• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ASGHAR ALI ENGINEER TENTANG PERDAMAIAN DALAM ISLAM

B. TEOLOGI DAMAI ISLAM

Menurut Asghar, Teologi adalah ilmu yang mempelajari Tuhan dan ayat- ayat-Nya serta makna hakiki yang ada di balik ayat-ayat tersebut. Karena Tuhan itu kreatif, maka teologi juga harus demikian. Teologi berhadapan dengan kehendak Tuhan. Teologi menurut Asghar bersifat kontekstual dan juga normatif. Teologi tidak dapat menghindar dari konstektualitas dan normatifitas. Karena jik a suatu teologi tidak bersifat kontekstual, maka tidak akan berguna bagi masyarakat pada saat tertentu, dan jika tidak normatif, maka bukan hanya akan memepertahankan status quo, namun ju g a tidak akan memberikan

inspirasi bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya20

Pada umat Islam, teologi yang dikenal sebagai ilmu Ilahi, atau ilmu kalam yang juga dikembangkan dalam agama Kristen. Terkadang pemikiran manusia ini menurut Asghar dianggap dogma dan doktrin yang tak terbantahkan.

19 Asghar Ali Engineer, Liberalisasi Teologi Islam, op.cit, him. 19 20 Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, op.cit.,him. 187

Pendapat mereka tersebut kadang dianggap sama sucinya dengan Kitab Suci itu sendiri.21 Banyak pemahaman dalam sebagaian masyarakat yang mengatakan bahwa teologi tidak memberi kebebasan kepada manusia sesungguhnya bersifat sosio-temporal.

Teologi dalam pengertian metafisis dan di luar proses sejarah sungguh sangat memberikan ruang yang sangat bebas kepada manusia. Karakteristik teologi yang penuh ketidakjelasan metafisis dan pembicaraanya mengenai masalah-masalah yang abstrak, menurut Asghar justru akan membuat para teolog terjebak dan akan berpihak pada status quo.22 Idealnya, teologi dalam

pembahasa.iya harus dibawa ke wilayah yang lebih konkret, yang mampu menjawab berbagai permasalahan ummat manusia, sehingga teologi tidak semakin menjauh can lari dari permasalahan manusia, akan tetapi mampu menjadi solusi dengan mejadikan teologi tersebut sebagai satu dasar untuk bertindak.

Perdamaian merupakan perkara yang paling mendasar dalam Islam, dalam Bahasa Arab, kata Islam berarti menciptakan kedamaian dan tunduk

kepada kehendak Allah SW T.23 Menurut Asghar, ini adalah tugas yang mengikat setiap mus’.im untuk berusaha menciptakan perdamaian. Jihad dalam konteks perdamaian, bukanlah identik dengan kekerasan, tetapi sesungguhnya

21 Asghar Ali Engineer, Liberalisasi Teologi Islam, op.cit., him. 88 22 Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, op.cit., him. 2

23 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, PT. Hida Karya Agung, Jakarta, cet. Ke-8, 1990, him. 177

jihad sesungguhnya adalah bekerja untuk perdamaian dan keadilan dalam dunia. Salah satu nama Allah adalah Salam (Damai), clan ketika seorang

muslim sadar akan posisinya sebagai hamba Allah, maka konsekuensi dari hal tersebut menurut Asghar, yaitu seorang muslim tersebut secara tidak langsung menjadi pengabdi perdamaian, dalam konteks menciptakan kedamaian di atas bumi.24

Kecenderungan untuk berbuat agresi dan kekerasan, dan hasarat kuat untuk hidup dalam kedamaian adalah sesuatu yang telah digariskan oleh Tuhan terhadap manusia. Hal ini dikarenakan, kepribadian manusia yang berputar- putar yang mengharuskan kita untuk dapat memahami dinamika kehidupan dan juga kekerasan. Allah menghendaki damai, dan Ia menciptakan kita demi tujuan itu, tetapi ketamakan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi, membuat manusia rendah dan menjadi alat agresi dan pencipta kekerasan.

Islam sebagai suatu ajaran, pada dasarnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai cinta kasih antar sesama-manusia dan sangat menentang kekerasan dalam bentuk dan hal apapun, karena tidak sesuai dengan cita-cita Islam. Karena ajaran Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW merupakan suatu rahmat bagi seluruh alam, yaitu kesejahtraan bagi setiap orang, tanpa memandang latar belakang agama, tingkat sosial dan kebangsaanya. Hal

tersebut mendorong agar tercipta satu tatanan masyarakat yang kondusif, hidup rukun, damai dan sejahtera.

Asghar menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad melalui ajaran Islam sesungguhnya membawa misi damai. Salam, A ssalam u’alaikum (semoga

kesejahtraan bagimu) yang banyak diucapkan seorang muslim kepada seorang muslim lainnya juga mengindikasikan kedamaian ini.

Keadilan, kasih sayang dan kearifan menurut Asghar, yang merupakan nilai inti al-Qur’an adalah jauh lebih penting dari formula legal apapun masa lalu dan dari gambaran norma sosial pada masyarakat tersebut. Hukum yang tidak menangkap spirit perubahan sosial yang menyerap nilai inti, tidak memiliki pesan keadailan. Perlu diingat bahwa segala sesuatu yang adil pada masa silam tidak selalu muncul sebagai adil pada masa sekarang. Konsep keadailan tidak akan berubah, tetapi norma keadilan sebaliknya.

Islam menurut Asghar berasal dari akar kata s-l-m dan bermakna salam

(damai, lawan dari perang).25 26 Sehingga menurut Asghar, salah satu sifat Islam yang berbeda dari jahiliyah27adalah rendah hati sebagai lawan dari arogan, dendam dan perang. Islam berarti penegak kedamaian dan tunduk kepada kehendak Allah.

25 Asghar Ali Engineer, I b id, him. 4

‘6 Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, op.cit., him. 204

27 Jahiliyah dalam hal ini tidak sepenuhnnya bermakna “kejahatan” (m akna literam ya) seperti yang dipahami oleh banyak orang, namun ju g a berm akan “kekerasan”, “kemarahan” yang tidak terkendali dan “kesombongan” .

Dalam al-Qur’an d iteg ask an :

" -) i A i l *-=> ^ l_^i>ol

IjJwO

U ^ QjLl>

if t a. > * * 4 £ - / - » j JS ' *+..* » ) -> A il ^ y ja L x J

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. 2: 208)’™

Masuk ke dalam Islam (damai) pada ayat di atas, menurut Asghar berarti masuk dengan sepenuh hati. Hal ini juga berarti ketertundukan secara total kepada Allah.

Perdamaian di dunia sangat ditentukan oleh prilaku manusia. Perdamaian dapat terwujud selama manusia taat pada petunjuk suci Tuhan. Agama berintikan nilai-nilai, termasuk didalamnya nilai perdamaian sehingga orang yang tidak berkeyakinaan kepada Tuhan (atheis) sekalipun, tidak akan dapat menolak kebutuhan akan pedamaian sebagai bentuk tuntutan moral. Wahyu dalam Islam adalah petunjuk dalam bersikap, baik secara individual atau secara sosial. Wahyu bukan persoalan kepercayaan terhadap ayat atau kitab suci, akan tetapi merupakan persoalan implementasi terhadap titah suci dan realisasi perintah-perintah tuhan.

Perintah tentang perang, dalam lintasan sejarah menurut Asghar, seharusnya ditempatkan dalam konteks Arab abad keenam dan tujuh di dunia 28

Arab dalam tradisi kesukuan. Pada masa itu Nabi Muhammad dan para sahabat harus berhadapan dengan situasi nyata yang mau tidak m au harus dihadapi. Kekuatan hebat musuh siap menggerus muslim. Islam sebagai ajaran baru tentu saja masih sangat rentan terhadap berbagai ancaman yang akan muncul.

Nabi sendiri meninggalkan Makkah ketika ancaman serius yang membahayakan dirinya dan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan dengan perencanaan yang cermat, kendati begitu, Nabi berusaha sebaik mungkin mempertahankan perdamaian di Makkah.

Saat berada di Madinah, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan para penganut agama Yahudi dan penyembah berhala, dan memberi mereka kebebasan penuh dalam menjalankan dan mempraktikkan ajaran masing-masing. Sebenarnya Nabi telah mengetahui, bahwa mereka sangat membenci kemunculan kekuatan muslim yang tentu saja akan mengancam posisi mereka, konspirasi jahat mulai dilakukan oleh para Yahudi dan penyembah berhala, dengan cara bersekongkol dengan kafir Makkah untuk mengkhianati masyarakat muslim.

Sejumlah penyembah berhala, pada satu sisi lain, mengadakan perjanjian dengan muslim dan menghormati perjanjian tersebut dengan setengah hati, dengan persyaratan yang tidak begitu menguntungkan pihak muslim. Nabi pada saat itu, ingin memperlihatkan sebisa mungkin menghindari bentrokan bersenjata. Pilihan tersebut merupakan jalan keluar yang dipilih Nabi, karena ia tidak bisa berperang hanya karena hipotesa semata, tatapi lebih pada konteks

sosio-politik dan sosio-ekonomi yang memainkan peran dalam penentuan apakah damai yang dipilih ataukah sebaliknya. Perjanjian antara kaum muslim dan non-muslim tersebut terkenal dengan nama perjanjian damai Hudaibiyah.29 * Karena dalam perang, usaha untuk menghindari pertumpahan darah dengan menggunakan jalan dan cara memunculkan penyelesaian yang disepakati adalah jauh lebih penting.

Salah satu konsep pokok dalam teologi Islam adalah “Tauhid”, yang didalamnya terdapat konsep “Iman” kepada A llah yang tidak bisa ditawar-tawar oleh seorang muslim. Kata Iman, berasal dari kata amn,?0 menurut Asghar

mempunyai makna selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya, dan yakin.31 Iman yang sebenarnya mengimplikasikan semua itu. Tentang Iman Asghar mengungkapkan:

“The word iman comes from its root amn which means safety, peace, protection apd also reliable, trustwhorthy and faithful. Iman implies all this in order to be meaningful. One who has iman must be trustworthy,

29 Dalam perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi M uhammad meminta seketarisnya Ali untuk menuliskan kata “Rasulullah” di belakang namanya, orang-oram g mekkali keberatan dengan hal itu, karena belum siap menerimanya. U m ar bin Khattab, seorang sehabat Nabi yang terkenal dan penuh semangat , tidak bisa menutupi perasaanya dan bertanya kepada Nabi, “Apakah Tuan benar-benar utusan Allah?” Tentu saja, Nabi menjawab, “ ’Ya, benar.” . Sebagai seorang negarawan yang piawai ia tau betul bahw a kata-kata itu tidak akan banyak berpengaruh. Yang penting adalah tercapainya ruang negosiasi yang akan memberinya ruang gerak untuk m engkonsolidasikan kedudukannya. Untuk mencapai hal itu, Nabi bersedia menerima perdamaian yang kurang menguntungkan baginya. Kaum muslim pada waktu itu hanyalah kekuatan yang baru muncul, sehingga dalam keadaan yang kurang menguntungkan itu tidak salah m enerim a isi perjanjian tersebut. Is: perjanjian tersebut bisa disempurnakan apabila saat yang tepat telah tiba. Inilah salah satu kepiwaian Nabi yang menjadikanya sebagai orang yang kuat. Lihat dalam, Asghar A li Engineer, Asal-Usul dan perkem bangan Islam (Analisisperkem bangan sosio-ekonomi), op.cit., him. 171-172.

30 Mahmud Yunus, op.cit., him. 49

must strive for peace and security and must him self have faith in all the good value o f life”.32

Orang yang beriman dalam sudut pandang Asgha:, pasti dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, serta memiliki keyakinan tehadap nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan seseorang. Iman mengantarkan manusia kepada perjuangan keras untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan dan cinta damai. Tanpa iman, jiw a seseorang akan terasa kosong dan tidak berakar pada kedalaman pribadinya. Tanpa dilatar belakangi iman, kata-kata dan gagasan seseorang hanya akan berarti bagi dirinya sendiri, dan akan memperbudak orang lain.

Islam sesungguhnya hadir untuk mendeklarasikan bahwa manusia sederajat can sejajar di hadapan Allah, oleh karena itu, Islam mengajarkan supaya manusia jangan pernah melakukan pembedaan ataupun diskriminasi. Semua orang, dalam konteks tersebut harus mengupayakan terwujudnya kesejajaran, lebih jauh dia menjelaskan, seorang Muslim tidak cukup menjadi Islam secara formal saja, tetapi harus menyerahkan hati sepenuhnya kepada Allah sehingga menjadi seorang mukmin. Seorang mukmin tidak sekedar percaya kepada Allah, melainkan beijuang menegakkan keadilan melawan penindasan. Menurut dia, seorang Muslim harus mampu mengontrol hawa nafsu dan memerangi nafsu untuk mendominasi dan eksploitasi.

32 A sghar Ali Engineer, Islam A n d Liberation Theology Essays On Liberative Elements In Islam, op.cit., hlm.9

Sesuai dengan spirit lahirnya Islam, ia datang untuk merubah status quo

serta mengentaskan kelompok yang tertindas dan tereksploitasi hak-haknya, inilah yang disebut kelompok masyarakat lemah (mustadafm). Asghar Ali

Engireer mengatakan, masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagian anggota lainnya yang lemah dan tercerabut hak-haknya, tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam, meskipun mereka menjalankan rutinitas Islam.

Islam sebagai ajaran, memang dan terus akan menekankan bahwa tidak boleh ada pemaksaan, tidak boleh ada penindasan, tidak boleh ada kekerasan selama akal sehat dan hati nurani kemanusiaan itu masih bisa tumbuh secara wajar dan selama hegemoni dan eksploitasi tidak menjadi ancaman serius buat kemerdekaan dan pemerdekaan umat manusia. Islam pada hakikatnya adalah agama yang pro terhadap nilai universal, semua umat beragama mesti berusaha untuk mengendalikan diri, sehingga perdamaian bisa terwujud di dunia. Kompetisi dilakukan tidak untuk menunjukkan kehebatan satu agama, tetapi agama mesti berlomba-lomba dalam perbuatan baik Asghar berkata: “Kita seringkah mengembangkan keinginan untuk menunjukkan superioritas agama kita. Begitu banyak konflik di dunia karena satu agama merasa lebih superior dari yang lain”.3'’ 33

Dokumen terkait