• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1.1 Kurikulum 2013

2.1.1.3 Pendekatan Saintifik

Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan Kurikulum 2013

adalah dengan pendekatan saintifik (ilmiah). Penerapan pendekatain saintifik

dalam proses pembelajaran karena informasi bisa berasal dari mana saja, kapan

saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Maka kondisi

pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik

dalam mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.

Pendekatan saintifik atau ilmiah tidak jauh berbeda dengan pendekatan

keterampilan proses yang digagas oleh Semiawan (1987). Pendekatan

keterampilan proses penting diterapkan dalam pembelajaran, karena beberapa

alasan: (1) ilmu pengetahuan yang semakin pesat berkembang, sehingga tidak

mungkin bagi guru untuk mengajarkan “semua” konsep dan fakta yang ada; (2)

anak-anak mudah dalam memahami konsep yang rumit dan abstrak apabila

disertai dengan contoh yang kongkrit; (3) penemuan suatu konsep atau ilmu

dan nilai dalam diri anak harus ditanamkan selama proses pembelajaran

(Semiawan, 1987:14-15).

Semiawan (1987:19-33) menggambarkan pendekatan keterampilan

proses sebagai suatu keterampilan yang menerapkan proses bekerja ilmuwan

karena seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, maka guru perlu

menyediakan tempat yang tepat agar kebutuhan ingin tahu anak dapat terpenuhi.

Ada tiga belas kemampuan atau sikap dalam keterampilan proses yang dipaparkan

oleh Semiawan, yaitu: (1) observasi, (2) perhitungan, (3) pengukuran, (4)

klasifikasi, (5) hubungan ruang atau waktu, (6) membuat hipotesis, (7)

perencanaan penelitian atau eksperiman, (8) pengendalian variabel, (9)

interpretasi data, (10) kesimpulan sementara, (11) peramalan, (12) penerapan, dan

(13) komunikasi. Penjelasan dari beberapa kemampuan tersebut sebagai berikut:

1. Observasi atau pengamatan merupakan keterampilan yang paling mendasar,

kita memanfaatkan semua indera kita melalui melihat, mendengar, merasa,

mengecap, dan mencium. Penerapannya dalam pembelajaran bisa sangat

mudah, dengan mengamati berbagai makhluk hidup, benda, dan berbagai hal

di sekitarnya.

2. Perhitungan dikenal cenderung dekat dengan matematika, karena umunya

matematika dikenal sebagai ilmu hitung-hitungan. Namun sebenarnya

keterampilan menghitung juga digunakan pada ilmu pengetahuan alam, ilmu

pengetahuan sosial, bahkan bahasa Indonesia. Guru hanya perlu menciptakan

kegiatan yang menarik anak, misalnya saja bisa dengan menghitung jumlah

batu dalam sebuah pot, menghitung kelereng mainan yang mereka miliki,

yang bisa dijadikan kegiatan yang menarik bagi anak saat pembelajaran. Hasil

perhitungan tersebut bisa dikomunikasikan atau dikonversikan dengan cara

membuat tabel, grafik, atau histogram.

3. Pengukuran adalah keterampilan yang sering dilakukan oleh ilmuwan untuk

melihat suatu perbandingan, sebab dasar dari pengukuran adalah pembanding.

Mengukur bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan membandingkan luas,

kecepatan, suhu, volume, massa, dan sebagainya. Dengan pengukuran, anak

akan perlahan-lahan memahami satuan ukuran tanpa guru menjelaskan, bisa

saja anak menemukan sendiri pengetahuannya.

4. Klasifikasi merupakan kegiatan yang identik dengan menggolong-golongkan,

dengan mengklasifikasikan anak mampu untuk menemukan suatu persamaan

maupun perbedaan antara benda-benda di sekitarnya. Mengklasifikasi bisa

berdasarkan suatu ciri khusus, tujuan, serta kepentingan tertentu. Dalam

belajar, anak dapat menggolongkan benda-benda berdasarkan bentuknya,

permukaannya, warna, ukuran, misalnya menggolongkan daun, bisa golongan

daun yang berwarna hijau, bentuk tulang daun, dan corak daunnya.

5. Hubungan ruang atau waktu mengajak siswa untuk belajar misalnya dengan

mengenal bentuk-bentuk seperti lingkaran, persegi, segitiga, dan sebagainya.

Selain mengenai bentuk-bentuk, siswa juga diajak mengenal tentang arah

seperti depan, belakang, kanan, kiri, utara, selatan

6. Membuat suatu hipotesis memerlukan suatu alasan yang dapat menerangkan

pengamatan akan suatu kejadian. Contoh kegiatan untuk anak dalam

pot, lalu pot diberi pupuk. Anak-anak lalu menduga apa yang terjadi apabila

tumbuhan dalam pot diberi pupuk, dan bagaimana jika tidak.

7. Perencanaan penelitian atau eksperimen atau percobaan dapat dilakukan

dengan mengajari anak melakukan suatu percobaan sederhana. Lalu yang

dilakukan adalah mengajak anak menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan,

obyek percobaan, dan sebagainya.

8. Variabel merupakan faktor yang mempengaruhi, dalam percobaan, variabel

bisa berupa faktor-faktor yang mempengaruhi objek percobaan. Contohnya

anak dilatih saat percobaan menanam pohon, pengendalian variabel dilakukan

dengan memberikan pupuk dengan jumlah yang sama, menyiram air dengan

frekuensi yang sama, atau bisa dalam kata lain, perlakuan yang diberikan

pada objek penelitian adalah sama. Hal tersebut untuk melihat bagaimana

pengaruhnya terhadap objek.

9. Interpretasi atau penafsiran data dilakukan setelah semua tahap sebelumnya

terpenuhi. Sebuah data dapat ditafsirkan apabila telah diamati, dihitung,

diukur, dan dilakukan eksperimen. Penafsiran data dilakukan bisa dengan

membuat tabel atau grafik, dan bisa dengan alat penyaji data yang lainnya.

10.Seorang peneliti membuat kesimpulan sementara (inferensi) sesaat setelah

melakukan eksperimen. Kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil pengamatan

saat melakukan eksperimen. Sehingga sifatnyapun sementara hingga waktu

eksperimen yang ditentukan.

11.Peramalan mengajak anak bisa meramalkan suatu hal berdasarkan hasil

pengamatannya. Contohnya, kemungkinan yang terjadi apabila tumbuhan

yang terjadi? Lalu kemungkinan bila diberi air terlalu banyak, apa yang

terjadi? Keterampilan ini akan melatih anak berpikir ke depan sehingga akan

baik untuk proses belajarnya.

12.Penerapan (aplikasi) adalah keterampilan yang paling mudah, namun juga

sulit untuk diterapkan. Misalnya jika anak sudah melakukan percobaan untuk

menanam tumbuhan, maka seharusnya dia bisa melakukannya di rumah.

Dengan keterampilan menerapkan konsep yang dimiliki dalam kehidupan,

anak akan berlatih untuk memecahkan masalah ang dihadapinya.

13.Komunikasi adalah keterampilan dasar yang terakhir pada pendekatan

keterampilan proses, dalam keterampilan ini anak dilatih untuk mampu

menyampaikan hasil kegiatan belajarnya (eksperimen) yang dilakukan ke

dalam sebuah paper atau sebuah karangan atau bahkan laporan sederhana.

Banyak yang dapat dilakukan siswa melalui komunikasi ini, siswa bisa saja

menyampaikan tabel atau grafik yang mereka miliki selama melakukan

percobaan. Lalu bisa dengan gambar, model, dan sebuah karangan cerita.

Ketigabelas keterampilan perlu dilatihkan guru pada anak melalui

pembelajaran, karena anak akan dilatih belajar layaknya para ilmuwan untuk

menemukan suatu teori yang baru. Sama halnya dengan pendekatan yang ingin

diterapkan oleh pemerintah melalui Kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik,

akan tetapi tidak semua keterampilan diterapkan dalam pembelajaran. Pemerintah

menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

Suddarwan dalam Kemendikbud (2013a:205) mengatakan bahwa

penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran.

Kriteria proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah, antara lain:

1. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang

dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas

kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta

didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau

penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis,

dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan

mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.

4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam

melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau

materi pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan,

dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam

merespon substansi atau materi pembelajaran.

6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung

jawabkan.

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik

sistem penyajiannya.

Metode ilmiah juga merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu

fenomena atau gejala untuk memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan

menyatakan bahwa hasil pembelajaran dengan pendekatan ilmiah lebih efektif

dibandingkan dengan pembelajaran yang tradisional. Sedangkan langkah-langkah

pembelajaran ilmiah adalah sebagai berikut: pertama, mengamati yaitu dengan

menyajikan media obyek secara nyata sehingga peserta didik akan ditantang rasa

ingin tahunya. Kedua, menanya yaitu dengan memberikan kesempatan pada

siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan sikap, keterampilan, dan

pengetahuannya dengan cara mengajukan suatu pertanyaan selama proses

pembelajaran. Ketiga, menalar, dengan merujuk pada kemampuan

mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk

kemudian memasukannya menjadi penggalan memori yang dimiliki siswa.

Keempat, hubungan antar fenomena untuk mempertajam daya nalar peserta didik; lalu kelima adalah mencoba yaitu dengan mengajak siswa melakukan suatu

percobaan selama proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan siswa.

Pendekatan saintifik yang diterapkan dalam pembelajaran pada

Kurikulum 2013 pada intinya merujuk pada suatu proses pembelajaran yang

dilakukan siswa secara ilmiah serta menggunakan metode ilmiah dengan

mengedepankan ide-ide kreatif siswa sehingga mengembangkan kemampuan

siswa secara holistik mulai dari ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Bukan hanya itu, melalui pendekatan saintifik, siswa diajak belajar seperti

ilmuwan sehingga rasa ingin tahu mereka terpenuhi melalui belajar yang mereka

lakukan.

Dokumen terkait