• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi SMP Negeri 41 Padang

KEPALA SEKOLAH RAHMAT, M.Pd

WAKA KURIKULUM/HUMAS

FINCE EKA TRISIA, S.Pd

KAUR T.U

KOMITE

WAKA KESISWAAN/SAPRAS WIWIEK SUSIANA, S.Pd

UNIT PERPUSTAKAAN

UNIT

LABOR IPA OSIS UNIT KOPSIS

AGAMA PKn B.INDO B.ING IPA IPS MTK PENJAS KETERAM

PILAN

SENI

BUDAYA TIK BK

SISWA

PENJAGA SEKOLAH MAJELIS GURU

WALI KELAS

MASYARAKAT SEKITAR

7.A 7.B7.B 7.C 7.D 8.A 8.B 8.C 8.D 9.A 9.B 9.C 9.D 9.E

Tabel 4.3

Sarana dan Prasarana SMP Negeri 41 Padang

NO Jenis Jumlah Keadaan

1 Komputer 8 Baik

2 Laptop 9 Baik

3 Printer 3 Baik

4 Infocus 8 Baik

5 Drumband 1 Baik

6 Meja kerja ½ biro 11 Baik

7 Kursi kerja 11 Baik

8 Locker 1 Baik

9 Lemari arsip 6 Baik

10 Lemari administrasi 2 Baik

11 Meja 1 biro 2 Baik

12 Amplifier 1 Baik

13 Toa 1 Baik

14 Mic 1 Baik

15 Sounf system 1 Baik

16 Ruang kelas 10 Baik

17 Ruang kepala sekolah 1 Baik

18 Ruang tata usaha 1 Baik

20 Ruang inklusif 1 Baik

21 Ruang labor TIK 1 Baik

22 Toilet siswa 9 Baik

23 Toilet guru 2 Baik

24 Toilet pegawai 2 Baik

25 Toilet kepsek 1 Baik

26 Mushalla 1 Baik

B. Deskripsi Data

Data yang disajikan merupakan data mentah mengenai implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang tahun pelajaran 2020/2021 yang kemudian diolah menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan kepala sekolah, wakil kurikulum, guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII dan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang terjadi dilapangan.

Adapun daftar dari pertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut adalah (1) implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang tahun pelajaran 2021/2022, (2) kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang.

a. Implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang tahun pelajaran 2021/2022

Dampak dari kemajuan teknologi pada saat ini penerapan pembelajaran telah berubah kearah pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini dapat

selama masa pandemi semua bentuk kegiatan dibatasi dari pekerjaan hingga proses belajar mengajar disekolah. Hal tersebut membuat setiap sekolah membuat kebijakan baru agar proses mengajar belajar dilakukan secara daring untuk menghindari kerumunan dan penyebaran virus.

Adapun pertanyaan peneliti yaitu:

“Bagaimana kebijakan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran daring di SMP Negeri 41 Kota Padang?”

“Kebijakan yang sekolah pakai tentunya berdasarkan pada surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan di masa darurat covid-19.

Selama proses pembelajaran daring kita menggunakan aplikasi seperti WhatsAPP dan Google Meet. Kami juga mengizinkan bagi peserta didik yang kurang mampu atau tidak memiliki fasilitas seperti Handphone untuk datang langsung ke sekolah tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal tersebut bertujuan agar semua peserta didik dapat merasakan pembelajaran yang merata”.

Jawaban serupa yang disampaikan oleh informan 2, atas pertanyaan penulis:

“Aplikasi apa yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran daring?”

“yang kita gunakan selama proses pembelajaran daring ini sesuai dengan lebijakan dari kepala sekolah yaitu WhatsApp karena hampir semua siswa memiliki aplikasi tersebut, selanjutnya google meet. Kita memilih menggunakan aplikasi-aplikasi itu karena alasan utamanya tidak memakan banyak kuota internet. Selanjutnya kita juga mebuat kebijakan bagi anak yang tidak memiliki fasilitas seperti handphone diizinkan sesekali ke sekolah atau guru dapat langsung ke rumah anak tersebut dan bagi yang kesulitan dengan kuota internet maka kami juga mengizinkan anak untuk dapat memakai internet wifi sekolah”.

Hal serupa juga dinyatakan oleh informan 3 yaitu:

“Sebelumnya kita menggunakan aplikasi geschool, tapi dikarenakan terkendala pada biaya dan anak kurang paham tidak dipakai lagi dan beralih ke aplikasi WhatsApp, aplikasi tersebut digunakan untuk mengambil absen dan mengirim tugas atau materi pembelajaran.

Selanjutnya kita menggunakan google meet, aplikasi tersebut berfungsi untuk menjelaskan materi dengan dapat melihat wajah para peserta didik dan biasanya digunakan ketika mengambil nilai baca al-Qur’an atau hafalan surat dan praktek. Untuk google classroom kita belum pakai karena masih tahap memperkenalkan kepada peserta didik.”

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan pembelajaran daring di SMP Negeri 41 Padang berdasarkan pada surat

pelaksanaan pendidikan di masa darurat covid-19. Kebijakan tersebut bertujuan untuk dapat mempermudah dan menyesuaikan pada perkembangan zaman saat ini yang menuntut untuk dapat melek teknologi.

Kebijakan yang diterapkan oleh pihak SMP Negeri 41 Padang berdasarkan hasil data dilapangan dengan wawancara, observasi dan juga dokumentasi dapat ditarik kesimpulan dari analisis peniliti yaitu melihat dari segi kesiapan sekolah dalam melaksanakan kebijakan tersebut sudah cukup baik karena fasilitas dan sarana prasarana sudah tersedia. Dalam proses pembelajaran daring semua guru kelas terutama guru Pendidikan Agama Islam memilih untuk menggunakan aplikasi yang tidak banyak mengambil kuota seperti WhatsApp dan google meet.

Dalam proses pembelajaran baik yang dilakukan secara offline ataupun daring tentu adanya perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian yang dilakukan oleh setiap guru yang mengajar dikelas. Adapun pertanyaan peneliti tentang hal ini yaitu: “Bagaimana model perencanaan pembelajaran (RPP) dalam pembelajaran daring?”

Jawaban informan:

“RPP yang digunakan menyesuaikan pada RPP dimasa pandemi covid-19. Untuk proses pengevaluasian menilai dari hasil tugas yang dikumpulkan dan keaktifan siswa ketika mengikuti google meet atau WhatssApp”.

Pada tahap perencanaan pertama kali yg akan guru siapkan adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) daring. Dalam hal ini semua guru di SMP Negeri 41 Padang menggunakan RPP daring sesuai dengan kebijakan sekolah. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan guru menggunakan aplikasi seperti WhatsApp dan google meet sebagai media pembelajaran. Aplikasi tersebut dipilih karena dianggap efektif , mengirit kuota internet dan mayoritas sudah mempunyai aplikasi tersebut. Dalam data lapangan yang diperoleh masih terdapat peserta didik yang mengalami kesulitan dalam segi fasilitas seperti tidak memiliki handphone atau handphone yang dipakai satu bersama dengan adiknya, untuk mengatasi hal ini guru dapat langsung mendatangi rumah anak tersebut.

pembelajaran, kemudian guru mengambil hasil dari tugas yang telah dikerjakan peserta didik dan dicatat ke dalam buku penilaian.

b. Kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang

Dalam proses pembelajaran baik secara tatap muka maupun daring tentunya terdapat kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di SMP Negeri 41 Padang. Kelebihan dan kekurangan tersebut berasal dari berbagai aspek seperti dalam penggunaan aplikasi, manajemen waktu dan sebagainya. Adapun pertanyaan peneliti yaitu:

“Apa saja kendala yang dialami selama proses pembelajaran daring?”

Jawaban informan:

“kendala yang dirasakan pertama yaitu handphone, karena sebagian besar anak-anak disini ada yang tidak memiliki handphone dan juga kadang punya namun satu berdua dengan adiknya hal ini membuat si anak kadang telat mengumpulkan tugas. Selanjutnya biaya yang cukup besar ketika membeli paket internet, sinyal internet yang kadang kurang stabil dan tentunya pembelajaran daring ini akan mempengaruhi pada pemahaman dan motivasi siswa terhadap pelajaran terutama Pendidikan Agama Islam”.

Pernyataan yang sama dari informan ke 2:

“kita sebagai siswa mengalami penurunan motivasi belajar, kalau belajar dirumah tidak bisa berkonsentrasi, materi yang disampaikan tidak semuanya dapat dipahami, kalau belajar disekolah kita kan bisa bertemu teman-teman”.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh informan ke 3

“kurang memahami materi karena kalau dikelas tatap muka ibu guru biasanya dijelaskan dipapan tulis, aplikasi yang digunakan kadang suka error, sinyal internet yang kadang tidak stabil dan kadang informasi di buku dengan yang langsung dijelaskan bu guru berbeda penyampaiannya”.

Selanjutnya pertanyaan peneliti menganai kendala yang dihadapi ketika menggunakan aplikasi yang dipilih sebagai penunjang proses peembelajaran daring Pendidikan Agama Islam. Berikut pertanyaan peneliti:

“Apa kelebihan aplikasi yang digunakan selama proses pembelajaran daring?”

orang tua untuk dapat bisa menyesuaikan. Kelebihan yang juga dirasakan yaitu lebih simple maksudnya hanya melalui proses pengiriman dan waktu yang lebih felksibel”

Pertanyaan selanjutnya:

“kendala apa yang dialami dalam menggunakan aplikasi tersebut dalam pembelajaran daring?”

“tentunya yang namanya aplikasi tidak lepas dari kekurangan, selama proses pembelajaran daring PAI ini yang dirasakan kadang aplikasi error kemungkinan karena banyak yang buka jadi kadang loading pas login lama, link yang kadang tidak bisa dibuka dan juga terkendala sinyal intenet.”

Hal serupa juga dinyatakan oleh informan ke 2 yaitu:

“kadang terkendala sinyal yang tidak stabil, loading lama ketika masuk aplikasi, link yang error.”

Pernyataan sama dari informan ke 3:

“internet kadang jelek, link yang dikirim ibu guru kadang tidak bisa dibuka, ketika mengirim file foto melalui whatsApp kadang tidak bisa dibuka.”

Pertanyaan peneliti selanjutnya yaitu:

“sejauh mana peserta didik mampu memahami materi pembelajaran PAI melalui pembelajaran daring ini?”

Jawaban informan:

“jika dilihat dari hasil pengevaluasian dari kerajinan siswa mengumpulkan tugas maupun hasil dari tugas-tugas yang dikerjakan sudah cukup memahami pembelajaran PAI ini, namun hal ini tidak bisa menjadi suatu hal yang pasti karena kita sebagai guru tidak dapat melihat perkembangan siswa secara langsung.”

Dibalik adanya kendala-kendala yang dirasakan selama proses pembelajaran daring berlangsung tentu adanya solusi yang dilakukan baik dari guru Pendidikan Agama Islam maupun dari peserta didik. pertanyaan peneliti mengenai hal tersebut yaitu:

“bagaimana solusi dalam mengatasi kendala tersebut?

Jawaban informan:

bagi anak yang mengalami kesulitan dalam hal fasilitas seperti handphone yang dipakai secara bergantian dengan adik atau kakaknya kami memberi waktu lebih ketika pengiriman tugas dan yang tidak memiliki handphone maka kami memberi kebijakan untuk BK mendata anak-anak tersebut dan selanjutnya guru yang mengajar diizinkan untuk datang ke setiap rumah anak yang mengalami keseullitan tersebut atau anak juga bisa langsung ke sekolah untuk menjemput soal-soal yang akan dikerjakan dan mengumpulkannya langsung ke sekolah tentunya degan tetap menjaga protokol kesehatan. Selanjutnya untuk kendala aplikasi yang error atau kadang link yang tidak bisa dibuka kita memberi waktu tambahan dan membuat ulang link baru. Dalam hal ini sekolah terutama saya sebagai guru PAI akan berusaha semaksimal mungkin agar pembelajaran daring ini tetap berjalan dengan baik”

Hal serupa juga dinyatakan oleh informan ke 2:

“untuk mengatasi kendala yang terjadi selama proses belajar daring jika tidak memahami materi yang disampaikan oleh guru maka kita menanyakan langsung ke guru bersangkutan, untuk sinyal internet yang susah kadang memakai hostpot orang-orang dirumah. Link yang dikirim guru kadang tidak bisa dibuka maka saya mencoba untuk memuat link tersebut kalau tidak bisa juga saya melapor ke guru dan guru membuat ulang link baru”.

Pernyataan sama dari informan ke 3:

“untuk dapat berkonsentrasi ketika belajar saya biasanya belajar sendiri dikamar jika tidak paham saya mencari di google atau ke bu guru, kadang sinyal internet yang tidak stabil ketika google meet biasanya saya memakai hostpot kakak, untuk aplikasi yang bermasalah biasanya guru memberi pembagian waktu sebagian dijam segini sebagian dijam berikutnya dan juga kadang untuk link yang bermasalah ibu guru membuat link baru.”

Dari pernyataan diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di SMP Negeri 41 Padang dikelas VIII masih belum berjalan dengan baik dikarenakan peserta didik yang tidak mempunyai handphone android atau peserta didik yang hanya memiliki satu handphone yang dipakai secara bergantian karena dalam kelurga tersebut yang sekolah bukan hanya satu.

Letak geografis sekolah atau tempat tinggal peserta didik yang jauh dari jangkauan sinyal ini menjadi salah satu penyebab kadang sinyal yang kurang stabil.

pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang ini, diantaranya guru dan peserta didik dapat mengenal dan mengamplikasikan teknlogi yang ada saat ini, waktu belajar yang lebih fleksibel, dapat diakses dengan mudah dan jangkauan yang lebih luas. Hal ini tentunya belum menjadikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII lebih efektif, perlu adanya solusi tambahan dari sekolah agar tujuan dari kebijakan tersebut dapat tercapai.

C. Analisis Data

Berdasarkan temuan data dari informan di SMP Negeri 41 Padang dianalisis sebagai berikut:

1. Implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti

Dalam melaksanakan pembelajaran di SMP Negeri 41 Padang pada masa pandemi menerapkan pembelajaran secara daring atau online.

Pembelajaran daring adalah suatu sistem pembelajaran berbasis komputer yang memanfaatkan teknologi internet.2 Pelaksanaan pembelajaran daring di SMP Negeri 41 Padang mengacu pada surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan di masa darurat covid-19.

Dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan kewajiban guru didalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 pasal 20 yaitu guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, dan menilai serta mengevaluasi hasil pembelajaran. Langkah awal guru membuat perencanaan dengan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), metode yang digunakan guru adalah metode daring, dan selanjutnya dalam proses pengevaluasian guru memberikan tugas seperti soal-soal latihan, tahap terakhir guru mengoreksi tugas peserta didik tersebut dan nilai direkap dalam buku catatan nilai.

2 Meda Yuliani, dkk., op.cit., h. 112.

mencapai suatu tujuan. Hal yang sama dalam pernyataan Fullan dalam Abdul Majid sebagaimana yang dikutip oleh Zuhri menyatakan bahwa implementasi merupakan proses peletakan dalam praktek mengenai ide, gagasan, seperangkat aktivitas baru bagi orang lain agar tercapainya suatu perubahan tertentu.3

Implementasi pembelajaran daring merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh sekolah agar tercapainya pembelajaran yang lebih baik dan mudah dipahami. Penggunaan Learning Management System (LMS) sekolah SMP N 41 Padang menyesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan juga aturan-aturan yang tertuang dalam peraturan sekolah. Aplikasi yang dipilih untuk proses pembelajaran daring yaitu WhatsApp dan google meet. Aplikasi tersebut dianggap lebih efektif, mudah digunakan dan menghemat kuota internet.

2. Kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti

Kelebihan yang terdapat dalam pembelajaran daring yaitu dapat dengan mudah mengakses aktivitas sekolah di mana pun berada, mengurangi biaya anggaran, efektif waktu dalam proses belajar mengajar, fleksibilitas dalam interaksi, tuntutan pengetahuan melek digital, membangun kecapan secara mandiri, kreatif, bertanggung jawab, belajar bukan lagi sebagai beban tetapi sebagai kebutuhan.4 Kelebihan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Padang dirasakan baik oleh guru maupun peserta didik diantara kelebihan tersebut sebagai berikut:

a. Jangkauan yang lebih luas

b. Mencegah penularan virus covid-19 c. Dapat diakses dengan mudah d. Waktu belajar yang lebih fleksibel

e. Peserta didik dapat melakukan riset sendiri melalui internet

3 Zuhri, op.cit., h. 216.

4 Sri Gusti dkk., op.cit., h. 145.

berkembang

g. Menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk dapat melakukan pekerjaan yang lebih produktif selain bemain media sosial dan game.

Dibalik kelebihan yang dirasakan terdapat kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring diantaranya adalah hilangnya pengalaman pembelajaran tatap muka. Dalam hal evaluasi terkadang guru mendapatkan kesulitan untuk menentukan model evaluasi yang tepat untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan guru tidak dapat mengawasi secara langsung proses evaluasi siswa. 5 Kekurangan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Padang dirasakan baik oleh guru maupun peserta didik sebagai berikut:

a. Guru mengalami kesulitan dalam mengontrol peserta didik b. Pembelajaran lebih banyak bersifat teoritis dan minim praktek

c. Pemahaman dan motivasi peserta didik menurun terhadap pelajaran terutama dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam

d. Letak geografis mempengaruhi sinyal internet peserta didik maupun guru e. Tidak semua peserta didik memiliki fasilitas yag dibutuhkan seperti

handphone

f. Terlalu banyak gangguan yang bisa menganggu konsentrasi peserta didik disaat belajar

g. Biaya yang cukup besar untuk membeli kuota internet setiap hari atau minggunya

5 Khaerul Anwar, dkk., op.cit.

63

PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data yang diperoleh dari penelitian tentang implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Padang tahun pelajaran 2021/2022 sebagai hasil penelitian yang telah dijabarkan, dapat diambil kesimpulan:

1. Implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Padang guru menggunakan aplikasi WhatsApp dan google meet. Aplikasi tersebut dipilih karena dianggap efektif untuk keberlangsungan belajar peserta didik. Dalam tahap pengevaluasian guru memberikan tugas seperti soal-soal latihan dan kemudian mengoreksi jawaban dari tugas yang diberikan dan mengambil nilai dari hasil tugas peserta didik tersebut. Implementasi pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang belum berjalan dengan baik, terlihat dari rekap nilai siswa dimana terdapat nilai yang masih dibawah rata-rata dan tugas yang masih kosong.

2. Kelebihan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti di kelas VIII SMP Negeri 41 Kota Padang seperti: jangkauan yang lebih luas, mencegah penularan virus covid-19, dapat diakses dengan mudah, waktu belajar yang lebih fleksibel, peserta didik dapat melakukan riset sendiri melalui internet, melatih peserta didik maupun guru untuk menguasai teknologi yang terus berkembang, dan menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk dapat melakukan pekerjaan yang lebih produktif selain bermain sosial media dan game. Sedangkan kekurangannya seperti: guru mengalami kesulitan dalam mengontrol peserta didik, pembelajaran lebih banyak bersifat teoritis dan minim praktek, pemahaman dan motivasi peserta didik menurun terhadap pelajaran terutama dalam pelajaran pendidikan agama

peserta didik memiliki fasilitas yang dibutuhkan seperti handphone, terlalu banyak gangguan yang bisa menganggu konsentrasi peserta didik disaat belajar, dan biaya yang cukup besar untuk membeli kuota internet setiap hari ataupun minggunya.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan peneliti sebagai berikut:

1. Bagi sekolah

a. Pihak sekolah perlu mengarahkan kepada guru untuk dapat menggunakan aplikasi yang barvariasi.

b. Sekolah memfasilitasi alat yang digunakan dalam pembelajaran daring.

2. Bagi guru

a. Guru menggunakan aplikasi yang bervariasi

b. Guru perlu memperhatikan jumlah, tingkat kesulitan, dan tanggal penyerahan tugas

c. Guru perlu menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua atau wali murid selama proses pembelajaran daring berlangsung

3. Bagi peserta didik

a. Peserta didik harus lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran b. Peserta didik belajar menngunakan alat komunikasi

c. Peserta didik berusaha untuk dapat memiliki alat untuk pembelajaran daring.

65

Ahsan, Muhammad dan Sumiyati, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Cet. II, 2017.

Ali, Muhammad, Kebijakan Pendidikan Menengah dalam Prespektif Governance di Indonesia. Malang: UB Press, Cet. I, 2017.

Anggito, Albi dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi:

CV Jejak, Cet. I, 2018.

Anwar, Khaerul dkk., Pengalaman Pembelajaran Bahasa Inggris Daring di Pergurua Tinggi pada Masa Pandemi Covid-19. Sleman: CV. Budi Utama, Cet. I, 2020.

Dahwadin dan Farhan Sifa Nugraha, Motivasi dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Wonosobo: CV. Mangku Bumi Media, Cet. I, 2019.

Fahrina, Afrilia Karla Amelia, dan Cut Rita Zahara (ed.), Guru dan Pmebelajaran Inovatif di Masa Pandemi Covid-19. Aceh: Syiah Kuala University Pers, Cet. I, 2020.

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pedoman Penulisan Skripsi.

Fathurrohman, Muhammad dan Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran Membantu Meningkatkan Mutu Pembelajaran sesuai Standar Nasional.

Yogyakarta: Teras, Cet. I, 2012.

Firdianti, Arianda, Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. Yogyakarta: CV. Grey Publishing, Cet. I, 2018.

Fitrah, Muh dan Luthfiyah, Metodologi Penelitian Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas dan Studi Kasus. Sukabumi: CV Jejak, Cet. I, 2017.

Gusti, Sri dkk., Belajar Mandiri Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi COVID-19 Konep, Strategi, Dampak dan Tantangan. tt.p.: Yayasan Kita Menulis, Cet. I, 2020.

Handarini, Oktavia Ika, “Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study From Home (SFH) Selama Pandemi covid 19”. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), Vol. 8, No. 3, 2020.

K. Sahide, Muhammad Alif, Buku Ajar Metodologi Penitian Sosial: Keahlian Minimum untuk Teknik Penulisan Ilmiah, Makassar: Fakultas Kehutanan Universitas Hasanudin, 2019.

Kutsiyah, “Analisis Fenomena Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi (Harapan Menuju Blended Learning)”. Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol. 3, No. 4, 2021.

Mahfud dkk, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multietnik.

Yogyakarta: CV. Budi Utama, Cet. I, 2015.

Mamik, Metodologi Kualitatif. Sidoarjo: Zifatama, Cet. I, 2015.

Muhammad, Raditya dkk., Memanfaatkan Learning Management System Berbasis Moodle untuk Pembelajaran Daring di Sekolah. Ponorogo:

Uwais Inspirasi Indonesia, Cet. I, 2021.

Pohan, Albert Efendi, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah.

Pohan, Albert Efendi, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah.

Dokumen terkait