• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

C. Prosedur Pengembangan Penelitian

Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Model ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (Mulyatiningsih, 2011). Model

ADDIE merupakan salah satu model desain pembelajaran sistematik (Tegeh dkk., 2014: 41). Berikut di bawah ini adalah model pengembangan ADDIE (Anglada dalam Tegeh dkk., 2014: 42) dalam bentuk gambar 3.1.

Analyze (Analisis) Design (Perancangan) Evaluate (Evaluasi) Implement (Implementasi) Develop (Pengembangan)

Berikut pada tabel di bawah ini adalah rangkuman dari langkah-langkah rancangan penelitian dan pengembangan model ADDIE menurut Mulyatiningsih (2011), yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.1 Langkah Pengembangan Model ADDIE Tahap

Pengembangan

Aktivitas

Analysis Pra perencanaan: pemikiran tentang produk (model, metode, media, bahan ajar) baru yang akan dikembangkan.

Mengidentifikasi produk yang sesuai dengan sasaran peserta didik, tujuan belajar, mengidentifikasi isi/materi pembelajaran, mengidentifikasi lingkungan belajar, dan strategi penyampaian dalam pembelajaran.

Design Merancang konsep produk baru di atas kertas. Merancang perangkat pengembangan produk baru. Rancangan ditulis untuk masing-masing unit pembelajaran. Petunjuk penerapan desain atau pembuatan produk ditulis secara rinci.

Development Mengembangkan perangkat produk (materi/bahan dan alat) yang diperlukan dalam pengembangan. Berbasis pada hasil rancangan produk, pada tahap ini mulai dibuat produknya (materi/bahan, alat) yang sesuai dengan struktur model. Membuat instrumen untuk mengukur kinerja produk.

Implementation Memulai menggunakan produk baru dalam pembelajaran atau lingkungan yang nyata. Melihat kembali tujuan-tujuan pengembangan produk, interaksi antar peserta didik serta menanyakan umpan balik awal proses evaluasi.

Evaluation Melihat kembali dampak pembelajaran dengan cara yang kritis. Mengukur ketercapaian tujuan pengembangan produk. Mengukur apa yang telah mampu dicapai oleh sasaran. Mencari informasi apa saja yang dapat membuat peserta didik mencapai hasil dengan baik. Evaluasi dilakukan dalam 2 bentuk yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mengumpulkan data pada setiap tahapan yang digunakan untuk penyempurnaan. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil belajar peserta didik dan kualitas pembelajaran secara luas. Data dan informasi dalam evaluasi sumatif dapat diperoleh dari pendapat dan penilaian ahli atau expert judgement tentang kualitas produk berdasarkan hasil uji coba lapangan (Pribadi, 2014: 30). Evaluasi formatif memperbaiki suatu kegiatan/program dan evaluasi sumatif mengetahui tingkat keefektifan suatu produk di akhir program.

1. Analyze (Analisis)

Peneliti menganalisis perlunya pengembangan bahan ajar dan menganalisis kelayakan serta syarat-syarat pengembangan bahan ajar. Peneliti melakukan tahapan analisis meliputi tiga hal yaitu analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan analisis karakter siswa melalui kegiatan observasi dan wawancara di sekolah. Secara garis besarnya tahapan analisis yang dilakukan peneliti yaitu sebagai berikut:

a. Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan dilakukan dengan terlebih dahulu menganalisis keadaan bahan ajar. Lalu, menganalisis ketersediaan bahan ajar yaitu media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran. Saat tahap ini, peneliti akan menentukan bahan ajar yang perlu dikembangkan yang nantinya dapat membantu siswa dalam belajar.

b. Analisis Kurikulum

Analisis kurikulum dapat dilakukan dengan memerhatikan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah. Hal ini dilakukan agar pengembangan yang dilakukan dapat sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Kemudian, dalam hal ini peneliti mempelajari kompetensi dasar (KD) untuk merumuskan materi-materi atau indikator-indikator pembelajaran.

c. Analisis Karakteristik Siswa

Pada tahap analisis karakteristik siswa, peneliti melakukan observasi untuk melihat sikap siswa saat mengikuti pembelajaran tematik terutama matematika. Hal tersebut dilakukan agar produk yang dikembangkan peneliti sesuai dengan

karakter siswa dan mampu membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru.

Pada akhir tahap analyze (analisis), peneliti terlebih dahulu melakukan evaluasi dan setelah itu baru melanjutkan ke tahap design (perancangan).

2. Design (Perancangan)

Peneliti merancang desain produk yang akan dikembangkan sesuai hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Peneliti mengembangkan produk berupa buku panduan permainan tradisional anak untuk pembelajaran matematika kelas I tema 8 sekolah dasar. Pada tahap ini peneliti mulai merancang unsur-unsur yang diperlukan dalam isi produk yang dikembangkan. Peneliti menghubungkan materi pembelajaran matematika ke dalam permainan tradisional anak. Produk yang peneliti susun atau kembangkan diketik menggunakan Microsoft Word 2010 dengan jenis huruf AbeeZee dan akan dicetak menggunakan dua jenis kertas, yaitu kertas Ivory 230gsm untuk sampul buku dan Art Paper 120gsm untuk isi materi. Unsur-unsur yang diperlukan dalam produk berupa buku panduan permainan tradisional anak untuk pembelajaran matematika kelas I tema sekolah dasar yaitu sampul buku dan isi buku yang meliputi kata pengantar; daftar isi; nama permainan tradisional anak beserta asal daerah permainan tradisional anak; profil permainan tradisional anak meliputi pengertian dan asal daerah permainan tradisional anak; subtema, kompetensi dasar (KD), dan materi pembelajaran; alat dan bahan yang dibutuhkan; langkah membuat alat permainan (jika ada); langkah-langkah permainan; bagian permainan yang terkait dengan materi; soal latihan (soal latihan dan soal tantangan); kunci jawaban; rubrik penilaian; refleksi siswa;

profil penulis; dan daftar referensi. Pada akhir tahap design (perancangan), peneliti terlebih dahulu melakukan evaluasi dan setelah itu baru melanjutkan ke tahap development (pengembangan).

3. Development (Pengembangan)

Tahap development (pengembangan) merupakan tahap realisasi produk. Pada tahap ini pengembangan media pembelajaran yang berupa buku panduan permainan tradisional anak untuk pembelajaran matematika kelas I tema 8 sekolah dasar disusun sesuai dengan rancangan pada tahap sebelumnya. Peneliti mengumpulkan segala referensi permainan tradisional anak yang ada di Indonesia dari buku-buku cetak, buku elektronik, dan jurnal online skripsi. Lalu, peneliti mencoba menghubungkan permainan tradisional anak dengan materi pembelajaran yang diajarkan, membuat dan menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk permainan. Peneliti mengambil foto-foto yang diperlukan dalam setiap permainan tradisional anak dan langkah-langkah permainannya yang digunakan melalui foto dokumentasi pribadi peneliti dengan bantuan tetangga, yaitu anak-anak usia sekolah dasar sebagai pemeran pemain dalam permainan tradisional anak yang digunakan, menyusun instrumen validasi produk berupa kuesioner yang akan digunakan untuk mengukur kualitas produk dan kuesioner uji coba guru untuk mengukur kelayakan produk yang dikembangkan, serta menyusun kuesioner siswa berupa refleksi yang digunakan untuk mengetahui perasaan siswa yang dirasakan setelah mengikuti pembelajaran dengan permainan tradisional anak dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diajarkan melalui permainan tradisional anak. Pada akhir tahap development

(pengembangan), peneliti terlebih dahulu melakukan evaluasi dan setelah itu baru melanjutkan ke tahap implementation (implementasi).

4. Implementation (Implementasi)

Peneliti melakukan validasi produk yang dikembangkan dengan 2 (dua) orang ahli dan 2 (dua) orang guru kelas I agar data hasil validasi produk semakin kuat untuk melihat seberapa besar kualitas produk dengan menggunakan instrumen validasi produk yang berupa kuesioner. Pada saat uji coba produk ke guru, peneliti menggunakan kuesioner uji coba guru menggunakan produk yang dikembangkan peneliti yang dilakukan dengan 1 (satu) orang guru kelas I. Peneliti melakukan implementasi atau pelaksanaan pada sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi penelitian. Peneliti melakukan uji coba terbatas kepada 15 orang siswa kelas I C dengan menyampaikan atau menanamkan konsep materi matematika menggunakan permainan tradisional anak yang terdapat dalam produk yang dikembangkan. Peneliti memberikan pretest berupa latihan soal sebelum mengajak siswa bermain permainan tradisional anak dan posttest berupa latihan soal setelah siswa selesai bermain dengan jenis soal yang sama dengan soal yang diberikan sebelum bermain. Setelah itu, siswa diberikan kuesioner siswa yang berupa refleksi dengan dua pertanyaan sederhana. Tahap implementasi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh produk yang dikembangkan terhadap kualitas pembelajaran atau keefektifan pembelajaran. Pada akhir tahap implementation (implementasi), peneliti terlebih dahulu melakukan evaluasi dan

5. Evaluation (Evaluasi)

Peneliti melakukan evaluasi dalam dua bentuk yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas suatu kegiatan atau produk. Peneliti melakukan evaluasi formatif yang berupa hasil nilai pretest dan posttest siswa saat uji coba permainan atau uji coba terbatas. Selain itu, peneliti melakukan evaluasi sumatif untuk mengetahui tingkat keefektifan dan kualitas produk yang dikembangkan di akhir kegiatan pembelajaran. Evaluasi sumatif berupa hasil validasi produk oleh ahli permainan anak, ahli matematika, dan guru kelas I SD yaitu guru kelas I C dan I D serta kuesioner hasil uji coba guru oleh guru kelas I A.