PEMBUKTIAN DALAM PERKARA KEPAILITAN
C. Pembuktian Complicated
Hukum pembuktian (law of evidence) dalam perkara merupakan bagian yang sangat kompleks dalam proses litigasi. Keadaan kompleksitasnya makin terasa karena pembuktian berkaitan dengan kemampuan merekonstruksi kejadian atau peristiwa masa lalu (past event) sebagai suatu kebenaran (truth). Meskipun kebenaran yang dicari dan diwujudkan dalam proses peradilan perdata bukan kebenaran yang bersifat absolut (ultimate truth), tetapi bersifat kebenaran relatif atau bahkan cukup bersifat kemungkinan (probable), namun untuk mencari kebenaran yang demikian pun tetap menghadapi kesulitan.94
Kesulitan menemukan dan mewujudkan kebenaran menurut Subekti terutama disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :95
a. Faktor sistem adversarial (adversarial system). Sistem ini mengharuskan memberi hak yang sama kepada para pihak yang berperkara untuk saling mengajukan kebenaran masing-masing, serta mempunyai hak untuk saling membantah kebenaran yang diajukan pihak lawan sesuai dengan proses adversarial (adversarial proceeding).
b. Pada prinsipnya, kedudukan hakim dalam proses pembuktian, sesuai dengan system adversarial adalah lemah dan pasif. Tidak aktif mencari dan menemukan kebenaran di luar apa yang diajukan dan disampaikan para pihak dalam persidangan. Kedudukan hakim dalam proses perdata sesuai dengan sistem
94 John J. Cound,cs, Civil Procedure : Case and Material, (St. Paul Minn : West Publishing, 1985), hal. 867
95 Subekti,Op.Cit., hal. 9
adversarial atau kontentiosa tidak boleh melangkah kearah system inkuisitorial (inquisitorial system). Hakim perdata dalam menjalankan fungsi mencari kebenaran dihalangi oleh berbagai tembok pembatasan. Misalnya, tidak bebas memilih sesuatu apabila hakim dihadapkan dengan alat bukti yang sempurna dan mengikat (akta otentik, pengakuan atau sumpah). Dalam hal ini, sekalipun kebenarannya diragukan, hakim tidak mempunyai kebebasan untuk menilainya.
Sedangkan menurut Yahya Harahap, salah satu faktor kesulitan dalam menemukan dan mewujudkan kebenaran disebabkan karena fakta dan bukti yang diajukan para pihak tidak dianalisis dan dinilai oleh ahli (not analyzed and appraised by experts).96 Terkadang bukti keterangan yang disampaikan saksi penuh emosi atau prasangka (hunch) yang berlebihan. Bahkan dalam kenyataan, kebenaran yang dikemukakan dalam alat bukti sering mengandung dan melekat unsur dugaan dan prasangka, kebohongan, dan kepalsuan. Akibat keadaan ini, putusan yang dijatuhkan hakim tidak terkandung kebenaran hakiki, tetapi kebenaran yang mengandung prasangka, kebohongan dan kepalsuan.97
Disebabkan pembuktian dalam perkara merupakan bagian yang sangat kompleks dalam proses litigasi, dan berkaitan dengan kemampuan merekonstruksi kejadian atau peristiwa masa lalu, maka bisa dipahami bahwa pembuktian memiliki sifat yang sangat complicated (tidak sederhana, menyulitkan).
96 M. Yahya Harahap, Op.Cit., hal. 497.
97 Ibid.
71
Pembuktian complicated merupakan bagian dari hukum acara yang dikenal dan berlaku dalam proses penyelesaian perkara perdata (disamping perkara pidana).
Berbeda halnya yang berlaku dalam proses penyelesaian perkara dalam kaitannya dengan kompetensi Pengadilan Niaga yang menangani perkara-perkara kepailitan dan komersial lainnya. Pembuktian dalam perkara kepailitan dan komersial lainnya yang berada dibawah kompetensi Pengadilan Niaga menganut asas pembuktian sederhana (sumir), karena hakim hanya wajib memperhatikan atau menilai bahwa benar adanya fakta dua atau lebih kreditur dan fakta utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.
Bila pihak yang mengajukan permohonan pailit tidak bisa membuktikan adanya fakta dua atau lebih kreditur dan fakta utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, maka Pengadilan Niaga akan menolak permohonan pailit tersebut dan menganjurkan perkara diperiksa dengan mengajukan gugatan biasa ke Pengadilan Negeri dengan asas pembuktian complicated.
Istilah atau kata complicated, sebagai lawan dari kata sederhana (sumir) tidak ditemukan di dalam undang-undang. Istilah ini penulis adopsi dari pendapat Setiawan dalam bukunya “Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata”, yang menyebutkan bahwa kata “sederhana” dimaksudkan suatu proses beracara yang tidak
“complicated” (tidak rumit).98
98 Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, (Bandung : Alumni, 1992), hal. 359.
Istilah complicated juga ditemui dalam penalaran
terbalik (argumentum a contrario)99 yang dilakukan oleh hakim Pengadilan Niaga Kota Medan dalam Putusannya No. 02 / Pailit / 2009 / PN. Niaga / Medan, tanggal 12 Nopember 2009, dalam perkara pailit antara PT. Berkah Sawit Sumatera (Pemohon) melawan PPP (Pacipik Palmindo Industri) dan 63 debitor lainnya (termohon). Perkara pailit yang dimohonkan oleh PT. Berkah Sawit Sumatera (Pemohon) ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Medan dengan pertimbangan bahwa permohonan pernyataan pailit dalam perkara ini pembuktiannya tidak lagi bersifat sederhana sebagaimana disyaratkan dalam ketentuan Pasal 8 ayat (4) UUK-PKPU, melainkan bersifat complicated sehingga lebih tepat apabila permohonan dari pemohon ini diajukan melalui gugatan perdata biasa.100
Walaupun istilah complicated ini bukan berdasarkan atau dipinjam dari yurisprudensi MA dalam perkara-perkara kepailitan, tetapi istilah ini menurut peneliti lebih sesuai digunakan bila hendak menyandingkannya dengan istilah sumir (sederhana) sebagai lawannya.
Dalam beberapa Putusan Mahkamah Agung dari beberapa perkara yang diputuskannya pada tingkat kasasi memang tidak dijumpai penggunaan istilah
99 Metode argumentum a contrario merupakan cara penalaran atau menjelaskan undang-undang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara peristiwa konkrit yang dihadapi dan peristiwa yang di atur dalam undang-undang. Dengan mengatur secara tegas suatu peristiwa tertentu tetapi peristiwa yang mirip lainnya tidak, maka untuk yang terakhirini berlaku hal yang kebalikannya.
Misalnya Pasal 39 PP No. 9 Tahun 1975 menentukan bahwa waktu tunggu bagi seorang janda yang hendak kawin lagi apabila perkawinan putus karena perceraian ditetapkan 130 hari. Bagaimana bagi seorang duda yang perkawinannya putus karena perceraian dan hendak kawin lagi? Hal ini berlaku kebalikan dari ketentuan Pasal 39 PP No.9 Tahun 1975, sehingga seorang duda tidak perlu menunggu waktu tertentu bila hendak kawin lagi. Baca: Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hal. 27
100 Periksa kembali Putusan No. 02 / Pailit / 2009 / PN. Niaga / Medan, tanggal 12 Nopember 2009.
73
complicated, tetapi istilah yang sering ditemukan antara lain : tidak sederhana, rumit, berbeli-belit, ribet, kompleks dan komprehensif.
Bila pembuktian sederhana dalam perkara permohonan kepailitan tidak mengenal adanya eksepsi, jawaban, replik, duplik dan kesimpulan, maka dalam perkara perdata biasa dengan asas pembuktian complicated mengenal adanya eksepsi, jawaban, replik, duplik dan kesimpulan.