• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1.1 Kurikulum 2013

2.1.1.5 Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal

Koesoema (2007: 44), pendidikan karakter di Indonesia sudah menjadi

tradisi sejak dahulu yaitu dengan pembentukan kepribadian dan identitas bangsa

sesuai dengan konteks dan situasi yang dialami oleh para pendidik pada zaman

itu. Pendidikan menurut Koesoema (2007:53-55) adalah sebuah proses

pengembangan dari berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia ,

misalnya kemampuan akademis, relasional, bakat, talenta, kemampuan fisik, atau

daya seni yang dimiliki seorang manusia. Dalam proses pendidikan, melibatkan

pembagian kelas sosial yang lebih dikenal dengan guru dan murid. Seorang anak

Hornby dan Parnwell dalam Furqon (2010:12) mengatakan bahwa secara

harfiah, karakter diartikan ssebagai sebuah kualitas mental atau moral, kekuatan

moral, nama atau reputasi. Lalu Furqon (2010:13) sendiri mengartikan bahwa

karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, juga merupakan

akhlak atau budi pekerti seorang individu sehingga menjadi sebuah kepribadian

khusus yang menjadi spirit bagi individu tersebut serta membedaka dirinya

dengan individu lainnya. Sedangkan Koesoema (2007:90-91) menjelaskan bahwa

istilah karakter merupakan suatu ambiguitas, sebab dari penjelasan yang diberikan

Mounier bahwa karakter diinterpretasi menjadi dua hal, yaitu tentang suatu

kumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau sebagai sesuatu yang

telah diberi dari sononya dan merupakan sebuah tingkat kekuatan individu dalam

mengatasi kondisi yang telah ada tersebut. Bahkan karakter dianggap lebih pada

sebuah proses yang dikehendaki (willed). Jika disingkat, maka karakter

merupakan suatu kondisi yang diterima tanpa kita bisa memilih, sehingga kita

harus mampu mengatasi kondisi yang “tidak bebas” tersebut agar jangan sampai

menjadi manusia yang fatalism akibat kita terlalu optimis dengan apa yang telah

dimiliki atau sebaliknya. Maka, karakter cenderung pada bagaimana seseorang

mengenali keterbatasan diri, potensi-potensi, serta segala hal yang mungkin

berkembang. Bukan berarti seorang individu pasrah dengan kondisi dari

“sono”nya itu tadi, tetapi lebih pada bagaimana agar kondisi yang dianggap dari “sono”nya menjadi lebih natural.

Listyarti (2012:3-4) mengatakan karakter dapat diamati dari tiga aspek

secara teoritis, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai

bukan sekedar masalah benar ataupun salah, tetapi bagaimana membiasakan

perilaku yang baik agar siswa mau merasakan, memahami, dan melakukan hal

baik sehingga menjadi kebiasaan yang baik.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa

pendidikan karakter merupakan suatu pengajaran yang mengajak seseorang untuk

mengenali kondisi yang dimiliki dirinya, termasuk potensi, keterbatasan, talenta,

dan daya-daya yang ada dalam diri untuk kemudian dikembangkan sehingga

mampu mengatasi keterbatasan-keterbatasannya dan menjadi orang yang memiliki

spirit yang kuat.

Listyarti (2012:5-12) menjelaskan mengenai nilai-nilai yang terkandung

dalam pendidikan karakter, khususnya karakter kebangsaan, yaitu: religius, jujur,

toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,

semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau

komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan

tanggung jawab. Sekolah di Indonesia perlu melaksanakan pendidikan karakter

karena karakter bangsa Indonesia yang masih lemah, sejalan Renstra

Kemendiknas 2010-2-14 tentang penerapan pendidikan karakter, serta penerapan

pendidikan karakter di sekolah yang memerlukan pemahaman konsep, teori,

metodologi, dan aplikasi yang sesuai dengan pembentukan karakter dan

pendidikan karakter itu sendiri. Keliru apabila pendidikan karakter disamakan

dengan pelajaran agama, pendidikan kewarganegaraan, budi pekerti, karena hanya

akan sama dengan taraf pengetahuan saja tetapi tidak merasuk dan mengubah

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3

telah menyatakan bahwa pada dasarnya Pendidikan Nasional berfungsi untuk

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik sehingga menjadi mandiri yang beriman

dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis dan

bertanggungjawab. Dari pernyataan dalam UU tersebut, jelas bahwa beberapa

point-nya berupa tujuan pembentukan karakter peserta didik.

Watie, dkk. (2012:50-51) menekankan tentang pentingnya pendidikan

karakter yang berbasis budaya sekolah untuk menciptakan lingkungan yang

kondusif dan karakter yang positif. Beberapa prinsipnya adalah berkelanjutan,

yang berarti proses persiapan, perlaksanaan, dan evaluasi harus terus

dikembangkan. Kedua, prinsip pengembangan, dimana budaya sekolah

terintegrasi dalam seluruh aktivitas sekolah, ketiga adalah konsistensi yang

menekankan pada komitmen warga sekolah dalam menerapkan nilai-nilai karakter

yang positif. Keempat, prinsip implementatif, karakter harusnya diwujudkan

dalam ucapan, sikap dan perilaku seluruh warga sekolah. Kelima, menyenangkan

yang artinya dalam pendidikan karakter tidak ada rasa takut, khawatir, ataupun

tertekan dalam diri siswa.

Pendidikan karakter penting untuk diterapkan dalam lingkungan sekolah

tujuannya untuk mengembangkan semua aspek dalam diri siswa ke arah yang

dalam diri siswa dan mengubah ucapan, sikap dan perilaku semua warga sekolah

menjadi kebiasaan baik dan menanamkan nilai-nilai karakter yang baik.

Kearifan (budaya) lokal menurut Wagiran (2012), dalam bahasa asing

dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat

(local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), jika diterjemahkan

bisa berarti karya akal budi, perasaan yang mendalam, bentu perangai, serta

anjuran untuk kemuliaan manusia sehingga semakin berbudi luhur. Kearifan lokal

juga memiliki konsepnya sendiri, seperti: (1) kearifan lokal adalah sebuah

pengalaman panjang, yang diendapkan sebagai petunjuk perilaku seseorang; (2)

kearifan lokal tidak lepas dari lingkungan pemiliknya; dan (3) kearifan lokal itu

bersifat dinamis, lentur, terbuka, dan senantiasa menyesuaikan dengan zamannya.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

kearifan lokal sebenarnya merupakan sebuah budaya yang kontekstual, sebab

selalu berhubungan dengan hidup manusia dan mengikuti perkembangan zaman

yang terjadi dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang dinamis dan lentur.

Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan

peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi.

Wagiran (2012) berdasar pada konsep Paulo Freire menguraikan bahwa dengan

dihadapkan pada problem dan situasi konkret yang dihadapi, peserta didik akan

semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis.

Pendidikan karakter yang dimaknai sebagai upaya mendorong peserta

didik untuk tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berfikir dan berpegang

teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian

kearifan lokal yang dimaknai sebagai suatu budaya atau nilai-nilai tradisi yang

hidup dalam suatu komunitas setempat memiliki keterkaitan satu dengan lainnya .

Hubungan antara pendidikan karakter dengan kearifan (budaya) lokal perlu

diseimbangkan. Seseorang yang mampu mematuhi nilai-nilai ataupun peraturan,

budaya, atau tradisi di tempat tinggalnya jelas memiliki karakter yang baik,

namun akan lain apabila seseorang memiliki tindakan yang berlawanan dengan

budaya setempat tentu akan dipandang buruk dan memiliki karakter yang negatif,

maka perlu keseimbangan dan pendidikan karakter yang sesuai dengan budaya

setempat peserta didik untuk melatih siswa memiliki karakter yang arif dan

bijaksana.

Dokumen terkait