• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1.1 Kurikulum 2013

2.1.1.4 Penilaian Otentik

Penilaian pada Kurikulum 2013 memiliki tujuan berdasarkan standar

akan dicapai peserta didik, pelaksanaan penilaian secara professional, terbuka,

edukatif, efektif, efisien dan sesuai konteks sosial budaya, serta pelaporan hasil

penilaian secata objektif, akuntabel, dan informatif. Penilaian tersebut mengacu

pada Standar Penilaian Pendidikan dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013.

Penilaian dalam pendidikan juga mencakup beberapa hal, yaitu penilaian autentik,

penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan

tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu

tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah atau madrasah. (Majid,

2014:35)

Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang dapat

memberikan gambaran perkembangan terhadap belajar siswa. Gambaran tersebut

sebagai dasar untuk mengetahui proses yang dilalui siswa sudah benar. Kunandar

(2014:35) menyatakan penilaian otentik menekankan pada apa yang seharusnya

dinilai dalam proses maupun hasilnya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan

berbagai instrumen penilaian sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ada dalam

Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Penilaian otentik menurut

Nurhadi (2004:172) merupakan penilaian dengan mengumpulkan informasi terkait

perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan siswa melalui

berbagai teknik yang dapat mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan

dengan tepat dimana tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai

oleh siswa. Hakikat penilaian otentik adalah proses pengumpulan berbagai data

yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran tersebut

perlu untuk membuktikan mengenai proses belajar yang dilalui siswa, sehingga

mengambil tindakan yang terbaik untuk siswa. Penilaian sebaiknya tidak

dilakukan diakhir saja, tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak

terpisahkan) dengan kegiatan pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).

Rustaman (2006) mengatakan penilaian otentik adalah penilaian

langsung sehingga penilaiannya juga dilakukan secara langsung, karena apa yang

dilakukan pada saat itu juga akan menggambarkan situasi perkembangan siswa

yang dilakukan dengan alami, misalnya ketika melakukan tukar oendapat atau

diskusi. Penilaian otentik menurut Mueller dalam Rustaman (2006) adalah

penilaian yang meminta para siswanya untuk menampilkan tugas pada situasi

yang nyata dan alami, karena dengan begitu penilaian akan semakin bermakna

dan tepat sasaran seperti menilai siswa pada keadaan yang sesungguhnya.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian otentik

merupakan bentuk penilaian yang dilakukan secara langsung sesuai dengan

keadaan siswa yang sesungguhnya dengan menilai aspek secara keseluruhan

sesuai yang dinilai pada saat tersebut.

Penilaian otentik berdasarkan Pusat Kurikulum dalam Majid (2014:236)

merupakan proses pengumpulan, pelaporan, serta penggunaan berbagai informasi

mengenai proses dan hasil belajar siswa yang menerapkan berbagai prinsip

penilaian secara berkelanjutan berdasarkan bukti-bukti otentik yang diperoleh

sehingga akuran dan konsisten sebagai pertanggungjawaban terhadap publik.

Melaksanakan penilaian otentik juga perlu melaksanakan belajar otentik, menurut

Ormiston dalam Majid (2014:241) belajar otentik mencerminkan cara belajar yang

diterapkan oleh siswa dalam memecahkan suatu permasalahan yang berkaitan

menegaskan bahwa penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan untuk

mengetahui tentang gambaran perkembangan siswa.

Kunandar (2014:36) menjelaskan penilaian otentik berdasarkan Penilaian

Acuhan Patokan (PAP) merupakan pencapaian hasil belajar yang dicapai atau

yang diperoleh berdasarkan skor ideal atau skor maksimal. Kemendikbud

(2013:1) dalam Panduan Teknis Penilaian di SD mengatakan bahwa penilaian

merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh, menganalisis,

dan menafsirkan data berdasarkan proses dan hasil belajar peserta didik.

Rangkaian kegiatannya dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, agar

menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusannya.

Selain itu, pemerintah juga menyampaikan beberapa hal yang menjadi

perhatian dalam merancang sebuah penilaian, antara lain:

1) Arah penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi yaitu KD-KD pada

KI-3 dan KI-4,

2) Kriteria penilaiannya berdasarkan yang telah dilakukan peserta didik selama

proses pembelajaran. Sehingga bukan untuk menentukan ranking atau posisi

seseorang dalam kelompok.

3) Penilaiannya berupa penilaian yang berkelanjutan. Untuk kemudian dianalisis

kesulitan yang dialami siswa serta kompetensi-kompetensi yang belum

dimiliki siswa.

4) Hasil analisis digunakan untuk menentukan tindak lanjut yang berupa

perbaikan proses pembelajaran beikutnya serta memberikan remedi bagi

siswa yang belum tercapai ketuntasannya, serta menjadi program pengayaan

5) Sistem penilaiannya disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh

peserta didik selama proses pembelajaran.

Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang

mereka peroleh melalui pelajaran, demonstrasi tersebut jelas kurang cocok apabila

dinilai menggunakan tes tulis, sehingga perlu adanya penilaian tugas kinerja dan

rubrik. Terdapat 2 bagian penilaian kinerja, yaitu satu tugas dan satu set kriteria

penskoran yang disebut rubrik. Tugas bisa menghasilkan suatu produk, kinerja,

atau uraian jawaban dari sebuah pertanyaan yang menerapkan keterampilan

berpikir. (Majid, 2014:244)

Penilaian otentik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) harus mengukur

semua aspek pembelajaran, (2) dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar,

(3) memanfaatkan berbagai sumber dan cara, (4) menggunakan tes sebagai salah

satu alat pengumpul data, (5) tugas-tugas yang dberikan harus mencerminkan

kehidupan siswa, (6) harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian

siswa, bukan kuantitasnya. Sedangkan karakteristiknya, penilaian otentik (1) bisa

digunakan untuk formatif maupun sumatif, (2) mengukur keterampilan dan

performansi, (3) berkesinambungan dan dilaksanakan secara terintegrasi, (4)

digunakan sebagai feed back. Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian

antara lain: proyek atau penugasan dan laporannya, hasil tes tulis, portofolio,

pekerjaan rumah, kuis, karya peserta didik, presentasi atau penampilan,

demonstrasi, laporan, jurnal, karya tulis, kelompok diskusi, dan wawancara.

(Kunandar, 2014:38-41)

Penilaian otentik (Kemendikbud, 2013b: 5) merupakan penilaian yang

keterampilan menerima masukan (input), proses, serta keluaran (output)

pembelajaran. Penilaian otentik juga memiliki sifat yang alami, apa adanya dan

tidak dalam suasana yang tertekan sehingga apa yang dinilai dalam penilaian

otentik lebih pada apa yang bisa dilakukan siswa, bukan berdasarkan apa yang

diketahui oleh siswa. Beberapa contoh tugas-tugas yang dapat digunakan untuk

melakukan penilaian otentik, antara lain: pemecahan masalah matematika,

melaksanakan percobaan, bercerita, menulis laporan, berpidato, membaca puisi,

serta membuat peta perjalanan.

Pengertian-pengertian tersebut menyimpulkan bahwa pada dasarnya

penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan untuk melihat pencapaian

yang dilakukan oleh siswa secara komprehensif (meliputi banyak hal) selama

proses dan akhir pembelajaran, dilakukan berdasarkan apa yang dilakukan siswa

(alami), serta secara berkesinambungan untuk mengetahui perkembangan siswa

lebih mendalam.

Dokumen terkait