Merupakan kegiatan terakhir yang meliputi :
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Pembangunan Fisik Rusunawa 1Metoda Pelaksanaan 1Metoda Pelaksanaan
Pembangunan fisik rusunawa di Indonesia pada umumnya dilakukan menggunakan konstruksi beton, karena selain dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknologi sederhana, sumber daya manusia juga tersedia, bahan-bahan pembuat beton juga mudah didapat. Beton merupakan fungsi dari bahan-bahan penyusunnya, yang terdiri dari bahan semen, agregat (kasar dan halus) beserta air. Beton dapat dibentuk sesuai dengan tuntutan konstruksi sesuai fungsinya. Komponen konstruksi utama pembangunan rusunawa adalah pondasi, kolom, balok, lantai, dinding dan atap. Pelaksanaan fisik pembangunan rusunawa dapat dilakukan melalui beberapa metoda pelaksanaan konstruksi beton, yaitu: (a) beton konvensional; (b) beton pracetak sebagian atau semi precast; dan (c) beton pracetak seluruhnya atau full precast.
a. Beton Konvensional
Pada pembentukan beton secara konvensional diperlukan cetakan atau bekesting yang biasanya terbuat dari kayu, untuk penyesuaian bentuk struktur sesuai fungsinya. Beton ini dicetak di tempat beton tersebut diperlukan, sehingga apabila fungsinya sebagai pelat lantai, balok ataupun kolom, maka beton tersebut dikerjakan/dicetak pada lantai, balok atau kolom tersebut sesuai dengan peruntukannya (on site assembly). Misalnya apabila hendak membuat pelat lantai 5, maka beton untuk pelat tersebut harus dicetak/dicor di lantai 5 juga dengan menggunakan cetakan atau bekisting. Selain itu oleh karena saat beton dicetak tidak bisa langsung mengeras dan berfungsi memikul bebannya sendiri, maka dibutuhkan konstruksi penyangga beton tersebut sampai betul-betul mengeras dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bekisting dan penyangga biasanya terbuat dari kayu dan sebagian dari besi. Mengingat pelaksanaan pembuatan beton ini pada ketinggian tertentu, maka akan berakibat kesempurnaan kualitas beton sangat tergantung dari kondisi para tukang yang bekerja pada ketinggian. Namun demikian kualitas beton yang didesain dengan sistem ini, sudah menggunakan tingkat keamanan maksimal sesuai ketentuan. Hal ini berakibat penambahan dimensi beton dan atau besi beton yang pada gilirannya menambah kebutuhan bahan bangunan. Pada alternatif ini komponen utama pembangunan rusunawa yang menggunakan beton konvensional adalah pondasi, kolom, balok dan lantai, sedangkan dinding menggunakan pasangan bata.
b. Beton Pracetak Sebagian (Semi Precast)
Beton pracetak adalah teknologi konstruksi struktur beton dengan komponen-komponen penyusun yang dicetak terlebih dahulu pada suatu tempat khusus (off-site fabrication), terkadang komponen-komponen tersebut disusun dan disatukan terlebih dahulu (pre-assembly), dan selanjutnya dipasang di lokasi (installation) (Ervianto, 2006). Konstruksi beton berupa kolom, balok dan lantai dicetak terlebih dahulu di bawah, selanjutnya dirangkai di tempat yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan. Misalnya balok dan kolom tersebut dibutuhkan di lantai 4, maka dengan bantuan alat berat (crane), balok dan kolom tersebut
dirangkai dan disambung di lantai 4. Pada aspek perencanaan tergantung atau ditentukan oleh metoda pelaksanaan dari fabrikasi, penyatuan dan pemasangannya, serta ditentukan pula oleh teknis perilaku sistem pracetak dalam hal cara penyambungan antar komponen (joint). Beberapa prinsip beton pracetak tersebut dipercaya dapat memberikan manfaat lebih dibandingkan beton konvensional antara lain terkait dengan pengurangan waktu dan biaya, serta peningkatan jaminan kualitas, predictability, keandalan, produktivitas, kesehatan, keselamatan, lingkungan, koordinasi, inovasi, reusability, serta relocatability (Gibb, 1999). Karena beton ini dicetak di bawah, maka pengawasan dapat dilaksanakan secara maksimal, sehingga mutu beton yang dihasilkan juga meningkat. Peningkatan mutu beton untuk suatu konstruksi, dapat mengurangi dimensi beton dan atau besi beton, bila dibandingkan dengan mutu beton yang lebih rendah pada cara konvensional. Hal ini akan mengurangi volume bahan beton, seperti semen, pasir, kerikil sampai besi. Pada alternatif ini, komponen utama konstruksi yang menggunakan beton pracetak meliputi pondasi, kolom, balok dan lantai, sedangkan dinding masih menggunakan pasangan bata yang diplester, sehingga disebut semi precast.
c. Beton Pracetak Seluruhnya (Precast)
Dalam metoda ini, semua komponen utama konstruksi menggunakan beton pracetak, mulai dari pondasi, kolom, balok, lantai sampai dinding.
4.3.2 Sistem Pracetak Beton yang Digunakan
Pembangunan Rusunawa di Kota Batam yang menjadi objek penelitian menggunakan sistem pracetak dari JHS. PT. JHS Precast Concrete Indonesia (JHS-PCI) adalah perusahaan kontraktor beton pracetak nasional yang didirikan pada tahun 1996 berkedudukan di Jakarta. Struktur beton pracetak sistem JHS ditemukan oleh Johan Hasiholan Simanjuntak pada tahun 1982, dan terus dikembangkan sampai saat ini. Beliau memiliki minat yang tinggi serta upaya yang gigih dalam penelitian dan pengembangan beton di Indonesia. Beberapa temuannya telah dipatenkan di Inggris dan Amerika. Salah satu yang temuan
beliau telah mendapat pengakuan dari United State Patent adalah sistem sambungan konstruksi beton pracetak dengan nama: System For Joining Precast Concrete Columns And Slabs, dengan patent number 5,809,712, date of patent: Sep. 22, (Gambar 15).
Gambar 15 Sistem sambungan konstruksi beton pracetak.
Sistem ini berupa panel-panel lantai (slab) dengan tiang (column) dengan menggunakan tulangan seminimal mungkin sesuai perhitungan struktur yang disambungkan dengan pipa quarter baja yang di angker vertikal dan horizontal dengan baja prategang. Beberapa keunggulan sistem ini adalah:
a. Efisiensi struktural terbaik (+/- 30%)
• Sistem lantai grid prategang satu arah yang efisien
• Tanpa balok
b. Kecepatan pelaksanaan struktur tercepat (+/- 40%)
• Pengecoran di tempat sangat sedikit
• Hanya ada dua komponen c. Fleksibel dalam tata ruang :
• Sistem rangka terbuka : dinding fleksibel
• Dimensi komponen mudah untuk dimodifikasi
Dalam penelitian dan perkembangannya, sistem sudah berhasil dimodifikasi menjadi lebih baik dengan menggabungkan unsur balok (beam), sehingga menjadi sistem column, beam and slab (Gambar 16).
Gambar 16 Sistem column, beam and slab.
4.3.3 Kebutuhan Bahan Bangunan
Pembangunan rusunawa membutuhkan banyak sumberdaya alam sebagai bahan baku konstruksi. Pemanfaatan sumberdaya tersebut dapat berdampak terhadap kerusakan alam. Bangunan rusunawa terbuat dari konstruksi beton, yang dalam pengerjaannya dapat dilakukan melalui 3 alternatif pelaksanaan konstruksi, yaitu secara konvensional, semi pracetak dan pracetak. Gambar utama pelaksanaan pembangunan rusunawa dalam penelitian ini sama, sehingga walaupun dilaksanakan dengan metoda berbeda, luasan lantai, ketinggian dan bentuk bangunan sama.
Bahan bangunan yang digunakan antara lain terdiri dari semen, bata merah, batu pecah, pasir, keramik, besi beton, besi biasa, baja ringan, alumunium, kaca, kayu panel pintu, dan air. Bahan baku yang digunakan sebagai bahan pendukung pembangunan terdiri dari kayu penyangga, kayu cetakan, besi cetakan, besi penyangga (scaffolding) dan oli cetakan. Penelitian dimulai dengan menghitung kebutuhan bahan bangunan masing-masing alternatif (Tabel 22).
Metoda konvensional mempunyai kualitas beton lebih rendah, sehingga membutuhkan dimensi komponen konstruksi lebih besar untuk memikul beban yang sama bila dibandingkan dengan beton pracetak. Karena dimensi lebih besar maka volume kebutuhan bahan bangunan juga lebih banyak. Kebutuhan bahan bangunan untuk metoda konvensional dihitung berdasarkan gambar dan volume yang ada dalam dokumen tender yang menggunakan metoda konvensional. Para kontraktor mengajukan penawaran sesuai dengan metoda beton pracetak masing-masing yang diusulkan.
Tabel 22 Kebutuhan bahan bangunan masing-masing alternatif, dengan luas lantai, ketinggian dan bentuk bangunan sama
No Komponen Utama Konvensional Semi Pracetak Pracetak
1 Semen 488 ton 499 ton 617 ton
2 Pasir 3.483 m3 3.354 m3 687 m3
3 Batu pecah 339 m3 398 m3 642 m3
4 Besi tulangan beton 180 ton 77 ton 122 ton
5 Cetakan kayu 41 m3 baja 7,9 ton baja 9,2 ton
6 Perancah kayu 562 m3 baja 7,8 ton baja 7,8 ton
7 Bata merah 413.216 buah 413.216 buah -
8 Tenaga terampil 20 org 30 org 40 org
9 Tenaga tdk terampil 80 org 45 org 15 0rg
10 Biaya (Rp x 1 milyar) 13,657 11,500 11,434
11 Ketinggian bangunan /luas lantai 4 lt/4.600 m2 4 lt/4.600 m2 4 lt/4.600 m2
12 Jangka waktu pelaksanaan (bln) 8 6 5
13 Kebutuhan energi (KWh) 1.253.774 806.981 1.008.199
*) Teknologi Pracetak yang digunakan adalah JHS System
Metoda semi pracetak mempunyai mutu beton lebih tinggi dari metoda konvensional, sehingga dimensi dan kebutuhan bahan beton bisa diperkecil untuk memikul beban yang sama, khususnya kebutuhan besi tulangan dan kayu berkurang secara signifikan. Biaya pembangunan rusunawa dengan metoda precast lebih murah bila dibandingkan dengan metoda konvensional, karena selain berkurangnya penggunaan bahan bangunan, juga dalam pelaksanaan dilakukan dengan semi mekanisasi melalui penggunaan crane, untuk mengangkat bagian-bagian konstruksi ke semua lantai sesuai peruntukan. Penggunaan tenaga
kerja terlatih dalam metoda precast lebih banyak bila dibandingkan dengan metoda konvensional, namun sebaliknya penggunaan tenaga kerja secara keseluruhan lebih banyak dalam metoda konvensional.
Selain penggunan bahan bangunan lebih efisien, kelebihan lain dari penggunaan beton semi pracetak dan pracetak adalah dalam pembiayaan yang berkurang secara cukup signifikan dan kecepatan pelaksanaan pembangunan. (Sijabat & Nurjaman, 2007). Hal ini sesuai dengan pernyataan Gibb (1999) yang mengemukakan bahwa beberapa prinsip beton pracetak tersebut dipercaya dapat memberikan manfaat lebih dibandingkan beton monolit antara lain terkait dengan pengurangan waktu dan biaya, serta peningkatan jaminan kualitas, predicability, serta relocability.