• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemulihan Pasca Bencana 6 Syarifah Zainab

Dalam dokumen Yang Tersisa Paska 12 Tahun MoU Helsinki (Halaman 187-194)

o

Di penghujung tahun 2016, begitu banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia. Banjir bandang, angin puting beliung, longsor, banjir dan gempa bumi hadir bergantian menjadi berita di televisi. Di Aceh sendiri, khususnya dalam tiga bulan terakhir di tahun 2016 (September, Oktober, November), data dan informasi bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa, bencana di Aceh meningkat dari 9 persen menjadi 10 persen di tahun sebelumnya.

Bencana datang bertubi-tubi. Posko-posko bantuan kemanusiaan tersebar dimana-mana. Tidak hanya untuk bencana alam di Aceh sendiri, posko-posko bantuan tersebut juga diperuntukkan bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami “bencana kemanusiaan” di luar Indonesia. Mahasiswa, komunitas maupun organisasi-organisasi, turun ke jalan untuk mengumpulkan dana demi membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang kesulitan tersebut.

peralatan sekolah, peralatan kebersihan dan kebutuhan lainnya terus berdatangan. Bukan hanya itu, bantuan tenaga untuk pemulihan atau kebersihan desa dan bantuan tenaga kesehatan pun disiapkan paska bencana terjadi. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan tentu sudah tercukupi. Namun ada yang seringkali luput dari kesiapsiagaan pasca bencana tersebut, yaitu pemenuhan kebutuhan psikologis masyarakat yang tidak menutup kemungkinan terpapar trauma paska bencana, khususnya bencana alam.

Bencana alam bukan hanya berdampak pada kerusakan daerah yang terkena bencana. Bukan hanya masalah bagaimana memperbaiki kerusakan yang terjadi paska bencana, baik itu rumah, lingkungan dan perbaikan ekonomi masyarakatnya. Di sisi lain kesehatan mental para penyintas (baca: korban yang bertahan hidup) juga perlu diperhatikan. Memang yang terlihat seringkali adalah bencana alam seperti banjir tahunan tidak menjadi masalah bagi kesehatan psikologis para penyintas (lebih banyak akibatnya pada kesehatan fisik/jasmani). Ini dapat dilihat khususnya pada anak-anak. Mereka terlihat senang bermain air, menikmati libur sekolah, dan senang mendapat banyak bantuan peralatan sekolah yang baru ataupun pakaian baru.

Setiap orang memiliki ketahanan psikologis yang berbeda. Ketika terpapar peristiwa yang menyebabkan traumatik, sebagian orang dapat bangkit kembali dan sebagian lagi kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, untuk mereka yang rentan terhadap peristiwa yang menyebabkan traumatik, dibutuhkan bantuan orang lain untuk dapat kembali hidup normal seperti sebelumnya walaupun dengan suasana lingkungan yang sudah berbeda.

Menilik kembali peristiwa bersejarah di Aceh, gempa dan tsunami tahun 2004 silam menjadi peristiwa yang meninggalkan trauma psikis yang mendalam pada penyintas. Bencana tersebut

menyebabkan 131.029 orang meninggal dunia, 38.786 dinyatakan hilang, dan sejumlah 504.518 orang harus mengungsi. Bencana bukan hanya tentang permasalahan kerugian atas kerusakan yang terjadi, tetapi juga mengenai masalah psikologis yang dialami oleh korban yang masih bertahan hidup pascabencana. Mereka yang mengalami langsung, mendapatkan luka-luka, dan kehilangan keluarga, butuh pertolongan lebih dari sekedar materi. Pada masa itu, tim psikososial dari berbagai penjuru negeri ini berdatangan. Mereka adalah tim yang turun ke Aceh untuk memberi bantuan langsung dengan tenaga dan pikirannya, demi mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan yang sempat hanyut oleh air laut bersama puing-puing bangunan roboh saat itu.

Bulan desember 2016, Aceh kembali diuji dengan gempa bumi berkekuatan 6,5 SR. Gedung rumah sakit, rumah warga, dan masjid rusak berat, jalanan rusak, dikabarkan banyak korban luka-luka dan meninggal dunia. Segera posko bantuan dibuka, penyaluran donasi dapat dengan mudah dilakukan melalui lembaga-lembaga yang terpercaya, relawan dan tim medis segera dikirim dari ibu kota dan kabupaten lainnya. Kita sudah banyak memiliki kesadaran akan tanggap bencana. Hanya saja kesadaran dalam menjaga alam belum terlaksana sepenuhnya. Selain itu, kita masih butuh penguatan pada lini psikososial. Memberi penguatan kepada korban (penyintas) tidak cukup hanya ucapan belasungkawa, atau ucapan-ucapan dukungan dan doa di social media. Trauma membutuhkan dukungan serta pendampingan psikologis hingga mereka pulih, bangkit dan kemudian menjadi tangguh untuk kembali beraktivitas di masyarakat.

Trauma merupakan pengalaman individu baik menyaksikan, mengalami ataupun dihadapkan langsung dengan suatu peristiwa atau kejadian yang melibatkan cedera serius atau kematian, adanya ancaman serius terhadap integritas fisik pada diri sendiri atau orang

lain. Trauma dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga lansia (lanjut usia). Anak-anak secara umum lebih rentan dan lebih peka dari pada orang dewasa ketika dihadapkan pada pengalaman traumatik. Jika tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada psikologis anak-anak ketika mereka dewasa. Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, jika tidak segera diberi bantuan maka trauma tersebut bisa saja berkembang menjadi gangguan stress paska trauma (PTSD).

Konsekuensi dari peristiwa traumatik sendiri dapat bertahan tiga hingga enam tahun paska bencana. Banyak individu yang bisa segera bangkit setelah peristiwa traumatik terjadi, namun masih ada yang mengalami gangguan stress paska trauma dengan waktu yang lebih panjang. Gejala PTSD dapat berkurang ataupun bertambah tergantung penanganan yang diberikan kepada individu serta dukungan sosial yang positif dari lingkungan sekitar. Adapun gejala yang diperlihatkan pada mereka yang mengalami gangguan trauma yaitu sulit tidur, mimpi buruk, merasa tertekan, kesedihan yang mendalam, ingatan terganggu seperti kehilangan ingatan pada beberapa peristiwa, berhalusinasi, baik melalui pendengaran maupun penglihatan mengenai peristiwa traumatik yang dialami, cemas, mudah terkejut (respon kejut yang berlebihan), waspada yang berlebihan (hypervigilance), mudah marah, sulit untuk berkonsentrasi, dan sulit dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan sehari-hari.

Selama ini, kita sering bergantung pada sumber daya manusia dari luar untuk membantu pemulihan psikologis survivor paska bencana. Diakui peminatan, sarana dan pengembangan ilmu psikologi masih relative rendah di bumi Serambi Mekah ini. Sehingga minim bantuan tenaga psikososial yang mumpuni. Namun sejatinya, tidak perlu menjadi seorang ahli untuk menolong sesama. Kebaikan ada disetiap diri manusia dalam mendukung satu

sama lain untuk bangkit dan tetap bertahan dalam setiap kondisi. Dukungan sosial menjadi aspek penting dalam trauma healing.

Dukungan sosial disebut sebagai interaksi sosial yang membantu individu untuk mengembangkan hubungan sosial yang penuh cinta, peduli, dan ada pada saat dibutuhkan. Dukungan sosial memberi pengaruh positif dalam mengatasi perilaku setelah terjadinya sebuah peristiwa negatif di dalam hidup seseorang. Dukungan sosial sendiri menjadi aspek penting dalam memahami sebuah krisis. Ia memberikan kenyamanan baik secara fisik maupun emosional, memberikan kesejahteraan serta kepuasan hidup bagi individu yang menerimanya. Dukungan sosial tersebut dapat diberikan oleh orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman, dan orang-orang yang memberi pengaruh signifikan pada diri seseorang. Dukungan sosial memberikan perasaan aman bagi individu sehingga dapat mengaktifkan strategi coping atau ketahanan terhadap stress untuk bangkit dari keterpurukan. Ketika merasa nyaman, maka individu akan lebih mudah untuk mengungkapkan hal yang menjadi kesulitannya (self-disclosure). Dengan demikian individu akan mampu menemukan aspek positif dari peristiwa traumatik untuk kemudian menerima dan merasa lebih baik atas kejadian yang menimpanya. Mereka yang mengalami trauma membutuhkan orang lain untuk memberi dukungan emosional. Mereka butuh orang lain untuk mendengarkan cerita atau perasaan agar lebih cepat pulih dari penderitaannya.

Mereka yang mengalami gangguan traumatik biasanya memiliki hubungan sosial yang buruk. Untuk itu, tidak seharusnya kita memberi respon yang buruk jika mereka terlalu emosional dalam menanggapi berbagai hal. Mereka butuh didengar, butuh diperhatikan, butuh dukungan untuk kembali pada kondisi normal dan seimbang. Tidak perlu menjadi ahli untuk membantu saudara-saudara kita pascabencana terjadi. Kita seharusnya sudah banyak

belajar dari berbagai bencana. Bagaimana menjaga keseimbangan alam agar jauh dari bencana, keseimbangan sosial, keseimbangan hidup untuk saling bahu membahu menegakkan bumi syari’at yang damai dan sehat masyarakatnya baik fisik maupun mental. {-}

Bagian 5;

Dalam dokumen Yang Tersisa Paska 12 Tahun MoU Helsinki (Halaman 187-194)