• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ASGHAR ALI ENGINEER TENTANG PERDAMAIAN DALAM ISLAM

B. PILAR-PILAR PENDIDIKAN DAMAI

3. Pendidikan Demokrasi

Islam tidak pernah mengklaim satu bentuk pemerintahan duniawi, hal ini diserahkan untuk dipikirkan secara bebas oleh para pemeluknya. Pada awal kelahirannnya, Islam lahir dalam sebuah masyarakat yang mana tidak ada struktur politik formal atau mesin negara. Pada masa itu 28 29

28 Abuddin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam D i Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet.Ke-1, Februari 2001, him. 190

29 Asghar Ali Engineer, Islam dan Pemebebasan , teij. Haim s Salim LKIS, Yogyakarta, cet.Ke-2, Mei 2007, him. 23

masyarakat yang ada hanya berbentuk suku, di dalamnya tanpa ada seorang penguasa atau struktur negara formal. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad memberikan kepada masyarakat tersebut tidak hanya visi baru yang lebih manusiawi tetapi ju g a menjamin kebebasan berkehendak bagi manusia, bisa dibilang visi baru tersebut jauh dari sifat otoriter (dem okratis).30

Pada saat itu, Nabi Muhammad memperlihatkan penghormatan yang besar pada martabat manusia tanpa memandang latar belakang status sosial seseorang. Secara tidak langsung dapat dikatakan kondisi pada saat itu sangat menjamin persamaan hak semua warga. Dalam masyarakat yang demoktaris tersebut tidak hanya memeberikan kesempatan sama untuk seluruh warga tetapi ju g a menjadikan mereka sama di hadapan hukum yang diaplikasikan dalam keseharian Dengan kata lain tonggak demokrasi sesungguhnya telah diterapkan pada zaman Nabi.

Seperti dikutip Asghar dari Taha Husain, seorang penulis dan cendekiawan dari Mesir, menyangkal tentang adanya anggapan bawa cita-cita yang ingin dibentuk oleh Nabi Muhammad pada saat awal-awal Islam dalam konteks negara adalah teokrasi, Taha mengatakan:

“Islam adalah agama yang menekankaan keesaan Tuhan, kerasulan Muhammad dan kehidupan yang berkeadilan. Masalah-masalah yang berkaitan dengan keadilan dan keduniawian juga menjadi perhatian agama ini, namaun itu semua bukan berarti Islam hendak merampas kebebasan manusia, menguasai manusia atau 30 Asghar Ali Engineer, Liberalisasi Teologi Islam, op.cit., him. 159

memebelenggu inisiatifnya untuk bertindak. Sebaliknya, agama ini dalam batas tertentu hendak menjadikan umat manusia sebagai khalifah (yang berkuasa di bumi)”.31 32

Agama Islam tidak bisa ditafsirkan demokratis ataupun tidak, karena dalam agama banyak faktor yang berperan di dalamnya. Walaupun agama Islam sudah memberikan satu visi dunia baru, namun hal tersebut sangat sulit berhasil dalam merubah status quo. Satu visi tersebut dapat

dikatakan berhasil ataupun gagal tergantung bagaimana faktor kepentingan pribadi menguasai masyarakat tempat suatu agam a lahir. Semakin kuat fakto- pribadi, semakin sulit unutk merubah status quo.

Pada masyarakat majemuk, tentu akan sangat rentan terhadap disintegrasi bangsa. Perbedaan dan kemajemukan itu di satu sisi bisa membawa anugerah tersendiri bagi suatu masyarakat, namun pada sisi lain bisa memicu banyak persoalan manakala terjadi benturan kepentingan dan keinginan yang sangat fundamental menyangkut aspek kemajemukan tersebut. Ketika kepentingan politik masuk di dalamnya, maka akan menjadikan persoalan tersebut semakin rumit. Menurut Franz Magnis Suseno, banyak kasus kekerasan terjadi tidak hanya bersekala horisontal

31 Asghar Ali Engineer, D evolusi Negara Islam, teij. Imam M uttaqin, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. Ke-1, Desember 2000, him. 57

(sesama rakyat), tetapi juga vertikal (rakyat dengan penguasa) merupakan salah satu bentuk kesalahan dalam mengelola pluralitas.33

Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dianggap dapat memproduksi kebijaksanaan yang arif. Tujuannya guna mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, menjamin kebebasan setiap warga negara, mengutamakan kepentingan umum tanpa mengabaikan hak-hak individu, mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat, serta anti diskriminasi dan kekerasan. Oleh sebab itu, dalam wacana politik meskipun disadari memliki kekurangan, demokrasi dianggap sebagai sistem pemerintahan yang ideal. Dalam konteks upaya untuk menghindari kesenjangan pada masyarakat, negara demokrasi seperti dikatakan oleh Franz Magnis Suseno adalah bentuk kenegaraan yang paling memungkinkan unutuk mengelola konflik secara wajar.34

Secara konseptual, demokrasi mengalami perkembangan kembali pada akhir abad k e-19 dan permulaan abad ke-20, ketika munculnya rumusan demokrasi sebagai rule o f law. Dalam konteks liberalisme, negara

dalam hal ini berfungsi sebagai penjaga warga negaranya, tidak berhak menginterfensi urusan warganya, kecuali menyangkut kepentingan umum, dan rakyat dibiarkan menguasai ekonomi. Kemudian setelah tersebar

33 Franz Magnis Suseno, Kuasa &Moral, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cet. Ke-5, 2001, hlm.24

34 Franz Magnis Suseno, dalam kata pengantar M elawan Kekerasan Tanpa Kekerasan,

faham sosialisme yang menginginkan pembagian kekayaan secara merata dirumuskanlah negara kesejahtraan. Artinya negara bertanggung jaw ab atas kesejahtraan rakyat dan kerenanya negara harus aktif mengatur kehidupan ekonomi dan sosial masyarakatnya.

Demokrasi mencakup beberapa nilai, saparti nilai persamaan (equality) tentang hak bagi semua penduduk, nilai tentang kemerdekaan

(freedom) dan nilai keadilan {justice).35 Baik secara norm atif maupun

empiris, Islam sama sekali tidak anti-demokrasi. Secara norm atif Islam memang tidak menjelaskan bagaimana bentuk demolcrasi yang dianut, namun ajaran Islam mengandung prinsip dan kaidah yang merupakan kata kunci dari substansi demokrasi antara lain, t a 'a r u f (saling mengenal), syura

(musyawarah), t a ’awun (kerjasama), adil, dan kemaslahatan.36

Dalam demokrasi persamaan merupakan dasar bagi tegaknya tata kehidupan masyarakat (negara). Prinsip pesamaan memberikan pengakuan yang sama tehadap hal dan kewajiban setiap warga negara. Pemberian penghargaan yang sama memungkinkan terjaminnya w arga negara untuk hidup secara manusiawi guna mewujudkan kehidupan yang serasi dan seimbang. Seperti diungkapkan oleh Qodri Azizi, mewujudkan demokrasi berarti mewujudkan civil society (masyatrakat madani). Yaitu praktik

35 Abdurrahman Assegaf, Pendidikan Tanpa Kekerasan, Tiara Wacana, Yogyakarta, April 2004, him. 192

penyelenggaraan negara dimana hak asasi manusia (HAM) bukan saja dilindungi namun sekaligus dapat dipraktikkan tanpa ada hambatan.37

Beberapa ciri dari negara yang pemerintahannya bersifat demokratis adalah:

a. Keterlibatan semua warga negara dalam urusan politik

b. Perlindungan atas kebebasan-kebebasan fundamental dan kemerdekaan-kemerdekaan pribadi yang meliputi kebebasan beragama, berbicara, dan berkumpul ataupun berserikat.

c. Perlindungan negara atas kebebasan warga, baik dalam kapasitasnya sebagai individu maupun kelompok maupun golongan, dalam melakukan koreksi dan kritik terhadap segala kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.

d. Institusui keagamaan yang benar-benar mampu menciptakan perasaan terlindungi di hati semua warga, baik dari gangguan internal atupun eksternal.

e. Penyediaan lapangan pekerjaan yang dapat menjamin kesejahteraan ekonomi setiap warga.

Sebetulnya yang paling bertanggung jaw ab terhadap tegaknya demokrasi adalah rakyat, tetapi untuk bisa memepercepat tumbuhnya suatu demokrasi adalah institusi politik dalam sebuah negara. Jika institusi

37 Qodri Azizy, Membangaun Integritas Bangsa, Renaisan, Jakarta, cet. Ke-1, O ktober 2004, him. 111

tersebut mempunyai suatu good will dan disertai ketulusan yang berujung

pada keseriusan untuk mewujudkan suatu demokrasi yang sesuai dengan kepentingan rakyat, maka demokrasi akan lebih mudah diwujudkan guna mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang ideal.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari berbagai uraian di atas terkait dengan konsep pendidikan damai dalam Islam, penulis dapat menarik suatu kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara substansi agama Islam diturunkan kepada manusia adalah sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, ras, dan tingkat sosial. Dalam konteks perdamaian, Islam seharusnya muncul sebagai agama yang menjunjung tinggi semangat humanis. Tujuannya adalah umat manusia dapat hidup rukun, damai dan sejahtera, dengan memandang bahwa segala perbedaan adalah sunnatullah (hukum alam)

yang telah digariskan oleh Tuhan. Segala perbedaan harus disikapi dengan dewasa.

2. Kekerasan dalam sejarah ummat Islam menurut Asghar harus dilihat dari faktor-faktor empiris yang melatar belakanginya, baik kepentingan ekonomi, politik dan golongan. Dilihat dari sisi ideologi agama, Islam tidak pernah menganjurkkan kepada pemeluknya untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai masalah. Kekerasan dalam sejarah ummal Islam menurut Asghar lebih banyak disebabkan kepentingan pribadi daripada kepentingan untuk menegakkan ajaran Islam. 3. Dalam teologi damai Islam Asghar, makna dari kata Islam adalah

menciptakan kedamaian dan tunduk kepada kehendak Allah SWT. Karena

salah satu nama Allah adalah Salam (Damai), secara tidak langsung

seorang hamba Allah harus menjadikan damai sebagai dasar hidupnya. 4. Jihad dalam konteks perdamaian menurut Asghar tidak seperti yang

sekarang ini banyak didentikkan dengan kekerasan. Jihad menurutnya adalah usaha untuk menerjemahkan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan kontek perkembangan zaman. Pengertian jihad yang identik dengan kekerasan menimbulkan sejumlah pemahaman di kalangan muslim atau non-muslim, bahwa Islam menganjurkan pemeluknya untuk melakukan kekerasan demi satu tujuan.

5. Islam sebagai suatu aiaran yang dijadikan seorang sebagai pegangan, berisikan nilai-nilai kebenaran, anti kekerasan, kesetaraan, kasih sayang, cinta, dan toleransi. Kadang-kadang seorang muslim lebih mengutamakan aspek ritual dari pada mengimplimentasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.

6. Untuk mengimplementasikan ajaran damai Islam guna menjadikannya sebagai pelopor kedamaian di dunia, diperlukan pendidikan damai Islam. Tujuannya agar segala potensi kekerasan dapat dihindari dan menjadikan Islam sebagi dasar terwujudnya kedamaian. Adapun bentuk pendidikannya adalah:

a. Pendidikan Cinta Kasih, dasar daripada pendidikan ini adalah untuk menjadikan manusia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri tanpa memandang segala perbedan yang ada.

b. Pendidikan Toleransi Agama, dasarnya adalah bahwa banyak kekerasan yang terjadi saat ini lebih disebabkan sikap eksklusif para pemeluk agama. Sikap tersebut mengakibatkan muncul klaim ajaran mereka lebih benar (truth claim) dan yang ada di luar mereka salah.

Pada konteks ini, Islam sangat menghargai perbedaan agama dan menjamin kebebasan mausia untuk menjalankan ritual ajarannya menurut kepercayaanya.

c. Pendidikan Demokrasi, dasar daripada pendidikan ini adalah untuk mencegah potensi-potensi konflik yang ada dalam masyarakat plural. Karena dengan demokrasi manusia akan terjamin hak-haknya dalam menjalani kehidupannya dalam masyarakat.

Dokumen terkait