PEMBERLAKUAN HUKUM SECARA SURUT DALAM ATURAN PIDANA INDONESIA
A. Praktik Permbelakuan Secara Surut Dalam Putusan Pengadilan HAM Ad-Hoc
1. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 065/PUU-II/2004
Pada tanggal 17 September 2004 Abilio Jose Osorio Suares yang sebelumnya telah menjalani hukuman penjara selama 3 tahun karena telah melakukan tindak pidana pembunuhan dan penganiayaan terhadap masyarakat Timor Timur yang pro kemerdekaan, dengan diwakili oleh kuasa hukumnya mendaftarkan permohonan judicial review Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ke Mahkamah Konstitusi yang kemudian diterima oleh Kepaniteraan pada tanggal 18 September 2004.
Dalam permohonannya, Abilio yang diwakili oleh para kuasa hukumnya ingin mengajukan uji materi terkait pemberlakuan Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, dengan alasan-alasan:
a. Pasal 43 ayat (1) Undang-undang a quo telah melanggar hak konstitusinya sebagai warga Negara karena pasal tersebut dianggap bertentangan dengan Pasal 28I Undang-Undang Dasar 1945 karena diberlakukan secara surut.
meski ada ketentuan dalam Pasal 28J yang memiliki kemungkinan dapat memberikan pembatasan terhadap Pasal 28I, namun hal itu tidak dapat dilakukan. Sebab di dalam Pasal 28I ada frasa yang berbunyi “dalam keadaan apapun”. Sehingga meski dalam kondisi darurat pun pemberlakuan hukum secara surut tidak dapat dilanjutkan.
c. Pemberlakuan hukum secara surut lebih kental dengan nuansa politik balas dendam (political revenge), sehingga dapat menimbulkan kesewenang-wenangan.
d. Pengadilan Pidana Internasional (ICC) berdasarkan pada Statuta Roma 1998 juga menolak penerapan hukum secara surut. Hal tersebut disebutkan di dalam Pasal 22, Pasal 23 dan Pasal 24 dari Statuta Roma. e. Kalaupun ingin menerapkan hukum secara surut, maka hendaklah sesuai dengan asas ketatanegaraan “abnormal recht voor abnormal
tijden” (hukum darurat untuk kondisi darurat).
f. Penerapan Pasal 43 ayat (1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia bertentangan dengan prinsip legalitas yang terkandung di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHPidana dan juga bertentangan dengan Ketentuan Umum Perundang-undangan atau Algemene Beppalingen van Wetgeving yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda dengan pada tanggal 30 April 1847, bahwa, “De wet verbindt aleen voor het toekomende en heft geen terug werkende kracht atau Undang-undang hanya mengikat untuk masa depan dan tidak berlaku surut.
g. Bahkan menurut Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam Pasal 18 ayat (2) dikatakan bahwa,”Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukan”.
h. Terakhir, sebuah undang-undang secara materiil tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang memilik kedudukan lebih tinggi di atasnya. Hal ini sebagaimana ditentukan oleh TAP MPR No.III/MPR/2000 Pasal 4 ayat (1).
Selain mendengarkan keterangan dari pihak pemohon, Mahkamah Konstitusi juga mendengarkan keterangan dari pihak pembuat undang-undang yaitu pemerintah dan DPR-RI. Menurut Pemerintah ada beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar bagi pembentukan Pasal 43 ayat (1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, di antaranya: a. Tindak pidana pelanggaran HAM berat merupakan extra ordinary
crime yang memiliki sifat sistematis dan terkoordinasi dengan baik sehingga sulit untuk dibuktikan. Sedangkan KUHPidana hanya mengatur tentang ordinary crime saja sehingga untuk menangani tindak pidana pelanggaran HAM berat dibutuhkan Undang-undang khusus.
b. Mengenai permasalahan pemberlakuan hukum secara surut (retroaktif) hal tersebut dapat dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut: 1) Dilakukan secara khusus dan tertentu.
2) Limitatif dan restriktif.
3) Tidak memberatkan terdakwa.
4) Diatur secara tegas dan tidak multitafsir.
c. Secara sosiologis pemerintah berpandangan bahwa kasus tindak pidana pelanggaran HAM berat jika tidak segera diselesaikan maka akan menjadi “burning issues” yang dapat mengganggu stabilitas negara. d. Adanya desakan dari dunia internasional melalui Resolusi Dewan
Keamanan PBB menjadi salah satu factor terbentuknya Undang-undang a quo.
Sedangkan menurut DPR-RI pemberlakuan hukum secara surut (retroaktif) terhadap tindak pidana pelanggaran HAM didasarkan pada beberapa alasan:
a. Jika melihat pada bagian penjelesan Pasal 4 Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dikatakan bahwa hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dapat dikecualiakan hanya dalam kasus pelanggaran HAM berat saja.
b. Ruang lingkup kerja dari Pengadilan HAM Ad Hoc hanya dibatasi untuk kasus denga locus dan tempus delicti tertentu saja dan keberadaan dari Pengadilan HAM Ad Hoc ini hanya sementara.
c. Terhadap kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah diundang-undangkannya Undang-undang No. 26 Tahun 2000, maka akan diadili sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 4 Undang-undang No. 26 Tahun 2000.
d. Terkait dengan Pasal 28 I DPR-RI berpendapat bahwa pasal ini merupakan sebuah ketentuan umum, sedangkan Pasal 28 J merupakan pembatas terhadapa Pasal 28 I.
e. Pemberlakuan hukum secara surut dilakukan dengan dasar prinsip keadilan. Sehingga dengan adanya Undang-undang a qua diharapkan dapat memenuhi tuntutan keadilan dari para korban tindak pidana pelanggaran HAM berat.
Setelah mendengarkan keterangan dari berbagai pihak baik dari pemohon yaitu Abilio Jose Osorio Suares dan kuasa hukumnya, serta dari pihak terkait yaitu Pemerintah dan DPR-RI. Maka akhirnya Majelis Hakim dengan berdasarkan pada:
a. Ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang merupakan legal standing bagi Pemohon.
b. Ketentuan Pasal 24 C ayat (1) UUD 1945 juncto Pasal 10 ayat (1) UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang untuk melakukan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. Ditambah dengan ketentuan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 bahwa undang yang dapat dilakukan uji materi terhadapnya ialah undang-undang yang dibuat setelah adanya amandemen pertama UUD 1945 pada tanggal 19 Oktober 1999, sedangkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dibuat pada tanggal 23
November 2000 dengan LN Republik Indonesia Nomor 208. Maka dengan ini Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan permohonan yang diajukan oleh Pemohon.
c. Secara harfiah memang benar apa yang terkandung dalam Pasal 28I memberikan gambaran bahwa hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut merupakan sesuatu yang mutlak. Namun jika kita melihat kepada sejarah dari pembentukan Pasal 28I tersebut tidak bisa kita pisahkan dari Pasal 28J. Kedua pasal terebut memiliki keterikatan satu sama lain sehingga tidak boleh dibaca secara parsial, melainkan harus dibaca secara bersamaan. Sehingga secara sistematis hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut bukan merupakan hak yang mutlak. Pemberlakuan hukum secara mutlak semata-mata hanya untuk memenuhi 3 tujuan hukum, yaitu: 1. Kepastian hukum, 2. Keadilan hukum, 3. Kebergunaan hukum. Akan tetapi, meski pemberlakuan hukum secara surut (retroaktif) dapat dilakukan, dalam prakteknya harus tetap dibatasi.
d. Meski secara hierarki Undang berada dibawah Undang-Undang Dasar, namun hal tersebut tidak secara otomatis menyebabkan undang-undang yang menerapkan hukum secara surut bertentangan dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Ada dua aspek yang harus diperhatikan agar pemberlakuan hukum secara surut (retroaktif) tidak
dianggap bertentangan dengan hak asasi, pertama, adanya kepentingan umum yang lebih besar yang harus dilindungi. Kedua, bobot dan sifat hak-hak yang terlanggar akibat pemberlakuan undang-undang demikian lebih kecil dari kepentingan umum yang terlanggar atau ketentuan hukuman yang diberikan harus lebih rendah sehingga tidak melanggar hak asasi pelaku.
e. Meski UUD 1945 memberikan peluang untuk memberlakukan hukum secara surut (retroaktif) sehingga mengesampingkan asas retroaktif, namun UUD 1945 tetap mengutamakan prinsip non-retroaktif tersebut meski sifatnya tidak mutlak. Selain itu semangat yang terkandung dalamUUD 1945 dalam hubungan ini sejalan dengan semangat yang terdapat dalam sejumlah instrument hukum internasional maupun regional, seperti dalam Pasal 29 ayat (2) DUHAM atau Universal Declaration of Human Right yang isinya hampir sama dengan Pasal 28J UUD 1945, kemudian dalam Pasal 15 ayat (1) Konvenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik atau International Convenant on Civil and Political rights yang mengatakan bahwa,”Tidak seorang pun dapat dinyatakan bersalah
melakukan tindak pidana karena perbuatan ataupun karena kelalaian, yang pada saat perbuatan tersebut dilakukan bukan merupakan suatu tindak pidana baik menurut hukum nasional maupun menurut hukum
internasional”.
tentang Hak-hak Asasi Manusia secara tegas mengatakan bahwa negara-negara peserta konvenan boleh mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan manakala negara dalam keadaan darurat sehingga stabilitas negara menjadi terancam. Serta tidak bertentangan dengan kewajiban-kewajiban negara yang bersangkutan menurut hukum internasional. Selain itu penerapannya tidak boleh dilakukan secara diskriminatif maupun atas dasar balas dendam.
g. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang a quo. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terkait dengan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc maka harus disertai dengan persetujuan dari DPR yang merupakan representasi dari masyarakat Indonesia.
h. Tujuan dari pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc mengadili pelaku kejahatan yang tergolong kedalam “kejahatan serius terhadap masyarakat internasional secara keseluruhan” atau “the most serious
crime of concern to the international community as a whole”. Pembentukan Pengadilan HAM Ad-Hoc sebenarnya dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di dunia internasional terkait pembentukan ICTY untuk kasus Yugoslavia dan ICTR untuk kasus Rwanda.
i. Pemberlakuan hukum secara surut yang diterapkan di dalam Undang-Undang Pengadilan hanya diperuntukan bagi tindak pidana kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan saja. Walaupun, sebenarnya tindak pidana kejahatan perang dan tindak pidana
kejahatan agresi secara hukum kebiasaan internasional (International Costumary Law) termasuk kedalam kejahatan serius terhadap kemanusiaan.
j. Sampai saat ini belum ditemukan definisi yang pasti tentang apa yang dimaksud dengan terorisme, meski pada dasarnya ia termasuk kedalam kejahatan serius terhadap masyarakat internasional, maka bagi tindak pidana terorisme belum bisa dibentuk sebuah pengadilan ad hoc. k. Pemberlakuan asas non-retroaktif hanyalah berlaku bagi tindak pidana
yang sifatnya biasa (ordinary crime) sedangkan untuk kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang secara internasional pun sudah diakui sebagai kejahatan intenasional, maka dapat diberlakukan hukum secara surut (retroaktif). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar para pelaku kejahatan luar biasa seperti kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan tidak lolos dari jeratan hukum sebagaimana bunyi adagium “tidak boleh ada kejahatan yang berlalu tanpa adanya hukuman (aut punere aut de dere)”.
Sehingga dengan adanya beberapa pertimbangan yang dijelaskan secara singkat di atas yang menyatakan bahwa Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc Nomor 208, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4026, tidak terbukti bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia 1945, maka dengan ini Menolak permohonan yang diajukan oleh pemohon.
2. Putusan Nomor. 34 PK/PID.HAM.AD.HOC/2007
Selain terjadi pada kasus Abilio, praktek pemberlakuan hukum secara surut juga terjadi pada kasus Eurico Guterres, seorang mantan Wakil Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI). Eurico dituntut dengan tuduhan telah melakukan pembiaran terhadap penyerangan yang terjadi di kediaman Manuel Viegas Carrascalao yang menyebabkan beberapa orang terluka parah dan meninggal dunia. Selain itu ia juga dituduh telah melakukan provokasi terhadap massa yang hadir pada Apel Akbar Peresmian PAM Swakarsa pada tanggal 17 April 1999 jam 09.00 WITA atau setidaknya pada waktu-waktu lain di bulan April, sehingga menyebabkan terjadinya penyerangan tersebut.
Atas kejadian tersebut dalam Pengadilan tingkat pertama dan dalam dakwaan pertama ia dituntut dengan Pasal 42 ayat (2) a dan b jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 hurf a dan Pasal 37 Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dalam dakwaan kedua ia dituntut juga dengan Pasal 42 ayat (2) hurf a dan b jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 huruf h dan Pasal 37 Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Sehingga dalam Putusan Nomor 04/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN.JKT.PST ia dihukum dengan hukuman pidana penjara selama 10 tahun.
Merasa tidak puas dengan putusan ini baik pihak Eurico dan pihak Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding terhadap putusan sebelumnya dan dalam putusan banding tersebut ia dihukum dengan hukuman yang
lebih ringan yaitu 5 tahun. Akan tetapi putusan tersebut bagi pihak Eurico masih kurang memuaskan dan bagi pihak JPU masih terlalu ringan, akhirnya kedua kubu tersebut mengajukan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut. Alih-alih ingin mendapatkan putusan yang lebih ringan, Eurico akhirnya dihukum dengan hukuman 10 tahun penjara.
Kubu Eurico pun bereaksi terhadap putusan kasasi ini dengan mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan kasasi tersebut. Pengajuan peninjauan kembali dilakukan dengan beberapa alasasn:
a. Dalam putusan kasasi Majelis Hakim Agung yang seharusnya berkedudukan sebagai Yudex Yuris merubah kedudukannya menjadi Yudex Factie.
b. Tidak ada landasan yuridis yang ilmiah dalam putusan tersebut tentang penambahan masa hukuman.
c. Dalam persidangan Eurico Guterres bersifat kooperatif sehingga memudahkan persidangan.
d. Majelis Hakim 1, 2 dan 3 hanya mengambil pertimbangan hukum dari pihak Jaksa Penuntut Umum saja.
e. Adanya dissenting opinion yang mengatakan bahwa terdakwa Eurico Guterres seharusnya dibebaskan.
f. Majelis Hakim tidak melihat kepada fakta-fakta yang muncul dalam persidangan.
g. Hakim ragu dalam memutuskan karena terjadi benturan antara prinsip kepastian hukum dan prinsip keadilan. Jika terjadi hal yang demikian maka hendaknya hakim mengutamakan prinsip keadilan.
Dengan berdasarkan beberapa alasan dan fakta yang ada akhirnya majelis hakim memutuskan untuk menerima permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Eurico Guterres, membatalkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 06 K/PID.HAM.AD.HOC/2005 tanggal 13 Maret Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Hak Asasi Manusia Ad Hoc Nomor 02/PID.HAM/AD.HOC/2004/PT.DKI tanggal 29 Juli 2004 jo. Putusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 04/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN.JKT.PST tanggal 27 November 2002, serta mengadili kembali dengan menyatakan bahwa pemohon PK yaitu Eurico Guterres tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang dituduhkan oleh Jaksa Penuntut umu, maka dengan itu majelis hakim membebaskan Eurico Guterres dari segala dakwaan, memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya.
Dalam putusan ini majelis hakim berpendapat bahwa sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2000 bahwa seorang terdakwa baik ia secara individual (individual responsibility) ataupun sebagai atasan (superior responsibility) haruslah dibuktikan apakah ia benar telah mengeluarkan kebijakan baik Kebijakan Negara atau pun Organisasi untuk melakukan kejahatan kemanusiaan secara sistemik dan meluas terhadap masyarakat sipil. Menurut hukum kemanusiaan internasional yang dimaksud dengan pengertian meluas berkaitan dengan adanya korban ialah harus bersifat massal, berulang kali, dilakukan dalam skala besar, dilakukan dengan
sungguh-sungguh dan ditujukan pada kelompok masyarakat tertentu. Sedangkan untuk pengertian dari kata sistemik bahwa perbuatan tersebut harus direncanakan terlebih dahulu secara matang serta sungguh-sungguh dan perencanaan tersebut harus merupakan kelanjutan dari kebijakan penguasa atau organisasi.
Ke-dua, tidak terbukti adanya serangan terhadap masyarakat sipil, karena sebetulnya bentrokan yang terjadi ialah antara kelompok Pro kemerdekaan. Sehingga bila kita kembalikan kepada UU No. 26 Tahun 2000 maka kelompok Pro Kemerdekaan tidaklah termasuk ke dalam kelompok masyarakat sipil sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. 26 Tahun 2000. Selain itu berdasarkan pada hukum internasional yang dimaksud dengan penduduk sipil adalah mereka yang tidak ikut aktif dalam pertikaian, atau tidak lagi ikut serta dalam pertikaian termasuk anggota-anggota bekas pasukan bersenjata yang telah menyerah dan orang-orang yang mengalami penderitaan (hors de combat) karena sakit, luka-luka, penahanan atau alasan-alasan lainnya.
Ke-tiga, pemohon tidak terbukti melakukan pembiaran (omisi) sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 42 UU No. 26 Tahun 2000. Ditambah posisi atau kedudukan terdakwa yang tidak memiliki otoritas terhadap anggota PPI. Sehingga tidak memiliki untuk mencegah dan menghentikan serta menghukum para pelaku sebagaimana kemampuan yang dimiliki oleh POLRI ataupun TNI. Ditambah penyerangan yang terjadi dilakukan secara spontan tidak direncanakan dan terjadi tanpa sepengetahuan pemohon.
Ke-empat, sejalan dengan doktrin Superior Liability bahwa terdakwa telah diangkat oleh Gubernur Abilio Jose Osori Suares sebagai pemimpin PAM Swakarsa pada apel akbar tanggal 17 April 1999 sehingga secara de facto dan secara efektif terdakwa berada dibawah kekuasaan Gubernur Abilio Jose Osori Suares. Sedangkan Gubernur Abilio Jose Osori Suares telah dibebaskan dari semua dakwaan berdasarkan putusan Peninjauan Kembali No.45 PK/PID/HAM AD HOC/2004, maka demi keadilan dan kepatutan yang seadil-adilnya terdakwa dalam perkara a quo harus dinyatakan bebas dari segala dakwaan.
Ke-lima, dengan berdasarkan pada pertimbangan dan fakta-fakta yang ada serta sesuai dengan Pasal 263 ayat (2) jo Pasal 266 ayat (2) huruf b KUHAP maka terdapat cukup alasan bagi hakim untuk membatalkan putusan Mahkamah Agung RI No. 06 K/PID.HAM AD HOC/2005 jo Putusan Pengadilan Tinggi Hak Asasi Manusia Ad.Hoc No. 02/PID.HAM/AD.HOC/2004/PT.DKI jo Putusan Pengadilan HAM Ad
Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.
04/PID.HAM/AD.HOC/2002/PN.JKT.PST.
B. Praktik Pemberlakuan Secara Surut Dalam Putusan Pengadilan