• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

3. Pembelajaran Matematika a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata belajar mendapat awalan “pem” dan akhiran “an” yang menunjukkan bahwa ada unsur dari luar yang bersifat “intervensi” agar terjadi proses belajar (Karwono dan Mularsih, 2017: 19). Pendapat lain menjelaskan bahwa pembelajaran adalah sebagai pengaturan peristiwa secara saksama dengan tujuan agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna (Gagne dalam Siregar dan Nara, 2010: 12). Menurut Miarso (dalam Siregar dan Nara, 2010: 12-13) pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali. Berdasarkan dengan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah sebuah usaha

pendidikan yang dilaksanakan secara saksama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Pengertian Matematika

Menurut Suherman, dkk. (2001: 18) kata matematika berasal dari perkataan Latin “mathematica” yang pada mulanya diambil dari perkataan Yunani “mathematike” yang berarti “relating to learning” atau belajar. Perkataan ini memiliki akar kata yaitu “mathema” yang berarti knowledge atau pengetahuan. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik yang berhubungan dengan bilangan serta pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk (Soedjadi, 2000: 11). Menurut Susanto (2013: 183) matematika merupakan ide-ide abstrak berupa simbol-simbol. Sedangkan, menurut James (dalam Suherman, dkk., 2001: 18) matematika merupakan suatu ilmu logika mengenai bentuk, susunan, besaran, konsep-konsep yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang besar yang terbagi dalam tiga area atau bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Berdasarkan dari definisi beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu konsep ilmu logika yang berhubungan dengan bilangan, simbol, konsep serta ruang dan bentuk yang terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

c. Tujuan Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar

Menurut Depdiknas (dalam Susanto, 2013: 189-190), kompetensi pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu sebagai berikut:

1) Melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian beserta operasi campurannya termasuk yang melibatkan pecahan.

2) Menentukan sifat dan unsur berbagai bangun datar dan bangun ruang sederhana termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan volume.

3) Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat.

4) Menggunakan pengukuran: satuan, kesetaraan antarsatuan, dan penaksiran pengukuran.

5) Menentukan dan menafsirkan data sederhana.

6) Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengomunikasikan gagasan secara matematika.

Sementara itu, secara khusus tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar menurut Depdiknas (dalam Susanto, 2013: 190) yaitu:

1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritme.

2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika saat membuat generalisasi, menyusun bukti, maupun menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3) Memecahkan masalah mengenai kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lainnya guna menjelaskan situasi atau masalah.

5) Memiliki sikap menghargai penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

d. Karakteristik Pembelajaran Matematika

Menurut Suherman (dalam Ndhadhari, 2019: 23) karakteristik pembelajaran matematika di sekolah yaitu:

1) Pembelajaran matematika berlangsung secara bertahap.

Materi pembelajaran diajarkan secara berjenjang atau bertaraf yaitu dari hal konkret ke abstrak, hal yang sederhana ke hal yang lebih kompleks atau konsep mudah ke konsep yang lebih sukar.

2) Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral.

Setiap mempelajari konsep baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Matematika memerlukan pengulangan konsep atau bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam.

3) Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif.

Matematika tersusun secara deduktif dan aksiomatik namun harus dapat dipilihkan pendekatan yang cocok dengan kondisi siswa, dalam pembelajaran belum sepenuhnya menggunakan pendekatan tetapi masih campur dengan deduktif.

4) Pembelajaran matematika mengganti kebenaran konsisten.

Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya adalah kebenaran konsistensi, tidak bertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang

lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila didasarkan atas pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah diterima kebenarannya.

e. Materi Matematika Tema 8

Materi pembelajaran matematika yang terkandung dalam tema 8 dalam penelitian pengembangan buku panduan permainan tradisional anak untuk pembelajaran matematika kelas I tema 8 sekolah dasar adalah pengukuran panjang benda/situasi konkret, berat benda, lamanya waktu, dan suhu benda dengan satuan tidak baku yaitu sebagai berikut:

1) Pengukuran panjang benda/situasi konkret dengan satuan tidak baku

Ukuran panjang suatu objek atau benda adalah banyaknya satuan panjang yang digunakan untuk menyusun secara berjajar dan berkesinambungan dari ujung objek yang satu ke ujung objek yang lain (Achmad, dkk., 2016: 1). Pengalaman belajar siswa tentang pengukuran panjang dimulai untuk mengukur panjang dengan menggunakan satuan tidak baku. Menurut Kusumawati, dkk. (2017) contoh satuan panjang tidak baku adalah jengkal, depa, pensil, pulpen, langkah kaki, korek api, dan lain-lain. Setelah mengukur suatu benda dengan salah satu satuan tidak baku, siswa mengurutkan hasil pengukuran benda konkret dari yang paling besar (panjang) hingga yang paling kecil (pendek) hingga sebaliknya. Satuan tidak baku pengukuran panjang yang dipilih oleh peneliti untuk diajarkan dengan permainan tradisional anak adalah langkah kaki.

2) Pengukuran berat benda dengan satuan tidak baku

Menurut Kusumawati, dkk. (2017) pengukuran berat benda dengan satuan tidak baku dapat diukur dengan alat penggaris dan gantungan baju dengan satuan

ukur tidak baku seperti buku tulis, kelereng, dan lain-lain. Contoh mengukur berat benda yaitu sendok dengan satuan ukur tidak baku kelereng menggunakan gantungan baju, langkah-langkahnya yaitu dengan mengambil sebuah gantungan baju, gantungkan di tali jemuran, ambil dua buah kantong plastik yang bening, kaitkan satu kantong di ujung kanan dan ujung kiri gantungan baju, ambil sendok yang akan ditimbang, masukkan ke dalam kantong di ujung kiri, ambil kelereng untuk mengukur berat, masukkan ke dalam kantong di ujung kanan. Setelah itu, amati sampai gantungan baju seimbang dan hitung banyaknya kelereng. Hasil hitungan banyaknya kelereng itulah yang menjadi berat sendok yang ditimbang. Setelah terdapat hasil pengukuran yang bermacam-macam, hasil pengukuran berat benda diurutkan dari benda yang paling ringan hingga paling berat maupun sebaliknya. Satuan tidak baku pengukuran berat benda yang dipilih oleh peneliti untuk diajarkan dengan permainan tradisional anak adalah kelereng.

3) Pengukuran lamanya waktu dengan satuan tidak baku

Menurut Kusumawati, dkk. (2017) pengukuran lamanya waktu dengan satuan tidak baku diukur menggunakan sebentar dan lama mengerjakan suatu kegiatan. Sebentar artinya membutuhkan waktu sedikit dan lama artinya membutuhkan waktu banyak. Contohnya menghitung waktu dengan berhitung saat kamu mengerjakan suatu aktivitas misalnya menyapu, lalu temanmu menghitung hingga kamu selesai menyapu halaman rumah. Hasil sampai hitungan ke berapa itulah lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyapu halaman rumah. Hasil pengukuran dari berbagai siswa dikumpulkan dan diurutkan dari siapa siswa yang

paling banyak, paling sedikit, dan jumlah sama dalam mengerjakan suatu kegiatan. Satuan ukur menentukan waktu dapat dengan menggunakan lagu.

4) Pengukuran suhu benda dengan satuan tidak baku

Menurut Kusumawati, dkk. (2017) pengukuran suhu benda dengan satuan tidak baku yaitu suhu panas dan dingin. Pengukuran suhu panas dan dingin atau suhu udara dapat dirasakan berbeda oleh orang lain, walaupun orang tersebut berada pada waktu dan tempat yang sama. Pengukuran suhu benda dengan satuan tidak baku dapat dilakukan dengan siswa mengukur suhu benda-benda yang ada di sekitar lingkungannya dengan cara memegang atau meraba bendanya. Contohnya: terdapat wadah A, wadah B dan wadah C yang memiliki jenis dan suhu air yang berbeda-beda, siswa memasukan tangan kanan ke wadah A dan tangan kiri ke wadah C lalu merasakan panas atau dingin. Setelah itu, siswa memasukkan kedua tangan ke dalam wadah B dan merasakan panas atau dingin. Kemudian siswa mengurutkan suhu yang terasa di ketiga wadah dari yang terpanas.