DAFTAR LAMPIRAN
9 PEMBAHASAN TENTANG IMPLIKASI KEBIJAKAN
Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten
Kebijakan di tingkat kabupaten sebagai landasan kerja pengelolaan sumberdaya air oleh SKPD terkait dapat dipertajam dengan memperhatikan kendala, kebutuhan program, dan peran SKPD sebagai pelaku dalam pengelolaan air baku di tingkat kabupaten. Namun sebelumnya perlu dilakukan analisis pendahuluan untuk mengetahui potensi ketersediaan air baku di wilayah penelitian. Untuk mengetahui berapa besar potensi ketersediaan air baku di wilayah penelitian telah dilakukan analisis model tangki untuk mengetahui debit total limpasan, total infiltrasi, dan kandungan air tanah dari setiap tata guna lahan di wilayah penelitian.
Hasil penelitian dengan analisis model tangki menunjukkan bahwa berdasarkan simulasi distribusi potensi air tahun 2013 diketahui bahwa debit rata- rata bulanan tertinggi di Sub DAS Konaweha terjadi pada bulan maret yaitu 371,01 mm (skenario optimis). Sedangkan debit rata-rata bulanan terendah di Sub DAS Konaweha terjadi pada bulan november yaitu 161,89 mm (skenario optimis). Debit limpasan pada tata guna lahan hutan menghasilkan debit limpasan sebesar 977,41 mm/tahun, jumlah ini sebanding dengan luasan lahan hutan yang paling besar jika dibandingkan dengan luas tata guna lahan lainnya. Nilai infiltrasi pada tata guna lahan hutan memiliki nilai infiltrasi paling besar dibanding tata guna lahan lainnya yaitu 1.685,9 mm/tahun. Hal ini terjadi karena tanaman penutup tanah/cover crops pada lahan hutan dapat meningkatkan laju infiltrasi air yang terjadi ke dalam lapisan tanah sehingga meningkatkan kandungan air tanah di lapisan tanah yang lebih dalam. Jumlah kandungan air tanah yang terbesar adalah pada lahan hutan dengan jumlah kandungan air tanah sebesar 1.659,95 mm/tahun. Hal ini disebabkan karena penyerapan air yang dilakukan oleh perakaran dari tanaman penutup tanah/cover crops pada lahan hutan.
Berdasarkan aplikasi model tangki untuk peningkatan potensi ketersediaan sumberdaya air di Sub DAS Konaweha diperoleh hasil bahwa debit limpasan di sub DAS Konaweha pada skenario optimis dengan penerapan konservasi seperti; penanaman tanaman penutup tanah/cover crops, penghutanan kembali pada lahan- lahan yang gundul, pembuatan guludan, pembuatan teras, perbaikan irigasi, perbaikan drainase, dan pengaplikasian teknologi resapan air seperti pembuatan sumur resapan dan teknologi lubang resapan biopori di sekitar areal pemukiman, akan menghasilkan debit limpasan yang lebih kecil dibandingkan dengan skenario business as usual tanpa upaya konservasi sumberdaya air, ini berarti bahwa upaya konservasi sumberdaya air dapat menghambat laju aliran permukaan sehingga menurunkan limpasan (run off) yang terjadi di lapisan atas tanah. Hasil skenario model tangki untuk peningkatan potensi ketersediaan sumberdaya air di Sub DAS Konaweha menunjukkan bahwa debit aliran permukaan mengalami penurunan kuantitas, dari 2.729 mm/tahun pada kondisi eksisting tahun 2011 menjadi 2.093 mm/tahun (pada skenario optimis) setelah diterapkan upaya konservasi sumberdaya air, hal ini berarti kemungkinan kekurangan air pada musim kemarau menjadi lebih kecil.
Berdasarkan penerapan skenario model tangki pada tiap tata guna lahan telah menunjukkan hasil bahwa akan terjadi penurunan luas lahan yang rusak/kritis menjadi baik dengan penerapan skenario moderat dan optimis. Setelah dilakukan analisis dengan memperhatikan indeks RunoffCurve Number (CN) setiap tata guna lahan dari semua skenario (bussiness as usual, pesimis, moderat, dan optimis), diperoleh besaran alokasi anggaran yang dapat diterapkan oleh SKPD terkait untuk mengaplikasikan skenario moderat atau skenario optimis di wilayah penelitian, sehingga diharapkan dapat memperbaiki kondisi lahan kritis pada tiap tata guna lahan di Sub DAS Konaweha.
Untuk menjamin agar pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di Kabupaten Konawe dapat berlangsung secara berkelanjutan, maka perlu diterapkan konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development dalam aspek pengelolaannya. Status keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di wilayah penelitian dilakukan untuk memastikan arah keberlanjutan pengelolaan air baku di waktu yang akan datang, ditinjau dari lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi, dan dimensi kelembagaan. Hal ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang mempengaruhi proses pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe. Status pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe saat ini berada pada status kurang berkelanjutan. Dimana dimensi ekologi mempunyai kinerja cukup berkelanjutan sedangkan empat dimensi lainnya dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi kelembagaan menunjukkan kinerja yang kurang berkelanjutan.
Dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan di masa yang akan datang, maka atribut-atribut (kondisi eksisting) dari masing-masing dimensi yang sensitif perlu dilakukan intervensi atau perbaikan. Atribut yang perlu dikurangi atau dikendalikan intensitas perkembangannya adalah Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku. Atribut yang perlu ditingkatkan intensitas kegiatannya karena saat ini sudah ada namun perkembangannya masih belum optimal dalam implementasinya adalah: Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air bersih; Tingkat keuntungan PDAM; Penyerapan tenaga kerja; Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku; Tingkat pendidikan formal masyarakat; Tingkat pelayanan air bersih PDAM; Teknologi penanganan limbah; Teknologi resapan air di kawasan permukiman; dan Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom. Sedangkan atribut yang perlu dikendalikan dalam pelaksanaan kegiatannya dan perlu direncanakan perkembangannya dengan lebih baik lagi di masa mendatang adalah Rezim pengelolaan air bersih.
Untuk dapat meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku dimasa mendatang, perlu disusun skenario pengembangan kebijakan dengan melakukan intervensi (perbaikan) kinerja terhadap faktor kunci (key factor) yang dihasilkan dari hasil analisis prospektif. Kebijakan yang dapat dikembangkan agar pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe menjadi lebih berkelanjutan didasarkan pada interaksi antara faktor-faktor: (1) Pengembangan sumber air baku; (2) Teknologi resapan air di kawasan permukiman; (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku; (4) Tingkat keuntungan PDAM; (5) Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air
baku; (6) Teknologi penanganan limbah; (7) Tinggi permukaan air tanah, dan; (8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom.
Kebijakan dilakukan secara integratif dengan meningkatkan kinerja faktor kunci yang bersifat sensitif tersebut sehingga mampu meningkatkan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe. Untuk meningkatkan status keberlanjutan jangka panjang, skenario yang perlu dilakukan untuk pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah Skenario III (Optimis), dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal terhadap 8 (delapan) atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi yang ada menjadi berkelanjutan. Skenario optimis merupakan skenario yang paling tepat digunakan, karena dapat memberikan pengaruh yang paling besar terhadap perbikan kinerja pengelolaan air baku berkelanjutan di wilayah penelitian. Mengingat status keberlanjutan dimensi kelembagaan di wilayah penelitian adalah kurang berkelanjutan, hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe tidak berlangsung dengan baik. Berdasarkan analisis ISM pengelolaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe masih menghadapi beberapa kendala diantaranya sebagai berikut: menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air, dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait. Adapun program yang menjadi kebutuhan dalam pengembangan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe yaitu: Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait; Peningkatan kesadaran stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha dan Industri, Akademisi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan LSM); dan Penetapan pedoman pengelolaan DAS. Ketiga sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya, dan perlu segera diimplementasikan dilapangan. Terdapat 11 lembaga yang terkait dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe, namun lembaga yang memiliki pengaruh paling besar dalam perumusan kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe yaitu BPDAS Sampara, dan Dinas Kehutanan Kab. Konawe. Keberhasilan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di wilayah penelitian dapat dilakukan dengan memperbaiki kendala utama yaitu menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait. Kendala ini perlu dicermati lebih serius karena aktifitas ilegal logging dikawasan hutan lindung yang merupakan daerah tangkapan air serta perubahan penggunaan lahan akibat eksploitasi lahan secara terus menerus telah menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas infiltrasi dan peningkatan aliran permukaan di Sub DAS Konaweha. Akibatnya jumlah air yang hilang ke laut akan meningkat pula, yang pada akhirnya turut mempengaruhi ketersediaan air di Kabupaten Konawe. Kerusakan lingkungan yang secara implisit menambah lajunya krisis air semakin dipercepat oleh pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, baik secara alamiah maupun migrasi. Bencana banjir yang merupakan bukti degradasi lingkungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena otonomi daerah yang terkadang kurang dipandang sebagai suatu kesatuan kerja antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota berimplikasi langsung pada kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan
sumber daya air antar stakeholder terkait, yang pada hakekatnya mempercepat terjadinya krisis air di wilayah penelitian.
Luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil skenario model tangki (Gambar 39) menjadi dasar bagi peneliti dalam menyusun rekomendasi alokasi anggaran dalam Renstra SKPD terkait untuk upaya konservasi sumberdaya air di Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe. Besarnya alokasi anggaran per hektar masing-masing tata guna lahan disesuaikan dengan besaran anggaran biaya yang telah dijabarkan dalam Renstra SKPD Kabupaten Konawe Tahun 2013-2018. Alokasi anggaran ini yang menjadi dasar masukan bagi pemerintah daerah dalam mengkaji alokasi anggaran konservasi sumberdaya air yang dibutuhkan pada masing-masing tata guna lahan di Kabupaten Konawe. Diharapkan dengan diketahuinya persentase luasan wilayah yang perlu diintervensi dengan upaya konservasi sumberdaya air, akan memperbaiki kondisi tata guna lahan yang rusak menjadi baik kembali.
Rekomendasi jumlah alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk masing- masing tata guna lahan di Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe dapat dilihat pada Tabel 40. Biaya untuk konservasi sumberdaya air per ha pada tiap TGL disesuaikan dengan anggaran di Renstra SKPD Kab. Konawe 2013-2018. Besarnya alokasi anggaran untuk upaya konservasi pada masing-masing tata guna lahan dijumlahkan dengan luasan kondisi tiap tata guna lahan hasil skenario model tangki skenario moderat dan skenario optimis.
Tabel 40 Rekomendasi jumlah alokasi anggaran untuk konservasi berdasarkan luasan perubahan kondisi tiap-tiap TGL
Sumber: Diolah berdasarkan hasil simulasi skenario model tangki, 2014
Keterangan:
Biaya untuk konservasi sumberdaya air per ha pada tiap TGL disesuaikan dengan anggaran di Renstra SKPD Kab. Konawe 2013-2018 Luasan kondisi tiap tata guna lahan merupakan hasil skenario model tangki
Peran Stakeholder Tingkat Kabupaten dalam Kegiatan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
Berdasarkan dokumen RPJMD Kabupaten Konawe 2008-2013 program pembangunan yang akan dilaksanakan diarahkan pada pencapaian sasaran pada masing-masing misi dengan memperhatikan strategi pembangunan dan arah kebijakan umum. Target Sasaran akan ditetapkan setiap tahun sesuai dengan dana yang tersedia baik yang bersumber dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN, dan sumber pendanaan lainnya yang sah. Program-program pembangunan yang akan dilaksanakan didasarkan pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, sedangkan urusan pemerintahan dari masing-masing SKPD yang akan dilaksanakan didasarkan pada Permendagri Nomor 59 Tahun 2007, terbagi kedalam Urusan Wajib dan Urusan Pilihan. Urusan Wajib yang dilaksanakan meliputi urusan : Pendidikan; Kesehatan; Pekerjaan Umum, Permukiman, Penataan Ruang; Perencanaan Pembangunan; Perhubungan; Lingkungan Hidup; Kependudukan dan Catatan Sipil; Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera; Sosial, Ketenagakerjaan; Koperasi dan UKM; Penanaman Modal; Kebudayaan; Pemuda dan Olah Raga; Kesbang dan Politik Dalam Negeri; Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian; Ketahanan Pangan; Pemberdayaan Masyarakat dan Desa; Kearsipan; Komunikasi dan Informatika dan Urusan Perpustakaan. Sedangkan Urusan Pilihan yang akan dilaksanakan oleh SKPD meliputi : Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Pariwisata, Kelautan dan Perikanan, Perdagangan, Perindustrian dan Urusan Ketransmigrasian.
Ruang lingkup peran lembaga dalam kegiatan pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan dengan mensinergikan tugas pokok dan fungsi masing-masing stakeholder (BPDAS Sampara, Dinas Kehutanan Kab. Konawe, Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV, Dinas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe, PDAM Kab. Konawe, Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Konawe, Bappeda Kab. Konawe, BLH Kab. Konawe, Akademisi/Perguruan Tinggi, masyarakat, dan LSM) dengan faktor kunci (key factor) yang berpengaruh dalam pengelolaan air baku di Kab. Konawe yang merupakan hasil analisis Prospektif, dimana nanti akan terlihat lembaga/pelaku mana yang memegang peranan paling besar dan penting dalam kegiatan pengelolaan air baku berkelanjutan. Berdasarkan analisis Prospektif terdapat 8 faktor kunci yang dalam analisis kelembagaan ini akan dikaitkan peranannya dengan tiap-tiap faktor kunci tersebut, yaitu (1) Pengembangan sumber air baku, (2) Teknologi resapan air di kawasan permukiman, (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku. Kemudian faktor-faktor kunci/penentu yang mempunyai pengaruh tidak terlalu kuat dan memiliki ketergantungan yang tinggi seperti: (4) Tingkat keuntungan PDAM, (5) Motivasi & kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku, (6) Teknologi penanganan limbah, (7) Tinggi permukaan air tanah, dan (8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom. Peran lembaga dalam strategi pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten disajikan pada Tabel 41.
Tabel 41 Peran Lembaga Dalam Strategi Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
No. Lembaga/Pelaku
(hasil analisis ISM)
Faktor Pengungkit Hasil Analisis Prospektif*
Jumlah Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8
C2 BP DAS Sampara √ √ √ √ √ √ √ 7
C3 Dinas Kehutanan Kab.
Konawe √ √ √ √ √ √ √ 7
C5 Dinas PU dan Tata Ruang
Kab. Konawe √ √ √ √ √ √ √ 7
C1 Balai Wilayah Sungai
Sulawesi IV √ √ √ √ √ √ 6
C8 PDAM Kab. Konawe √ √ √ √ √ √ 6
C4 Dinas Pertanian dan
Peternakan Kab. Konawe √ √ √ √ 4
C6 Bappeda Kab. Konawe √ √ √ √ 4
C7 BLH Kab. Konawe √ √ √ √ 4
C9 Akademisi/Perguruan Tinggi √ √ √ √ 4
C10 Masyarakat √ √ √ √ 4
C11 LSM √ √ √ √ 4
Keterangan:
* 8 Faktor Kunci (key factor) Dimensi Keberlanjutan hasil analisis prospektif
Berdasarkan Tabel 42 diatas terlihat bahwa ada kegiatan hasil analisis prospektif yang dapat dikerjakan dan dikoordinasikan diantara SKPD/dinas terkait, hal ini terlihat dari kegiatan pengembangan sumber air baku, dimana hampir seluruh SKPD terlibat didalamnya dalam menangani program pengembangan sumber air baku di Kabupaten Konawe (faktor pengungkit 1), ini terlihat dalam program pemerintah Pusat, pemerintah Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka Timur dalam membangun Bendungan Pelosika yang rencananya akan dimulai pada tahun 2015. Bendungan Pelosika merupakan sebuah bendungan berdimensi besar yang akan dibangun pada hulu sungai Konaweha, Desa Pelosika, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe. Rencana pembangunan bendungan Pelosika yang saat ini telah masuk dalam wilayah Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi Tenggara, masih menghadapi kendala. Sejauh ini, Pemda setempat masih melakukan pendekatan kepada masyarakat di Kecamatan Uluiwoi Kabupaten Kolaka Timur dan Kecamatan Latoma Kabupaten Konawe, guna menyatukan pemikiran terkait rencana pembangunan bendungan tersebut. Bendungan tersebut nantinya di buat multiguna. Selain menjadi penyokong utama saluran irigasi pertanian rakyat untuk persawahan seluas 34.000 hektar di wilayah Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe dan Kabupeten Konawe Selatan, bendungan ini juga akan menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bersih. Bendungan tersebut juga diupayakan menjadi sumber PLTA yang akan menghasilkan daya sebesar 90 Mega Watt.
Ada pula kegiatan hasil analisis prospektif yang dapat dilakukan oleh SKPD/dinas terkait bekerjasama dengan elemen masyarakat, akademisi/perguruan tinggi dan LSM, misalnya dalam hal meningkatkan motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku (faktor pengungkit 5). Namun ada pula kegiatan
yang hanya melibatkan unsur SKPD teknis terkait saja atau hanya melibatkan beberapa dinas saja, misalnya dalam penanganan terhadap rendahnya upaya konservasi yang menyebabkan tinggi permukaan air tanah menurun di Kabupaten Konawe (faktor pengungkit 7).
Berdasarkan hasil analisis ISM dengan mensinergikan tugas pokok dan fungsi SKPD terkait dengan faktor kunci hasil analisis prospektif diatas terlihat bahwa BP DAS Sampara dan Dinas Kehutanan Kab. Konawe merupakan elemen pelaku yang paling besar pengaruhnya terhadap upaya peningkatan pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe. Adapun SKPD di tingkat kabupaten yang paling besar pengaruhnya terhadap upaya peningkatan pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe. Hal ini terlihat pada permasalahan, arah kebijakan, sasaran dan program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Konawe sebagaimana yang dijabarkan pada dokumen RPJMD Kab. Konawe Tahun 2008-2013.
Permasalahan yang masih dihadapi dalam pelaksanaan urusan kehutanan selama Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2007 secara umum sebagai berikut: (1) Sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan tugas-tugas dibidang kehutanan masih kurang, antara lain kendaraan operasional polisi hutan, alat pendukung laboratorium; (2) Kurangnya tenaga polisi hutan; dan (3) Masih ada kegiatan penebangan kayu ilegal oleh masyarakat, luasnya lahan yang kritis, perambahan kawasan hutan dan kebakaran hutan masih sering terjadi. Hal ini sejalan dengan hasil analisis kendala dalam pengelolaan air baku berkelanjutan dengan analisis ISM, dimana sub elemen kendala kunci (driver power) dalam pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten adalah menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air (A9), kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait (A11), dan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung (A1).
Arah kebijakan pada urusan Kehutanan adalah mendorong pengembangan industri pengolahan hasil hutan dengan tetap menjaga kelangsungan konservasi hutan melalui penyiapan bibit siap tanam, bermutu dan tepat waktu. Menyediakan dana untuk menambah sarana penunjang agar pelaksanaan urusan kehutanan lebih optimal. Mengusulkan pengangkatan tenaga polisi hutan non PNS, dan meningkatkan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi pentingnya fungsi hutan untuk mengatasi masalah penebangan liar, perambahan hutan dan pemulihan lahan kritis dengan melibatkan kelompok-kelompok masyarakat. Pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2007, bidang Kehutanan telah menurunkan luas lahan kritis menjadi 56.425 ha dan menyuplai 1.006.250 anakan bibit untuk rehabilitasi hutan dan lahan (RPJMD Kab. Konawe 2008-2013).
Sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan urusan kehutanan sampai dengan tahun 2013 adalah meningkatnya mutu dan produktivitas sumberdaya hutan serta kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Keberhasilan pencapaian sasaran ini ditunjukkan dengan menurunnya luas lahan kritis menjadi sebesar 51.783 ha atau menurun sebesar 4,2 persen. Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan tersebut diatas, langkah-langkah yang akan ditempuh dijabarkan ke dalam program pembangunan dan kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: (1) Program rehabilitasi hutan dan lahan, dengan kegiatan pokok antara lain Pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan, Penanaman pohon dan pemeliharaan pada kawasan hutan industri dan hutan wisata, Pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan
rehabilitasi hutan dan lahan, dan Peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan; (2) Program Perlindungan dan konservasi sumber daya hutan, dengan kegiatan pokok antara lain sosialisasi pencegahan dan dampak kebakaran hutan dan lahan, meningkatnya sukarelawan yang terlatih menangani kebakaran hutan, bimbingan teknis pengendalian kebakaran hutan dan lahan, dan penyuluhan kesadaran masyarakat mengenai dampak perusakan hutan; (3) Program pemantapan pemanfaatan potensi sumber daya hutan, dengan kegiatan pokok antara lain pengembangan hasil hutan non-kayu, pengelolaan dan pemanfaatan hutan, dan pengembangan industri dan pemasaran hasil hutan; dan (4) Program perencanaan dan pengembangan hutan, dengan kegiatan pokok antara lain pengembangan hutan masyarakat adat, dan pendampingan kelompok usaha perhutanan rakyat.
Program pembangunan urusan kehutanan di Kabupaten Konawe sudah sejalan dengan hasil analisis kebutuhan dalam pengelolaan air baku berkelanjutan dengan analisis ISM, dimana sub elemen kebutuhan kunci (driver power) dalam pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten adalah peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, peningkatan kesadaran stake holder terkait (pemerintah, dunia usaha dan industri, akademisi/perguruan tinggi, masyarakat, dan LSM), dan penetapan pedoman pengelolaan DAS. Namun masih perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah terkait peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, dan perlunya mengimplementasikan pedoman pengelolaan DAS yang sudah ditetapkan kedalam program pembangunan urusan kehutanan di Kabupaten Konawe.