bahwa jumlah siswa terbesar terdapat pada siswa yang setuju dengan metode diskusi. Jumlah siswa yang sangat setuju sebanyak 42 siswa dengan persentase sebesar 44,2%.
Tabel 18. Rangkuman dari Kualitas Penggunaan Metode Diskusi Statistics
N Valid 95
Missing 0
Mean 33.4316
Std. Error of Mean .81787
Median 35.0000
Mode 32.00
Std. Deviation 7.97156
Variance 63.546
Range 44.00
Minimum .00
Maximum 44.00
Sum 3176.00
Hasil pengolahan SPSS 16 ini diperoleh mean sebesar 33,4316, median sebesar 35, mode sebesar 32, nilai terendah sebesar 0 dan nilai tertinggi sebesar 44.
Dari hasil nilai mean,dapat disimpulkan bahwa kualitas dari metode diskusi cukup baik, dengan melihat tabel PAN di bawah ini:
Tabel 19. Penilaian Acuan Norma Metode Diskusi
Skala Huruf Kriteria Rumus Acuan Norma Batas Bawah
A Amat Baik mean + 1,5 SD 45.38892194
B Baik mean + 0,5 SD 37.41735995
C Cukup Baik mean - 0,5 SD 29.44579795
D Tidak Baik mean - 1,5 SD 21.47423595
c. Hasil Wawancara
1) Jangka Waktu Penggunaan Metode
Wawancara yang dilakukan pada 13 responden sebanyak 8 responden mengatakan pernah melakukan metode diskusi, tetapi pada taraf jarang. 8 responden itu adalah R4, R5, R6, R8, R9, R10, R11, dan R13. Menurut R13 (28 Mei 2020) metode ini digunakan jika ada soal yang harus didiskusikan. R8 merasa bahwa untuk tingkat SD, siswa belum bisa berdiskusi maka ia memberikan metode diskusi hanya pada kelas VI walaupun baginya masih terasa sulit.
Bagi R1, R2, R3 dan R7 metode ini sering digunakan saat pembelajaran PAK di kelas. R3 mengatakan bahwa:
Bagi R1, R2, R3 dan R7 metode ini sering digunakan saat pembelajaran PAK di kelas. R3 mengatakan bahwa: