KAJIAN PUSTAKA 2.1.Masyarakat Perkebunan
2.2. Pendidikan sebagai Sarana Mobilitas Sosial
Menurut Huky (1982) dalam buku Interpretasi Sosiologi dalam Pendidikan, yang menyatakan bahwa istilah mobilitas sosial diartikan sebagai gerak orang perorang atau grup dari suatu stratum ke stratum lainnya dalam masyarakat (Saripudin 2010). Setiap manusia memiliki keinginan agar kehidupan lebih baik dan merubah status kedudukan yang lebih tingggi disertai dengan pendapatan yang lebih tinggi. Mengubah status sosial menjadi lebih baik tidak dapat terjadi begitu saja tanpa ada saluran yang menghantarkan pada kedudukan tersebut seperti pendidikan. Pendidikan merupakan saluran yang signifikan menentukan kedudukan seseorang.
Lembaga pendidikan yang disediakan untuk seluruh masyarakat tanpa memandang stratifikasi sosial, bahkan setiap jenjang pendidikan di sediakan kepada semua kalangan masyarakat yang memiliki kemampuan dalam mengembangkan potensinya. Karena pendidikan diupayakan dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, supaya mengurangi kuantitas pengangguran, tetapi melalui pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup. Pendidikan terkait dengan nilai-nilai mendidik dalam arti memberikan, menanamkan, dan menumbuhkan nilai-nilai pada peserta didik. Proses pendidikan
terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, mengembangkan potensi,dan sikap.
Menurut (Saripuddin 2010:32) secara umum pendidikan berkenaan dengan peningkatan kualitas manusia, pengembangan potensi, kecakapan dan karakteristik generasi muda ke arah yang di arahkan masyarakat. Secara formal pada hakikatnya pendidikan di fokuskan kepada anak, remaja, orang dewasa bahkan usia lanjut dan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, perguruan Tinggi, lingkungan kerja.
Potensi yang dimiliki individu dalam pendidikan akan membawa individu ke jenjang berikutnya bahkan pendidikan yang dimiliki dapat menghantarkan ke pada status sosial di masyarakat. Pendidikan merupakan anak tangga mobilita sosial yang penting. Bahkan jenis pekerjaan kasar yang berpenghasilan baik pun sukar di peroleh kecuali jika seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada usaha dan perusahaan industri, bukan hanya terdapat satu melainkan dua tangga mobilitas sosial. Yang pertama berakhir pada jabatan dan yang kedua berakhir pada jabatan mandor (Setiadi: 2011)
Menaiki tangga mobilitas dalam pekerjaan identik dengan kepemilikan ijazah pendidikan sebagai bukti perbedaan status seseorang. Pendidikan dapat memperlihatkan kepada masyarakat diduga bahwa bertambah tingginya taraf pendidikan makin besar kemungkinan bagi anak-anak golongan rendah dan menengah. Ternyata ini tidak selalu benar jika pendidikan terbatas hanya untuk tingkat menengah. Jadi, walaupun kewajiban belajar hanya ditingkatkan sampai SMA masih menjadi pertanyaan apakah mobilitas sosial denga sendirinya akan meningkat (Setiadi : 2011). Seiring dengan perkembangan zaman modern sampai saat ini juga pendidikan mengalami perkembangan yang sangat pesat karena
pendidikan harus dapat mengikuti perkembangan maka tidak dapat di pungkiri program pendidikan akan selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman untuk menjawab permasalah di masa yang akan datang melalui pendidikan. Mungkin tidak akan terjadi perluasan mobilitas sosial bila hanya mengandalkan pendidikan dan ijazah tingkat SMA tidak akan memberikan mobilitas yang lebih besar kepada seseorang, jikalaupun ada kemungkinan besar akan mengalami perlambatan mobilitas. Akan, tetapi pendidikan yang lebih tinggi dari SMA seperti pendidikan Perguruan Tinggi dapat memberikan mobilitas secara luas hal ini makin berkurang jaminan ijazah untuk meningkat dalam status sosial.
Pendidikan tinggi masih selektif. Pendidikan anak tidak terlepas dari perekonomi keluarga tidak semua orang tua mampu membiayai study anaknya sampai ke Perguruan Tinggi. Namun melalui seperangkat perlengakapan pendidikan dengan menggunakan komputer untuk menilai tes seleksi masuk akan sangat objektif artinya untuk masuk ke Perguruan Tinggi tidak di pengaruhi oleh kedudukan orang tua atau orangtua tidak perlu memberikan rekomendasi seperti menggunakan jaringan sosial kepada sahabat yang memiliki kuasa di lembaga pendidikan tersebut (Nasution: 40). Cara ini sangat objektif membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak golongan rendah untuk menyekolahkan anak- anaknya pada tingkat universitas. Bahkan beasiswa yang disediakan dari pemerintahan untuk semua orang layak menerima beasiswa sesuai potensi pendidikan seseorang. Hal ini juga memberikan peluang yang sangat besar dalam mengecap pendidikan bagi mereka yang berbakat dan pintar akan tetapi ekonomi mereka lemah, namun dengan adanya potensi individu dari golongan rendah maka akan mengalami mobilitas sosial secara cepat. Hal ini menunjukan bahwa
pendidikan dapat dipercaya menjadi salah satu faktor yang akan mempercepat terjadinya mobilitas sosial.
Fungsi pendidikan sebagai sebuah proses penyeleksian untuk menempatkan orang pada masyarakat sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, pendidikan menjadi sinkron dengan tujuan mobilitas sosial karena mobilitas sosial yang terpenting adalah kemampuan dan keahlian seseorang.Lembaga pendidikan seperti sekolah, pada umumnya merupakan saluran kongkrit gerak sosial yang vertikal (Idi 2011). Bahkan sekolah-sekolah dapat dianggap sebagai social
elevator yang bergerak dari kedudukan-kedudukan yang paling rendah ke
kedudukan yang paling tinggi. Terkadang dijumpai keadaan sekolah-sekolah tertentu hanya dapat dimasuki oleh golongan-golongan masyarakat tertentu, misalnya dari lapisan atas, atau dari suatu ras tertentu. Sekolah-sekolah yang demikian dimasuki oleh kelas golongan bawah maka dia akan menjadi saluran gerak sosial yang vertikal.
Pendidikan dapat mempercepat proses mobilitas sosial dalam sebuah masyarakat, tentulah harus ada prasyarat yang memadai. Prasyarat yang pertama adalah adanya kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk memperoleh pendidikan itu sendiri. Kesempatan yang sama itu tidaklah semata tercantum dalam aspek legal atau hukum belaka, melainkan ia pun diwujudkan menjadi sebuah tindakan yang bertujuan membantu kelompok-kelompok yang minoritas secara ekonomi, ras, agama, gender atau kelompok penyandang cacat agar mendapat kesempatan yang sama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, hukum, kesehatan dan pendidikan. Prasyarat kedua agar pendidikan dapat mempercepat mobilitas sosial adalah meratanya mutu pendidikan antara daerah perkotaan dan
daerah pedesaan, antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Pada masa yang akan datang bisa jadi bisa jadi orang yang tidak lagi bertanya gelar apa yang kita miliki untuk bekerja di sebuah tempat, tetapi justru orang bertanya dari mana kita memperoleh gelar tersebut. Sistem pelapisan sosial itu berbentuk piramida, maka persaingan untuk naik tangga sosial itu selalu cukup ketat. Dalam situasi demikian, peran pendidikan jadi makin penting. Barang siapa yang berhasil dalam pendidikan, dialah yang memiliki kemungkinan besar untuk naik tangga sosial, memiliki hubungan erat antara tingkat pekerjaan dan tingkat upah pada tingkat pendidikan dipihak lain.
Setiap lingkungan pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat) masing- masing memegang peranan tersendiri dalam menunjang atau menahan terjadinya mobilitas sosial. Dalam hubungan dengan mobilitas vertikal, pendidikan setidak- tidaknya mampu menahan mobilitas yang berarah menurun menghindari terjadinya degradasi moral. Mobilitas sosial dalam pendidikan merupakan perpindahan seseorang atau kelompok sosial dari status yang satu ke status yang lain dalam ruang lingkup pendidikan. Sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi mobilitas sosial dalam pendidikan yakni: perubahan kondisi sosial, ekspansi teritorial, dan gerak populasi, komunikasi yang bebas, pembagian kerja, tingkat fertilitas yang berbeda, dan akses pendidikan antara lain: perbedaan kelas rasial, agama, dekriminasi kelas, kemiskinan, dan perbedaan jenis kelamin (Idi, 2011:205)
2.2.1. Jenis-Jenis Pendidikan
Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas. Pendidikan dapat digunakan untuk membantu dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri dalam mencapai jenis pendidikan yang sudah dipersiapkan lembaga Pendidikan Nasional. Menurut Saripudin Didin (2010), mencapai pendidikan yang berkualitas serta mengembangkan individu melalui jenis pendidikan, ada 3 jenis pendidikan, yaitu:
1. Pendidikan Formal merupakan proses belajar melalui pendidikan di sekolah. Sekolah di susun secara teratur, memiliki kegitan yang sistematis, berstruktur, berjenjang, mengikuti syarat-syarat yang jelas. Di sekolah terdapat jenjang dari mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Pendidikan formalmerancang kegiatan studi yang berorientasi akademis, program spesialisasi, dilaksanakan dalam waktu terus, efektif dan efesien.
2. Pendidikan Informal: proses belajar yang berlangsung sepanjang usia melalui pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk yang berbentuk kegiatan secara mandiri. Pendidikan ini tidak terfokus dalam kegiatan pembelajaran disekolah, sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk didalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan dan media massa.
3. Pendidikan Nonformal merupakan pendidikan memberi peluang kepada setiap orang untuk memperkaya ilmu dalam mengembangkan talenta atau keterampilan setiap manusia. Pendidikan non formal kegiatan terorganisir dan sistematis, diluar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri yang sengaja seperti mengikuti kursus menjahit, memasak, komputer, bahasa dan lain-lain