PEMBERLAKUAN HUKUM SECARA SURUT DALAM ATURAN PIDANA INDONESIA
B. Pemberlakuan Hukum Secara Surut Dalam Tindak Pidana Tertentu 1. Pemberlakuan Hukum Secara Surut Dalam Pelanggaran HAM Berat
2. Pemberlakuan Hukum Secara Surut Dalam Tindak Pidana Terorisme
Jika dalam menangani kasus kejahatan HAM berat dapat dilakukan penerapan hukum secara surut, maka lain halnya dalam kasus tindak pidana kejahatan terorisme. Masalahnya adalah Undang-Undang No. 16 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 2 Tahun 2002 tentang
24
Pemberlakuan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di bali yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002, resmi dibatalkan oleh MK.
Pembatalan tersebut dilakukan setelah adanya upaya Judicial Review yang dilakukan oleh Masykur Abdul Kadir beserta kuasa hukumnya terhadap Undang-Undang No. 16 tahun 2003 atas Pasal 28 I ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menurutnya mengandung pemberlakuan hukum secara surut (retroaktif) sehingga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan asas legalitas yang sudah diakui secara universal. Sehingga akhirnya lima dari Sembilan hakim MK mengabulkan permohonan judicial review tersebut dengan dasar pertimbangan, Pertama, menurut lima hakim tersebut Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tidak perlu diberlakukan secara surut, karena baik unsur maupun jenis kejahatan yang terdapat dalam tindak pidana terorisme tersebut dapat dihukum dengan menggunakan instrument undang-undang yang telah ada dan dapat dimasukan ke dalam jenis kejahatan yang hukumannya dapat berupa pidana berat. Kedua, kejahatan terorisme belum dapat dikatakan sebagai extra ordinary crime sehingga tidak perlu diterapkan hukum secara surut dan dapat ditangani dengan instrument undang-undang yang sudah ada. Ketiga, jika memang terorisme melanggar batas-batasan HAM, namun penanganannya tidak boleh bertentangan dengan HAM, Keempat, pembentukan undang-undang terorisme semata-mata hanya berdasarkan pada pandangan politik (Political Judgement).
Namun demikian tidak semua hakim MK mengabulkan permohonan tersebut, empat orang hakim MK yang terdiri dari Maruarar Siahaan, I Dewa Gede Palguna, Prof. Natabaya, Harjono mengajukan dissenting opinion yang isinya antara lain:
a. Penerapan hukum secara surut dalam kasus bom Bali sangatlah tepat karena baik motif dan target sangatlah jelas.
b. Kejahatan terorisme telah menjadi perhatian masyarakat dunia, di mana korban yang ditimbulkan bukan hanya dari satu Negara namun dari banyak Negara. Selain itu imbas yang ditimbulkan bukan hanya dari banyak korban jiwa, namun berbagai infrastruktur umum, lingkungan hidup dan sumber-sumber ekonomi juga mengalami kerusakan parah ditambah dengan tergoncangnya situasi social dan politik yang dapat mengganggu eksistensi Negara.
c. Negara wajib melindungi warganya dan integritas bangsa dari berbagai kejahatan, baik dari kejahatan nasional maupun transnasional.
d. Para pelaku tahu dan sadar bahwa perbuatan mereka merupakan suatu tindak kejahatan yang dapat dihukum dengan undang-undang, dan mereka pun tahu dan sadar bahwa kejahatan dilakukan ditujukan untuk bangsa lain dengan penuh kebencian, sehingga dapat dikatakan bahwa terorisme merupakan sebuah perbuatan immorality.25
Pendapat para hakim yang mengajukan dissenting opinion ini didasarkan pada prinsip “aut punere aut de dere, nullum crimen sine poena” atau
25
Dikutip dari artikel “Putusan MK dengan “Dissenting Opinion”, Jurnal Berita Mahkamah Konstitusi, (No. 6 Tahun 2004 hal. 9). Artikel diakses pada tanggal 2 April dari http://www.mahkamahkonstitusi.go.id
setiap kejahatan tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa adanya hukuman. Pada kesempatan itu dihadirkan juga dua orang saksi ahli yang pada akhirnya kesaksian mereka mengukuhkan pendapat dari lima hakim yang mengabulkan permohonan pemohonan, yaitu Dr. Maria Farida Indarti dan Prof. Harun Alrasyid, dimana Maria Farida berpendapat bahwa penerapan Pasal 28J ayat (2) UUD yang berisikan kemungkinan untuk mengesampingkan hak asasi manusia tidak dapat dilakukan kepada Pasal 28I ayat (1), hal ini disebabkan adanya anak frasa “dalam keadaan apa pun”. Sehingga Pasal 28J tidak dapat dapat dikatakan sebagai lex specialis bagi Pasal 28I ayat (1). Hal yang senada pun disampaikan oleh Prof. Harun Alrasyid, dimana Pasal 28J ayat (2) tidak bisa disebut sebagai aturan khusus, sehingga pada akhirnya harus ditafsirkan bahwa prinsip non-retroakif merupakan suatu prinsip yang berlaku mutlak.26
Meskipun di dalam putusan MK tindak pidana terorisme tidak dapat dikategorikan dalam tindak pelanggaran HAM berat atau gross violation on human rights maupun tindak pidana yang butuh penanganan khusus (extra ordinary crime) namun jika melihat kembali pada konvensi-konvensi internasional maka tindak pidana terorisme dapat pula dikatakan sebagai tindak pidana internasional, sehingga pelakunya memungkinkan dihukum dengan menggunakan hukum secara surut. Hal ini tersebut di dasarkan pada latar belakang pembentukan Pengadilan HAM Nurenberg. Selain itu dengan melihat pada dampak dan sifat dari tindak pidana
26
Mardenis, Pemberantasan Terorisme: Politik Internasional dan Politik Hukum Nasional Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2013) hal. 178.
terorisme tersebut seharusnya MK melihat kepada langkah yang diambil dalam Pengadilan HAM Nurenberg dalam menyelesaikan kasus tindak pidana terorisme yaitu mengesampingkan asas legalitas demi memberikan keadilan bagi para korban, meskipun hal tersebut dianggap tidak adil bagi pelaku kejahatan terorisme.
Disamping alasan bahwa terorisme bukan termasuk dalam pelanggaran HAM berat maupun extra ordinary crime, keberadaan Pasal 28 I ayat (1) dan Pasal 28 J ayat (2) dalam UUD 1945 yang mengundang banyak perdebatan. Jika menurut Maria Farida dan Harun al-Rasyid Pasal 28 I ayat (1) tidak dapat dilakukan penyimpangan terhadapnya dan Pasal 28 J ayat (2) bukanlah lex specialis dari Pasal 28 ayat (1). Maka lain halnya menurut Ari Wibowo dalam bukunya “Hukum Pidana Terorisme” yang mengatakan bahwa Pasal 28J ayat (2) merupakan pengecualian terhadap Pasal 28I ayat (1). Meskipun jika dilihat secara sekilas bahwa kedua pasal tersebut saling bertentangan namun jika dilihat secara seksama maka akan nampak kesinambungan antara Pasal 28J dengan Pasal 28I, sebab menurutnya kedua pasal yang ada di dalam UUD 1945 tersebut memiliki kesamaan jika dibandingkan dengan Pasal 4 dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Pasal 3 ayat (1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dimana dalam Pasal 4 UU No. 39 Tahun 1999 melarang adanya penuntutan dengan menggunakan hukum yang berlaku surut akan tetapi di dalam penjelasannya hak tersebut dapat dikesampingkan jika berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM berat yang
merupakan tindak pidana kemanusiaan, dan di lain sisi Pasal 3 ayat (1) UU No. 24 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM pun mengatakan bahwa pelanggaran terhadap HAM berat dapat dihukum melalu pengadilan HAM ad hoc, meskipun telah terlebih dahulu terjadi sebelum munculnya UU No. 24 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.27 Sehingga menurut Ari Mahkamah Konstitusi seharusnya melihat UUD 1945 secara kesuluruhan dan mempertimbangkan Pasal 28J ayat (2) sebagai pengecualian terhadap Pasal 28I ayat (1).
Sedangkan dilain pihak pemerintah yang pada saat itu berkedudukan sebagai tergugat mengatakan bahwa penerapan prinsip retroaktif dalam Undang-Undang Terorisme tersebut didasarkan pada pandangan bahwa tindak pidana terorisme bukanlah kejahatan biasa, akan tetapi telah dikategorikan sebagai tindak pidana luar biasa (extra ordinary crime) dan jika melihat jumlah korban yang ditimbulkan dapat dikategorikan kedalam tindak pidana kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Bukan hanya berdasarkan pada pertimbangan jumlah korban saja, namun dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana terorisme ini dapat berpengaruh pada kondisi social, ekonomi dan politik di Indonesia. Maka dengan dasar pertimbangan tersebut maka pemerintah membuat Undang-Undang Terorisme yang dalam penerapannya dapat diberlakukan secara surut.
Akan tetapi dengan adanya uji materi yang membatalkan UU No. 16
27
Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Terorisme, maka penggunaan undang-undang a quo harus berakhir. Namun masih menyisakan sebuah pertanyaan, bagaimana nasib para pelaku baik yang masih berada dalam proses persidangan maupun yang sudah in kracht ? Maka menurut Yusril Ihza Mahendra bahwa putusan yang telah ditetapkan oleh pengadilan kepada para pelaku dengan menggunakan UU No. 16 Tahun 2003 ini tetap sah dengan berdasarkan pada Pasal 58 undang-undang MK. Akan tetapi lain halnya jika kasus tersebut masih berada pada proses persidangan, namun belum mencapai tahap pembacaan tuntutan maka UU No. 16 Tahun 2003 dapat dikesampingkan dan selanjutkan dapat dituntut dengan menggunakan tuntutan subsider yang didasarkan pada KUHP dan UU No. 12 Tahun 1951dan jika masih dalam tahap penyidikan maka UU No. 16 Tahun 2003 akan dikesampingkan secara keseluruhan.28 Menurut pendapat Andi Hamzah sebagaimana dikutip oleh Rony, mengatakan bahwa meski pelaku terorisme dapat lepas dari jeratan UU No. 16 Tahun 2003 akan tetapi mereka tidak dapat lepas dari jeratan KUHP dan UU No. 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api yang ketentuan hukumannya juga sama beratnya yaitu sampai pada ketentuan tertinggi, hukuman mati.29
Maka dengan adanya penjelasan di atas dapat dipahami bahwa meski para pelaku tindak pidana terorisme tidak dapat dituntut dengan menggunakan
28
Tb. Rony Rahman, Tegakan Hukum Gunakan Hukum, hal. 130.
29
Undang-Undang No. 16 Tahun 2003, namun mereka tetap dapat dituntut dengan menggunakan Undang-Undang No. 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dengan hukuman yang juga tak kalah beratnya. Sehingga dengan demikian tidak ada istilah kekosongan hukum bagi tindak pelaku tindak pidana terorisme.