• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ASGHAR ALI ENGINEER TENTANG PERDAMAIAN DALAM ISLAM

B. PILAR-PILAR PENDIDIKAN DAMAI

2. Pendidikan Toleransi Agama

islam dalam prespektif Asghar Ali Engineer, adalah agama yang paling membebaskan dalam konteks sekarang. Islam sangat mengakui kebebasan dalam beragama. Tentang kebebasan beragama, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an: La Ikraha Fiddin (tidak ada paksaan dalam

beragama).15 Kata din tidak dapat diartikan secara sempit. Agama dalam

ayat tersebut sesungguhnya menyimbolkan kebebasan hati nurani, karena urusan beragama adalah urusan yang paling fundamental bagi seorang manusia. Hal tersebut berangkat dari pemikiran yang menyatakan bahwasanya kebebasan beragama adalah bagian dari demokrasi, dan juga kebebasan tersebut akan menjamin martabat seorang manusia.16

Istilah toleransi bersal dari bahasa Inggris, yaitu: tolerance berarti

sikap membiarkan, kesabaran, mengakui, dan menghormati keyakianan

15 Al-Qur’an, 2: 56

orang lain tanpa memerlukan persetujuan.17 18 Dalam Bahasa Arab tasamuh.

yang mempunyai makna saling mengizinkan, saling memudahkan.

Toleransi adalah nilai yang sangat diperlukan bagi masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kasih sayang. Hilangnya kasih sayang dalam diri manusia akan menanamkan kebencian dalam hatinya. Antara toleransi dan kebencian adalah sesuatu yang sangat bertentangan, karena kebencian akan membawa manusia pada permusuhan.

Toleransi mengandung konsesensi, yang artinya pemeberian yang hanya didasarkan kepada kemurahan dan kebaikan hati, bukan didasarkan hak. Toleransi teijadi dan berlaku karena terdapat perbedaan atau prinsip orang lain tanpa mengorbankan prinsip sendiri. Dalam keseharian disampung istilah toleransi ju g a dipakai kata ’’tolerer”. Kata tersebut

adalah bahasa Belanda yang mempunyai arti membolehkan, membiarkan dengan pengertian membolehkan atau membiarkan yang pada prinsipnya tidak perlu terjadi.19

Menurut Masykuri Abdillah, ada dua macam penafsiran dalam memahami konsep toleransi, antara lain:

17 Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Agustus, 2000, him. 595

18 Said Agil Husin Al-M unawwar, Fiqih Hubungan Antar Agama, Ciputat Perss, Jakarta, cet. Ke-2, Desember 2003, hal. 13

a. Klaim bahwa toleransi hanya menuntut pihak lain dibiarkan sendirian atau tidak dianiaya (the negative interpretation o f tolerance)

b. Klaim bahwa toleransi memebutuhkan lebih daripada itu, yakni membutuhkan bantuan, peningkatan dan pengenbangan (the positive

interpretation o f tolerance)?®

Islam sendiri telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya dalam konteks mewujudkan kemaslahatan umum. Pertama, hubungan secara vertikal (manusia dengan

Tuhannya) yang direalisasikan dalam bentuk ibadat sebagaimana yang telah digariskan oleh agama. Hubungan tersebut dilaksanakan secara individual, tetapi lebih diutamakan secara kolektif. Pada hubungan yang seperti ini dalalam konteks toleransi agama terbatas dalam lingkungan atau intern suatu agama saja. Kedua, hubungan horisontal (manusia dengan

sesamanya). Pada hubungan ini tidak hanya terbatas dalam lingkungan suatu agama saja, tetapi juga berlaku terhadap orang yang tidak seagama, yaitu dengan bentuk keijasama dalam masalah-masalah kemasyarakatan atau kemaslahatan umum.

Aspek agama merupakan aspek yang sangat rentan dengan konflik. Dalam sejarah agama-agama, atau mungkin lebih tepatnya sejarah sosial

20 M asykuri Abdillah, D em okrasi D i Persimpangan M akna: Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi (1966-1993), PT Tiara Wacana, Yogyakarta, cet.Ke-1, April,

berabad-abad menunjukkan bahwa struktur-struktu internal dari agama- agama tersebut (baik institusi ajaran, misi, kepemimpinan) telah melahirkan begitu banyak konflik.21

Secara nyata agama selalu menjadi faktor yang membuat sesuatu konflik mendapat sorotan banyak orang dengan cepat. Begitu agama terlibat dalam suatu konflik, maka konflik itu menjadi sangat sensitif. Agama selalu men5 adi faktor yang ampuh uncuk melegitimasi suatu tindakan atau suatu kepentingan. Politisasi agama, sesungguhnya bila dilihat dari esensi dari semua ajaran agama, tidak ada yang melegitimasi tindak kekerasan dan penindasan, apalagi harus berkolaborasi dengan kekuasaan (politik).

Menurut Abdul Munir Mulkhan, ketulusan seseorang kepada Tuhan sering membuat maunusia tidak peduli pada diri sendiri dan nasib manusia lain. Kepada Tuhan, manusia seolah-olah dituntut untuk mengorbankan dirinya dan orang lain. Tuhan diyakini manusia sebagai Khalik (Maha

Pencipta) dan Maha Pengampun, Pemebebas manusia dari segala penderitaan duniawi dan ukhrowi. Pemahaman yang dangkal dan keliru tersebut telah membuat agama dan Tuhan sebagai pemicu konflik dan pembenar tindak kekerasan.22

21 Abdul Q adir Shaleh, Agam a Kekerasan, Prismasophie, Jogjakarta, cet. K.e-1, Juni 2003, him. 44

22 Abdul M unir M ulkhan “ Dilema M anusia dengan Diri Tuhan”, dalam kata pengantar,

Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agam a di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet.Ke-2, Januari 2005, hal. xvii

Perdamaian di dunia Seperti diungkapkan Hassan Hanafi dapat terwujud, selama manusia taat pada petunjuk suci Tuhan yang M aha Esa. Tunduknya seseorang secara penuh kepada kehendak Tuhan berarti menyerahkan segenap kehendak manusiawinya kepada prinsip ke-Esaan Tuhan.23 Karena nama Islam sendiri bersumber dari kata dasar yang sama

dengan Salam yang bermakna perdamaian. Dengan demikian, Islam adalah

agama perdamaian.24

Adanya keyakinan yang menyatakan bahwa Islam akan mememotong kepala orang yang tidak percaya terhadap Islam adalah anggapan yang salah. Dalam agama saja tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, apalagi untuk mengislamkan orang dengan menggunakan kekerasan. M enurut Asghar, hal yang menyebabkan itu semua adalah kesalah fahaman dalam memahami konsep ‘kafir’, secara literer kafir dapat diartikan orang yang tidak pecaya, dengan kata lain orang yang tidak masuk Islam dapat diasumsikan kafir.25

Pemeluk semua agama biasanya meyakini Tuhan dan agama-Nya itu adalah satu dan tunggal. Demikian pula dengan surga dan neraka yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang taat atau kafir terhadap. Jika hal demikian benar adanya, penting untuk menempatkan Tuhan dan segala

23 Hassan Hanafi. Agama, Kekerasan, dan dalam Islam Kontemporer, teij. Ahmad Najib, Jendela, Yogyakarta, cet.K.e-1, N ovem ber 2001 hal. 137

24 Ib id , hal. 127

ajaran-Nya itu satu adanya. Tuhan bagi para pemeluk agama tertentu adalah Tuhan yang juga diyakini oleh pemeluk agama lain. Surga Tuhan yang ingin dicapai di akhir kehidupan seseorang itu pun adalah surga yang juga diyakini oleh pemeluk semua agama.

Pemahaman keagamaan seperti di atas, sangat penting untuk megembangkan pemahaman pada diri seorang yang beragama bahwa Tuhan yang satu dengan surganya itu adalah Tuhan dan surga bagi semua orang dengan beragam agama, beragam paham keagamaan, beragam suku bangsa dan negara. Dengan pemahaman tersebut, potensi konflik antar agama dapat terhindarkan.

Hal yang harus dihindari seorang yang beragama adalah sikap konserfatif dan eksklusif, karena hanya berorientasi pada ibadah vertikal (teosentris), dan mengesampingkan sisi kemanusiaan (antroposentris). Sikap tersebut akan menggiring nalar manusia menjadi merasa paling benar sendiri, sementara yang lain adalah salah (fanatisme buta).26

Seperti dikemukakan oleh Ulil Abshar Abdallah, semua agama diibaratkan sebagai baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok:

Penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.2701eh sebab itu sangat tidak

26 Abdullah Ubaid ,“ M erayakan M ultikulturalisme”, dalam Runtuhnya Negara Tuhan : M embongkar Otoritarianisme dalam Wacana Politik Islam, INSIDE (Institute for Study o f Islam and Democracy) PMII Komisariat W alisanga, Semarang, cet. Ke-I, Mei 2005. him. 107

27 Ulil Abshar Abdallah, Islam Liberal & Fundamental: Sebuah pertarungan wacana, ELSAQ Press, Jogjakarta, cet Ke-2, Mei 2003, him. 5

dibenarkan ketika manusia bertengkar atas nama agama, tetapi mereka lupa tujuan manusia beragama.

Berangkat dari situasi tersebut, harus ada satu upaya untuk mendudukkan agama tidak dalam posisi berlawanan (yang masing-masing mempunyai religious’s way o f knowwing), tetapi dengan sikap inklusif

(terbuka). Mengembangkan inklusivisme keagamaan pada seseoarang berarti meletakkan agama-agama lain dalam kedudukan yang sederajat (sikap pararelisme) dengan agamanya sendiri. Perbedaan dalam agama tidak mungkin terhindarkan, tetapi perbedan tersebut harus disikapi dengan penuh kedewasaan di atas landasan jiw a persaudaraan, penuh pengertian, tenggang rasa dan kasih sayang. Ada syarat yang harus dipatuhi oleh seorang yang beragama dalam menggembangkan sikap keagamaan yang inklusif-pluralis, seseorang tersebut harus kuat terhadap agama yang dianutnya, karena ia selau bersinggungan dengan berbagai macam agama.

Dokumen terkait