BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1.1 Kurikulum 2013
2.1.1.2 Pendekatan Tematik Integratif
Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan tematik integratif sebagai
pendekatan dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Perubahan
Kurikulum 2013 dilandasi berbagai hal, antara lain landasan yuridis, teoritis, dan
konseptual. Pembelajaran kontekstual merupakan salah satu landasan konseptual
pengembangan Kurikulum 2013 (Mulyasa, 2013:65). Pembelajaran kontekstual
diusahakan untuk menciptakan kondisi belajar menjadi semirip mungkin dengan
situasi aslinya atau kondisi nyata, hal tersebut bertujuan agar guru mudah untuk
mengaitkan pembelajaran dengan kondisi pada kenyataannya.
Suprijono (2011:79) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan konsep yang digunakan untuk membantu guru dalam mengaitkan
materi yang diajarkan dengan kondisi kenyataan yang ada di sekitar siswa
sehingga akan membantu siswa untuk memahami kemudian menghubungkan
Asra (2009:14) juga menyatakan pembelajaran kontekstual lebih pada upaya atau
usaha guru untuk memfasilitasi siswa dalam memahami relevansi materi, hingga
mampu mengaplikasikan dalam kehidupan siswa. Pembelajaran kontekstual
menekankan pada perkembangan ilmu, keterampilan, dan pemahaman kontekstual
siswa untuk menghubungkan materi pelajaran yang diperoleh dengan keadaan di
dunia nyata, dengan demikian pembelajaran akan semakin bermakna karena siswa
belajar dari pengalamannya.
Pembelajaran kontekstual juga memiliki komponen yang sama dengan
pendekatan yang digunakan dalam Kurikulum 2013, seperti dalam Sagala
(2009:88-91) yang menjelaskan komponen pembelajaran kontekstual adalah
konstruktivisme atau yang berhubungan dengan perkembangan pemikiran siswa,
bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian
sebenarnya yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dari kegiatan yang
dilakukan siswa. Data bisa berupa proyek atau kegiatan, laporan, tugas rumah,
kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal,
hasil tes tulis, dan karya tulis (Riyanto, 2010:176).
Pembelajaran kontekstual disampaikan pada bab ini untuk menjelaskan
tentang pendekatan tematik integratif yang pada dasarnya juga menerapkan
konsep-konsep pembelajaran kontekstual, karena pendekatan tematik integratif
cenderung pada konsep keterkaitan muatan pembelajaran satu dengan lainnya
yang kemudian terintegrasi sehingga sesuai dengan konteks pribadi siswa. Model
pembelajaran tematik yang awalnya dikenal dengan istilah Integrative Thematic
Instruction (ITI) berkembang sekitar tahun 1970. Namun baru akhir-akhir ini
Dalam pembelajaran yang dikenal dengan highly effective teaching model ini
mencakup berbagai dimensi secara menyeluruh antara lain emosi, fisik, dan
akademik di kelas serta lingkungan sekolah. (Kemendikbud, 2013a:189)
Awalnya, pembelajaran tematik integratif diperuntukkan bagi anak yang
berbakat dan bertalenta, cerdas, yang berada pada program perluasan belajar serta
mereka yang belajar dengan cepat. Peserta didik dalam pembelajaran tematik
dipandu untuk mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of
thinking), karena memanfaatkan keterampilan berpikir yang memanfaatkan kecerdasan ganda sehingga akan membantu proses pengembangan dimensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Pembelajaran tematik ini juga diusahakan mampu
dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan alam secara optimal. Sehingga guru
harus mampu mengidentifikasi elemen yang relevan bagi interaksi siswa dengan
lingkungannya. (Kemendikbud, 2013a:189-190)
Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran
yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke
dalam berbagai tema (Anonymous, 2013). Awalnya, pembelajaran tematik
integratif dilaksanakan pada kelas rendah. Pada Kurikulum 2013, pembelajaran di
semua tingkatan kelas rendah maupun kelas tinggi dilaksanakan secara tematik
integratif sehingga mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah melainkan
berdasarkan tema, lalu dikombinasikan dengan mata pelajaran yang saling
berkaitan (Mulyasa, 2013:170). Dalam pembelajaran tematik integratif, mata
pelajaran satu dengan yang lainnya akan melebur menjadi satu sehingga peserta
Joni dalam Trianto (2011: 56) menguraikan pengertian pembelajaran
terpadu sebagai suatu sistem pembelajaran yang mengaktifkan siswa baik secara
individu maupun kelompok untuk mencari, menggali serta menemukan konsep
bahkan prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. Sedangkan
Hadisubroto dalam Trianto juga menguraikan bahwa pembelajaran terpadu lebih
pada mengaitkan suatu pokok bahasan dengan pokok bahasan atau tema tertentu,
suatu konsep dengan konsep tertentu, dilakukan secara spontan maupun
direncanakan serta dapat mencakup satu bidang studi bahkan lebih dengan
berbagai pengalaman belajar anak sehingga menjadi lebih bermakna. Trianto
sendiri menegaskan bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan
belajar mengajar dengan melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan
pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pengalaman yang dimaksud adalah
dengan memahami konsep-konsep melalui pengamatan langsung lalu
menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahami oleh peserta didik.
(Trianto, 2011: 57)
Majid (2013:119-120) menjelaskan pembelajaran terpadu sebagai suatu
konsep atau pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi,
sehingga memberikan pengalaman langsung bagi siswa secara bermakna,
bermakna karena siswa dapat menghubungan pembelajaran yang dilalui dengan
konsep lain yang dipahami siswa. Pembelajaran terpadu memiliki prinsip, antara
lain: (1) memiliki satu tema aktual, (2) memilih materi yang saling terkait dari
beberapa mata pelajaran, (3) jangan sampai bertentangan dengan tujuan
perkembangan karakteristik siswa, dan (5) jangan sampai memaksakan materi
yang tidak dapat dipadukan.
Fogarty dalam Majid (2013:120-122) mengungkapkan pembelajaran
terpadu memiliki beberapa model, antara lain model keterhubungan (connected),
model laba-laba (webbed), dan model keterpaduan (integrated). Pembelajaran
tematik menurut Rusman (2013:254) merupakan salah satu model pembelajaran
terpadu (integrated instruction) yang dikatakan sebagai suatu sistem yang dapat
memungkinkan bagi siswa untuk belajar secara individu maupun kelompok
kemudian aktif menggali dan menemukan konsep baru sehingga siswa dapat
belajar secara holistik, bermakna, dan otentik. Penerapan pembelajaran terpadu
dalam Kurikulum 2013 menggunakan model laba-laba (webbed) dalam istilah lain
disebut dengan model tematik, hal itu ditunjukkan dengan adanya tema ataupun
subtema yang nampak dari masing-masing jaring, jaring tema untuk satu bulan,
jaring subtema untuk satu minggu, dan jaring harian. Jaring-jaring tersebut
berisikan kompetensi dasar dan indikator yang inging dicapai dalam pembelajaran
serta berpusat pada satu tema tertentu.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diuraikan, pembelajaran
terpadu berulang kali disebutkan memiliki ciri pembelajaran secara holistik,
bermakna dan otentik. Sugiyanto (2010:132-134) menguraikan pembelajaran
tematik terpadu dikatakan holistik karena siswa belajar tidak hanya dari satu
bidang kajian saja, tetapi dari berbagai bidang, sehingga siswa lebih memahami
banyak hal setelah belajar. Bermakna karena siswa mampu menghubungkan
berbagai konsep untuk menemukan keterkaitan konsep dengan kehidupan. Otentik
siswa secara aktif menggunakan fisik, mental, intelektual, dan emosionalnya
unruk menggali pengetahuan dalam pembelajaran.
Kesimpulannya, pembelajaran tematik intergratif merupakan suatu
pendekatan belajar yang mengusahakan keterkaitan antar bidang studi, antar
konsep, antar pokok bahasan, antar tema bahkan topik sehingga memberikan
pemahaman yang bermakna bagi peserta didik serta mengusakan pengalaman
belajar langsung bagi peserta didik agar memahami pembelajaran secara holistik,
bermakna, dan otentik.